Cinta Datang Karena Terbiasa

Cinta Datang Karena Terbiasa
Abang kenapa?


__ADS_3

Malam ini, Paris dan Ratu keluar sesuai dengan yang sudah di rencanakan. Azkara menjemput mereka di rumah Paris. Dan sekarang, mereka sedang berada di mall. Mereka hendak makan malam setelah sebelumnya mereka nonton film.


Sayang, Kevin sama Jojo tidak bisa ikut makan malam karena mereka ada rencana yang lain.


" Kak, aku ke toilet bentar ya. " pamit Paris ke Ratu.


" Kalian ke resto aja dulu. Entar gue nyusul. Gue nitip kakak gue. " pamit Paris ke Azkara. Dan Azkara mengangguk.


" Yuk, kita ke resto dulu. " ajak Azkara saat Paris telah berlalu. Ratu mengangguk, lalu mengikuti langkah Azkara.


Baru beberapa langkah mereka melangkah sambil mengobrol, seseorang tiba-tiba mencekal lengan Ratu dan dengan tatapan tajam yang mematikan. Ratu dan Azkara terkejut di buatnya.


" Ab-bang. " gumam Ratu.


" Ngapain kamu di sini? Bukankah Daddy sama mommy sedang tidak ada di rumah? " cecar Arvin dengan nada suara marah.


Sungguh Ratu belum pernah Arvin marah seperti ini ke dia. Ratu bahkan menundukkan kepalanya karena takut dengan tatapan Arvin. Jantungnya juga bertalu-talu. Berdebar kencang karena takut, juga karena bertemu dengan abang yang diam-diam ia sukai.


" Apa kamu sengaja keluar rumah saat Daddy sama mommy tidak ada di rumah? " ujar Arvin kembali sambil memicingkan matanya.


Ratu berusaha melepaskan tangannya dari cekalan sang abang. Tapi Arvin justru semakin mempererat cekalannya.


" Lo tahu, kalau orang tuanya sedang tidak ada di rumah? Lo sengaja bawa dia keluar? Iya? " tanya Arvin ke Azkara dengan nada suara tinggi. Tapi Azkara masih tetap stay cool. Ia sama sekali tidak kelihatan takut.


" Abang! " pekik Ratu tertahan.


" Kenapa? Nggak suka Abang marah sama pacar kamu? Iya? " ucap Arvin ke Ratu yang juga dengan nada suara tinggi.


Arvin tadi memang langsung emosi kala melihat Ratu sedang jalan dengan laki-laki lain. Tanpa berpikir panjang, ia langsung menghampiri Ratu dan Azkara. Rasa cemburu langsung menguasainya.


Ratu diam tanpa berusaha menjawab. Ia juga kesal dengan sikap Arvin yang tiba-tiba marah-marah nggak jelas.


Karena rasa yang makin kesal karena tidak mendapat jawaban dari Ratu maupun Azkara, Arvin langsung menarik tangan Ratu dan di bawa pergi keluar dari mall.


Sedangkan Azkara hanya tersenyum miring melihat kepergian keduanya.


" Makanya, kalau emang cinta tuh bilang, bang. Jangan cuma di pendam. " gumam Azkara.

__ADS_1


Selang beberapa saat kepergian Arvin juga Ratu, Paris terlihat keluar dari toilet. Azkara sengaja menunggunya di dekat toilet. Ia tidak melanjutkan rencananya untuk ke resto. Ia memutuskan untuk menunggu Paris.


" Loh, Ka. Kok Lo malah di sini? " tanya Paris. " Kak Ratu mana? Ke toilet juga? " tanyanya kembali sambil melongok ke kanan dan ke kiri.


" Ratu di bawa pergi sama bang Arvin. " jawab Azkara.


Paris mengernyitkan dahinya. " Kok bisa ada bang Ar? Terus ngapain bang Ar bawa kak Ratu pergi? "


Azkara mengendikkan bahunya. " Bang Ar marah-marah nggak jelas. Cemburu kayaknya. Lihat Ratu jalan ma gue. " jawab Arvin.


" Wah, gawat. Kak Ratu pasti butuh bantuan. " ujar Paris sambil mulai melangkahkan kakinya. Tapi tangannya segera di cekal oleh Azkara.


" Mau kemana? " tanya Azkara.


" Mau susulin kak Ratu. Dia pasti butuh gue. " sahut Paris.


" Jangan. Nggak usah. Beri waktu buat mereka berdua buat nyelesein masalah mereka. Mereka butuh waktu buat berdua. Mumpung bokap sama nyokap Ratu lagi nggak di rumah kan? " ujar Azkara.


" Tapi...Kalau kak Ratu di apa-apain sama bang Ar gimana? " ucap Paris masih dengan wajah cemasnya.


Dan jadilah mereka makan malam berdua. Dan sedari awal, hal inilah yang diinginkan dan di harapkan oleh Azkara. Bisa berduaan dengan Paris. Berkencan mungkin.


Di tempat lain.


Arvin membawa Ratu pulang ke rumah. Tadi ia menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Tidak ada pembicaraan apapun di dalam mobil. Keduanya memilih diam.


Saat mobil berhenti di depan pekarangan rumah, Ratu segera turun dari mobil. Arvin yang melihatnya, segera menyusul langkah Ratu. Sampai di dalam rumah, Arvin akhirnya bisa menyamai langkah Ratu. Ia menarik tangan Ratu.


" Kita harus bicara. Udah cukup waktu yang Abang kasih ke kamu untuk diam selama ini. " ucap Arvin dengan nada tegas.


" Sakit bang. Lepasin tangan Queen. " pinta Ratu sambil berusaha melepas cekalan Arvin.


" Nggak. Abang nggak akan melepas sebelum kita bicara. " ucap Arvin dengan nada suara penuh penekanan.


Ratu menghela nafas kasar. " Mau bicara apa bang? Kalau abang mau bicara, sok...bicara saja. " ucap Ratu tanpa mau melihat ke arah Arvin. Ia tidak sanggup untuk melihat wajah laki-laki yang begitu ia rindukan.


Arvin menarik nafas dalam-dalam sambil memejamkan matanya. " Kenapa kamu menghindar dari Abang terus menerus? Apa salah Abang? Bukankah Abang udah minta maaf sama kamu? "

__ADS_1


" Queen nggak ngerasa menghindar dari Abang kok. Abang aja yang negatif thinking. " jawab Ratu.


" Queen..." Arvin sedikit meninggikan suaranya.


" Kenapa? Queen capek bang. Queen capek sama sikap Abang. Queen juga ingin kebebasan. Punya teman yang banyak. Kenapa Abang tadi bentak kak Azka? Dan kenapa Abang tadi datang terus marah-marah? Nggak jelas banget. " protes Ratu.


" Yah. Abang marah. Abang marah sama Azkara. Abang nggak suka kamu jalan sama laki-laki lain. Berani-beraninya dia bawa kamu keluar. Berdua lagi. " ucap Arvin.


" Queen sama Paris kok. Siapa yang bilang Queen berdua aja sama kak Azkara ? "


" Tapi Abang tetap nggak suka kamu jalan sama laki-laki lain. "


" Abang ini kenapa sih? Kenapa Abang membatasi pergaulan Queen? Dan kenapa Abang bisa bebas bergaul dengan siapa saja tapi Queen nggak? " Queen benar-benar kesal saat ini. Ia menyentak tangan Arvin kasar sehingga cekalan tangan Arvin terlepas. Membuat Arvin sedikit terkejut.


" Abang tahu kenapa Queen mendiamkan Abang? Queen kesel sama Abang. Abang udah nggak sayang lagi sama Queen. " bentak Ratu.


" Siapa bilang Abang nggak Sayang sama Queen? Abang selalu sayang sama Queen. " jawab Arvin.


" Heh. " Ratu tersenyum miring. " Kalau Abang sayang sama Queen, kenapa Abang lebih milih perempuan itu? "


" Perempuan yang mana? "


" Perempuan yang makan sama Abang di kantin. Pacar Abang? Iya? Abang lebih sayang sama pacar Abang daripada ke Queen. Dan Queen nggak suka itu. Queen nggak suka Abang dekat sama perempuan lain. Sama kayak Abang yang nggak suka jika Queen bergaul dengan teman laki-laki. " ucap Ratu lantang.


" Siapa yang bilang kalau perempuan itu pacar Abang? " tanya Arvin sambil memicingkan matanya.


" Kalau bukan pacar Abang, kenapa waktu itu Abang lebih milih belain dia daripada kejar Queen? " tanya Ratu menggebu-gebu.


" Abang nyusul kamu tapi kamu udah nggak ada. "


" Bohong. " pekik Ratu. " Abang udah nggak sayang sama Queen. Mending Queen menjauh dari Abang daripada harus lihat Abang sama perempuan lain. " Ratu berteriak. Hatinya sakit kala mengingat jika sang Abang yang ia cintai memiliki perempuan lain.


Arvin ikut terbakar emosi dan terbawa suasana. Ia segera menarik tubuh Ratu. Mendekatkan wajahnya ke wajah Ratu, dan kemudian ia mencium bibir Ratu yang sedari tadi berbicara dengan menggebu-gebu.


Cup


bersambung

__ADS_1


__ADS_2