Cinta Datang Karena Terbiasa

Cinta Datang Karena Terbiasa
Cemburu


__ADS_3

Buat readerku semuanyahhh... othor minta maaf yang sedalam-dalamnya ya.... Kemarin lusa othor bukannya nggak update... sebenarnya othor udah update, tapi review pihak NT luaaaamaaaa buanget.... hari kemarin, othor harus upload ulang baru deh lulus review...


Sekali lagi, othor minta maaf yachhhh....🙏🙏🙏


____________________________________________


" PARIS.... " teriak Agam memanggil Paris yang sudah jauh di depannya.


Agam tadi langsung berdiri setelah mendapat pesan dari teman-temannya. Ia berlari mengejar sang istri yang juga sudah berlari jauh di depannya menuju tempat parkir.


Paris tidak mendengarkan panggilan Agam. Hatinya masih sangat kesal dan dadanya terasa panas. Sampai di parkiran, Paris langsung naik ke atas motor sport milik Kevin, karena ia tadi tidak membawa motor saat datang ke kampus Jojo. Ia tadi membonceng Edo.


Paris menstarter motor, mengenakan helm, lalu memutar gas dengan kasar sehingga motor itu berlalu dengan kencang.


" Paris... " panggil Agam kembali saat motor yang di tunggangi Paris melewatinya begitu saja. Tapi Paris tetap saja mengendarai motor itu tanpa mau mendengarkan Agam.


Agampun segera menuju tempat motornya terparkir. Untung saja tadi pagi dirinya tidak jadi membawa mobil. Dengan membawa motor, maka akan lebih mudah baginya menyusul sang istri yang telah berada di depan.


Brummm.... Suara deru motor sport milik Agam melaju dengan cepat untuk menyusul Paris yang sudah tidak terlihat olehnya.


Ketika ia keluar dari area kampus, barulah Agam melihat siluet motor yang di pakai oleh Paris. Agam lalu mengejarnya meskipun ia tidak yakin bisa menyamai motor yang di lajukan oleh Paris.


Aksi kejar-kejaran pun tak terelakkan. Paris menambah kecepatan motornya kala ia melihat Agam yang mengejarnya. Paris meliak liuk mengendarai motornya dengan begitu lihai. Begitupun dengan Agam yang tidak mau tertinggal makin jauh dari istrinya.


Karena memang Paris yang jago dalam hal balap liar, maka tidak susah baginya terus melaju tanpa harus tertangkap oleh Agam. Tapi beruntung bagi Agam, di depan, Paris terkena lampu lalu lintas yang menyala merah. Maka mau tidak mau, Paris harus berhenti. Agam tersenyum tipis kala melihat Paris berhenti. Ia semakin mempercepat laju motornya supaya bisa mendekati Paris.


Agam menghentikan motornya tepat di samping Paris berhenti. Ia lalu membuka kaca helmnya dan menoleh ke samping, tapi sayang, Paris tidak menoleh sedikitpun ke arahnya.


" Paris... " panggil Agam, namun tidak mendapatkan jawaban dari Paris sama sekali.


" Ris, menepi. " lanjutnya. " Kita bicara. "


Paris masih tidak bergeming. Ia masih tetap menatap lurus ke depan tanpa menghiraukan Agam yang berbicara sedari tadi. Paris menarik - narik gas motornya. Brummm.... Brummmm.... Brummmm...


Melihat sang istri yang tidak mau mendengarkannya, Agam langsung mencekal tangan kanan Paris yang berada di atas stang motor. Paris berusaha menepisnya, tapi cekalan Agam lumayan kuat.


" Kita menepi dulu. " perintah Agam.


" Lepasin tangan gue. " bentak Paris.


" Kita menepi dulu, baru aku lepasin. " perintah Agam kembali.

__ADS_1


Tin... Tin... Tin... Terdengar bunyi klakson dari belakang mereka sangat ramai.


" Lepas! " bentak Paris kembali sambil menatap tajam ke arah Agam.


" Nggak, sebelum kamu menuruti aku. "


" Lo nggak lihat? Lo nggak denger? Lampu lalu lintas udah hijau. Mobil di belakang udah ribut banget. " teriak Paris.


" Biarin. Aku nggak peduli. Aku nggak akan biarin kamu pergi sebelum kamu menuruti apa yang aku minta. " tegas Agam.


Tin.... Tin... Tin...


Mobil yang berada di belakang mereka kembali membunyikan klaksonnya. Paris menoleh tidak enak hati ke belakang.


" Kalau Lo nggak lepasin tangan gue, gimana gue bisa menepi? " Akhirnya Paris mengalah.


Agam tersenyum tipis sambil menatap tangannya yang mencekal tangan Paris. Lalu ia lepas perlahan.


" Kita menepi di sana. " ucapnya sambil menunjuk pinggir jalan yang berada di seberang lampu lalu lintas.


Kesempatan yang tidak di sia-siakan oleh Paris begitu saja. Ia tersenyum menyeringai. Ketika Agam melepas cekalan tangannya, Paris segera memutar stang motornya dan melaju dengan cepat.


" ****!! " umpat Agam saat melihat sang istri justru melaju dengan cepat meninggalkannya. Ia segera melajukan motornya dengan kecepatan penuh untuk mengejar sang istri. Aksi kejar-kejaran pun kembali berlanjut.


Agam nekat menghadang Paris di depan. Ia tahu kalau itu sangat berbahaya. Tapi ia juga yakin dengan kemampuan Paris yang tidak akan apa-apa.


Ciiiiittt...


Paris mengerem motornya hingga menimbulkan suara decitan antara ban dan aspal jalan. Motor Paris juga sedikit oleng. Tapi ia yang memang sudah ahli dalam mengendarai motor, akhirnya ia bisa menghentikan motornya dengan sempurna tanpa terjatuh.


Dengan penuh amarah, Paris melepas helmnya dan segera turun dari atas motornya, lalu berjalan mendekati Agam.


Agam yang melihat Paris berjalan menghampiri, hanya tersenyum tipis sambil melepas helmnya dan menaruhnya di atas tangki motornya.


" Lo gila? " pekik Paris saat ia sudah berada di dekat Agam. " Lo mau nyelakain kita berdua. Lo mau di jemput malaikat Jibril sekarang, IYA? " teriak Paris sambil mengeluarkan emosinya. " Kalau lo mau pergi ikut malaikat Jibril sekarang, sana pergi sendiri. Gue ogah. Gue masih mau merasakan indahnya dunia. " lanjut Paris.


Agam masih terdiam mendengarkan semua ucapan Paris yang terlihat sangat emosi. Ia akan menunggu hingga Paris selesai mengeluarkan semua amarahnya. Dan benar saja, setelah mengeluarkan semua sumpah serapah dan berteriak-teriak, kini Paris terdiam dengan dada yang naik turun setelah meluapkan emosinya.


" Udah selesai? Udah kamu keluarin semua amarah kamu? " tanya Agam lembut lalu turun dari atas motornya. Paris hanya melirik sekilas ke arah Agam.


" Kalau aku nggak melakukan ini, kamu tidak akan berhenti. Tadi aku sudah meminta dengan baik-baik tanpa harus membahayakan nyawa kita, tapi kamu yang tidak mau. " lanjut Agam.

__ADS_1


Paris yang masih kesal dengan apa yang ia lihat di kampus Agam, hanya melirik sekilas ke arah Agam, lalu hendak memutar tubuhnya kembali ke motornya, tapi lengannya segera di cekal oleh Agam.


" Mau kemana? Hem? " tanya Agam.


" Pulang. " jawab Paris ketus.


" Kita bicara dulu, baru setelah itu kita pulang. Jangan membawa motor dalam keadaan emosi. Berbahaya. " ucap Agam, lalu ia melepas cekalan tangannya di tangan Paris.


Tidak mau kecolongan lagi, Agam berjalan mendekat ke motor Paris, lalu mengambil kunci motornya dan mengantonginya.


" Balikin kunci motornya. " ucap Paris ketus sambil menengadahkan tangannya.


" Tidak. Sebelum kita bicara. "


Paris menghela nafas berat. " Mau bicara apa? Cepetan. Gue nggak punya banyak waktu. "


" Sebentar. Kamu tunggu di sana. " ucap Agam sambil menunjuk ke arah pinggir jalan yang ada pohon rindangnya. Lalu ia kembali mendekat ke motor Paris, dan menuntunnya ke pinggir jalan. Lalu ia juga membawa motornya ke pinggir jalan juga.


" Udah, buruan mau ngomong apa. "


" Aku tidak ada hubungan apa-apa dengan gadis tadi. Jadi jangan marah. " ucap Agam to the poin.


" Paris tersenyum sinis. " Siapa juga yang marah. "


" Kamu. Bukankah kamu tadi sengaja melayangkan tas kamu ke kepala gadis itu? Lalu kamu buru-buru pergi dengan wajah yang memerah dengan mata berkilat emosi. Bahkan kamu mengendarai motor dengan gila. " jawab Agam pasti.


" Itu sih nggak sengaja. Siapa suruh kepalanya di situ padahal gue mau benerin tas gue. "


" Emang harusnya kepalanya di mana kalau nggak di situ? "


" Taruh di bawah. Noh di kolong meja. "


" Ada-ada aja kamu. Aku minta maaf. Apa kamu cemburu saat melihatku bersama dengan gadis tadi? " tanya Agam menyelidik.


" Ngapain juga cemburu! "


" Yakin nggak cemburu? " goda Agam sambil tersenyum karena merasa lucu dengan tingkah Paris saat ini yang terlihat kesal, cemberut, manyun, dan salah tingkah secara bersamaan.


Paris menggelengkan kepalanya kencang.


" Oke. Baiklah kalau kamu memang tidak cemburu. Kalau begitu, apa aku tetap boleh dekat dengannya? " Agam menggoda Paris kembali.

__ADS_1


Paris tidak menjawab, tapi yang di tangkap Agam, Paris meliriknya dengan tajam.


Bersambung


__ADS_2