Cinta Datang Karena Terbiasa

Cinta Datang Karena Terbiasa
Mulai menerima


__ADS_3

Hari terus berganti semenjak hari itu. Hubungan Arvin dan Ratu kembali membaik dan hangat. Restu dari kedua belah keluarga juga sudah mereka dapatkan. Keromantisan dan kehangatan mereka bahkan menimbulkan rasa iri orang yang melihatnya.


Kini mereka berdua sedang menunggu hari pertunangan mereka. Sebenarnya, Arvin dan Robert ingin langsung menikah tanpa harus bertunangan dan langsung membawa Ratu ke London. Tapi keluarga Adiguna bersikeras akan menikahkan mereka setelah Ratu menyelesaikan pendidikan S1 nya.


Mau tidak mau, kini mereka harus menerima keputusan dari keluarga Adiguna. Semua persiapan telah mencapai 80 persen. Mulai dari gedung, gaun, semua sudah selesai.


Ratu sangat bahagia dengan yang terjadi pada dirinya ini.


" Kak, wajahmu terlihat berseri-seri. " puji Paris ketika mereka sedang melakukan video call.


" Oh ya? " sahut Ratu.


" Hem. Kak, apa kau sangat bahagia? "


" Tentu saja. Aku sangat bahagia. Hal ini yang sudah aku tunggu-tunggu selama satu tahun lebih. Dan sekarang, akhirnya aku mendapatkan kebahagiaan itu. " jawab Ratu dengan wajah yang berbinar.


" Selamat ya kak. " ucap Paris.


" Terima kasih. Tapi kamu dan suamimu akan pulang saat hari pertunanganku yang tinggal lima hari lagi kan? "


" Tentu saja aku pasti akan pulang di hari bahagia saudaraku. Aku juga sangat merindukan Upin dan Ipin. Ha... ha... ha... " sahut Paris sambil tertawa mengingat kedua adik kembarnya.


" Paris, bagaimana perkembangan rumah tanggamu? Hem? " tanya Ratu.


Paris mengendikkan kedua bahunya sambil mengalihkan pandangannya.


" Paris, jangan pernah berbohong apapun kepadaku, oke. Karena kamu tahu, itu tidak akan berhasil. " ujar Ratu.


Hah. Paris menghela nafas kasar lalu menunduk sesaat.


" Sepertinya aku sudah di buat tak berkutik olehnya. " ucap Paris dengan nada sedikit kesal.


Ratu mengerutkan keningnya, " Maksud kamu apa? "


" Entahlah. Aku jadi seperti bukan diriku sendiri. Aku marah-marah tidak jelas saat melihat dia hanya sekedar duduk dengan gadis lain. "


" Kau cemburu? "


" Entahlah apa itu namanya. Aku juga tidak tahu. Tapi yang pasti hatiku sangat sakit, dan aku akan sangat marah dan kesal hanya dengan mengingat dia dengan gadis lain. "

__ADS_1


" Paris, apa jangan-jangan... Rasa sukamu kepadanya tidak pernah hilang selama ini. Tapi karena kamu saja yang berusaha menepisnya. "


" Huh! Aku tak tahu kak. " jawab Paris. " Tapi yang pasti, hatiku selalu berdebar saat di dekatnya. Dan sekarang makin parah. Aku rasanya ingin selalu bersamanya, di dekatnya terus terusan. " lanjutnya.


" Fix. Kamu memang jatuh cinta. Sama seperti yang aku rasakan selama ini. Paris, aku kasih saran. Berbaikanlah dengan Agam. Tunjukkan perasaanmu ke dia. Jangan pernah kau ingkari dan kau tutupi. Jangan sampai kau kehilangan dia. Rasanya akan sangat sakit, Paris. " ujar Ratu memberi penjelasan.


Paris nampak berpikir dan membayangkan bagaimana rasanya jika sampai Agam meninggalkannya. Sampai-sampai dia berkidik.


" Kamu kenapa? " tanya Ratu.


" Ah, tidak apa-apa kak. Aku baik-baik saja. Ya sudah, aku tutup video callnya ya kak. Aku janji, akan pulang sebelum pertunangan kakak " ucap Paris.


Ratu mengangguk, lalu panggilan terputus.


Setelah menerima panggilan dari kakaknya, Ratu, Paris entah mengapa senyum-senyum sendiri. Ia merasa saat ini ia telah melakukan dengan benar apa yang baru saja di katakan oleh kakaknya. Ia tidak akan membiarkan suaminya lepas dari tangannya.


Setelah kejadian saat dirinya melihat suaminya dengan gadis lain di kantin kampus waktu itu, Paris sudah merubah sikapnya terhadap sang suami. Ia juga sedikit demi sedikit mengubah penampilannya. Sekarang ia lebih sering menggunakan pakaian wanita, meskipun bukan rok ataupun gaun, ataupun dress.


Paris sekarang sudah sedikit menunjukkan sedikit perhatian bahkan rasa cintanya kepada Agam. Ia sudah tak sejutek dulu kala dengan Agam. Meskipun masih kaku, tapi ia tetap berusaha melakukannya. Menelepon Agam, sudah jadi pekerjaan sekarang. Kini bayangan Paris menuju ke hari-harinya yang lebih berwarna.


" Lo sibuk nggak? " tanya Paris saat panggilannya di terima oleh Agam sang suami.


" Gue nggak bawa motor ke kampus hari ini. Tadi pagi si Kevin yang jemput. Tapi waktu gue keluar dari kelas, gue cari batang hidung tuh anak, nggak kelihatan. Lo... Lo bisa jemput gue nggak? " ucap Paris panjang lebar. Yah, sekarang ia sudah bisa berbicara dengan panjang ke Agam.


Agam tersenyum tipis di seberang sana. Ia tahu jika Paris hanya beralasan. Tapi tak apa bagi Agam. Ia akan dengan senang hati menjemput pujaan hatinya. Agam juga bahagia, karena ia merasa Paris sudah mulai menerimanya.


" Aku akan menjemputmu. Tunggu sebentar, jangan kemana-mana. " jawab Agam lalu panggilan ia akhiri.


Agam segera berlari menuju tempat parkir dan segera melajukan motornya menuju ke kampus Paris.


Di kampus, Paris sudah menunggu di lobi kampus.


Brummm ( suara motor )


" Sorry, nunggunya lama. " ucap Agam.


" Nggak .. Baru juga gue keluar dari kelas. " jawab Paris sambil tersenyum tipis.


" Yuk .. Naik. " ajak Agam.

__ADS_1


Paris mengenakan helmnya yang sedari tadi ia pegang sambil setelah ia ambil dari tempat motor Kevin terparkir. Lalu ia segera naik ke atas motor Agam. Dan tak lupa, Paris melingkarkan kedua tangannya ke perut Agam, membuat Agam tersenyum bahagia. Kini Agam tidak perlu mengerjai Paris supaya Paris mau berpegangan kepadanya saat membonceng.


" Kita mau kemana dulu? Kamu udah makan siang? " tanya Agam.


" Belum sempat. "


" Ya udah, kita makan siang dulu. "


Itulah salah satu kejadian yang Paris ingat. Dan mengingat hal tersebut, Paris tersenyum dengan pipi yang memerah.


Teringat Agam, Paris jadi ingat pesan Ratu tadi kalau ia di minta pulang saat pertunangan saudara sepupunya itu. Paris mengambil ponselnya dan menghubungi Agam.


Tut... Tut... Tut...


Pada dering ketiga, Agam menerima panggilannya.


" Halo, Assalamualaikum.. " sapa Agam.


" Waalaikum salam. "


" Ada apa? Tumben malam-malam begini telepon? Kamu sakit? " tanya Agam cemas


" Hisss... Lo doain gue sakit ya? " ucap Paris merajuk.


" Ya nggak lah. Masak iya aku doain kamu yang jelek-jelek gitu. Habisnya heran aja... Tumben malam-malam begini telepon. Ada apa? "


" Tadi kak Ratu telepon. Lima hari lagi, dia sama bang Ar mau tunangan. Kita di minta untuk pulang. Lo bisa nggak? " tanya Paris.


" Lima hari lagi? Weekend besok? Emang kak Ratu sama abangnya, udah baikan? " tanya Agam. Ia belum begitu mengenal sosok Arvin, laki-laki yang Paris bilang abangnya itu. Karena ia hanya pernah bertemu sekali waktu menjenguk Paris di rumah sakit dulu.


" Udah. Oh iya, gue lupa bilang ke elo ya? Kak Ratu sama bang Ar udah baikan... Karena emang kak Ratu aja yang pura-pura. Dianya yang sengaja ngerjain bang Ar karena kesel katanya. "


" Oh.. " sahut Agam sambil tersenyum dan manggut-manggut. " Ya udah, kita pulang kamis sore gimana? Habis dari kuliah, aku langsung jemput kamu. "


" Oke deh. "


Tut... Tut... Tut...


Panggilan di akhiri sepihak. Agam hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil menatap ponselnya setelah Paris menutup panggilan itu. Sudah kebiasaan jika Paris menutup panggilan terlebih dahulu. Tapi Agam sekarang senang karena ia merasa, Paris sudah mulai menerimanya. Istrinya yang biasanya jutek dan galak itu, sekarang sudah lebih jinak. Bukan Agam yang bilang, tapi teman-teman Paris yang mengatakannya.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2