Cinta Datang Karena Terbiasa

Cinta Datang Karena Terbiasa
Cemburukah??


__ADS_3

Hari terakhir ujian sekolah.


Istirahat setelah selesai mengerjakan, seperti biasa, semua anak-anak berkumpul di kantin. Kantin nampak penuh dan ramai.


“ Lusa jadwal kita ujian praktek olahraga. “ ucap Azkara.


“ Lo tenang aja. Kalau cuma praktek lari doing mah kecil. “


“ Gue heran deh..Kenapa praktek olahraganya harus selalu lari sama senam kebugaran jasmani? Sekali-sekali panjat pinang kek. “ sahut Paris sambil memakan bakwannya.


“ Auuu…pala ini woy…Berharga…Main tonyor aja. Kalau otak gue pindah tempat gimana? “ protesnya karena Edo menonyor kepalanya.


“ Habisnya lo tuh yang asal. Mana ada praktek olahraga panjat pinang. Emang lagi tujuh belasan? Kalaupun ada, Cuma lo doang yang mau ikut. Yang lain, mending pada her aja. “ sahut Edo.


“ Her? Bahasa lo kayak jaman jahiliyah. Remidi, woy…Remidi…” sahut Jojo.


“ Ka, acara tanding basket persahabatan antar kelas gimana? Jadi kagak? “ tanya Paris.


“ Jadi. Besok sore, sehabis ashar kita kumpul di sini. Rencananya pertandingan di mulai jam empat. “


“ Semua kelas bisa ikut semua? “


“ Yoi. Cuma satu kelas yang nggak ikut. Kelas XI IPS-2. Mereka bilang, di kelasnya nggak ada yang jago main basket. “


Mereka terlihat manggut-manggut mendengarkan keterangan dari Azkara.


“ Sampai malam berarti kan ya? “ tanya Paris. “ Gue harus bilang dulu sama nyokap. Kalau nggak, bisa di gantung hidup-hidup gue. “


“ Haizz…lagak lo kayak anak rumahan. Biasanya kalau ada balapan juga sampai tengah malam lo baru pulang. “ sergah Jojo.


“ Eh, gini-gini gue kalau keluar pasti bilang sama bokap nyokap gue ya. “ sahut Paris. “ Eh, ngomong-ngomong tim kita kurang satu. Gimana? Biasanya kan kita ajak Kevin. Nah, secara kelas dia juga ikutan. “ tanyanya kemudian.


“ Gue juga belum nemuin yang pas. Lo pada tahu sendiri kan, kelas kita nggak ada yang bisa main basket kecuali kita. Kalau cuma sekedar bisa sih banyak. Tapi mereka tidak ngerti tekniknya. “ jawab Azkara.


“ Aku bisa. “ tiba-tiba Agam berdiri di samping bangku yang di duduki Paris and her friends. Semua menoleh ke arahnya. Mereka menatap dengan berbagai pertanyaan.


“ Lo yakin? “ tanya Paris meremehkan.


“ Kita coba aja entar pulang sekolah. Aku bisa masuk tim kalian apa nggak. “ sahut Agam. Azkara mengacungkan jempolnya.

__ADS_1


“ Kita uji lo masuk tim. Lo bisa nggak kerjasama sama tim kita. “ ucap Azkara.


“ Oke. Nanti siang kita coba. “ sahut Agam, lalu ia meninggalkan bangku Paris and friends. Tapi sebelum pergi, ia sempatkan untuk mengulas senyum terbaiknya untuk Paris. Dan Paris yang menyadari hal itu, ia langsung menunduk.


🌹


🌹


🌹


“ Kita dapet lawan kelas berapa, Ka? “ tanya Paris ke Azkara setelah Azkara selesai ikut undian.


Kini mereka sedang duduk berjajar di pinggir lapangan basket. Azkara menyusul duduk di samping Paris. Kini Paris sedang duduk di antara Agam dan Azkara. Semenjak Agam resmi masuk ke tim basket Paris, Agam tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk mendekati Paris. Apalagi kini ia sudah tahu jika antara Azkara dan Paris tidak ada hubungan apa-apa.


“ Pertama, kita dapat kelas XI IPA-1. Kita masuk grup C. “ jawab Azkara.


“ Ohh…bisa santai kita. Bisa hemat tenaga buat final lawan kelas XII IPS-6. “ jawab Paris santai.


“ PD amat lo kita masuk final lawan si Kevin. “ sahut Edo.


“ PD lah. Rasa PD bisa jadi semangat buat kita. Lagian kita tahu lah, tim basket masing-masing kelas kayak gimana. Tetap paling unggul kita. Bukankah tim inti basket sekolah kita ada di kelas kita semua, kecuali si Kevin? Apalagi kapten tim ada di sini juga. Ya nggak, my bebeb? “ ujar Paris sambil merangkul pundak Azkara.


“ Lumayan. “ jawab Paris singkat.


Mereka terus mengobrol sambil terus memperhatikan permainan basket yang ada di depan mereka. Sampai tak terasa, wasit memanggil kelas mereka. Riuh sorak sorai penonton membahana. Mereka begitu antusias mendengar kelas XII IPA-4 di panggil.


Anggota tim yang ganteng-ganteng dan juga terselip anggota cewek yang cantik banget pastinya. Wajah blesteran, rambut kecoklatan, kulit putih bersih, manik mata berwarna biru mengenakan kaos tim dan rambut yang di kuncir kuda dan memakai ikat kepala di keningnya. Sedangkan anggota yang cowok, memakai kaos tim tanpa lengan, celana olahraga pendek, sepatu kets dan kaos kaki panjang. Yang menampakkan lengan lengan kekar mereka. Karena tim Paris memang orang-orang yang hobby olahraga dan ilmu beladiri.


“ Paris….Paris…Paris…”


“ Kak Azkaaaa…….”


“ I love you Paris…”


“ Eiffel….I’m in love….”


“ Agam cweetttt….”


Dan masih banyak lagi teriakan dari para penonton. Melihat para atlit basket sekolah mereka bermain di lapangan sekolah mereka sendiri, membuat mereka begitu antusias. Paris dan tim di tambah Kevin, adalah anggota tim utama yayasan sekolah Pelita Kusuma. Banyak medali yang telah mereka persembahkan untuk sekolah mereka. Bahkan tim mereka tidak hanya terkenal di sekolah mereka saja, tapi juga di sekolah-sekolah lain juga.

__ADS_1


Bukan hanya karena kelihaian dan kelincahan mereka saat bermain basket, tapi juga karena tampang mereka yang seperti aktor. Bahkan anggota tim cewek satu-satunya juga sangat cantik meskipun tomboy.


Priiiiitttt


Bunyi peluit di tiup oleh wasit. Permainan di mulai. Banyak angka tercetak dari tim kelas XII IPA-4. Meskipun mereka meraih banyak poin, mereka seperti tidak mengeluarkan tenaga. Lawan terlalu lemah untuk mereka. Paris dan teman-teman bermain dengan begitu santai. Dan tak terasa peluit panjang kembali terdengar memekakkan telinga, yang menandakan permainan telah berakhir.


Siapa pemenangnya? Tentu saja tim Paris. Bahkan tim lawan hanya mendapat seperempat poin dari tim Paris. Riuh sorak sorai dari penonton kembali meriah meneriaki kemenangan Paris dan teman-teman.


“ Guys, gue ke mushola dulu. Udah magrib. “ pamit Paris. “ Bisa di pecat jadi anak sama bunda kalau sampai gue ketinggalan sholat. “ lanjutnya sambil cengengesan dan meraih tas slempang dan ia slempangkan di bahu.


“ Barengan. “ ujar Agam buru-buru menyaut tas yang tergeletak di lantai. Dan berjalan mengikuti Paris.


Azkara juga melakukan hal yang sama. Entah mengapa, Azkara agak tidak nyaman dengan Agam. Ia merasa Agam itu bagaikan saingan.


“ Paris, tungguin. “ panggil Agam sambil setengah berlari. Tapi Paris nampak cuek saja. Ia masih tetap berjalan dengan tempo yang sama.


“ Paris…” panggil Azkara.


Dan set. Paris langsung menghentikan langkahnya kala mendengar suara Azkara memanggilnya. Melihat hal itu, Agam hanya bisa menghela nafas berat. Saat dirinya yang memanggil, Paris seolah tidak mendengar. Padahal jarak antara dirinya dan Paris jauh lebih dekat daripada jarak antara Paris dan Azkara. Masak iya, Paris tidak mendengar dirinya memanggil-manggil dari tadi.


Sedangkan dari sisi Paris, bukannya Paris tidak mendengar Agam memanggilnya. Tapi Paris sengaja pura-pura tidak mendengar. Karena jantungnya akan terasa tidak nyaman kala berdekatan dengan mahluk ciptaan Tuhan yang bernama Agam itu.


“ Yes, my bebeb…” jawab Paris saat ia melihat sosok Azkara tengah berlari mendekatinya.


“ Eh, ada Agam juga. “ sapanya pura-pura baru menyadari keberadaan Agam di belakangnya. Paris mau tidak mau harus menyapa Agam. Karena tidak mungkin kan, ia tetap pura-pura tidak tahu jika Agam ada di belakangnya. Emangnya Agam mahluk tak kasat mata? E lah….


“ Kenapa nggak nungguin? Biasanya kalau mau sholat kan nungguin gue. Udah males jadi makmum gue lo? Atau lo udah mau jadi imam aja? “ kelakar Azkara sambil mengacak rambut Paris.


“ Azka…! “ pekik Paris. “ Ih, rambut gue. “ protesnya sambil mencoba merapikan rambutnya.


“ Lo tenang aja..Entar gue betulin kuncirannya. “ sahut Azkara sambil tersenyum manis.


“ Lagian lo doa’in gue jadi laki? Kalau gue harus jadi imam? Ogah…Gue seneng dan nyaman sama kue cucur gue. Daripada kue cucur gue berubah jadi pisang ambon. Geli! Hiii….” Canda Paris.


Refleks Azkara meraup bibir Paris sambil berkata, “ Jadi cewek mulutnya lower. “


Tapi Paris justru tertawa terbahak-bahak. Ia paling suka melihat wajah Azkara yang memerah kala dirinya bercanda agak mesum. Dan semua pemandangan itu tidak lepas dari telinga dan mata Agam. Agam meraup wajahnya kasar sambil berpaling kala merasa hatinya perih. Cemburukah dirinya melihat kedekatan Paris dan Azkara???


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2