Cinta Datang Karena Terbiasa

Cinta Datang Karena Terbiasa
Mau nikahin gue?


__ADS_3

Lain Ratu, lain lagi ceritanya dengan Paris. Makin mendekati hari pernikahan, makin diamlah Paris. Ia sangat jarang keluar kamar. Uring-uringan, sudah pasti. Biasanya calon pengantin akan antusias mempersiapkan segala sesuatunya, tapi beda dengan Paris. Ia sama sekali tidak tertarik mempersiapkan apapun.


Paris saat ini sedang duduk di balkon kamarnya sambil bersandar di dinding balkon. Ia menyenderkan kepalanya di kedua lututnya yang ia tekuk sambil ia kalungkan kedua tangannya di lututnya. Paris teringat kejadian-kejadian yang ia lalui belakangan ini.


Paris teringat kembali kala ia berdebat sambil bernegosiasi dengan orang tuanya.


“ Daddy, bunda, Paris beneran nggak mau nikah muda. Apalagi nikahnya sama dia. “ rengek Paris.


“ Tapi Daddy sama bunda maunya kamu nikah. “ Jawab Bryan tak mau kalah. “ Kamu mau, atau tidak, itu tidak ada pengaruhnya dengan keputusan kami. “


“ Kamu masih mau mempertahankan motor kesayangan kamu nggak? “ tanya sang bunda.


“ Ya maulah. “ jawab Paris tegas.


“ Makanya nikah. “ sahut Bryan. Membuat Paris cemberut.


“ Kamu masih mau kuliah pilot nggak? “ tanya Pipit kembali.


“ Ya jelas iya lah bund. “ jawab Paris.


“ Ya udah, syaratnya gampang. Kamu nurut sama Daddy sama bunda. Titik. “ ujar Pipit.


“ Oke. Paris bakalan nikah. Tapi nggak mau sama dia. “ sahut Paris asal.


“ Oke. Mau nikah sama siapa kamu? Daddy nggak masalah , yang penting kamu nikah. Daddy aka batalin perjodohan kamu sama anak keluarga Permana. “ sahut Bryan yang siap menerima tantangan sang putri. Ia yakin. Putrinya hanya asal bicara.


Tanpa sepatah katapun, Paris bangkit dari duduknya, lalu mengambil kunci motornya, dan melajukan motornya dengan kecepatan cukup tinggi. Setelah dua puluh menit menempuh perjalanan, sampailah Paris di café tempat tongkrongannya dengan para sohibnya.


“ tempat biasa kosong kan kak? “ tanya Paris ke pelayan café.


“ Kosong kak. “ jawab pelayan itu yang sudah hafal dengan Paris dan teman-temannya. Lalu Paris sedikit membungkuk dan berjalan ke lokasi yang ia maksudkan.


Selang beberapa menit berlalu, Azkara datang menghampiri. Memang tadi Paris sempat menelepon azkara sebeleum diriya melajukan motornya menuju ke café ini.


“ Lagi BT? “ tanya Azkara yang sambil menghenyakkan pan*tatnya di atas kursi di depan Paris. Paris yang sedang menatap kosong kolam ikan yang ada di sebelahnya duduk, sedikit terkejut.

__ADS_1


“ Eh, elo udah datang Ka. “ sambut Paris.


“ Lo kenapa Ris ? “ tanya Azkara sambil mengambil minuman Paris dan meneguknya hingga tinggal setengah.


“ Punya gue itu Ka. “ keluh Paris.


“ Haus gue. Lo sih tadi gue lagi di tempat jodo lo nelponin suruh kesini buru-buru. Belum sempat minum gue. “ sahut Azkara.


“ Kak. “ panggil Paris ke salah satu pelayan. Dan pelayan itu segera datang menghampiri mejanya.


“ Kak, buatin juice tomat mix wortel satu ya. Sama juice alpukatnya tambah satu lagi. French fries original yang big satu. “ Paris mulai memesan. “ Lo mau makan apa Ka? Mau makan karbo, apa nggak ? “ tanyanya ke Azkara.


“ Gue tenderloin aja. Satu. “ jawab Azkara.


“ Sama tenderloin satu ya kak. “ tambah Paris.


“ Baik kak. Pesanannya akan segera kami siapkan. Di tunggu ya kak. “ sahut pelayan Dan Paris menjawabnya dengan anggukan.


“ Lo kenapa sih Ris. Nggak biasanya muka lo kucel kayak gini. “ tanya Azkara yang sedari tadi memperhatikan raut wajah butek sahabat yang sekaligus gadis yang ia cintai.


“ Hey, lo kenapa? “ tanya Azkara sambil membelai kepala Paris. “ Kalau gue bisa bantu, pasti gue bantuin. “


“ Gue di jodohin, Ka. “ ucap Paris sambil mebenamkan kepalanya ke kedua tangan yang ia tumpukan di atas meja.


“ What? Paris, please. Gue lagi bicara serius. Lo jangan bercanda kayak gini. Sumpah, nggak lucu banget candaan lo, Ris. “ sahut Azkara sambil terkekeh garing.


Paris mengangkat wajahnya. “ Gue serius, Azkara my bebeb. “ jawabnya.


Azkara terbengong. Jantungnya tiba-tiba berdetak sangat kencang. Hatinya bagai di remas sepuluh jari sekaligus. “ Sama siapa? “ tanyanya tercekat.


“ Agam. “ sahut Paris.


“ Apa? Agam? “ pekik Azkara sambil mencondongkan sedikit badannya ke depan. Paris mengangguk, lalu membuang mukanya. Azkara mengusap wajahnya kasar. “ Bagaimana bisa lo di jodohin sama Azkara? Apa karena dia udah nolongin lo dulu waktu lo kecelakaan? “ tanya Azkara.


Paris menggelengkan kepalanya sambil menununduk dalam.

__ADS_1


“ Lalu kenapa? Bagaimana bisa lo di jodohin sama dia? “ tanya Azkara kembali.


“ Bokap gue, sama bokapnya ternyata teman lama. Waktu kita masih sama-sama dalam kandungan, nyokap gue sama nyokap dia berencana buat jodohin kita. “ jawab Paris lirih.


Azkara kembali mengusap wajahnya kasar. Ia duduk menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Suasana hening sesaat. Mereka sedang sibuk dengan pikiran masing-masing. Paris menggigit kecil kuku-kuku jarinya. Sedangkan Azkara sedang merasa sesak di dadanya. Ia akan kehilangan gadis yang menjadi cinta pertamanya. Gadis yang ia cintai selalu dalam diam hampir 9 tahun lamanya.


“ Lo… Apa lo nggak bisa nolak keinginan orang tua lo ? “ Azkara kembali membuka suaranya.


“ Gue nggak bisa nolak keinginan bokap sama nyokap. Ini menyangkut cita-cita gue dan barang kesayangan gue. “ sahut Paris. Ia menghela nafas kasar.


“ Bokap sama nyokap sebenarnya nggak maksa gue buat nerima perjodohan sama si Agam. Tapi mereka Cuma maunya, gue cepet nikah. Itu syarat dari bokap sama nyokap supaya gue bisa jadi pilot, dan motor kesayangan gue nggak mereka jual. Berat kan syaratnya Ka? “ keluh Paris.


“ Kenapa lo nggak coba nego supaya lo nikahnya kalau udah lulus kuliah? “


“ Udah, Ka. Tapi di tolak. Mereka maunya gue nikah sebelum kuliah. Kalau gue nggak mau nikah, gue nggak di bolehin kuliah di pilot. “ sahut Paris.


Suasana kembali hening. Hati Azkara masih berkecamuk.


“ Ka, mau nggak lo peluk gue? Gue butuh dukungan nih. “ pinta Paris lirih. Mendengar permintaan Paris, Azkara menggeser kursinya mendekati Paris, lalu meraih tubuh Paris dan di peluknya. Ia mengelus lengan Paris dan memeluk tubuh Paris dari samping.


“ Ka, ucapan lo waktu di puncak dulu beneran nggak? “ tanya Paris lirih.


Azkara mengernyitkan keningnya. “ Ucapan yang mana? “


“ Waktu lo bilang lo cinta sama gue. “ jawab Paris dengan suara yang tetap pelan. Sungguh, ini bukan style Paris banget. Ia tidak pernah membahas cinta dengan siapapun.


Azkara melepas pelukannya, dan sedikit menjauhkan tubuhnya dari tubuh Paris. Lalu ia memandang wajah Paris lekat. “ Gue nggak seserius kemarin bicara sama seseorang. “ ucapnya dengan tatapan yang mampu menusuk sampai ke hati.


“ Kalau gitu, lo mau nggak tolongin gue? “ tanya Paris sambil membalas tatapan Azkara.


“ Minta tolong apa? “ tanya Azkara dengan pandangan yang tak kalah serius.


“ Lo mau nggak, nikahin gue? “ tanya Paris dengan tatapan penuh harap.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2