Cinta Datang Karena Terbiasa

Cinta Datang Karena Terbiasa
Pura-pura pingsan


__ADS_3

“ Ya Allah sayang…Bagaimana kamu kok sampai kayak gini? “ ujar Pipit kala ia melihat anaknya sudah di dalam ruang perawatan. Paris sudah di bawa ke ruang perawatan beberapa waktu yang lalu.


Pipit menangis tersedu-sedu di samping sang putri yang terbaring sambil memejamkan matanya. Di dalam ruangan itu sudah penuh dengan orang. Semua anggota Eagle hair dan geng Jesh, ada di ruangan itu di tambah lagi Agam. Jesh memandang ke arah Paris dan Pipit bergantian sambil melipat kedua tangannya di dada. Ada rasa bersalah yang bersarang di hatinya.


“ Gimana ini bang?? Putri kita bagaimana? Hiks…Hiks….” Ucap Paris sambil menangis tersedu-sedu. Bryan memeluk Pipit dengan mengamit lengannya.


“ Aktingmu dari dulu selalu jago, honey. “ bisik Bryan. Spontan Pipit menyikut perut suaminya.


‘ Duh bunda makin oke aja aktingnya.’ Puji Paris sembari masih menutup matanya. Ingin sekali rasanya ia tertawa terbahak-bahak.


Bryan telah menceritakan kondisi Paris tadi saat dirinya selesai memasang infus di tangan putrinya. Sambil menunggu Paris di pindahkan ke ruang rawat inap, Bryan menceritakan kronologi kecelakaan yang menimpa sang putri. Bahkan Bryan juga meminta dokter yang menangani Paris ikut bersandiwara paling tidak sampai Jesh dan gengnya meninggalkan rumah sakit.


Sang dokter bahkan menyarankan untuk membalut kaki Paris, supaya sandiwara itu lebih mengena. Tentu saja Paris dan Bryan langsung menyetujui.


“ Tenanglah honey…Putri kita pasti baik-baik saja. “ Ucap Bryan pura-pura menenangkan sang istri.


“ Kalau dia baik-baik saja, kenapa dia masih belum membuka matanya? “ tanya Pipit sambil kembali mengelus pipi Paris. Ia menatap iba ke anaknya. “ Bagaimana kalau kakinya jadi tidak bisa berjalan normal lagi? Hiks…Kasihan putri cantikku. “


‘ Oh, ayolah bund. Jangan mulai lebay. ‘ protes Paris dalam hati.


“ Siapa yang tega mencelakai putriku yang cantik ini? “ tanya Pipit sambil memberikan tatapan tajam ke semua yang ada di ruangan itu. Hal itu mampu membuat Jesh menelan salivanya susah payah. Ia mengusap tengkuknya karena tiba-tiba bulu kuduknya berdiri karena merasa takut dengan tatapan dari bunda Paris.


“ Honey, bersabarlah. Kita akan tahu nanti kalau putri kita sudah sadarkan diri. “ ucap Bryan sambil melirik ke arah Jesh yang terlihat sudah tidak nyaman. Bahkan teman satu geng Jesh sudah saling sikut-menyikut. Ada juga yang harus menahan ken*cingnya supaya tidak keluar di sana.


Jika putrinya saja mempunyai trac record yang mengerikan. Bagaimana dengan orang tuanya? Memikirkan hal itu saja membuat Jest and the geng belingsatan.


Suasana kamar tiba-tiba menghening. Hanya suara sesenggukan dari bibir Pipit yang terdengar. Dan Bryan masih setia menenangkan sang istri.


“ Azkara, kami pamit dulu. Sudah malam. “ pamit Jesh ke Azkara. Dan Azkara hanya menganggukkan kepalanya. Ia masih malas membuka suara untuk Jesh yang telah membuat kondisi gadis yang ia cintai seperti itu.

__ADS_1


Jesh lalu berjalan mendekat ke arah Bryan dan Pipit dengan langkah yang ragu.


“ Om…tante…mmmm…ka-kami mau pamit dulu. Sudah malam. “ ucap Jesh dengan gugup.


Pipit dan Bryan menoleh ke arah Jesh bersamaan. Dan tatapan Pipit masih begitu tajam. Jesh langsung tertunduk.


“ Terima kasih sudah menolong putri saya. “ ucap Bryan penuh sindiran halus.


Jesh dan teman-temannya mundur perlahan dan segera meninggalkan ruangan rawat inap Paris. Setelah Jesh and the geng keluar, Bryan segera melihat apakah anak-anak itu tadi sudah benar-benar pergi jauh apa belum. Setelah memastikan, Bryan kembali ke dalam lalu mengangguk ke arah istrinya yang sedari tadi menunggunya membawa berita.


“ Huh! Capek juga berakting. Pantesan artis-artis bayarannya mahal. “ ucap Pipit sambil menyeka air mata bohongannya.


Plak


Pipit memukul bahu Paris. “ Bangun. Jangan pura-pura pingsan aja. Bunda udah capek aktingnya. “ ujar Pipit.


Semua teman-teman Paris saling berpandangan karena belum mengerti apa yang terjadi.


“ Ngapain lo semua pada bengong? Awas tuh mulut Jo..Entar kemasukan lalat. “ ujar Paris sambil menahan tawanya melihat ekspresi teman-temannya. Ia tahu, teman-temannya pasti pada bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi.


“ Ris, kita butuh penjelasan. Maksudnya apa ini? Kok tiba-tiba lo bangun? Bukannya lo masih pingsan ya? “ tanya Kevin yang kekepoannya tingkat dewa.


Paris tersenyum nyengir. “ Siapa yang pingsan? Orang gue sedari tadi Cuma merem doang kok. “


Kini mereka mengernyitkan dahinya bersamaan. “ Sumpah ya Ris. Lo bikin kita makin bingung dah. “ celetuk Jojo.


“ Gue kasih tahu lo semua. Gue tuh nggak pa-pa. Gue sehat-sehat aja. Tadi gue sama bokap, nyokap gue Cuma lagi berakting doang. Biar si tuan takur ngiranya gue terluka lumayan parah. “


“ Tapi lo tadi beneran jatuh kan? Iya kan Gam? Lo tadi lihat motor Paris jatuh sampai terseret panjang, terus si Paris juga berguling-guling kan? Tapi kenapa ni anak baik-baik aja? “ tanya Jojo. Dan Agam mengangguk tanpa mengeluarkan suara. Ia khawatir jika dirinya ikut bersuara, Paris akan kembali tidak nyaman.

__ADS_1


“ Iya, gue tadi beneran jatuh. Tapi kalau Cuma jatuh kayak tadi mah Cuma bikin lecet-lecet kecil doang. Nggak bakalan sampai bikin gue koma. “ sahut Paris.


“ Tapi tadi lo pingsan. Itu juga Cuma akting? “


“ Kalau pas barusan jatuh, pingsan beneran lah gue. Tapi pas di ambulans, gue udah sadar kali. “


“ Terus nih kaki, kenapa pakai di gip kayak gini? Patah tulang kan ini pasti. “


“ Ck. Bukan. Kaki gue Cuma memar sama keseleo dikit. Besok minta di urut sama bang Arvin juga sembuh. “


“ Kok??” Kevin masih tidak mengerti kenapa kaki Paris harus di balut perban kalau memang Cuma memar saja.


“ Ini tuh sebagian dari sandiwara. Si om dokternya malah yang nyaranin gue pakai gini. Biar lebih mantap aktingnya. “ seloroh Paris.


“ Kenapa juga lo harus sampai sandiwara kayak gini? “ celetuk Jojo.


“ Ya iyalah. Kalau gue nggak sengaja nabrakin diri di depan si tuan takur, gue yakin dia yang bakalan menangin pertandingan. Gue nggak mau ya, jadi tumbal buat jadi ceweknya dia. Terus kalau dia tahunya gue baik-baik aja, kita nggak bisa batalin taruhan. Yang ada kita tetep bayar pinalti. “ jelas Paris.


“ Ya ampun Ris…Kenapa harus pakai membahayakan diri kayak gini? Tadi kan gue udah bilang, bayar pinalti nggak pa-pa. Duit bisa di cari. Tapi kalau nyawa yang hilang, bisa cari kemana kita? “ ucap Azkara.


“ Lo bisa nyariin gue di surga, Ka. “ canda Paris.


“ Iya, kalau surga mau nerima lo. Lah, kalau yang mau nerima lo neraka gimana? Neraka jahanam lagi. Siapa juga yang mau nyariin lo. Ada-ada aja lo ini. Lo tuh udah bikin kita semua khawatir tahu nggak sih. “ omel Agus.


“ Iya…iya…Sorry…Maaf ya guys..Janji deh nggak ngulangin lagi. “ ucap Paris sambil mengangkat dua jarinya membentuk huruf V.


“ Emang nggak ada lain kali. Setelah ini, kamu nggak bunda bolehin bawa motor lagi. Nggak boleh bawa si jack lagi. Si Jack mau bunda jual. Lumayan duitnya bisa beli peralatan di klinik. Entar kembaliannya, bunda beliin kamu motor matic. Bunda pilihin tuh yang CCnya paling kecil. Balapan, balapan aja sana. “ ketus sang bunda.


“ Yah, bundaaa….Jangan dong bund…Masak si Jack di jual. “ rengek paris sambil memegang tangan bundanya. “ Daddy….bantuin Paris dong…Kan motor itu Daddy yang beliin. Masak Daddy rela motor yang Daddy beli di jual sih. “ Paris juga merengek ke Bryan.

__ADS_1


“ Daddy yang beli, itu sama aja bunda yang beli. Karena uang Daddy juga uang bunda. “ sahut Pipit dan Bryan hanya mengendikkan bahunya. Dan itu di tanggapi tawa menggelegar dari teman-teman Pipit. Dan Agam hanya tersenyum memperhatikan tingkah Paris yang terlihat begitu manja kala di dekat orang tuanya.


Bersambung


__ADS_2