
Seorang laki-laki muda tampan dan tinggi dengan wajah blasteran dan kulit putih sedang berada di dalam kamarnya, sibuk mengotak atik laptopnya. Siapa lagi laki-laki itu jika bukan Arvin Regan Abraham Downey, yang biasa di panggil Arvin. Nama pemberian dari laki-laki dan perempuan yang dulu merawatnya saat ia masih bayi.
Arvin sedang mengerjakan tugas yang di berikan oleh sang dosen sebagai nilai ujian dari salah satu mata kuliah. Akhir semester telah tiba. Setelah melalui ujian semester kali ini, Arvin akan segera masuk ke semester 5. Berulangkali Arvin nampak menghela nafas kasar. Bahkan tombol backspace beberapa kali ia pencet setelah ia menuliskan beberapa kalimat.
Arvin nampak sedang galau. Tugas yang biasanya bisa ia selesaikan dengan cepat, kali ini Arvin membutuhkan waktu yang lumayan panjang untuk tugasnya kali ini. Sudah semenjak sore tadi ia berkutat dengan laptopnya untuk menyelesaikan tugasnya. Tapi nyatanya hingga jam di dinding menunjukkan pukul 9 malam, ia baru bisa menyelesaikan separonya saja.
Arvin mengusap wajahnya kasar kemudian menyunggar rambutnya ke belakang kala ia kembali melakukan kesalahan.
“ Kenapa gue jadi kayak gini sih? Salah lagi…salah lagi….Ck! “ gerutu Arvin. Ingin rasanya ia membanting laptop kesayangannya. Arvin mengacak rambutnya, lalu ia berdiri dari duduknya untuk keluar dari kamar.
Saat ia menuruni tangga, sang mama hendak naik ke lantai dua untuk pergi ke kamarnya.
“ Abang…” panggil sang mama.
“ Mama. Kenapa ma? “ Tanya Arvin.
“ Mama mau nyampering abang ke kamar. Udah jam 9 loh ini. Tapia bang melewatkan makan malam. Ayo buruan turun. Ayah kamu sudah ribut dari tadi, kenapa kamu nggak ikut makan malam. “ ucap Leora sambil berjalan di samping Arvin. Dan Arvin merangkul bahunya. “ Padahal mama udah bilang kalau abang lagi ngerjain tugas. Tapi ayah kamu tetep aja riweh. “ lanjut sang mama. Arvin hanya tersenyum tipis.
Dion, meskipun ia hanya ayah sambung bagi Arvin, tapi laki-laki paruh baya itu selalu menyayangi dan memberikan perhatian layaknya seorang ayah kandung.
“ Arvin, kenapa kamu nggak ikut makan malam, nak? “ terdengar suara berat dari seseorang yang duduk di kursi makan.
“ Arvin punya tugas dan harus segera di selesaikan. Besok sudah harus di kumpulkan. Jadi Arvin tidak sempat makan malam ayah. “ sahut Arvin.
“ Ya sudah sini. Ayo cepat makan. “ ajak Dion sambil melambaikan tangannya dan menyuruh Arvin duduk di sebelahnya. “ Ma, cepat mama siapkan makan malam untuk sulung kita. “ pintanya ke sang istri.
Leora mengangguk sambil tersenyum hangat ke sang suami. Suami yang mau menerima dirinya apa adanya, suami yang mau menerima putranya seperti anak sendiri, suami yang telah menemaninya dalam susah maupun senang selama 18 tahun ini.
“ Bagaimana kuliahmu nak? “ Tanya dion.
__ADS_1
“ Alhamdulillah lancar yah. Mulai besok udah ujian semester genap. “ jawab Arvin.
“ Enjoy dengan kuliahmu? “
Arvin mengangguk. Ia membalik piring yang ada di depannya yang telah di siapkan memang untuknya. Tak lama, Leora kembali dengan membawa semangkuk nasi dan sepiring berbagai macam lauk.
“ Apa Daddy Ro menghubungimu kembali? “ Tanya dion. Arvin menoleh sesaat kea rah ayahnya, lalu menggeleng.
“ Tapi, bagaimana dengan tawaran dan ajakan Daddymu? “
Leora yang ada di sampingnya menghentikan kegiatannya menyiapkan makan malam untuk putranya. Hatinya terasa agak pedih. Jantungnya juga berdebar kencang. Apa ia benar-benar harus merelakan putra sulungnya ini meninggalkannya dan mengikuti Daddynya?
Arvin sedikit menatap ke arah sang mama yang tiba-tiba menghentikan kegiatannya. Arvin tahu, mamanya pasti sedih jika dirinya mengiyakan ajakan sang daddy.
“ Arvin belum tahu yah. Arvin masih bingung. Sementara Arvin nyaman tinggal di Indonesia. Nyaman juga dengan kuliah Arvin di sini. Jadi untuk sementara sampai entah kapan, Arvin akan tetap tinggal di sini. Sama mama… “ Arvin menatap sang mama lekat. “ Juga sama ayah. “ lanjutnya yang kemudian menatap Dion. Membuat Leora dan Dion bernafas lega bersamaan.
Hal paling menakutkan bagi Leora dan Dion adalah di tinggalkan oleh anak sulung mereka ini. Mereka takut jika Arvin akan ikut dengan ayah kandungnya. Bisa jadi putra sulung mereka ini merasa kasihan dengan ayah kandungnya. Robert Downey, setelah keluar dari penjara beberapa tahun yang lalu, memutuskan untuk menetap di London yang merupakan tanah kelahirannya. Apalagi pusat segala bisnisnya ada di sana.
Tapi berkali-kali Robert meminta Arvin untuk mengambil alih bisnisnya, Arvin selalu menolak. Ia selalu beralasan jika dirinya belum mampu karena ia saja belum menyeleseikan pendidikan S1 nya. Dan berkali-kali juga, Robert harus menelan kekecewaan.
“ Ayah sama mama bahagia jika kamu masih tetap mau tinggal bersama kami di sini. Tapi kami juga tidak boleh egois. Kami akan selalu mendukung semua keputusanmu. Meskipun kamu memutuskan untuk pergi ke Daddy mu suatu saat nanti. Yah, walaupun itu akan sangat berat dan sulit untuk kami. “ ujar Dion bijak sambil menepuk-nepuk punggung tangan Arvin yang ada di atas meja.
“ Abang nggak boleh kemana-mana. Abang harus tetap di sini. Sama mama, ayah, juga Rendra. “ sahut adik Arvin yang bernama Rendra yang tiba-tiba datang dari arah depan. Ia langsung duduk di sebelah Arvin dan memeluk tubuh kakaknya itu.
Narendra Putra Abraham, putra dari Dion dan Leora yang berusia 17 tahun ini, sangat menyayangi sang kakak.
“ Lo apa-apaan sih. Kayak anak cewek aja. Siapa juga yang mau ninggalin rumah ini. Lo tenang aja. Abang nggak akan kemana-mana. “ sahut Arvin ke adiknya.
“ Awas aja kalau abang bohong. “ ancam Rendra sambil melepas pelukannya. “ Abang yang sering nginep di rumah si Quiny aja Rendra kesel. Apalagi kalau abang malah keluar negeri. “ sewot Rendra. Rendra sejak dari kecil memang selalu iri dengan ratu. Karena sang abang akan selalu mendahulukan cewek manja itu ketimbang dirinya.
__ADS_1
“ Bukan Quiny Ren. Ratu namanya. “ Arvin membenarkan.
“ Tapi abang suka manggil dia Queen. “
“ Iya. Lagian Queen itukan cewek. Kamu cowok. Masak iya, kamu mau di manjain abang kayak anak cewek. “
“ Ogah! “
“ Makanya jangan suka iri. Rasa sayang abang ke kamu, Danique, Queen, semuanya sama. Bahkan sama Paris dan si kembar juga. Karena kalian semua adalah adik-adik abang. “
“ Malah pada ribut. Ayo buruan makan. Udah sangat terlambat ini untuk makan malam. “ ujar Dion.
Leora menyendok nasi dari mangkuk dan menaruhnya di atas piring Arvin, lalu memberikan lauknya juga. “ Ren, udah makan belum nak? “ Tanya leora.
“ Udah ma. Tadi udah makan bareng temen-temen. “
“ Emang darimana kamu tadi? Ini bukan malam minggu kok keluyuran. “
“ Bukan keluyuran abang. Cuma nongkrong bareng sama teman-teman di warung kopi gang sebelah. “
“ Ck. Sama aja. Sekolah yang bener. Kamu besok punya tanggung jawab besar. Kamu besok harus bisa mengelola perusahaan peninggalan kakek. “
“ Kan ada bang Arvin. “
“ Ck. Ya tidak bisa begitu. Abang juga punya tanggung jawab lain. Abang juga harus mengurus bisnis Daddy Robert. Kalau abang nggak mengurusnya, kasihan para pekerja yang jumlahnya ribuan itu. “
“ Iya…iya…iya…Mulai besok, Rendra bakalan belajar lebih serius. “
Dion dan Leora hanya menggelengkan kepalanya saat kembali mendengar jawaban dan janji dari anak bungsunya. Karena kata-kata janji itu selalu keluar saat Arvin amaupun sang ayah menasehatinya.
__ADS_1
bersambung