
" Ha?? " Paris sangat terkejut sehingga ia menghentikan langkahnya dan tubuhnya membeku.
" Apa kamu juga punya kebiasaan berganti baju di dalam kamar? Dan apa kamu juga lupa jika malam ini kamu berada tidak sendirian di dalam kamar? " tanya Agam sambil menahan tawanya melihat Paris terdiam membeku.
" Ka - kamu... Elo darimana? Se - sejak kapan Lo di situ? " ucap Paris terbata. Ia semakin mengencangkan pegangannya di ujung handuk yang ia selipkan di dadanya.
" Sejak tadi. "
" Tap - tapi gu - gue nggak lihat lo. "
" Aku tadi di balkon. " jawab Agam santai sambil terus berjalan mendekati Paris.
Melihat Agam yang terus mendekatinya, Paris buru-buru membalikkan badannya dan masuk ke dalam kamar mandi kembali. Agam terkekeh melihat kelakuan istrinya itu.
Tok ... tok ... tok ... Agam mengetuk pintu kamar mandi.
" Jangan lama-lama di kamar mandinya. Nanti bisa masuk angin. " ucap Agam sambil menahan tawanya.
Tak ada sahutan dari dalam kamar mandi. Agam lalu bergerak berjalan menuju tempat tidur. Ia duduk berselonjor di sisi tempat tidur dengan punggung bersandar di kepala ranjang. Ia mengeluarkan ponselnya dan membuka aplikasi game untuk menghilangkan ingatannya tentang kondisi istrinya tadi yang hanya menggunakan handuk yang membelit tubuhnya dari dada hingga paha. Pemandangan yang cukup membuatnya panas dingin namun sebisa mungkin ia bersikap cuek.
Ceklek. Selang beberapa saat, pintu kamar mandi terbuka sedikit dari dalam. Agam mendongakkan kepalanya sebentar. Nampak Paris menongolkan sedikit kepalanya keluar.
" Ag - Agam... " panggilnya lirih.
" Hm. " Agam sengaja berlagak cuek.
" Bisa nggak gue minjem kemeja apa kaos lo yang gede? " tanya Paris pelan dengan tatapan memohon.
" Mau buat apa? " tanya Agam tanpa mau melihat ke arah Paris. Karena Agam yakin jika saat ini, kondisi Paris masih sama seperti tadi. Agam tidak mau semakin jauh berimajinasi.
" Buat gue pakai. Baju gue basah. Kena air tadi. " jawabnya pelan.
" Ya udah tinggal ganti baju aja. Kenapa kok malah mau pakai baju aku? "
" Kan gue nggak bawa baju ganti,.... " pekik Paris kesal.
" CK. Lagian siapa suruh tadi nggak mau di ajakin beli baju. "
__ADS_1
" CK. Ngapain mesti buang uang sia-sia. " bela Paris.
" Ya udah, kalau baju kamu basah, salah kamu sendiri. Lagian kan udah pakai handuk tadi. " sahut Agam masih pura-pura cuek.
" Gue pinjam baju Lo. Masak iya gue cuma pakai handuk semalaman. Terus, besok gue pakai apaan dong? Baju gue belum tentu kering besok. "
" Ya nggak masalah kamu pakai aja handuk. Terus tidur. Pakai selimut. Jadi nggak kedinginan. " sahut Agam. Laki-laki itu masih berpura-pura sibuk dengan ponselnya. Padahal ia tidak melakukan apapun dengan ponselnya itu.
Paris menjadi sangat kesal dengan sikap Agam itu. Akhirnya, ia membuka pintu kamar mandi lebar-lebar dan menutupnya kembali dengan lumayan kencang.
' Kita lihat aja. Siapa yang bakalan tahan kalau gue pakai handuk kayak gini. Kalau sampai dia berani macam-macam, tinggal gue patahin tuh emprit. ' gumam Paris dalam hati sambil melirik sinis ke arah Agam yang masih terlihat sibuk dengan ponselnya.
" Awas... Gue mau tidur. " ucap Paris ketus sambil menarik selimut yang di duduki oleh Agam. Otomatis membuat Agam menoleh ke arahnya.
Agam menelan salivanya dengan susah payah saat ia melihat ke arah Paris, tapi ia justru di suguhkan dengan pemandangan yang membuat dunianya oleng. Posisi tubuh Paris yang sedikit membungkuk karena hendak mengambil selimut, dan posisi handuk yang sepertinya sudah agak merosot dari posisi semula, membuat Agam melihat dengan jelas belahan d*da sang istri.
' Sial. Niat hati mau ngerjain, kok malah aku sendiri yang kena batunya gini. ' umpat Agam dalam hati.
' Halal sih halal. Tapi kalau kayak gini aku juga yang repot. Ngalah aja kali ya.. ' lanjutnya.
" Ni, pakai. " Agam memberikan kemeja itu ke Paris. " Bisa masuk angin kamu nanti kalau cuma pakai handuk. " lanjutnya beralasan.
Paris menerima kemeja itu dengan senyuman tipisnya. Akhirnya ia merasa dirinyalah yang menang.
" Punya ****** ***** yang ukurannya kecilan nggak? Tapi jangan yang bekasan elo " ujar Paris.
" Aku punya cuma ukuranku. Kalau buat ukuran kamu nggak ada. "
" Nggak pa-pa deh. Daripada gue nggak pakai ****** *****. Entar malah bikin lo mupeng. " sahut Paris.
Tanpa menjawab, Agam kembali berjalan mendekati almari dan mengambilkan satu buah ****** ***** yang masih baru.
" Nih. "
" Thank you. " ucap Paris. " Dari tadi kek. " gumamnya sambil berlalu menuju ke kamar mandi.
Keluar dari dalam kamar mandi, Paris tidak mendapati Agam di dalam kamar.
__ADS_1
" Kemana tuh anak? " gumam Paris sambil meneliti ke sekeliling kamar hingga ke balkon kamar. Tapi memang Agam tidak ada di sana.
" Hoaaammm... Ngantuk gue... " ucap Paris. Ia memang merasa sangat mengantuk dan lelah. Tapi pandangannya kembali berkeliling.
" Loh, perasaan dulu ada sofa di sana. Kok sekarang nggak ada? Di taruh di mana Sofanya? " ucap Paris bermonolog.
" Kalau nggak ada sofa di sana, terus entar dia tidur di mana coba? " ucapnya kembali. " Ah, masa bodoh deh dia mau tidur di mana. Ngantuk gue. " lanjutnya lalu segera naik ke atas ranjang. Ia memasukkan tubuhnya ke dalam selimut dan menutup tubuhnya hingga ke leher. Paris tidak ingin sampai Agam melihatnya tanpa mengenakan br* dan ****** ***** yang kebesaran. Bahkan Paris harus menali ****** ***** milik Agam supaya tidak melorot.
Tak perlu menunggu lama, Paris telah terlelap ke dunia mimpi. Selang setengah jam setelah Paris tertidur , Agam masuk ke dalam kamar dengan membawa dua buah paper bag di tangannya.
" Yah, udah tepar aja. " ujar Agam kala melihat istrinya sudah tertidur lelap sambil telungkup. Agam meletakkan paper bag itu di atas meja belajarnya . Ia lalu melepas jaket yang melekat di tubuhnya. Kini ia hanya memakai kaos press bodynya dan celana pendek. Agam yang merasa tubuhnya juga lelah dan mengantuk, segera menghampiri tempat tidur.
Saat ia hendak menyingkap selimut, Paris menggeliat dan merubah posisi tidurnya menjadi telentang. Selimut yang ia gunakan untuk menutupi tubuhnya tadi sudah merosot.
Agam membeliakkan matanya saat tanpa sengaja pandangannya ke arah tubuh Paris. Ke dada lebih tepatnya.
" Ya Tuhan... Cobaan apa lagi ini? " erang Agam. " Kenapa dia malah membiarkan dadanya terlihat menantang begitu??? " lanjut Agam. Kini bagian bawah tubuhnya ikut menegang seketika. Jika tidak memikirkan hal buruk yang bisa saja menimpanya, sudah bisa di pastikan Agam akan langsung menerkam istrinya itu.
Ukuran dada yang lumayan besar untuk gadis seusia Paris. Mungkin itu adalah faktor gen dari sang Daddy yang memang asli seorang bule. Agam masuk ke dalam selimut. Lalu menyingkirkan tangan Paris yang berada di atas bantal yang hendak ia pakai.
Agam membaringkan tubuhnya dan mencoba memejamkan matanya. Tapi entah sudah berapa lama ia berusaha untuk tidur. Tetap saja matanya ingin kembali terbuka. Sepertinya mata Agam penasaran dengan sesuatu. Tangannya juga.
Perlahan, Agam memiringkan tubuhnya dan matanya menatap sesuatu. Ia jadi teringat kejadian beberapa hari yang lalu saat ia dengan tidak sengaja melihat sepasang mahasiswa yang sedang memadu kasih di belakang gedung kampus. Agam melihat mereka sedang berciuman mesra sambil tangan sang laki-laki yang tidak bisa diam. Tangan laki-laki itu merambah kemana-mana. Agam melihat tangan laki-laki itu berada di dalam kemeja sang mahasiswi dan seperti meremas sesuatu di sana.
Ingatan itu membuat jiwa kekepoan Agam meronta. Perlahan ia menjulurkan tangannya untuk meraih sesuatu. Tapi saat sudah dekat, tangan itu berhenti di udara.
" Agaaaammm.... Jangan jadi laki-laki brengs*k kamu. Jika saatnya tiba, kamu pasti bisa merasakannya. Tapi tidak sekarang. Atau semuanya akan semakin berantakan. " gumam Agam memperingatkan dirinya sendiri.
Ia lalu menarik kembali tangannya dan kembali menelentangkan tubuhnya. Ia menghela nafas kasar sambil mengusap wajahnya kasar.
" Astaghfirullahhal'adzim... " ucapnya.
Baru saja Agam hendak memejamkan matanya, tiba-tiba tangannya di tarik oleh Paris.
" Bunda, kelonin. " rengek Paris dalam tidurnya.
bersambung
__ADS_1