Cinta Datang Karena Terbiasa

Cinta Datang Karena Terbiasa
Perjodohan


__ADS_3

“ Memang ada apa dengan putrimu, Bry? “ Tanya Attar ke Bryan setelah mereka usai makan malam. Tadi mereka sempat membahas soal Paris sedikit di meja makan.


“ Putriku terlalu tomboy untuk ukuran perempuan. Hobinya sungguh ekstrim. Dia lebih memilih panjat tebing, balapan ketimbang pergi ke salon atau ke mall untuk shopping. Dia juga tidak pernah mau memakai gaun. Dia selalu berpenampilan seperti anak laki-laki. Dan yang membuat kami paling resah adalah hobinya balapan liar. “ jawab Bryan.


Attar tertawa. “ Mungkin ini hasil dari nyidam istrimu yang selalu ekstrim dulu. “


“ Mungkin . “ sahut Bryan sambil terkekeh.


“ Mungkin benar apa yang di usulkan istri Seno. Sebaiknya putrimu di carikan suami. “ usul Attar.


“ Kamu benar sekali Tar. Sebaiknya Paris segera menikah. Biar ada yang membantunya menjadi seorang perempuan sejati. Tidak lagi tomboy. “ sahut Seno.


“ Hah. Mana ada keluarga yang mau menerima Paris. Dia kan gadis bar-bar yang hobinya berantem. Suka cari keributan. Lagian dia masih terlalu muda untuk di jadikan menantu di sebuah keluarga. “ keluh Bryan.


“ Hei, apa kamu lupa? Bukankah kita dulu saling menjodohkan anak-anak kita saat mereka besar ? Kita pernah membahas ini ketika mereka masih sama-sama di dalam kandungan. “ ujar Attar.


“ Tapi dulu kita kan hanya bercanda. “ jawab Bryan.


“ Tapi sepertinya aku ingin menganggapnya serius. “ jawab Attar.


“ Jangan bercanda kamu, Tar. Kamu lihat sendiri putriku penampilannya seperti apa. “


“ Tapi aku suka. Aku punya seorang putri yang terlalu feminim. Punya putri satu lagi dengan penampilan dan perangai yang beda, sepertinya akan menyenangkan. Keluargaku bisa lebih ramai. “ ucap Attar dengan santai.


“ Tapi bagaimana dengan istrimu? Apa dia mau punya menantu seperti putriku? “


“ Jangan salah kamu, Bry. Ameera sangat menyukai Paris. Dia bilang Paris unik dan menggemaskan. “ sahut Attar.


Sedangkan di tempat yang berbeda, para emak-emak ternyata juga sedang membahas hal yang sama.


“ Pit, bagaimana kalau kita percepat perjodohan anak-anak kita ? “ tanya Ameera.


“ Maksud mbak Meer ? “ tanya Pipit.


“ Kamu ingat kan, dulu ketika aku mengandung Agam, dan kamu mengandung Paris, kita pernah ngobrol, jika anak kita besok lahir dengan jenis kelamin yang berbeda, kita akan menjadi besan. Dan kita lihat, anakku laki-laki, dan anakmu perempuan. “


Pipit tersenyum tipis. Tapi senyuman itu mengisyaratkan kesedihan.

__ADS_1


“ Mbak Meera belum tahu kan putriku seperti apa? Paris itu tomboy. Nggak punya sisi feminim sama sekali. Dia juga ceroboh. Dia suka berantem, suka balapan liar, suka panjat tebing. Dia bukan anak gadis seusianya yang suka shopping, mempercantik diri ke salon, menggosip sama teman-teman perempuannya. Semua temannya laki-laki. " Pipit menjelaskan ptrinya seperti apa dengan menggebu-gebu.


Ameera tersenyum, “ Tapi aku suka putrimu. Aku juga ingin punya putri seperti dia. Dan anakku juga bukan laki-laki yang sempurna. Dia anak yang lumayan cerdas, tapi dia malas belajar. Dan dia selalu dingin terhadap perempuan. Dia hanya mau dekat dengan kakaknya, tantenya, dan mamanya. Aku khawatir kalau dia kelainan. “


“ Haiss… Kalian ini malah saling menjelekkan anak-anak kalian. “ celetuk Armell.


“ Bukannya begitu, Mell. Tapi itu kenyataannya. “ jawab Ameera.


“ Mbak Meera benar sekali. Kita bicara fakta. “ sahut Pipit.


“ So, bagaimana? Apa kamu setuju jika kita mempercepat perjodohan anak-anak kita? Sebentar lagi mereka akan segera lulus SMA. Sepertinya mereka sudah cukup umur untuk menikah. “ tanya Ameera.


“ Sepertinya itu bukan ide yang buruk, Pit. “ sahut Armell.


“ Iya juga sih. “ jawab Pipit. “ Tapi bagaimana dengan anak-anak kita? Apa mereka akan menerimanya? Karena aku ragu dengan putriku. “ lanjutnya.


“ Mau tidak mau, Mereka harus mengikuti ke[utusan orang tuanya. “ sahut Ameera.


“ Kalau aku sih setuju aja mbak. Nanti aku akan bicarakan sama abang bule. “ jawab Pipit.


“ Kamu masih manggil suami kamu abang bule? “ tanya Ameera.


🌹


🌹


🌹


“ Bang , tadi aku ngobrol banyak sama mbak Ameera. “ ucap Pipit memulai pembicaraan dengan suaminya. Saat ini mereka sedang berada di kamar tidur. Mereka berbaring di atas ranjang, saling berpelukan, dan Pipit menaruh wajahnya tepat di dada polos sang suami. Sebenarnya, kedua tubuh dua insan itu sama-sama po*los. Karena mereka baru saja melakukan olahraga malam mereka.


“ Ngobrol apa? Hem? “ tanya Bryan sambil membelai surai rambut istrinya.


“ Mbak Meera ingin menjodohkan Paris dengan putranya. “ ucap Pipit.


“ Hem? “ Bryan sedikit terkejut. Ia sedikit menjauhkan tubuhnya dari Pipit dan menundukkan kepalanya hingga ia bisa memandang wajah istrinya. Pipitpun melakukan hal yang sama. Ia menengadahkan kepalanya untuk memandang wajah sang suami.


“ Benarkan Ameera juga berkata seperti itu? Karena tadi Attar juga bicara tentang hal itu. “ lanjut Bryan.

__ADS_1


Pipit kembali memeluk tubuh Bryan dan menyeruakkan pipinya di dada polos sang suami. “ Menurut abang, bagaimana? “ tanyanya.


“ Kalau aku sih tidak masalah. Kita juga sudah dekat dengan keluarga Permana. Mereka keluarga yang baik. Tidak ada salahnya kita menjodohkan Paris dengan Agam. Lagian mereka juga berteman. “ sahut Bryan. “ Kalau menurutmu bagaimana? ”


Pipit mengangguk, “ Aku juga setuju bang. Siapa tahu kalau Paris menikah, dia bisa menjadi gadis tulen. “


“ Emang putrimu bukan gadis tulen? Lihatlah, Paris itu cantik. “ protes Bryan.


“ Maksud aku bukan gitu, bang. Maksudku tuh biar si Paris bisa berpenampilan seperti gadis pada umumnya. Kelakuannya juga wajar seperti gadis pada umumnya. Nggak Cuma balapan, berantem aja. Dan aku juga berharap. Paris bisa mengubah cita-citanya. Masak iya dia mau jadi pilot bang. Aku khawatir. “


“ Iya, aku tahu. “ jawan Bryan sambil mempererat pelukannya ke sang istri. “ Makanya aku juga setuju untuk menjodohkan mereka. Siapa tahu Paris bisa berubah pikiran dan tidak jadi melanjutkan sekolahnya di sekolah pilot. “


“ Tapi mbak Meera pengennya mereka menikah secepatnya. Setelah mereka menerima ijazah besok. “ lanjut Pipit.


“ Tidak masalah jika memang keluarga mereka mneginginkan. “ jawab Bryan. “ Oh iya, lusa kita ganti di undang Attar untuk makan malam di rumah Permana. Dan kita harus bisa mengajak Paris. Kita akan mengenalkan Paris ke keluarga Permana. Sekaligus kita bahas masalah perjodohan ini lebih lanjut. “ ujar Bryan.


“ Tapi bagaimana kalau Paris menolak untuk di jodohkan bang? “ tanya Pipit sambil memainkan jari-jarinya di dada polos Bryan. Dan hal itu membuat Bryan memejamkan matanya merasakan kembali gairah yang tadi telah mereda.


“ Kita akan dapat ide untuk membuatnya menyetujui perjodohan ini, honey. “ jawab Bryan dengan suara beratnya. “ Honey, jangan salahkan aku jika kita akan mengulang kembali kegiatan kita yang barusan selesai. “ lanjut Bryan.


“ Maksud abang? “ tanya Pipit sambil mendongakkan kepalanya menatap suaminya. Tapi jari-jarinya masih saja memutar-mutar di dada suaminya.


“ Kamu kembali memancing ular pitonku keluar, honey. Dan ia harus kembali masuk ke kandangnya. “ jawab Bryan sambil mengerlingkan matanya.


“ Ihhh abang…. Selalu saja mesum. Tadi kan udah bang. Masak mau lagi? Pipit capek tahu. Emang abang nggak capek apa? “ rengek Pipit.


“ No, honey. Tidak akan pernah ada kata capek untuk hal yang satu ini. Kamu yang sudah membangunkannya, honey. “ ujar Bryan sambil hendak menindih kembali tubuh istrinya. Tapi Pipit segera menghalau.


“ Kapan aku membangunkannya, bang? Abang jangan mengada-ada deh. “ protes Pipit sambil memegang kedua lengan Bryan.


“ Tadi kamu sengaja mengelus dadaku, honey. Dan kamu tahu kan, aku sangat sensitif dengan sentuhanmu. “ jawab Bryan, lalu ia kembali menindih tubuh Pipit.


“ Stamina abang terbuat dari apa sih? Kenapa nggak ada capeknya kalau urusan beginian? Emang bener ya yang orang-orang bilang. Kalau bule itu tenaga berc*intanya super. Padahal sudah tidak muda lagi. “ gerutu Pipit.


Dan Bryan segera mencium seluruh wajahnya gemas. “ Resiko punya suami bule, honey. “ ucapnya tepat di depan wajah Pipit. “ Dan tubuhmu, selalu membuat staminaku terisi penuh. I love you, honey. Ibu dari anak-anakku. “ ujar Bryan.


Dan Pipit langsung tersipu mendengar pernyataan cinta sang suami yang sudah entah ke berapa ribu kali semenjak mereka menikah.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2