Cinta Datang Karena Terbiasa

Cinta Datang Karena Terbiasa
Segera launching


__ADS_3

" Bundaaaaaaa....... " teriak Paris dari dalam kamarnya dengan begitu nyaring.


Bukan sang bunda yang terlihat datang dari balik pintu. Tapi justru sang adik, Zayyan yang muncul karena saat tadi kakaknya berteriak memanggil sang bunda, ia hendak turun ke lantai bawah.


" Kakak kenapa teri-" Zayyan tidak mampu meneruskan gerutuannya kala melihat sang kakak yang duduk di lantai sambil memegangi ujung ranjang. Zayyan melihat kakaknya seperti sedang kesakitan.


" Bundaaaaaaaaaaaaa....... Daddyyyyyyyyyyyyy........ " kini suara lantang dan cempreng Zayyan yang terdengar begitu melengking.


Karena tidak ada sahutan dari bawah, Zayyan bergegas hendak turun ke lantai bawah. Tapi di saat ia akan menginjak tangga, Zahran sang kembaran menaiki tangga sambil menggerutu.


" Vier, kenapa teriak-teriak sih? Kayak Tarzan aja. " gerutu Zahran yang biasa di panggil Vion.


" Vion, cepat panggil bunda sama Daddy. Kakak... Kakak... " ucap Zayyan terengah-engah karena panik.


" Kakak kenapa? " tanya Zahran.


Zayyan menggeleng sambil menelan salivanya susah payah. " Aku juga nggak tahu. Tapi kakak seperti sedang kesakitan. " ucapnya dengan susah payah.


Zahran terlihat kaget, kemudian raut mukanya berubah menjadi panik.


" Mungkin kakak mau melahirkan. Ya udah, kamu balik ke kamar kakak, aku panggil bunda sama Daddy. " ucap Zahran.


Zayyan mengangguk, lalu segera balik badan untuk kembali ke kamar Paris. Dan Zahran, segera turun kembali untuk mencari dan memberitahu orang tuanya.


" Kak Roooss... " panggil Zayyan seraya mendekati kakaknya.


" Ipin .. Bun-da ma-na? " tanya Paris sambil menahan rasa sakit yang tiba-tiba datang kembali.


" Vion baru memanggil mereka. " jawab Zayyan. " Kakak kenapa? Kakak kesakitan? " tanya Zayyan.


Paris mengangguk lemah. " Perut kakak sakit, Zay. " keluh Paris sambil memegangi perutnya.


Zayyan lalu duduk bersila di samping sang kakak. Ia lalu mengusap perut sang kakak sembari berkata, " Adik kecil ponakan uncle Vier, udah pengen keluar ya ? Sabar ya . Adik kecil jangan nendang-nendang mama. Kasihan mama kesakitan. "


" Apa masih sakit kak? " tanya Zayyan masih sambil mengusap perut sang kakak.


Paris nampak mengatur nafasnya sambil memejamkan matanya. Rasa sakit itu tiba-tiba menghilang kembali.


Paris menggeleng. " Sakitnya udah hilang lagi. " ucapnya.


Zayyan tersenyum. " Kakak pindah ke ranjang yuk. Nanti kakak sama adik kecil bisa masuk angin kalau duduk di lantai kayak gini. "


Paris mengangguk. Lalu dengan di bantu Zayyan, dan dengan susah payah, Paris berdiri dan berjalan menuju pinggir ranjang, lalu duduk di atas ranjang.


Dengan telaten, Zayyan terus mengelus perut sang kakak. Dan setelah beberapa menit kemudian, rasa sakit itu datang kembali. Paris meringis sambil memejamkan matanya dan meremas erat sprei kasurnya.


" Kakak, sa-"

__ADS_1


" Paris.... " pekik sang bunda yang baru muncul dari ambang pintu, memotong kata-kata Zayyan.


" Bunda, kakak kesakitan lagi. Kasihan kakak bund. " ujar Zayyan sambil terus mengelus perut sang kakak.


" Bun-daa... Sa-kit bunda... " keluh Paris.


" Daddyyyy.... " panggil Pipit setengah berteriak karena sang suami tidak muncul-muncul.


" Iya bund. Ada ap-. " Bryan terkejut dan panik kala melihat wajah sang princess sedang kesakitan.


" Paris? Kamu mau melahirkan? " ucap Bryan sambil berlari menghampiri sang putri.


" Kita bawa ke rumah sakit sekarang, bang. " ajak Pipit.


Bryan mengangguk. Tapi sebelum ia berdiri dari duduknya, Bryan memeriksa kandungan Paris.


" Sepertinya memang sudah waktunya. " gumamnya.


" Bunda, aku siapkan mobil. Bunda siapkan perlengkapan Paris dan bayinya. Zayyan, terus elus perut kakak, nak. Dan Zahran, cepat kamu hubungi kak Agam, kasih tahu dia, kalau bayinya udah mau launching. Suruh dia langsung menyusul ke rumah sakit. " titah Bryan membagi tugas.


Zayyan, Zahran, juga Pipit mengangguk bersamaan. Mereka segera melakukan apa yang Bryan katakan tanpa menunggu lama. Zahran juga segera pergi ke kamarnya untuk mengambil ponselnya dan memberitahu kakak iparnya.


Zayyan dengan sabar dan telaten, terus mengusap perut dan pinggang sang kakak bergantian.


...Di kantor Agam...


Brak


Wajah Agam terlihat panik dan cemas kala mendengar berita yang di sampaikan oleh adik iparnya.


" Agam. " tegur Boby sang kakek. Agam sudah dalam posisi berdiri.


Agam menoleh ke sang kakek dan melihat tatapan mengintimidasi sang kakek yang seolah-olah mengatakan jika ia harus menjaga sikapnya. Apalagi di sana, ada banyak anggota direksi.


Agam lalu melihat satu persatu orang yang mengikuti meeting siang itu. Ia melihat, wajah penuh tanya dari semua yang ada di aula itu. Lalu ia kembali memandang sang kakek.


" Kakek, maaf. Agam harus meninggalkan meeting ini. " ucap Agam penuh sesal, tapi pandangan itu tetap tidak bisa menutupi wajah panik dan cemasnya.


" Ada apa? Siapa yang menelepon? " tanya Boby.


" Zahran, kek. Adik ipar Agam. Dia memberi kabar kalau Paris.. Paris .. sedang kesakitan. " ucap Agam dengan nada suara bergetar. Tuan Boby Permana nampak mengernyitkan dahinya.


" Sepertinya, Paris mau melahirkan. " tambah Agam.


Brak


Kembali suara meja di gebrak dengan keras. Tapi kali ini, bukan Agam pelakunya. Tapi sang kakek.

__ADS_1


" Ayo cepat kita pulang. " ucap Boby dengan suara lantang.


" Tapi Paris sudah mau di bawa ke rumah sakit kek. " jawab Agam.


" Ya sudah, berarti kita langsung ke rumah sakit sekarang. Nggak usah nunggu lama-lama. " ucap sang kakek sambil berdiri dan berlalu meninggalkan kursinya.


" Kek, bagaimana sama meeting nya kalau kakek juga pergi? " ujar Agam mengingatkan sang kakek.


" Oh iya, kakek lupa. " sahut Boby sambil melangkah kembali ke meja rapat.


" Maaf, semuanya. Meeting kita hari ini kita tunda. Saya harus ke rumah sakit, karena cicit saya akan segera lahir. Keturunan Permana akan segera hadir di antara kami. " ujar Boby dengan suara lantang.


Suara riuh dari para hadirin rapat terdengar. Bukan riuh kecewa karena rapat di hentikan tiba-tiba. Tapi mereka riuh, ikut bersuka cita atas segera hadirnya keturunan Permana. Mereka berdoa semoga keturunan Permana segera lahir dengan mudah dan sehat.


" Kalau begitu, meeting hari ini saya tutup. " lanjut Boby. " Permisi. " pamitnya.


Boby segera meninggalkan ruang rapat dengan diikuti Agam dari belakang. Boby yang memang masih tegap dan gagah di usia senjanya, berjalan dengan langkah lebar dan cepat sambil menghubungi sang istri tercinta mengabarkan jika cicit mereka akan segera lahir. Beliau meminta Novia sang istri untuk segera menuju ke rumah sakit.


Raut wajah Boby jelas tergambar kepanikan dan ketakutan. Menghadapi wanita melahirkan, selalu mengingatkannya akan masa lalunya. Dimana sang istri harus mengalami koma selama satu bulan penuh setelah melahirkan anak pertama mereka, yaitu calon kakek dari cicitnya yang akan segera lahir ini. Rasa trauma itu selalu ada dalam benak Boby. Rasa trauma yang di timbulkan karena rasa bersalah yang amat sangat.


Dan Agam, ia sibuk memberi kabar ke orang tuanya yang masih di kota Semarang. Ia juga menghubungi sang kakak untuk memberitahu sang kakak jika anaknya akan segera lahir.


...Kembali ke kediaman Bryan Ernest...


Bryan menggendong sang putri ala bridal keluar dari rumah. Bertepatan dengan Bryan yang keluar dari dalam rumah, Seno juga keluar dari dalam rumah di susul oleh Arvin yang juga menggendong Ratu.


Karena pagar rumah yang membatasi rumah Bryan dan Seno yang hanya sebatas perut, maka terlihatlah apa yang terjadi di halaman sebelah.


Ratu terdengar berteriak. Membuat Bryan dan anggota keluarganya menoleh ke sebelah. Saat menoleh, mereka mendapati raut panik di wajah penghuni sebelah.


Arvin nampak berantakan. Rambutnya acak-acakan juga baju yang ia kenakan. Ratu berteriak dalam gendongannya. Perempuan itu nampak kesakitan.


" Mbak Mell, ada apa? " tanya Pipit ke kakaknya.


" Ratu mau melahirkan. " jawab Armell. " Lah, kalian sendiri ada apa? Kenapa Paris juga di gendong? " tanya Armell.


" Jangan bilang, Paris juga mau melahirkan. " tambah Seno.


" Iya. Cucu gue akan segera launching. Jadi gue tunggu Ferarri nya. " jawab Bryan.


" Cucu gue juga mau lahir. Pasti duluan cucu gue lahirnya. Jadi lo, siap-siap aja buka celengan lo buat beliin gue Ferarri limited edition. " balas Seno.


" Daddyyyyyyyyyyyyy .... " teriak Paris dan Ratu bersamaan.


Kedua Daddy itu menoleh bersamaan ke anak mereka. Terlihat raut wajah kesakitan sang putri. Kembali rasa panik dan cemas menyelimuti hati mereka. Lalu mereka sama-sama segera membawa putri mereka ke rumah sakit dan membiarkan perdebatan mereka mengambang.


bersambung

__ADS_1


__ADS_2