
Sedangkan di kamar sebelah, seorang laki-laki tengah menunggu sang istri yang sedang berada di dalam kamar mandi hampir satu jam lamanya. Arvin duduk di sofa dengan sedikit gelisah. Kira-kira apa yang di lakukan sang istri di dalam kamar mandi sana. Sesekali ia melirik ke arah kamar mandi.
Dan di dalam kamar mandi, Ratu juga sedang duduk di atas closet yang tertutup dengan gelisah pula. Tubuhnya agak gemetar. Ia menggigiti kuku jarinya berkali-kali. Ratu mengenakan bathrope dan rambut yang sedikit basah. Mungkin saking lamanya Ratu duduk di atas closet setelah mandi, rambut yang tadinya basah, kini hampir mengering.
Tok... Tok.... Tok...
Ratu berjingkat terkejut mendengar pintu kamar mandi di ketuk dari luar. Ratu langsung mengarahkan pandangannya ke pintu.
" Sayang.... Queen... Kamu baik-baik saja kan? " tanya Arvin dari luar.
" Ab-abang... " ucap Ratu lirih.
" Duh, gimana ini??? Aku beneran takut. Kata Mbah G, kalau pertama itu sakitnya minta ampun. " keluh Ratu. " Apa aku bohong aja ke abang kalau aku lagi dapet ya? " gumamnya.
Tok... Tok.... Tok....
" Queen? Sayang?? " panggil Arvin kembali karena tidak ada jawaban dari dalam. Dan masih tetap sama. Masih tidak ada jawaban dari dalam.
Dog.... Dog... Dog....
Bukan lagi di totok pintu kamar mandi itu. Tapi di gedog dengan sangat kencang.
" QUEEN.... Buka pintunya, atau abang dobrak dari luar. " teriak Arvin karena cemas dan panik.
" Bentar bang.... " jawab Ratu dari dalam kamar mandi. Arvin bisa bernafas lega sekarang.
Ceklek
Pintu kamar mandi di buka dari dalam dan terlihatlah Ratu yang hendak keluar dari kamar mandi. Mendapati Arvin yang berdiri tepat di depan kamar mandi, membuat Ratu terkejut dan menjadi salah tingkah. Ia lalu menundukkan pandangannya.
" Kenapa lama sekali di kamar mandi? Kamu bisa masuk angin nanti. " tanya Arvin sambil mengelus puncak kepala Ratu.
" Iya bang. Maaf, Queen keasyikan berendam. Jadi nggak terasa jika Queen sudah terlalu lama di dalam kamar mandi. " jawab Ratu sambil cengengesan.
Arvin mengerutkan keningnya. " Selama satu jam di kamar mandi, kamu berendam? Queen, kalau kamu masuk angin gimana? Kalau kamu demam gimana? " tanya Arvin dengan nada sedikit cemas. Karena ia sangat tahu jika Ratu tidak bisa dengan udara dingin.
" Queen baik-baik saja kok bang. " jawab Ratu lagi dengan nada sesantai mungkin.
" Ya udah, cepat ganti baju sana. Kata mommy, bajumu ada di dalam almari. " ujar Arvin.
Ratu mengangguk, lalu ia segera bergeser dan berjalan menuju ke arah almari. Sedangkan Arvin, ia segera masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan diri.
Ketika berada di dalam kamar mandi, Arvin mengernyitkan dahinya.
" Katanya baru selesai berendam. Kok, bathtub nya udah kering? " tanya Arvin bermonolog. Lalu ia menoleh ke arah pintu, lalu kembali ke arah bathtub sambil memicingkan kepalanya.
" Tunggu... Rambut Queen juga udah hampir kering. Dan hairdryer, aku lihat tadi ada di atas meja rias kamar. Jangan-jangan dia.... " ucapan Arvin terhenti, lalu tiba-tiba ia tersenyum tipis dan menggelengkan kepalanya.
Di dalam kamar, Ratu terbengong melihat isi almari. Di dalam almari, hanya ada dua potong baju hariannya, dan 2 potong baju tidur tipis, bahkan saking tipisnya, baju tidur itu tembus pandang. Ratu tidak mendapati baju tidur yang biasanya ia pakai saat hendak tidur.
Ia lalu duduk di tepi ranjang dengan gontai sambil menatap almari yang masih terbuka. Lalu bergantian menatap bathrope yang masih melekat dalam tubuhnya.
" Nggak mungkin kan aku pakai baju itu. Hiks... Mommy tega sama anakmu mommmm..... " pekik Ratu. Dari dalam kamar mandi, Arvin mendengar pekikan istrinya itu dengan tersenyum gemas.
" Daripada aku harus pakai baju murahan itu, mending aku pakai bathrope ini aja. " ujar Ratu. Ia lalu berdiri dan menutup pintu almari. Setelahnya, ia segera naik ke atas ranjang dan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya hingga leher.
__ADS_1
Ceklek
Terdengar pintu kamar mandi di buka dari dalam. Ratu cepat-cepat pura-pura tidur sambil membelakangi ranjang kosong yang ada di sebelahnya. Pergerakan Ratu tak luput dari perhatian Arvin. Arvin tahu jika Ratu sedang berusaha menghindarinya. Arvin tersenyum, lalu ia berjalan menuju ke almari sambil menggosok rambutnya yang basah dengan handuk kecil.
Sampai di depan almari, Arvin membuka pintu almari itu, untuk mengambil baju gantinya. Saat ia telah mengambil kaos dan celana boxernya, Arvin mengernyitkan dahinya, lalu menoleh ke arah ranjang.
' Kenapa baju tidurnya masih utuh? Pakai apa dia? Atau jangan-jangan dia masih pakai bathrope? ' Arvin bertanya-tanya dalam hati.
Arvin sebenarnya sudah tahu jika baju yang mertuanya sediakan adalah lingerie yang seksi tentu saja.
Arvin menutup kembali pintu almari, lalu mengenakan celana boxernya, dan melepas handuk yang sedari tadi melilit di pinggangnya. Ia berjalan menuju tempat tidur sambil mengenakan kaosnya.
Arvin tersenyum kala merasakan jika istrinya itu sedang berpura-pura tidur.
" Yah, malah tidur. Gagal dong malam pertamanya. Padahal kamarnya udah romantis gini. " goda Arvin.
' Mampus gue. Jangan sekarang dong please.... Gue takut... sumpah... ' teriak Ratu dalam hati. Ia semakin mengeratkan pejaman matanya. Ia juga semakin mengeratkan pegangannya di ujung selimut.
Melihat Ratu yang semakin menarik selimutnya, Arvin semakin melengkungkan bibirnya. Ia menggeser tubuhnya, dan merebahkan tubuhnya tepat di belakang Ratu. Lalu ia memeluk tubuh Ratu dari belakang. Ia melingkarkan tangannya di atas perut Ratu.
Jantung Ratu berdetak makin kencang. Tubuhnya juga makin gemetar.
" Aku tahu, kamu hanya pura-pura tidur. " bisik Arvin tepat di telinga Ratu sambil menahan tawanya. Tapi Ratu malah semakin mengeratkan pejaman matanya.
" Sayang, ayolah... Malam ini adalah malam pertama kita. " pinta Arvin sambil tangannya yang tidak tinggal diam.
Plak
Ratu spontan memukul tangan Arvin karena tangan nakal Arvin membuatnya geli.
" Kenapa harus di tunda? Hem? " tanya Arvin.
" Queen takut bang .. Sumpah. "
" Kenapa mesti takut? Kamu tahu, berhubungan suami istri itu sangat nikmat dan indah. Orang bilang adalah surga dunia bagi pasangan yang telah halal. " ucap Arvin membujuk.
" Tapi... Queen baca-baca, terus teman-teman Queen juga ada yang bilang, kalau malam pertama itu sakitnya sampai ke ubun-ubun loh bang. Emang abang nggak takut kalau sakit bang? " ucap Ratu dengan wajah yang menggemaskan.
" Kan itu cuma artikel. Belum tentu yang bikin artikel sudah pernah merasakannya. Apalagi teman-teman kamu. Emang mereka sudah pernah malam pertama? "
Ratu menggeleng, " Ya belum lah. Kan mereka belum menikah. " jawabnya.
" Makanya, jangan percaya begitu saja kalau belum ngerasain sendiri. "
" Emang abang udah pernah ngerasain? "
" Ya belum lah. Kan abang juga baru nikah hari ini. Gimana abang bisa tahu rasanya malam pertama. " jawab Arvin. " Sekarang gini aja. Daripada kita hanya menebak-nebak, kita coba aja. Kita praktekin, sakit apa nggaknya. Kan kita sama-sama belum tahu. " bujuk Arvin.
Ratu terdiam nampak berpikir.
" Kalau kamu udah ngerasain sendiri, kamu bisa cerita sama teman-teman kamu. Enak apa enak. " bujuk Arvin kembali.
" Tapi ... gimana kalau beneran sakit bang? " tanya Ratu sambil menatap Arvin.
" Kalau sakit ya kita berhenti. " jawab Arvin.
__ADS_1
' Mana mungkin bisa berhenti kalau udah hampir masuk. Aku akan tetap meneruskannya tentu saja. ' jawab Arvin dalam hati.
" Gimana? Kita coba sekarang ya? " tanya Arvin. Dan Ratu mengangguk meskipun mesti dengan ragu-ragu.
Arvin tersenyum, lalu mulai melancarkan aksinya. Ia mengecup seluruh wajah Ratu, dan terakhir mendarat di bibir istrinya. Ia mencium dan ******* bibir istrinya penuh dengan dahaga. Tangannya pun mulai bergerilya kesana kemari, hingga ia melepas tali bathrope yang ada di atas perut Ratu.
Ratu menggeliat dan menggelinjang saat ia merasakan sensasi baru yang belum pernah dia rasakan. Rasa nikmat, indah, seakan tak mau berhenti. Arvin menipiskan bibirnya saat tangannya bermain di atas dada istrinya, dan istrinya itu mendesah sambil menutup matanya.
" Apakah sakit? " tanya Arvin di sela-sela kegiatannya. Ratu membuka matanya dan menggelengkan kepalanya.
" Lanjut? " tanya Arvin, dan Ratu mengangguk. Dengan semangat yang tinggi, Arvin membuka kaosnya. Lalu ia juga menarik bathrope yang di kenakan oleh Ratu, dan melepasnya, membuangnya sembarangan. Sambil kembali meraup bibir sang istri, Arvin menelusupkan tangannya di bawah punggung Ratu dan melepas pengait br@. Lalu membuang br@ itu sembarang di lantai.
Dan terus berlanjutlah kegiatan panas mereka hingga keduanya melepas semua yang menempel di tubuh mereka.
Sampai ketika Arvin mulai mengarahkan senjata tajamnya ke sarungnya, Ratu membeliakkan matanya.
" Abang.... Apaan tuh? " pekiknya kaget melihat senjata suaminya.
" Ini adalah alat untuk mencetak Arvin dan Queen junior sayang. " jawab Arvin dengan suara seraknya.
" Mau abang kemanain? "
" Di masukkan ke dalam milik kamu biar kecebongnya menetas di dalam perut kamu. "
" Ih, Abang... Apa muat? "
" Muatlah sayang. Ini tuh elastis. Milik kamu juga elastis. Masak buat jalan baby kita keluar aja muat kok sama senjata Abang nggak muat sih. " rayu Arvin. " Kita coba dulu. Pasti muat. " tambahnya.
Ratu memandang wajah Arvin dan senjata Arvin bergantian. Lalu mengangguk dengan ragu. Arvin tersenyum lebar saat melihat sang istri mengangguk.
Pelan-pelan, Arvin mulai mengarahkan senjatanya dan ia juga mencium bibir sang istri biar sang istri teralihkan perhatiannya.
" Aaaaa..... Abaaaanggg.... " teriak Ratu kala senjata Arvin menerobos masuk separuh.
" Berhenti Abang.... Sakiiiiitttt.... " pinta Ratu.
Arvin menghela nafas berat dan menghentikan kegiatannya. Ia menunggu hingga Ratu rileks.
" Abang.... Kok nggak di keluarin itunya? Sakit loh bang. Kita berhenti dulu yuk... Emang punya Abang nggak sakit? " rengek Ratu sambil bergerak -gerak gelisah.
" Tanggung sayang. Kita akan tuntaskan sekarang. Kalau tidak kita tuntaskan sekarang, besok pasti akan sakit lagi. Kita selesaikan biar sakitnya sekali ini aja. Aku juga berusaha menahan sakit loh ini. " bohong Arvin.
Ratu tidak menjawab, tapi malah semakin menggerakkan tubuh bagian bawahnya dan membuat Arvin semakin frustasi.
" Sayang, jangan bergerak terus. Biar nanti aku aja yang bergerak. " pinta Arvin. Tanpa menunggu jawaban dari Ratu, Arvin kembali menerobos masuk lebih dalam.
" Aaaaaa..... " teriak Ratu kembali, tapi Arvin malah tersenyum tipis karena ia telah berhasil membobol masuk keseluruhan. Tapi kali ini, ia akan menunggu hingga istrinya benar-benar rileks.
Dan benar saja, selang beberapa saat, Ratu sudah tidak merasakan nyeri lagi. Saat itu, Arvin lalu meneruskan kegiatannya, bergerak maju mundur dengan ritme pelan, dan berubah menjadi cepat kala mendengar desa-han dan racauan dari mulut istrinya. Kali ini, ia akan sampai pada puncak. Ia mengerang, bersamaan dengan Ratu yang juga mengerang, dan entah sudah yang keberapa kalinya.
"Aaaahhhh...... " teriak sepasang manusia itu bersamaan.
bersambung
Sampai sini dulu ya guysss... Tangan othor udah capek....🙏🙏
__ADS_1