
" Sayang, kamu pasti bisa. " ujar Agam memberi semangat untuk sang istri yang saat ini sudah hendak melahirkan.
" Sa-kit maa-ss.... " keluh Paris sambil merintih kesakitan.
" SUSTER!!!! Cepat panggil dokternya.. " teriak Agam karena ia sudah tidak tahan melihat istrinya begitu kesakitan.
" Sebentar, tuan. Dokter sudah dalam perjalanan kemari. Sabar ya. " sahut suster.
" Sabar!! Sabar!! Suster bisa bilang sabar, sebentar, tuan. " ucap Agam sambil meniru ucapan suster. " Karena bukan suster yang kesakitan. Juga bukan istri suster yang mau melahirkan. " bentak Agam.
Sang suster hanya tersenyum kecut sambil berucap dalam hati, ' Mana mungkin istri saya melahirkan. Kan yang melahirkan saya tuan. Ganteng-ganteng kok kurang seons. '
" Mas... Jangan berisik. Kalau kamu beri-sik, a-aku jadi ma-kin ke-sakitan. " keluh dan protes Paris.
" Iya, maaf sayang. " ucap Agam sambil menggenggam dan mengecup kening dan punggung tangan Paris.
" SUSTEERRR.... " kini gantian Ratu yang berteriak dengan lantang.
Beda pasangan Agam dan Paris, yang justru Agam yang terlalu rempong, tapi pasangan Ratu dan Arvin, justru Ratu yang sangat heboh. Sedari tadi ia berteriak memanggil suster karena perutnya terasa sangat sakit.
" Iya, nona. " sahut suster yang bertugas melayani Ratu.
" Dokter mana sus??? DOKTER.... " pekiknya.
" Sebentar ya non... Dokter sudah di panggil. Beliau sedang bersiap. " jawab suster.
" Sus, bagaimana jika istriku juga sepupuku melahirkan bersamaan? Dokter kami sama. " tanya Arvin.
" Tuan tidak perlu khawatir. Dokter kandungan di rumah sakit ini bukan hanya satu. Kami punya dokter kandungan terbaik di ibukota. Dokter Bryan tadi sudah menunjuk dokter terbaik kami juga. " jawab suster.
" Baaaang.... Aku mau mommy ada di sini juga. " pinta Ratu.
Arvin mengangguk.
" Boleh sus? " tanya Arvin ke suster.
" Boleh, tuan. Silahkan di panggil saja ibunya. " jawab suster
" Mas, aku juga pengen bunda nemenin aku di sini. " pinta Paris saat ia mendengar Ratu menginginkan kehadiran Armell di sana.
__ADS_1
Agam mengangguk, lalu ia berdiri, " Akan aku panggilkan sebentar. " ucapnya ke Paris.
" Bang, biar Tante Armell aku panggilkan sekalian. " ujar Agam ke Arvin yang juga hendak berdiri dan keluar memanggil Armell.
Arvin mengangguk lalu Agampun keluar ruangan. Tak lama, muncul Armell, di ikuti Pipit dan di belakangnya ada Agam masuk ke dalam ruangan.
" Mommmm.... " rengek Ratu sambil mengulurkan tangannya. Armell buru-buru mendekat. " Sa-kit mom... "
Armell mengangguk, " Iya sayang. Semua perempuan pasti merasakan sama seperti yang kamu rasakan ini. Sabar ya nak. Nanti kalau si kecil sudah lahir, sakitnya akan langsung hilang. " ucapnya.
" Mom... A-apa mommy du-lu juga me-rasakan sa-kit seperti ini sa-at mau melahirkan Ra-tu? " tanya Ratu.
Armell tersenyum. " Semua perempuan merasakannya, sayang. Tak terkecuali mommy. Kita sebagai perempuan harus bersyukur bisa melahirkan. Biarpun sakit, tapi pahalanya sangat besar. " ucap Armell sambil mengusap puncak kepala Ratu lembut.
" Bun-daa... Ma-afin Pa-ris ya bund... Sssshhhh... " ucap Paris sambil sesekali mendesis. " Pa-ris sering marahin bunda... Se-ring jahilin bunda... Sering bi-kin bunda ke-sel. " lanjutnya sambil menangis.
Pipit tersenyum. " Kenapa minta maaf? Bunda nggak pernah marah sama Paris. Wajar jika seorang anak sedikit nakal. " ucap Pipit.
" Buuundd... Ter-nya-ta melahir-kan i-tu sakit ba-nget. " keluh Paris.
Pipit mendekap kepala Paris sambil mengecup puncak kepalanya. " Jangan menangis. Nanti si kecil ikut sedih kalau mamanya nangis. " ucap Pipit.
" Aaaahhhh.... Bunda... Sa-kit. " keluh Paris sambil mencengkram erat tangan bundanya.
" Mommmyyyy.... sakit lagi.... " kini suara Ratu yang terdengar kesakitan.
Ceklek
Ada dua orang laki-laki mengenakan jas berwarna putih bersamaan.
" Dokter.. " sapa kedua suster yang berjaga.
Oh, sepertinya kedua laki-laki itu adalah dokter.
" Bagaimana sus? " tanya salah satu dokter.
" Sepertinya sudah waktunya, dok. " jawab suster.
Kedua dokter itu mengangguk, lalu mengambil sarung tangan yang sudah di sediakan oleh suster tadi. Dokter itu segera mengenakannya, lalu berjalan menghampiri Paris dan Ratu.
__ADS_1
" Loh, sus... Bukannya dokter Selena yang akan menangani istri saya? " tanya Arvin.
" Maaf, tuan. Perkenalkan, nama saya Hendra. Saya yang akan menggantikan dokter Selena. Dokter Selena sedang cuti selama dua hari ini. " jawab dokter Hendra, dokter kandungan yang akan menangani Ratu.
Arvin mengernyit. " Jadi, dokter yang akan membantu istri saya ? Ta-tapi... Oh, tidak bisa begini dok. Saya mau dokter perempuan yang menangani istri saya. "
" Saya juga. Saya tidak bisa membiarkan istri saya di obok-obok oleh laki-laki lain. Cuma saya yang boleh mengobok-obok istri saya. " sahut Agam.
Armell dan Pipit sama-sama menepuk jidatnya sendiri. Kelakuan menantu mereka sama persis seperti kelakuan suami mereka.
" Agam, Arvin, Daddy tadi sudah bilang, jika dokter Selena sedang tidak ada di tempat. Jadi Daddy Bryan memilih mereka untuk membantu istri - istri kalian. Mereka adalah dokter kandungan terbaik di rumah sakit ini selain dokter Selena. " jelas Pipit.
" Sekarang begini, kalian mau anak kalian segera lahir, atau kalian memilih ego kalian sendiri? Lihat istri-istri kalian sudah sangat kesakitan. Dan akan sangat berbahaya jika anak kalian tidak segera di lahirkan. " tambah Armell.
" Bundaaaaa.... Paris pengen ngeden buuuuunnnn.... " teriak Paris.
" Ratu juga mooommmm... " teriak Ratu.
Pipit dan Armell sama-sama menatap menantu mereka masing-masing. Meminta persetujuan biar Paris, juga Ratu segera di tangani oleh dokter.
" Tapi Mom-. " protes Arvin. Lalu ia memandang istrinya yang sedang kesakitan.
" Agam ikut bunda aja lah. Tapi Agam nggak rela bund... Milik Agam di lihat laki-laki lain. " ujar Agam.
" Agam... Kamu tega lihat istri kamu? " tanya Pipit sambil menatap horor ke Agam.
Agam mendesah kasar lalu mengangguk.
" Ya udah dok. Cepat di cek udah siap apa belum bukaannya. " ujar Pipit.
" Baik, nyonya. " jawab dokter yang akan menangani Paris.
" Sus. " panggil dokter ke suster supaya suster segera mempersiapkan semuanya. Suster menutup tirai penghubung dengan ranjang sebelah, lalu menutup kedua kaki Paris dengan kain. Lalu ia membantu Paris untuk mengangkat kedua kakinya dan di letakkan di atas alat yang memang khusus untuk mengangkat kaki perempuan yang akan melahirkan.
Pipit menarik tangan Agam supaya mendekat ke Paris. Karena sedari tadi, Agam menatap horor ke arah dokter yang hendak membantu Paris melahirkan.
Arvin juga akhirnya membiarkan Ratu di tangani oleh dokter Hendra. Ia harus menurunkan sedikit egonya supaya anaknya segera lahir dan sang istri tidak kesakitan lagi.
bersambung
__ADS_1