
Sudah beberapa hari belakangan ini, Paris sering uring-uringan tidak jelas. Dia mudah sekali tersulut emosi hanya dengan hal kecil. Tidak di kampus, tidak di tempat kost, semua yang ia lakukan semuanya salah.
" Eh, di sini ada nggak sih balap liar kayak di ibukota? " tanya Paris ke Kevin, Edo, serta Jefri teman baru yang Paris dan Kevin dapatkan kala mereka menjadi mahasiswa.
" Mau ngapain lo nanya-nanya balapan? " tanya Edo balik. " Eits .. Jangan bilang, lo mau balapan lagi. " selidik Edo.
" Kamu pernah ikut balap liar? " tanya Jefri ke Paris dengan nada suara terkejut.
" Dia tuh Ratu jalanan kalau lo kagak tahu. " sahut Kevin.
" Pertanyaan gue kenapa nggak ada yang jawab sih ah? Ada nggak nih balapan? " tanya Paris kembali dengan nada suara tingginya.
" Lo kenapa sih Ris? Belakangan ini sewot mulu? Tamu bulanan Lo mundur? Biasanya tanggal segini kan udahan. " tanya Edo.
" Wah, aku salut sama persahabatan kalian. Sampai tamu bulanan si Paris kalian tahu. " sahut Jefri sambil manggut-manggut excited.
Bukannya menjawab, Paris malah semakin kesal.
" Gue lagi BT. Gue butuh pelampiasan. " ujar Paris.
" Ada masalah serius apa Lo kali ini? " tanya Kevin. Sahabat - sahabat Paris sudah hapal betul kebiasaan Paris. Jika Paris sengaja ingin ikutan balapan, itu berarti dia sedang benar-benar BT tingkat tinggi.
" Udah deh nggak usah banyak tanya... Mending buruan jawab pertanyaan gue. Atau kalian mau kita balapan aja gimana? " tantang Paris.
" Ogah. Udah pasti kita bakalan kalah. Jef, ada nggak klub motor yang suka balap liar di kota ini? " tanya Edo ke Jefri tapi dengan tatapan mata mengisyaratkan supaya Jefri berkata tidak ada.
" Ada sih ... Biasanya kalau weekend suka ada tuh balapan di jalan XX kalau udah lewat tengah malam. " jawab Jefri.
Dug
" Auuu... Kok kaki aku di tendang sih. " jerit Jefri yang kakinya di tendang oleh Edo karena memberitahu Paris kalau di kota yang mereka tempati saat ini juga ada klub motor yang suka balap liar.
" Kebetulan. Hari ini weekend. Entar malam lo temenin gue ke tempat itu. "
" Ris, jangan macam-macam deh lo. " Edo mengingatkan. " Lo lupa janji sama bokap nyokap lo?"
Paris terdiam. " Hah... " ia menghela nafas panjang.
__ADS_1
" Eh, kita ke kampusnya Jojo yuk. Tadi Jojo minta kita kesana. " ajak Kevin.
" Males gue. " jawab Paris langsung.
" Kenapa? Di sana ada Agam juga. "
" Justru dia yang bikin gue males. "
" Kenapa? Lagi ada masalah, lo sama dia? Dia juga kok nggak pernah nyamperin lo kesini. "
" Males aja ketemu sama dia. " jawab Paris dengan wajah malasnya.
" Jadi laki-laki nggak konsisten. " gerutu Paris tapi hanya dengan gumaman.
" Ya udahlah... Lagian kalau kita kesana belum tentu ketemu sama si Agam kan? " ujar Edo sambil berdiri dari duduknya, memanggul tas ranselnya, menepuk celananya bagian belakang karena mereka saat ini sedang duduk di atas rumput di bawah pohon yang rindang yang ada di halaman kampusnya.
Akhirnya mau tidak mau, Paris mengikuti mereka pergi. Daripada hanya bengong aja di kost-an. Dia juga penasaran ingin tahu kegiatan apa yang di lakukan Agam sehingga membuatnya berhari-hari tidak menemuinya. Bahkan telepon, atau kirim pesan saja tidak.
Sebenarnya hal yang membuat Paris kesal belakangan ini adalah ketidakhadiran Agam. Paris merasa di cuekin, dan tidak di perhatikan. Ia yang sebenarnya sudah mulai terbiasa dengan perhatian Agam, kehadiran Agam setiap harinya meski hanya lewat pesan, membuat Paris merasa beberapa hari ini ada yang hilang.
Tapi karena gengsi yang besar, Paris sama sekali tidak mau mengakuinya. Meskipun hatinya sangat mengakui hal itu.
🌹
🌹
🌹
Sedangkan di ibukota, Arvin juga tengah berjuang mendapatkan hati Ratu kembali. Perhatian-perhatian kecil ia berikan. Jika telepon atau video call tidak pernah di angkat oleh Ratu, maka Arvin selalu mengiriminya pesan tiap hari.
Jika dulu di saat dirinya belum pergi ke luar negeri, Arvin hampir tiap hari datang ke rumah Ratu, bahkan menginap dan tinggal di sana, kali ini Arvin tidak bisa begitu. Arvin tidak bisa datang ke rumah Seno seperti dulu karena ia merasa tidak enak hati dengan Daddy dan mommy nya.
Sore itu, Arvin memberanikan diri untuk datang ke rumah Seno. Di sana ia merasa tidak bisa seperti dulu, padahal semua orang yang ada di rumah itu tetap memperlakukannya seperti dulu.
" Eh, bang Arvin.. Bagaimana kabar kamu nak? " sapa Armell.
" Eh, mommy... Alhamdulillah, Arvin baik mom.. " jawab Arvin sambil meraih tangan Armell dan mencium punggung tangannya.
__ADS_1
" Abang sekarang sombong ya.. Setelah tinggal di luar negeri, pulang - pulang jadi lupa sama rumah yang di sini. Lupa sama mommy sama Daddy.. " ejek Armell.
" Maaf mom. Bukan begitu maksud Arvin. Maaf, Arvin sudah mengecewakan mommy sama Daddy. " Sahut Arvin sambil menunduk.
Armell tersenyum, lalu meraih tangan Arvin dan menggenggamnya.
" Abang jangan pernah berpikiran seperti itu. Bagi kami, abang tetap sama seperti dulu. Buat Daddy sama mommy, bang Arvin adalah putra pertama kami. Apa yang sudah terjadi, tidak akan merubah hubungan kita. Mommy sayang sama Abang, sama seperti mommy sayang sama Danique juga Ratu. Jika sekarang Abang menjauh dari kami seperti ini, maka mommy akan sangat kecewa sama Abang. " ucap Armell.
" Maaf, mommy.. Abang sudah bikin mommy sama Daddy sedih. " ucap Arvin. Ia memeluk tubuh mommy nya dengan sayang.
Armell menggeleng, sambil menepuk punggung Arvin yang berada dalam pelukannya.
" Mommy sama Daddy akan sangat sedih, jika sekarang abang jauh dari kami. Mommy minta sama Abang, jika memang Abang benar-benar sayang dan cinta sama Ratu, maka bawalah dia kembali sama Abang. Mommy sama Daddy akan merestui kalian. " ujar Armell.
Kini Armell melepas pelukannya dan menangkup wajah Arvin. Ia tersenyum, lalu berkata, " Mommy sangat bahagia saat tahu jika Abang ternyata mencintai Ratu. Dengan begitu, maka Abang akan benar-benar jadi anak mommy. "
Arvin tersenyum bahagia dan mengangguk.
" Terima kasih banyak, mom. " ucap Arvin.
" Kalau begitu, malam ini, Abang harus menginap di sini. Kasihan kamar Abang. Dia kedinginan selama setahun lebih. "
" Arvin masih punya kamar di sini, mom? "
" Masih, dong. Kamar Abang masih sama seperti dulu. Abang lihat aja di atas. Yuk. " ajak Armell. Lalu ia berdiri dan Arvin mengikutinya dari belakang menaiki tangga.
Sampai di depan kamar Ratu, Arvin berhenti sejenak dan menoleh ke dalam kamar yang pintunya terbuka sedikit.
" Ratu sedang keluar. Sepertinya dia tadi ke rumah uncle B. " Armel memberitahu Arvin tanpa Arvin bertanya.
" Ah, i-iya. " sahut Arvin salah tingkah.
Armell tersenyum, lalu ia membuka pintu kamar yang berada di sebelah kamar Danique.
" Abang lihat, kamar Abang masih sama seperti dulu. Mommy selalu meminta bibi membersihkannya. "
Arvin masuk ke dalam kamar sambil melihat ke sekeliling. Meskipun satu tahun lebih, kamar itu masih tetap sama.
__ADS_1
" Abang istirahatlah. Mommy akan ke bawah dulu. Sebentar lagi Daddy akan pulang. " ucap Armell.
bersambung