Cinta Datang Karena Terbiasa

Cinta Datang Karena Terbiasa
Riding a horse


__ADS_3

" Beneran dok? " tanya Arvin bersemangat dan dengan wajah berseri.


" Iya, tuan. Sekali lagi selamat tuan, nyonya. " ucap sang dokter.


" Alhamdulillah..... " ucap Arvin. " Terima kasih banyak, sayang. Sudah memberikan hadiah ulang tahun terbesar dalam hidup abang. " lanjutnya sambil mengecup kening Ratu berulang-ulang.


" Abang ih.. Malu sama Bu dokter. " ucap Ratu sambil menjauhkan wajah sang suami. Ratu masih dalam posisi berbaring di atas ranjang periksa di kamar suatu rumah sakit ternama di London.


Arvin tersenyum dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil melirik ke arah dokter yang hanya menggelengkan kepalanya.


" Janinnya sudah delapan minggu usianya. Apa nyonya tidak merasakan mual atau pusing? " tanya sang dokter.


" Tidak dok. Saya sama sekali tidak merasakan apapun. Makanya saya tidak tahu jika saya hamil. Cuma yah... Nafsu makan saya memang akhir-akhir ini meningkat drastis. " jawab Ratu


" Tidak masalah itu nyonya. Malah bagus jika anda tidak mengalami mual maupun pusing. Anda masih bisa beraktivitas seperti biasa tiap hari. " sahut dokter.


Setelah acara pemeriksaan, dokter memberikan beberapa informasi seputar kehamilan. Hal-hal apa saja yang boleh di lakukan, maupun yang tidak boleh dilakukan.


Setelahnya, Ratu dan Arvin segera meninggalkan rumah sakit dengan wajah Arvin yang terus berbinar dan senyuman yang tak lekang dari sudut bibirnya. Sedangkan wajah Ratu, masih seperti orang yang bingung.


Sepanjang jalan keluar dari rumah sakit, Arvin selalu mengamit posesif pinggang Ratu.


" Bang... " panggil Ratu ketika mereka sudah duduk berdampingan di dalam mobil. Arvin yang sedang memegang kemudi, menoleh ke samping.


" Kenapa sayang? " tanya Arvin lembut.


" Bang... Queen kok takut ya. "


" Takut kenapa? " tanya Arvin sambil mengelus puncak kepala Ratu dengan sebelah tangannya dan sebelah tangannya lagi masih memegang kemudi.


" Queen takut nggak bisa jadi mama yang baik buat anak kita nanti. Queen belum berpengalaman mengurus anak. "


" Sayang, jika Tuhan sudah memberi kepercayaan sama kita, berarti Tuhan tahu jika kita mampu. Kita akan belajar bersama dan berusaha bersama menjadi orang tua yang terbaik untuk anak kita nanti. Oke? Jangan takut lagi. Ada abang yang selalu ada buat kamu. " jelas Arvin menenangkan sang istri yang memang masih agak labil.


Arvin mengambil tangan kanan Ratu, lalu mengecup punggung tangannya.


Tiba-tiba ponsel Arvin berbunyi. Arvin melepas tangan Ratu, dan mengambil earphone nya.


" Halo. "


" .... "


" Yes, Daddy. Daddy akan punya cucu. " jawab Arvin sambil tersenyum bahagia.


" .... "


" Yes, Dad. Arvin pasti akan segera memberitahu keluarga di Indonesia. " jawab Arvin.

__ADS_1


" ... "


Lalu panggilan di akhiri.


" Daddy Robert? " tanya Ratu.


Arvin mengangguk.


" Apa Daddy sudah curiga jika Queen hamil? "


" Tadi pagi Abang kasih tahu Daddy Robert tentang kecurigaan abang. Apa kamu tidak ingin memberitahu Daddy El dan mommy berita bahagia ini? Mereka pasti akan sangat bahagia. "


" Iya. Queen akan menghubungi Mom dan Dad sekarang. Daddy pasti sudah ada di rumah sekarang. "


🌷🌷🌷


Sedangkan di negara lain di sebuah apartemen.


" Massss...... " panggil Paris ke sang suami yang sedang sibuk mengenakan kemejanya karena ia akan ke kantor apartemen yang ia tinggali sekarang. Ia harus meneliti beberapa dokumen.


Paris mengikuti kemanapun suaminya berjalan. Dan entah semenjak kapan ia memanggil suaminya dengan sebutan mas.


" Sebentar, sayang... " sahut Agam sambil mengancingkan kemejanya.


" Maaassss..... " panggilnya lagi dengan nada suara manja. Tapi Agam masih tetap sibuk mengancingkan kemeja.


Agam tersenyum mendapati perlakuan sang istri. Sang istri yang sebelumnya selalu garang, dua bulan terakhir ini selalu bersikap manis dan manja.


Agam melepas tangan Paris dan memutar tubuhnya hingga menghadap sang istri.


" Istriku yang super cantik ini, mau apa? Hem? " tanya Agam sambil memeluk Paris dan mengecup puncak kepalanya.


" Mau di peluk. " jawab Paris manja sambil menenggelamkan wajahnya di dada Agam. Agam melebarkan senyumannya.


" Iya. Ini udah aku peluk. " sahut Agam. " Istriku sekarang kok jadi manja banget sih? Tapi aku suka. Sangat suka. " rayu Agam karena ia tahu, jika ia sampai salah memenggal kalimatnya, akan panjang urusannya.


" Di rumah aja. Nggak usah ke kantor. " pinta Paris.


" Hem?? " Agam sedikit menjauhkan tubuhnya dan menatap wajah Paris. " Emang kamu nggak kuliah? Kamu ada jam kuliah pagi kan? " tanya Agam.


" Males. Pengen di rumah aja sama kamu. Pengen di peluk sama kamu seharian. " ucap Paris.


Terkadang, Agam bertanya - tanya kenapa belakangan ini sang istri begitu manja. Tingkat kemanjaannya menjadi berlipat-lipat. Jika sudah keluar manjanya, maka ia akan di buat bingung.


" Kalau nggak kuliah, nanti nggak lulus lulus loh. Katanya pengen cepat jadi pilot. " ujar Agam.


Paris menggeleng. " Nggak jadi pengen jadi pilot. Mau jadi istri kamu aja. " jawabnya.

__ADS_1


Agam terkekeh. " Udah pinter gombal ya sekarang. "


" Kok gombal sih. Beneran loh ini. " jawab Paris sambil membalas tatapan Agam.


Agam tersenyum dan mengangguk. " Tapi aku harus ke kantor, sayang. Ada beberapa berkas yang harus aku lihat. "


" Bawa pulang aja. Suruh aja bang Kenan anter kesini. " rayu Paris.


" Sebentar aja kok. Nanti aku usahain cepet pulang. Apa kamu mau ikut ke kantor aja? " tawar Agam.


Paris menggeleng. " Nggak ah. Kan lagi males keluar rumah. " jawabnya sambil memainkan jari-jarinya di dada bidang sang suami membentuk sesuatu yang abstrak.


Paris mengalungkan kedua tangannya ke leher Agam lalu memeluk Agam sambil mengecup lembut leher sang suami dan membuat suaminya memejamkan mata menahan sesuatu dalam dirinya.


" Sayang.... Jangan seperti ini. " pinta Agam memelas.


" Pengen menunggang kuda. " bisik Paris di telinga Agam dan membuat Agam memelototkan matanya.


" Sayang, tadi pagi habis sholat subuh kan udah. " ucap Agam.


" Tapi kan tadi kamu yang main bola sodok. Sekarang aku mau nunggang kuda. " bisik Paris kembali sambil menjilat kecil daun telinga sang suami.


Ya Tuhan... Kenapa istriku jadi mesum begini?? Kalau begini caranya, bagaimana mungkin aku bisa menolak. batin Agam.


" Aku bisa terlambat ke kantor, sayang. Kasihan bang Kenan nungguin. " ucap Agam yang ternyata tidak sejalan dengan reaksi tubuhnya.


" Sebentar aja kok. Lagian kalau menunggang kuda lama-lama, aku juga capek. " ucap Paris dan setelahnya, ia sudah meraup bibir sang suami.


Jika sudah begini, tidak akan mungkin Agam bisa menolak. Ia pun membalas pagutan sang istri. Ia bahkan menahan tengkuk Paris untuk memperdalam ciu-mannya.


" Let's ride a horse on sofa, honey. " bisik Paris di sela-sela kegiatannya.


" Let's do it. " jawab Agam bersemangat. Jika sudah begini, Agam akan melupakan janjinya dengan Kenan, asistennya.


Lalu merekapun mulai saling mencumbu dan berakhir riding a horse di sofa di ruang tengah. Bermandikan peluh, Paris dan Agam mengakhiri kegiatannya. Paris benar-benar pintar memanjakan Agam.


" Kamu selalu yang terbaik, sayang. " ucap Agam sambil mengecup kening Paris yang bersandar di dadanya karena kelelahan setelah menunggang kuda cukup lama.


Paris tersenyum, lalu ia berdiri dan melepas penyatuannya dengan Agam setelah mengambil beberapa lembar tisu.


" Pergilah bekerja, sayang. Bawa duit yang banyak kalau pulang nanti. " ucap Paris sambil mengerlingkan sebelah matanya.


Agam tersenyum, lalu ia membenarkan celananya yang terbuka dan memakai kembali kemejanya dengan benar. Sedangkan Paris, berjalan dengan tubuh polosnya ke arah kulkas dan mengambil sebotol air mineral. Tapi tiba-tiba....


Hoek..... Hoek.... Hoek.....


bersambung

__ADS_1


__ADS_2