Cinta Datang Karena Terbiasa

Cinta Datang Karena Terbiasa
Pulang


__ADS_3

Arvin tiba di bandara internasional Soekarno-Hatta tepat pukul enam malam. Sesuai saran dari sang Daddy, akhirnya Arvin memutuskan untuk pulang ke tanah air untuk memperjuangkan cintanya. Meski kemungkinan itu hanya Fifty-Fifty menurut Arvin. Tapi sekecil apapun kemungkinan itu, ia akan tetap mencobanya. Arvin akan mengajak Ratu untuk berjuang bersama-sama memperjuangkan cinta mereka.


Arvin menghela nafas berat sambil menghentikan sebuah taksi di depan bandara. Arvin sengaja tidak meminta jemputan karena ia berniat membuat kejutan untuk semua keluarganya.


" Hai Queen... I am coming.. We Will meet. Soon. " batin Arvin sambil tersenyum.


Arvin menaiki taksi dan taksi itu segera berjalan membelah jalanan ibukota yang padat oleh kendaraan. Lengkungan tipis dari kedua sudut bibirnya tidak lepas dari Arvin. Entah mengapa, semenjak tiba di bandara tadi, ia merasa begitu senang dan bahagia.


Setelah menempuh perjalanan sekitar satu jam, akhirnya taksi yang di tumpangi Arvin masuk ke halaman sebuah rumah mewah yang sangat Arvin rindukan selama satu tahun ini. Rumah keluarga Abraham. Rumah mendiang sang kakek.


Setelah membayar biaya taksi, Arvin segera turun dari dalam taksi dan si sopir taksi ikut turun untuk mengeluarkan koper Arvin dari dalam bagasi.


" I'm home ma. " gumamnya. Lalu ia segera menarik kopernya menuju ke dalam rumah.


" Assalamualaikum.... " sapa Arvin ketika masuk ke dalam rumah.


" Waalaikum salam... " jawab bi Inah sang Art. " Loh... Den Arvin... Masyaallah... Bibi sampai pangling. Den Arvin makin ganteng. " lanjut sang bibi saking senangnya melihat tuan mudanya pulang ke rumah setelah satu tahun lamanya.


" Bibi bisa aja. " sahut Arvin. " Mama sama ayah ada bi? Kok sepi-sepi saja. " tanya Arvin.


" Ada den. Tuan sama nyonya ada di atas. Saya panggilkan? " tawar sang bibi.


" Nggak usah bi. Biar Arvin aja. " tolak Arvin halus. " Arvin masuk dulu cari mama sama ayah ya bi. " pamit Arvin.


" Iya den. Silahkan. Kopernya biar bibi yang bawa ke kamar den Arvin. "


Arvin tersenyum sambil mengangguk dan berucap, " Makasih bi. " Lalu Arvin segera masuk ke dalam. Dan ketika ia hendak menaiki tangga, terlihat sang mama dan ayahnya berjalan bergandengan hendak turun dari lantai dua. Arvin menatap keduanya dengan tatapan penuh kerinduan.


" Mama... " panggilnya lembut. Leora langsung mendongak dan melihat suara laki-laki yang sangat ia rindukan memanggilnya.


" A-Arvin.... " panggil Leora dengan mata yang berkaca-kaca. " Kamu pulang, nak? " lanjutnya. Lalu ia segera melepas gandengan tangannya pada lengan suaminya. Leora berjalan dengan terburu-buru hendak menuruni tangga.


" Sayang... "


" Mama... "


Dion dan Arvin berucap bersamaan. " Sayang... Jangan lari. Bahaya, oke... Pelan-pelan. Abang nggak akan kemana-mana. " ujar Dion sambil memegang lengan Leora. Leora mengangguk, lalu ia kembali melangkah dengan pelan.


" Arvin... " Tangis Leora langsung tumpah kala kakinya sudah berada di lantai bawah. Ia segera memeluk erat tubuh Arvin sambil menangis sejadi-jadinya. Arvin pun membalas pelukan sang mama dengan erat juga.


Setelah puas memeluk, Leora melepas pelukannya, dan menangkup wajah Arvin dengan kedua tangannya dan menatapnya lekat.


" Mama sangat merindukanmu. " ucap Leora.


Arvin mengangkat tangannya dan menghapus air mata sang mama yang membasahi pipinya. " Arvin juga sangat merindukan mama. " ucapnya.

__ADS_1


" Maafin Arvin ma.. Karena sudah pergi tanpa meminta ijin dari mama. " ucap Arvin.


Leora mengangguk, " Tidak apa-apa. Yang penting kamu sudah pulang sekarang. Mama mohon, jangan pernah pergi lagi tanpa ijin dari mama. "


Kali ini, Arvin yang mengangguk dan tersenyum. Lalu ia berjalan ke belakang mamanya, dan segera memeluk sang ayah.


" Maafin Arvin, ayah. " ucap Arvin sambil memeluk Dion.


Dion membalas pelukan putranya sambil menepuk pelan punggungnya.


" Dimana Rendra? " tanya Arvin kala ia telah menjauh dari ayahnya.


" Jam segini adik kamu biasanya lagi nongkrong sama teman-temannya. Suntuk katanya kalau di rumah terus sambil nunggu pengumuman masuk universitas. " jelas Dion.


Arvin mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti.


" Sebaiknya kamu istirahat dulu. Kamu pasti capek habis perjalanan jauh. " ucap sang mama.


" Iya ma. Arvin ke kamar dulu. "


🌹


🌹


🌹


" Sepertinya kita harus mengikuti rencananya. Sekalian kita lihat seberapa besar tekad Arvin untuk memperjuangkan putri kita. " sahut Seno.


" Tapi ... Bagaimana jika Abang malah pergi lagi? "


" Berarti dia tidak serius dengan Ratu. "


Akhirnya Armell mengikuti rencana yang di buat oleh suami juga calon besannya.


" Kita harus bersiap - siap untuk mulai berakting sekarang. Sebentar lagi, Arvin pasti tiba di sini. Kamu benar-benar sudah memastikan keadaan aman kan? Ratu? " tanya Seno.


" Semuanya beres. Ratu sedang bermain dengan duo Z. Pipit sendiri yang akan memastikan putri kita tidak akan pulang sebelum Arvin pergi dari rumah ini. " jawab Armell.


" Assalamualaikum... "


Benar sekali dugaan Seno. Arvin tiba di rumah mereka dengan cepat sekali. Armell yang memang juga sangat merindukan Arvin, segera bangkit dari duduknya saat mendengar suara Arvin. Ia sedikit berlari menuju ke depan.


" Waalaikum salam... Abang... Anakku... " seru Armell sambil menghambur memeluk Arvin erat.


" Mommy... Apa kabar? " tanya Arvin dalam pelukan sang mommy.

__ADS_1


Armell melepas pelukannya lalu menatap wajah Arvin dalam-dalam. " Mommy sehat. Kamu bagaimana? Kenapa kamu terlihat kurusan? " tanya Armell.


" Alhamdulillah kalau mommy sehat. Mm... Masak sih Arvin kurusan mom? Padahal Arvin selalu makan banyak loh di sana. Makannya daging lagi. " sahut Arvin. Memang benar jika Arvin sekarang kurusan. Bagaimana tidak kurus, jika pikiran dan hatinya tidak pernah tenang selama ini.


" Kamu hanya mau memeluk mommy mu? Apa kamu tidak merindukan Daddy mu yang satu ini? " tanya Seno dengan suara tegasnya.


" Daddy.... " sapa Arvin menyalami tangan Seno, mencium punggung tangannya, lalu memeluk erat tubuh Seno.


" Apa kabar, Dad? Sehat kan? " tanya Arvin.


" Jujur, kondisi Daddy tidak begitu bagus selama ini. " jawab Seno, membuat Arvin segera melepas pelukannya dan memperhatikan sang Daddy dari ujung rambut sampai ujung kaki.


Tidak ada yang salah dari apa yang di lihat Arvin. Seno masih nampak gagah meskipun di usia yang sudah tidak muda lagi. Tubuhnya juga masih terlihat kekar. Dan malah sedikit berisi sekarang.


" Hati Daddy yang sakit karena kamu pergi tanpa berkata apapun ke Daddy. " lanjut Seno kala melihat wajah bingung sang putra.


" I am sorry Dad. " jawab Arvin bersungguh-sungguh.


" Ayo kita masuk dan duduk dulu. " ajak Armell. Lalu kedua laki-laki gagah dan tampan namun beda usia itu, mengikuti langkah Armell dari belakang.


" Kok sepi mom? " tanya Arvin. Armell dan Seno tahu siapa yang di cari oleh Arvin sebenarnya.


" Si Danique lagi apel. " jawab Armell.


" Punya pacar baru lagi dia mom? "


" Kamu seperti tidak tahu bagaimana adik itu. Sang Casanova ecek-ecek. Tapi sekarang, dia akan segera tobat. "


Arvin mengernyitkan dahinya. " Tobat? Kenapa? "


" Karena dia terjebak cinta sama putri semata wayangnya om Damar. "


" Si Alyssa mom? Gadis berhijab itu? " tanya Arvin dengan nada tidak percaya.


Armell mengangguk. " Bagaimana bisa? Bukankah Danique selalu cuek jika bertemu dengan Alyssa selama ini? "


" Mommy juga tidak tahu. Mungkin karena sudah berjodoh saja. Mommy justru senang mereka dekat. Mommy suka sama si Alyssa. Anaknya baik, sopan. "


" Iya mom. " Lalu kondisi hening sejenak. Arvin nampak mengitari pandangan ke sekeliling, mencoba mencari sesuatu yang ia rindukan selama ini.


" Kamu mencari Ratu? " tanya Seno membuka suara kembali.


" Ah.. " Arvin menjadi canggung. Ia mengusap tengkuknya yang tiba-tiba terasa meremang.


" Dia sedang keluar. Apa kamu tidak tahu? Dia di jemput Rendra tadi. Katanya mereka mau makan malam bareng. " Seno mengatakan hal yang membuat Arvin terdiam. Yah, selama di rumahnya tadi, Arvin sama sekali belum bertemu dengan Rendra dan ia juga sama sekali belum bertanya tentang pertunangan adiknya itu.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2