Cinta Datang Karena Terbiasa

Cinta Datang Karena Terbiasa
Siapa yang hamil???


__ADS_3

Sore hari di ibukota Indonesia.


" Mas, kenapa sih harus buru-buru kayak gini jalannya? Ada hal penting yang sangat penting yang harus kalian bahas ya? Soal apa? Kenapa mesti tarik-tarik tangan Mell? " tanya Armell sambil menggerutu karena sang suami menarik tangannya saat berjalan.


" Ada hal yang sangatlah penting tentu saja. Ini menyangkut harta dan keuntungan. Dan kamu harus jadi saksinya. " jawab Seno masih dengan langkah yang terburu-buru.


" Emang perusahaan uncle B dapet proyek baru? "


" Lebih penting dan menguntungkan dari sekedar tender ataupun proyek. " sahut Armell.


Dari dalam rumah, juga terdengar suara berisik antara seorang laki-laki dan seorang wanita.


" Abang, abang kenapa sih? Kenapa baru sampai rumah terus mau ke rumah bang Seno? " tanya Pipit.


" Aku harus secepatnya menyampaikan berita gembira ini. Sebuah kabar baik untukku, tapi kabar buruk untuk El. " sahut Bryan dengan senyuman smirknya.


" Apaan sih gaje deh Abang bule ini. " gerutu Pipit, tapi ia pun terus mengikuti langkah sang suami.


" Siapa yang gaje? " sahut Armell dari ruang tamu.


" Eh, kebetulan kalian datang kesini. Baru aja gue mau ke rumah kalian. " sapa Bryan.


" Ya jelas lah gue kesini. Kan gue mau nagih janji Lo. " ujar Seno sambil terus berlalu memasuki rumah sang adik ipar tanpa permisi.


Bryan memutar badan dan mengikuti Seno dari belakang. Sedangkan Armell dan juga Pipit saling berpandangan dengan pandangan saling tanya, yang akhirnya mereka berdua sama-sama mengendikkan bahunya.


Sampai ruang tengah, Seno langsung duduk di sofa dengan kepercayaan diri tingkat dewa. Ia yakin jika dirinyalah yang menang taruhan.


" Gue juga mau nagih janji sama Lo. " ucap Bryan sambil ikut duduk di sofa di seberang.


" Gue dulu. Kan gue yang tamu. " sahut Seno tak mau kalah.


Sedangkan istri-istri mereka hanya duduk di samping para suami masing-masing tanpa tahu maksud pembicaraan itu.


" Ya udah, buruan lo bilang. Gue udah nggak sabar nih mau nagih janji Lo. " sahut Bryan tak mau kalah juga.


" Secepatnya, Lo siapin Ferrari terbaru limited edition buat gue. " ucap Seno jumawa.


" Eh, nggak salah lo? Kenapa gue mesti kasih lo mobil itu? Harusnya elo yang ngasih ke gue. " sahut Bryan.


" Nggak bisa. Lo lupa, perjanjian kita gimana beberapa bulan yang lalu? " ucap Seno sambil tersenyum tipis.


" Mas, apaan sih? Kok mas minta Ferarri ke uncle celup? " ujar Armell.


" Eh, sekarang gue cuma nyelupin ke adik elo ya. Nggak kayak teh celup kayak lo bilang yang nyelup ke gelas sembarangan. " bela Bryan tidak terima.


" Tenang, baby. Habis ini kita punya mobil baru. Besok kita jalan-jalan berdua keliling kota sama mobil limited edition harga selangit. " ujar Seno.


" Abang, kok abang malah mau beliin bang Seno mobil mahal sih? Buat Pipit aja masih tetep yang itu-itu aja mobilnya. " gerutu Pipit.

__ADS_1


" Rileks, honey. Bukan abang yang bakalan beliin mobil buat kakak ipar kamu. Tapi dia yang bakalan beliin buat kita. " bujuk Bryan sambil mengelus pipi sang istri.


" Udah, mending sekarang kita selesaikan urusan kita. Kapan Lo bakalan kasih gue tuh mobil? " ujar Seno.


" Gue tadi nanya ke elo, kenapa gue mesti kasih mobil ke elo? " tanya Bryan.


" Lo dengerin gue baik-baik ya. " ujar Seno sambil menegakkan duduknya dan sedikit maju ke depan. " E Hem. " Seno berdehem. " Gue.... Bakalan punya cucu lebih dulu daripada elo. " lanjut Seno.


Ucapan yang membuat Armell terkejut. Ia masih loading otak untuk mencerna ucapan sang suami.


" Jangan bercanda Lo. Harusnya gue yang bilang kek gitu. Gue nih .. " sahut Bryan sambil membusungkan dada. " Gue yang bakalan punya cucu. Bukan elo. Karena Paris adalah anak gue. Darah daging gue. " lanjutnya. Ucapan yang sama yang membuat Pipit mengerutkan keningnya dan berpikir.


" Gue nggak bicarain Paris ya. Gue bicarain Ratu, anak gue. Dia sekarang lagi hamil keturunan gue. " sergah Seno.


" Eh, gue juga lagi bicarain anak gue si Paris ya. Dia juga lagi hamil keturunan gue. " ucap Bryan tak mau kalah.


Di saat dua laki-laki itu saling berdebat, Pipit dan Armell berteriak bersamaan.


" STOPP.... !!!! " teriak mereka bersamaan.


" SIAPA YANG HAMIL??? " lagi-lagi mereka bertanya bersamaan dengan nada berteriak.


" Anak kita, sayang. " jawab Seno dan Bryan bersamaan.


" Siapa yang bilang?? " tanya Armell dan Pipit secara bersamaan kembali.


Kedua perempuan itu membulatkan matanya bersamaan sambil menatap tajam ke arah suami mereka masing-masing. Lalu sejenak kemudian.... Plak.... Plak... Plak....


Pukulan bertubi-tubi, Seno dan Bryan dapatkan dari istri - istri mereka.


" Honey.... "


" Baby... "


Seno dan Bryan berusaha menghalau serangan dari istri - istri mereka.


" Kenapa jadi kita yang dapat pukulan? " tanya Seno ke Bryan sambil berusaha menangkap tangan istrinya.


" Ma.. na.. gue tahu. " jawab Bryan sambil berusaha menghindar dari pukulan istrinya.


" STOP!!! " kini gantian dua laki-laki itu yang berteriak bersamaan. Membuat para istri menghentikan aksinya dan bernafas terengah-engah menahan rasa kesal.


" Sekarang jelasin ke kita, maksud kalian apa. " ucap Pipit.


" Bro, Lo duluan, apa gue duluan yang bicara? " tanya Bryan meminta pendapat ke sahabat yang rasa saudara itu.


" Lo aja dulu. " sahut Seno sambil melirik ke arah sang istri yang sedang bersidekap menatap ke arahnya.


" Honey, tadi putri kita menelepon dan mengatakan jika dia baru saja dari dokter. Dan dokter itu mengatakan kalau putri kita sedang mengandung kecebongnya si Permana. " jelas Bryan ke istrinya.

__ADS_1


" Tadi Ratu juga menelepon dan mengatakan hal yang sama. Dia bilang, dia sedang hamil. " sahut Seno yang menjelaskan ke sang istri.


Pipit dan Armell menghela nafas kasar bersamaan.


" Kenapa berita seperti ini, aku harus tahu belakangan? Kamu malahan lebih milih buru-buru kesini daripada kasih tahu aku dulu. " rajuk Armell.


" Sorry, baby. Aku terlalu bersemangat untuk menagih janji ke dia. " jawab Seno sambil menarik tubuh sang istri dan memeluknya.


" Abang juga kebangetan. Kenapa nggak kasih tahu Pipit kabar gembira ini. " gerutu Pipit. " Sekarang, kita tagih janji bang Seno. " lanjutnya.


" Eh, nggak bisa gitu dong. Anak kita sama-sama hamil sekarang. Jadi kita harus tahu dulu, berapa usia kandungan mereka untuk menentukan siapa pemenangnya. " sahut Seno.


" Teleponin si Paris bang. " pinta Pipit. Dengan penuh semangat, Bryan segera menghubungi sang anak.


" Halo, Daddy. " sapa orang di seberang.


" Agam? "


" Yes, Dad. Paris lagi di kamar mandi. " jawab Agam. " Paling bentar lagi juga keluar. "


" Nggak. Daddy cuma mau tanya, berapa usia kandungan istri kamu? " tanya Bryan.


" Tadi kalau dokter bilang sih delapan minggu Dad. Dua bulan. " jawab Agam.


" Oh, ya sudah. Daddy tutup dulu teleponnya. "


" Ya, Dad. "


Lalu panggilan di akhiri.


" Lo denger kan, Paris hamil dua bulan. " ujar Bryan sambil mengantongi ponselnya kembali.


" Wah, si Agam tokcer juga. Sekali celup langsung jadi. " sahut Paris setelah ia menghitung berapa lama setelah kejadian obat lucknut yang ia berikan ke sang anak dulu.


" Sekarang, Lo tanya sama Ratu, berapa usia kandungannya. " Bryan menyuruh Seno.


Seno mengangguk, lalu mendial nomer telpon putrinya.


" Halo, Daddy. " sapa Ratu di seberang.


" Halo, sayang. Daddy mau bertanya, berapa usia kandunganmu tadi pas periksa? " tanya Seno langsung.


" Delapan minggu, Dad. " jawab Ratu. Jawaban yang membuat semua orang melongo tak percaya.


Lalu, bagaimana Nasih taruhan mereka sekarang kalau usia kandungan Ratu dan Paris sama????


bersambung


...Maaf, ya kak.... Akhir - akhir ini othor nggak bisa nulis tiap hari. Othor lagi ada masalah nih... jadi susah dapet ide kalau pikiran bercabang - cabang... Mohon di mengerti Yach....🙏🙏🙏🙏...

__ADS_1


__ADS_2