
Sudah tiga bulan juga Arvin meninggalkan Indonesia dan hidup bersama ayah kandungnya. Selama itu pula Ratu tidak bertemu dengannya. Jangankan bertemu, saling kirim pesan aja tidak. Arvin masih stay dengan kesalahpahaman yang ada, sedangkan Ratu memang sengaja tidak mnghubungi terlebih dahulu.
“ Sayang, apa kamu masih tetap tidak ingin memberi kabar ke abang kamu? “ tanya sang mommy ketika mereka sedang berada di ruang keluarga. Mereka sedang duduk bersantai setelah acara makan malam. Ratu tiduran di paha sang mommy, sedangkan sang Daddy duduk di sebelah istrinya sambil memainkan anak rambut sang istri.
Ratu menggeleng. “ Biarin aja mom. Ratu masih kesel juga sama abang. Abang udah jahat sama Ratu. “ jawabnya sambil cemberut dan memainkan ujung gaun sang mommy yang berada di atas lutus sang mommy.
Armell dan Seno sedikit terkekeh mendengar ucapan putrinya. Lalu Armell menjulurkan tagannya dan membelai rambut Ratu. “ Abang kan nggak tahu sayang, kalau dia mau di tunangkan sama kamu. Abang tahunya kamu tunangan sama Rendra. “ Armell mengingatkan.
“ Iya, mom. Ratu tahu. Tapi Ratu masih kesel aja. Kenapa waktu dia denger Ratu mau di jodohin sama Rendra dia diem aja coba? Kalau abang beneran sayang sama Ratu, harusnya abang belain dong cintanya. Bukannya malah diem terus pergi begitu aja. Cemen banget tahu nggak sih mom? “ gerutu Ratu.
“ Awas loh, kalau abang denger bisa marah dia kamu katain cemen. “ ujar Seno.
“ Biarin. “ sahut Ratu sambil sedikit mengangkat kepalanya dan menoleh ke Daddynya. Tapi sebentar kemudian, ia kembali merebahkan kepalanya kembali di paha sang mommy. “ Si abang emang cemen kok. Katanya cinta, tapi cetek. “ kesalnya.
“ emang kamu nggak kangen gitu sama abang? Katanya cinta… katanya sayang… berarti kangen dong… “ goda sang Daddy.
“ Nggak. “ jawab Ratu sambil cemberut. Bohong jika dia tidak merindukan abangnya. Ratu sangat merindukan Arvin. Setiap malam dia selalu memandangi foto Arvin yang ada di ponselnya sebelum akhirnya ia jatuh tertidur lelap.
“ Udah deh dad, mom. Jangan bicarain abang lagi. Ratu sengaja nggak menghubungi abang. Ratu juga minta sama kalian supaya jangan ada yang kasih tahu abang kalau Ratu nggak jadi tunangan sama Rendra. Ratu pengen tahu keseriusan abang. Seberapa besar cinta abang. Seberapa besar keinginan abang untuk mempertahankan apa yang ingin dia miliki? Kalau emang abang beneran cinta sama Ratu, abang pasti kembali buat Ratu. “ ucap Ratu panjang lebar.
“ Mmmm…. Kalau misalnya nih ya sayang… Hanya misalnya loh ini. Jangan terlalu di masukin dalam hati. Kalau ternyata abang di sana malah punya kekasih lain gimana? “ tanya sang mommy.
“ Ya… Berarti abang nggak beneran cinta sama Ratu mom. Gitu aja sih. “ sahut Ratu berusaha untuk tidak memikirkan pertanyaan mommynya. Padahal hatinya terasa mencelos mendengar ucapan mommynya tadi. Dia takut pastinya jika ternyata Arvin punya kekasih bule di sana. Uh, sudah pasti dirinya akan kalah. Pikir Ratu. Bule kan pasti cantik-cantik, se*si, bahen0l, putih, tinggi. Sedangkan dia? Dia masih terlalu rata. Hiks. Ingin rasanya Ratu menangis dan menjerit.
__ADS_1
Sedangkan di belahan bumi yang lain, Arvin sedang di landa mala rindu. Seharian ini semua yang ia lakukan terasa selalu salah. Di kampus, tugas yang ia kerjakan malam tadi di tolak oleh dosen. Memang semalam ia mengerjakan tugas itu dengan tidak fokus. Pikirannya melayang ke tanah kelahirannya. Lebih tepatnya, ke gadis yang selalu mengisi seluruh hhati dan pikirannya.
Dan setelah pagi tadi dirinya kuliah selama dua jam, kini ia sudah berada di perusahaan milik Robert, sang ayah kandung. Berkali-kali dirinya mengetik proposal kerjasama di laptop miliknya, selalu saja salah. Justru nama Ratu yang selalu ia tuliskan di layar laptopnya.
“ Arrrggghhhh… “ erang Arvin frustasi. Ia menggeser laptopnya ke depan dengan kasar. Lalu ia menyenderkan punggungnya di sandaran kursi kebesarannya serta menutup matanya. Arvin memegang kepalanya yang terasa sedikit pening.
Ceklek
Pintu ruangan Arvin terbuka dari luar. Tapi Arvin tidak menyadarinya.
“ Kenapa, son? “ tanya seorang laki-laki memecah lamunan Arvin. Dia adalah Robert Downey, ayah kandung dari Arvin.
“ Daddy.. “ sapa Arvin saat matanya telah terbuka.
Arvin tidak menjawab tapi hanya menghela nafasnya kasar.
“ Ooo… sepertinya Daddy mengerti. Kamu merindukannya? “ tanya Robert dengan senyum tipisnya dan mengembalikan posisi laptop Arvin kembali menghadap ke Arvin.
Arvin kembali menghela nafas berat sambil menoleh ke samping.
“ Jika rindu, katakanlah. Jangan di pendam saja. Karena rindu itu memang berat. “ goda Robert sambil terkekeh karena tidak mendapat jawaban dari putranya.
“ Lebih baik Daddy segera ke ruangan Daddy dan kembali bekerja. “ sahut Arvin dengan nada kesal karena ayahnya malah menggodanya. Tidak tahu saja bagaimana perasaan Arvin saat ini.
__ADS_1
“ Hei, kau mengusir Daddy? Hem? Ayolah son… Daddy mengatakan yang sebenarnya. Kalau memang kamu merindukannya, sebaiknya katakan kepada dia jika kamu merindukannya. Dia juga pasti merindukanmu. “ ujar Robert kembali.
“ Heh.. “ Arvin terkekeh pelan namun terkesan sinis. “ Dia pasti sudah melupakan Arvin, Dad. Dia sudah punya tunangan sekarang. “ tambahnya.
“ Daddy mau tanya sama kamu. Apa kamu sudah tahu isi hatinya? Apa dia mencintaimu? “ tanya Robert. Tapi Arvin hanya mengendikkan bahunya.
“ Apa kamu tidak pernah bertanya kepada dia bagaimana isi hatinya terhadapmu? “ tanya Robert kembali.
“ Queen bilang dia juga mencintai Arvin, Dad. “
“ Ya sudah. Tunggu apalagi. Ayo hubungi dia. Dia pasti juga sangat merindukanmu. “
“ No dad. Arvin tidak bisa. Arvin nggak mau merusak kebahagiaan mereka. Queen sekarang bukan gadis lajang Dad. Dia sudah jadi tunangan Rendra, adik Arvin sendiri. “ Arvin menjawab sang Daddy sambil menundukkan kepalanya.
“ Apa kamu yakin mereka bahagia? “ tanya Robert sambil mengernyitkan dahinya. “ Apa kamu tidak pernah menanyakan sama mama atau ayah kamu bagaimana kabar mereka? Apa Queen dan Rendra mereka benar-benar bahagia? “
Arvin menengadahkan kepalanya menatap langit-langit ruangannya. “ Bagaimana Arvin bisa bertanya tentang mereka Dad? Mengingat perjodohan mereka saja hati Arvin terasa sakit. Jujur Dad, Arvin tidak akan bisa mendengar kabar jika mereka bahagia dengan pertunangan mereka. “ ucapnya lirih.
“ Son, saran Daddy. Tidak ada salahnya kamu mencari tahu. Jika memang kamu mencintainya, pertahankan dan perjuangkan dia. Jangan sampai kamu menyesal di belakang. Toh jika memang benar mereka bertunangan, bukankah baru bertunangan? Belum menikah kan? Jadi, kamu masih punya kesempatan. “ Robert berdiri dari duduknya, lalu menepuk pelan pundak Arvin, lalu beranjak meninggalkan ruangan Arvin.
Tapi sampai di depan pintu, Robert menoleh dan kembali berkata, “ Ingat saran Daddy. Cari tahu. Jangan sampai kamu menyesal. Daddy yakin, Queen juga pasti sangat merindukanmu dan tersiksa sepertimu jika memang benar dia mencintaimu. “
Lalu Robert meninggalkan ruangan Arvin. Sebenarnya, Robert sudah tahu yang sebenarnya terjadi. Dion sudah menceritakan kejadian yang sebenarnya, hingga kejadian saat Arvin meninggalkan Indonesia. Bahkan, Robert sering berkomunikasi dengan Ratu. Oleh karena itu juga Ratu tidak terlalu mengkhawatirkan Arvin. Rindu memang rindu. Tapi mungkin tidak sebesar rindu Arvin. Karena Ratu masih mendapat kabar tentang Arvin dari Robert. Bahkan Ratu juga meminta Robert untuk menjaga Arvin, jangan sampai Arvin kepincut bule di sana.
__ADS_1
Bersambung