Cinta Datang Karena Terbiasa

Cinta Datang Karena Terbiasa
Bukan saudara kandung


__ADS_3

“ Abang? “ ucap Ratu sambil memandang ke suatu titik.


“ Ada apa kak? “ Tanya Paris.


“ Itu bang Ar kan ya? “ Tanya Ratu ingin memastikan.


Paris memandang ke arah yang di tuju oleh Ratu. Paris sampai menyipitkan matanya. Saat ini mereka sedang ada di kantin kampus. Dan mereka berdua duduk di salah satu bangku kosong sambil menunggu Danique yang sedang memesan minuman untuk mereka berdua. Dan Ratu, melihat arvin di bangku yang lain yang tidak begitu jauh dari bangku yang di duduki Paris juga Ratu.


“ Iya, itu bang Arvin. Sama siapa dia? Apaaaa…ceweknya? “ ucap Paris.


Ratu mengernyit. “ Apa menurutmu begitu? “ tanyanya. Ratu merasa hatinya seperti di remas-remas. Ia sepertinya merasa tidak rela jika sang abang tersayangnya tersenyum lebar dengan perempuan lain. Senyuman Arvin itu hanya boleh jadi miliknya.


“ Iya, lihat aja bang Ar yang biasanya mahal senyum, itu bisa senyum lebar kayak gitu. Kalau menurut cerita kak Dan, Bang Ar kan orangnya males kalau berurusan sama cewek kecuali kita. Mereka terlihat dekat gitu. “ jawab Paris tanpa melihat raut wajah Ratu yang berubah merah padam karena menahan emosi.


Hap


Ratu berdiri dari duduknya setelah mendengar pendapat dari Paris. Ia hendak beranjak tapi Paris mencekal tangannya.


“ Eh kak, mau kemana? “ tanya Paris.


“ Mau nyamperin abang lah. Bang Ar kan hanya punya kita. Enak aja cewek itu main deket-deket sama abang. Aku juga harus buat perhitungan sama abang. Apa gara-gara ini dia jadi nggak pernah ke rumah. “ ucap Ratu menggebu-gebu.


“ Kak, sebaiknya jangan deh. “ larang Paris.


“ Lepasin Paris. Aku harus kesana. Kamu tenang aja, aku nggak bakalan berantem kok sama cewek itu. “ ucap Ratu sedatar mungkin sambil menggerakkan tangannya melepas cekalan Paris.


Setelah tangannya berhasil terlepas, ratu segera berjalan menuju Arvin duduk dan meninggalkan Paris sendirian. Paris hanya melihat kepergian ratu sambil mendesah kasar dan berdoa dalam hatinya, “ Semoga tidak terjadi apa-apa. Huft. “


Ratu berjalan dengan anggun menuju bangku Arvin duduk.


“ Siang, abang. Lagi makan siang ya? “ sapa Ratu ke Arvin dengan nada suara lembut.


“ Uhuk…Uhuk…Uhuk… “ Arvin tersedak minuman yang tengah ia seruput saat mendengar suara gadis yang sangat ia sayangi melebihi dirinya sendiri.


Gadis yang sedari tadi duduk di depan Arvin, segera menyodorkan tisu ke Arvin karena tersedak tadi, air yang di minum Arvin muncrat di sekitar bibirnya.


Tapi Ratu segera melakukan tindakan sebelum Arvin meraih tisu yang di sodorkan oleh temannya itu. “ Ih, abang…Minumnya jangan kayak anak TK gini dong. “ ucap Ratu sambil menyeka sekitar bibir Arvin yang basah menggunakan tangan kanannya.

__ADS_1


Sedangkan gadis yang ada di hadapan Arvin dari tadi memandang Ratu dengan pandangan tidak sukanya. Ratu menyadarinya, tapi ia membuat dirinya masa bodoh.


“ Abang udah selesai kuliahnya? Queen nungguin dari tadi loh. “ ujar Ratu mulai bersandiwara.


“ Queen, kamu ngapain di sini? “ tanya Arvin masih agak gugup.


“ Minum sama makan. Emang mau ngapain lagi kalau di kantin bang? Abang kan juga minum di sini kan? “ sahut Ratu.


“ Maksud abang, kamu ngapain di kampus? Bukannya di sekolah kamu. “


“ Jalan-jalan. Pengen ketemu abang. Kangen sama abang. “ jawab Ratu sambil sedikit melirik ke arah gadis yang sedari tadi memang sudah ada di situ. Gadis itu terlihat begitu kesal, tapi dia masih mencoba untuk menahan kekesalannya. Dia tidak boleh terlihat buruk di mata Arvin, laki-laki yang ia kagumi semenjak dulu.


“ Siapa dia Vin? “ tanya gadis itu.


“ Dia adik gue. “ jawab Arvin.


“ Adik? Bukankah adik lo cowok ya? “ tanya gadis itu lagi.


“ Kenalin kak, namaku Ratu. Sementara aku emang masih adiknya bang Arvin. Tapi hanya sementara. Karena sebentar lagi, aku akan jadi pacarnya abang. Bukan begitu abang Arvin kesayangan Queen? “ ujar Ratu sambil mengedipkan sebelah matanya ke Arvin.


“ Queen, ka..”


“ Kamu… “


“ Kakak ini siapa? Temannya bang Arvin kesayanganku ya? “ potong ratu lagi.


“ Iya, sementara. Nggak tahu kalau sebentar lagi. Sebentar lagi, mungkin aku akan jadi yang spesial buat dia. Oh iya, karena kamu adalah adiknya Arvin, kenalin dulu deh. Namaku Anggitya Prameswari. Panggil aja kak Anggit. “ ujar gadis yang bernama Anggit itu sambil mengulurkan tangannya ke Ratu.


“ Oh, kakak suka copy paste ya. Jangan suka ngaku-ngaku deh. Sok-sokan mau jadi yang spesial buat abang kesayanganku. Asal kakak tahu ya, yang spesial buat bang Arvin hanya Ratu aja. His Queen. “ sahut Ratu tanpa mau menerima uluran tangan Anggitya.


“ Heh. “ Anggit tersenyum sinis. “ Anak kecil. Yakin lo? Gue nih yang bakalan jadi yang spesial buat Arvin. Lo mah lewat. “ tanpa sadar jika Arvin masih ada di depannya, Anggit meninggikan suaranya terhadap Ratu.


Arvin menghela nafas kasar menahan temannya yang sudah meninggikan suara kepada Queennya. Dan terus terang, ia tidak suka itu.


“ Kakak mau bukti? Ayo kita buktikan. Siapa di antara kita yang lebih penting buat bang Arvin. Kakak, apa aku? “ sahut Ratu masih dengan sikap tenangnya.


“ Bang, abang pilih dia atau Queen? “ tanya Ratu.

__ADS_1


Tapi Arvin masih tidak bergeming. Membuat ratu menghela nafas berat. Sedangkan Anggit tersenyum penuh kemenangan saat Arvin hanya diam saja. Ia menganggap diamnya Arvin, adalah karena Arvin memilihnya.


“ Oke. Ratu pergi. “ pamit Ratu.


Tapi sebelum ia berbalik meninggalkan meja Arvin, ia berkata, “ Jika memang bang Arvin tidak mengejarku, maka kakak yang menang. Tapi kalau sampai bang Arvin ngejar aku, jangan sekali-sekali mencoba mendekatinya lagi. “ ancam Ratu, lalu ia berbalik meninggalkan kedua orang itu dengan hati yang sakit. Bahkan air matanya hampir jatuh jika saja ia tidak menahannya.


Ratu mempercepat langkah kakinya keluar dari kantin. Bahkan ia tidak menghiraukan panggilan Paris yang sedari tadi meneriakinya. Dengan langkah lebar dan hati dongkol, Ratu berjalan menuju area parkir.


“ kakak….” Panggil Paris. Tapi Ratu masih saja tidak menoleh. Sampai akhirnya mereka sampai di parkiran.


“ Kakak kenapa sih? “ tanya Paris setelah ia berada di belakang Ratu. Ratu berbalik menengok ke belakang. Tapi bukan ke arah Paris pandangannya. Ratu mengarahkan pandangannya ke arah lain.


Tapi sepertinya pandangan Ratu percuma. Ia tidak mendapati seseorang yang di harapkannya. “ ****! AWAS aja kamu bang !” ujar Ratu geram sambil meremas tali sling bagnya. Ia lalu berbalik kembali dan segera menuju pintu mobil sebelah kemudi.


“ Paris, buruan buka kunci mobilnya.” Pinta Ratu setengah berteriak. “ Gerah nih . Sumpah. “ lanjutnya sambil mengibaskan tangannya ke kiri ke kanan.


“ O-oh iya. Bentar. “ sahut Paris tersadar setelah ia tadi mendengar umpatan Ratu. Ia belum pernah mendengar Ratu mengumpat sebelumnya. Paris buru-buru mengambil kunci mobil yang ada di saku celananya, lalu membuka kunci mobil dengan menggunakan remote.


“ Kak, ada apa sih? “ tanya Paris sambil memasang seatbelt-nya.


“ Kesel!” jawab Ratu sambil menggigit kuku-kuku jarinya dan pandangan pada kaca spion. Ia masih berharap, Arvin akan mengejarnya.


“ Kesel kenapa? Sama bang Ar? “ tanya Paris kembali. Kini ia mulai mengeluarkan mobilnya dari area parkir.


“ Siapa lagi? “ sahut Ratu masih dengan ketus.


“ Emang kenapa sama Bang Ar? Terus cewek tadi siapanya bang Ar? “ tanya Paris.


“ Ngakunya temen abang. Tapi bentar lagi bakalan jadi spesial buat abang. “ sahut Ratu sambil memanyunkan bibirnya. “ dan yang bikin aku kesel banget nih, sepertinya abang lebih milih dia daripada aku. Buktinya, abang nggak ngejar aku. “


Paris mengernyitkan dahinya. “ Kak, bukannya nggak masalah ya kalau bang Ar punya cewek? “


“ Masalah! Cuma aku yang boleh dekat sama abang. Cuma aku yang boleh miliki abang. Titi, nggak pakai koma. “


“ Ha? “ Paris di buat melongo dengan jawaban Ratu. “ What the h*ell? “ batin Paris. Bahkan Paris harus menelan salivanya dengan susah payah.


“ Kak, nggak salah bicara? “

__ADS_1


“ Kenapa harus salah? Boleh kan kalau bang Ar hanya jadi milik seorang Ratu? Boleh kan kalau aku suka sama abang? Toh kita juga bukan saudara kandung ini. “ celetuk Ratu tanpa berpikir panjang. Dan mungkin dia juga tidak sadar dengan apa yang ia katakan.


Bersambung


__ADS_2