
“ Kita buat kesepakatan. “ ujar Paris ketika ia keluar dari dalam kamar mandi.
“ Kesepakatan? Kesepakatan apa? “ tanya Agam sambil memicingkan matanya.
“ Kesepakan, untuk tidak melakukan MP. “ jawab Paris ketus sambil bersedekap. Ia sudah membuang rasa malunya tadii saat di kamar mandi. Karena ia tidak ingin kecolongan kembali.
“ Ha? “ Agam nampak terkejut. “ Tidak melakukan MP? Mana bisa seperti itu? Kita ini udah nikah loh. SAH. Jadi MP itu adalah kewajiban kita. “ sahut Agam tidak terima. Bagaimana bisa dirinya menikah, tapi tidak merasakan surga dunia dengan gadis di depannya ini?
“ Gue tahu kita udah SAH.. jadi suami istri. Tapi boleh kan gue minta untuk tidak melakukan itu dulu ? Kita masih terlalu kecil. Umur kita aja baru delapan belas tahun. “ sahut Paris sambil menekankan kata SAH.
“ Emang kenapa kalau umur kita baru delapan belas? Kita udah punya KTP. Kita juga udah boleh menikah. “
“ Nggak asyik nanti. Kurang greget. “ jawab Paris asal.
“ Kurang greget? Darimana kamu tahu kalau kurang greget kalau kita masih terlalu muda? Justru jika melakukan itu di usia kita yang masih muda, rasanya akan sangat istimewa. Sangat greget. Kalau kamu nggak percaya, ayo kita coba sekarang. Aku jamin, kamu pasti bakalan ketagihan. “ sahut Agam yang juga asal. Karena darimana ia bisa tahu rasanya greget apa nggak, jika dia juga belum pernah melakukannya.
Paris semakin menatap horor ke arahnya. “ Gue masih mau kuliah. Cita-cita gue harus kesampaian. Gue nggak mau gara-gara pernikahan konyol ini, gue jadi gagal meraih cita-cita gue untuk jadi seorang pilot. “
“ Siapa yang bilang kalau karena melakukan itu, bisa membuat kamu nggak bisa kuliah? Aku juga mau kuliah. Biar pinter, biar bisa cari duit sendiri buat ngidupin kamu. Kasih nafkah ke kamu. Lagian kenapa kamu menganggap pernikahan kita ini konyol? Pernikahan kita ini serius. Sah menurut agama juga negara. Jangan asal bicara kamu. “ jawab Agam dengan sedikit kesal karena Paris malah menganggap pernikahan mereka ini adalah pernikahan yang konyol.
“ Gue nggak mau hamil dulu. Kalau gue hamil, otomatis cita-cita gue kandas. “ jawab Paris sedikit dengan nada suara yang agak merendah. Ia agak merasa bersalah telah berucap jika pernikahan mereka ini komyol.
Agam menghela nafas panjang untuk menetralkan emosinya. ‘ Sabar, Gam… Sabar… ‘ batin Agam.
“ Kalau kamu nggak mau hamil duluan, nggak masalah buat aku. Toh, usia kita memang masih sangat muda. Kalau kamu Cuma nggak mau hamil, kita bisa melakukannya tanpa membuat kamu hamil.Kita bisa menggunakan alat kontrasepsi. “ sahut Agam yang malah semakin melantur.
Bola mata Paris kembali membola. Ia sangat terkesiap mendengar ucapan Agam. Lalu ia segera menggelengkan kepalanya cepat. “ Nggak. Gue belum siap. Gue belum siap buat semuanya. Gue belum siap hamil. Juga belum siap melakukan itu. Gue masih ingin menikmati masa-masa perawan gue. “
Jawaban dari Paris itu membuat Agam tergelak. Karena terlihat sangat jelas dari wajah Paris jika memang dirinya takut melakukan itu.
“ Kok malah ketawa sih? “ protes Paris sambil mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
Seketika Agam menghentikan tawanya, dan Cup….
Agam kembali mengecup bibir Paris. Membuat Paris kembali melotot.
“ Kalau Cuma mengecup boleh dong? “ goda Agam. “ Yang penting nggak melakukan itu, kan? “ lanjutnya.
Plak
Paris memukul bahu Agam sengan lumayan keras. “ Add- duhhhh… “ keluh Agam. “ Dengar, aku tidak akan meminta kamu untuk melakukan itu, sampai kamu sendiri nanti yang memintanya. Toh, kita memang masih sangat muda. Kita bisa mengawali pernikahan kita ini dengan berteman dulu. Karena memang kita belum sempat berteman baik. Setelah itu, kita akan berpacaran, baru setelahnya kita akan melaju ke tahap selanjutnya. Bagaimana menurut kamu? “ tanya Agam dengan nada bicara yang serius.
Paris langsung mengangguk. “ Oke. “ jawabnya tanda setuju.
“ Jadi mulai sekarang, jangan galak-galak sama aku. Kan sekarang kita berteman. “ pinta Agam.
Paris mengangguk dengan sedikit ragu-ragu.
“ Tapi aku minta sama kamu, bersikaplah sebagai istriku jika kita berada di rumah keluargaku. “ pinta Agam kembali. Dan dengan sedikit keraguan pula, Paris mengangguk.
“ Nggak perlu. Bersikap biasa saja saat di rumahku. Mereka tidak akan mempermasalahkan. “ jawab Paris dengan segera.
“ Ya sudah, ayo tidur. Udah malam. “ ajak Agam. Paris mengangguk lalu ia segera naik ke atas tempat tidur. Dan Agampun mengikutinya naik ke atas tempat tidur.
“ Mau ngapain lo ikutan naik ke kasur? “ tanya Paris kala ia melihat Agam juga hendak masuk ke dalam selimut.
“ Tidur. “ jawab Agam enteng.
“ Eh, kok tidur di sini? Nggak ada bukunya ya, teman laki-laki dan perempuan tidur di ranjang yang sama. Sana, lo tidur di sofa. “ usir Paris sambil menendang kaki Agam.
“ Kita berteman, tapi juga udah sah suami istri. Jadi boleh dong kalau Cuma sekedar tidur satu ranjang. Lagian masak kamu tega nyuruh aku tidur di sofa yang pendek gitu? Badan aku bisa sakit semua besok. “ rengek Agam.
“ Alasan aja lo. “ gerutu Paris. Lalu ia menaruh guling dan bantal yang tidak ia pakai untuk tidur untuk menjadi pembatas antara dirinya dan Agam.
__ADS_1
“ Awas lo ngelewatin batasan ini. Gue patahin kaki lo. “ ancam Paris sambil merebahkan tubuhnya memunggungi Agam.
Agam terkekeh kecil melihat sikap waspada sang istri. Iapun merebahkan tubuhnya sambil menatap langit-langit kamar hotel itu.
“ Nggak ada ucapan selamat malam gitu buat temannya? “ ucap Agam tanpa menoleh ke arah Paris.
“ Bo*o ! “ jawab Paris ketus.
“ Katanya, nyenengin hati suami dapet pahala loh. “
“ Berisik. “
“ Sayang… “
“ Berisik sih. “
“ Sayang…. “
“ Apaan sih lo ah! “ ucap Paris sambil dengan nada marah. Iapun juga sambil membalikan tubuhnya hendak menatap marah ke arah suaminya, namun saat ia menoleh, ternyata Agam sedang tidur sambil memiringkan tubuhnya menghadap Paris dengan salah satu tangannya menyangga kepalanya. Dan alhasil, bibir mereka kembali bertemu. Cup…
Kali ini, Agam tidak menyia-nyiakan kesempatan. Ia tidak segera melepas kecupan itu. Ia bahkan sedikit ******* bibir Paris lembut.
“ Aaaaaaa….. “ pekik Paris saat kesadarannya pulih. Ia segera mendorong dada Agam. Ia lalu membalikkan tubuhnya kembali membelakangin Agam dan menutup kepalanya dengan selimut. “ Agam jeleekkk…. “ teriaknya kembali dari dalam selimut.
Agam terkekeh, lalu ia mendekati Paris, hendak melepas selimut yang menutupi kepala Paris, tapi ternyata Paris memeganginya dengan kencang.
“ Nanti kamu nggak bisa nafas loh. Atau kamu sengaja ya… Biar nanti kalau kamu kehabisan nafas, aku kasih nafas buatan. “ goda Agam setengah berbisik dari balik punggung Paris.
“ Bo*do…..! “ teriak Paris.
“ Ha…Ha… “ Agam terkekeh. ” Good night, sayang. I love you. “ ucapnya, lalu ia menajauh darai tubuh Paris dan mematikan lampu kamar.
__ADS_1
Bersambung