
Malam hari pun tiba. Jika siang tadi Ratu dan Arvin di kejutkan oleh acara pernikahan, malam harinya, mereka di kejutkan oleh pesta resepsi pernikahan yang sangat megah. Semua rekan bisnis dari keluarga Adiguna, keluarga Abraham, Robert Downey, dan yang lainnya hadir di sana. Bahkan ada beberapa sahabat Arvin dari London juga hadir.
Setelah pukul 10 malam, semua tamu berangsur pulang. Kini yang tertinggal hanya keluarga inti saja.
" Selamat ya kakakku yang cantik.... " ucap Paris saat ia berada di dekat Ratu yang sedang mengambil makanan. Ia lalu memeluk Ratu.
" Thank you, adik cantikku yang tomboy... " ujar Ratu sambil tersenyum menggoda. " Sekarang kita sudah mempunyai status yang sama. Yaitu seorang istri. So, ayo kita sama-sama berusaha menjadi seorang istri yang baik. " tambah Ratu.
Paris mengangguk. " Kalau itu, meskipun sangat susah, tapi aku sudah mulai belajar. " ucapnya sambil tersenyum malu-malu.
" Uh, kenyang sekali rasanya. " ucap Ratu sambil mengelus perutnya dan meletakkan piring yang telah kosong di atas meja. " Kamu udah makan? " tanyanya.
" Sudah. Nih, perutku dah buncit. " jawab Paris sambil mengelus perutnya juga.
" Ha... ha... ha... " keduanya tertawa bersamaan.
" Ada apa ini? Ketawa nggak ajak-ajak. " seru Arvin yang baru saja tiba dan langsung merangkul pinggang istrinya posesif.
" Lagi becanda aja bang. Oh, iya, selamat ya bang... Akhirnya jadi manten juga. " ucap Paris sambil mendekat dan memberi pelukan ke Arvin.
" Thanks. " jawab Arvin sambil membalas pelukan Paris sejenak.
" Ngomong-ngomong, maafin Abang, karena waktu pernikahanmu, Abang nggak dateng. " ucap Arvin.
" Ck. Abang siiihhh... Lebih mentingin kesalah pahaman daripada memperjuangkan cinta. " cibir Paris.
" Jangan di ungkit lagi. Yang penting sekarang, dia udah jadi milikku selamanya. Nggak akan abang biarin laki-laki manapun mendekatinya sama sekali. " jawab Arvin sambil menatap Ratu penuh cinta.
" Abang terlalu posesif jadi suami. " ejek Paris.
" Emang suami kamu nggak? "
" Nggak. "
" Mana berani si Agam posesif sama kamu. Orang kamunya galak gitu. " ledek Ratu.
" Haisss.... Kakak mah nggak belain aku. Mentang-mentang udah jadi istrinya. " ucap Paris pura-pura merajuk.
" Ini dia nih, yang di bicarain datang. " ucap Ratu kala Agam menghampiri mereka.
" Selamat, kak Ratu... Selamat bang Arvin... " ucap Agam sambil menyalami keduanya.
" Terima kasih. "
__ADS_1
" Thanks, bro. "
Jawab Ratu dan Arvin bersamaan.
" Sayang... sudah malam.. Sebaiknya kita semua ke kamar masing-masing. Kakek Boby udah kasih kita kamar gratis untuk kita menginap dua hari dua malam di sini. " ucap Armell yang baru mendekat. Diikuti oleh semua anggota keluarga.
" Wuahhhhh.... Asyikkk... Besok kita berenang di lantai atas... Yeayy..... " sorak duo Z.
" Kita dapat kamar sendiri kan? " tanya Zayyan yang memang tidak begitu suka tidur dengan orang lain.
" No, sayang. Kalian akan sama bunda. " sahut Pipit.
" Honey ... Kalau kamu sama si kembar, lalu aku sama siapa? Masak aku harus tidur sendirian di kamar hotel yang bagus seperti ini. " protes Bryan.
" Dasar! Lo tuh udah tua. Ngalah sama yang muda. Biar yang muda-muda seperti mereka yang merasakan indahnya malam bersama pasangan. " ledek Seno.
" Kayak elo aja nggak. " ucap Bryan tidak terima.
" Sayang, Zahran tidurnya sama mommy aja, oke. Biar Zayyan sama bunda. " ucap Armell sengaja memanas-manasi sang suami.
" Baby.... Kenapa kamu jadi ikut-ikutan? " Seno tak terima. Dan di sambut oleh gelak tawa Bryan.
" Ah, kalian ini kalau udah ngumpul pasti pada ribut. " sela nyonya Ruth. " Duo Z akan tidur sama Oma juga opa. Bagaimana, sayang? " usul beliau.
" Besok kita jalan-jalan dan beli mainan di mall sana. " tambah Opa Adiguna sambil menunjuk ke arah mall yang ada di lantai dasar hotel itu.
" Zayyan, gimana? "
" MMM.... " Zayyan nampak menimbang. " Okeh... Zay mau, opa. " jawab Zayyan.
" Oke... Ya udah, kita ke kamar sekarang yuk. " ajak opa Adiguna sambil merangkul kedua cucunya dan mulai berjalan meninggalkan semua.
" Kalian semua, nikmatilah malam indah kalian. Mama jamin, nggak akan ada yang mengganggu. " ujar nyonya Ruth menggoda Bryan juga Seno.
" Mama emang paling the best. " ujar Bryan sambil mengacungkan jempol kanannya. Sedangkan tangan kirinya mengamit pinggang istrinya.
" Kalian, cepatlah pergi ke kamar kalian. Nikmati malam pertama kalian. " ujar Seno ke Ratu dan Arvin. Membuat kedua orang itu tersenyum malu.
Tanpa aba-aba, Arvin mengangkat tubuh Ratu dan di gendongnya ala bridal style.
" Aaaa.... " pekik Ratu karena terkejut. Ia lalu mengalungkan kedua tangannya ke leher Arvin karena takut jatuh.
Arvin tersenyum, lalu ia berpamitan, " Kami ke kamar dulu, mom, Dad, mama, ayah, dan Daddy El. "
__ADS_1
Semua tersenyum dan mengangguk. Lalu Arvin berjalan membawa Ratu dalam gendongannya.
" Baiklah, ayo ma, kita ke kamar juga. Ren, kamu juga segera istirahat. " ajak Dion ke istrinya. Rendra mengangguk.
" Aku juga harus istirahat sekarang. " ujar Robert yang juga segera berlalu.
Kini tinggal Paris, Agam, Bryan, dan juga Pipit.
" Ayo sayang, kita juga ke kamar. " ajak Bryan. Pipit mengangguk dan mereka hendak berjalan, tapi Paris berbicara.
" Bund, kenapa bunda bawa minum? Emang di kamar tidak di sediakan minuman ya? " tanya Paris.
Pipit pura-pura melihat ke arah tangannya dan segera menoleh ke arah Paris dengan sebelumnya tersenyum smirk bersama sang suami.
" Bukan begitu, sayang. Ini tadi bunda habis minum, tapi kok nggak habis ya. " ujar Pipit mulai bersandiwara dengan menggoyang-goyangkan gelas yang masih berisi minuman setengah.
" Sayang, kamu habiskan ya. " lanjut Pipit sambil menyodorkan gelas itu ke Paris.
" Kok gitu bund. Kenapa Paris yang ngabisin? Kenapa bukan Daddy aja. " protes Paris.
" Daddy kenyang sayang. Kalau malam-malam begini kebanyakan minum, Daddy terlalu sering ke kamar mandi. " sahut Bryan.
" Ah, bunda... Selalu aja Paris yang dapet bagian ngabisin. " ujar Paris sambil merengut. Tapi tak urung, ia mengambil gelas itu dari tangan bundanya.
" Langsung di minum, Paris. " pinta Pipit.
Paris mengangguk, lalu segera menenggak habis minuman itu.
" Ahhh... " Paris mengusap mulutnya. " Minuman apaan ini bund? Kok rasanya kayak juice jeruk, tapi kayak ada pahit-pahitnya gitu. "
" Nggak ah.. Perasaan kamu aja kali sayang.. Tadi bunda minum, enak kok. " sahut Pipit.
" Sudah... Sebaiknya kita segera ke kamar. " lerai Bryan sambil mengambil gelas yang telah kosong dari tangan Paris dan meletakkannya di atas meja. Agam yang sedari tadi ada di situ hanya jadi penyimak yang baik.
Bryan merangkul pundak Pipit.
" Agam, sini sebentar. " panggil Bryan.
" Iya, Dad. " jawab Agam sambil mendekat ke arah mertuanya.
" Daddy berpesan, nanti lakukan dan ikuti semua apa yang di minta istrimu, oke? Jangan pernah mencoba untuk menolak kalau kamu ingin jadi suami putriku selamanya. " bisik Bryan.
Meskipun tidak mengerti apa yang di katakan ayah mertuanya, Agam hanya mengangguk saja.
__ADS_1
" Ya sudah, cepat bawa istrimu masuk ke dalam kamar. " ucap Bryan sambil menepuk pundak Agam. Dan kembali, Agam hanya mengangguk, lalu segera menggandeng tangan Paris dan membawanya masuk ke dalam lift menuju ke lantai teratas ke kamar presidential suite.
bersambung