Cinta Datang Karena Terbiasa

Cinta Datang Karena Terbiasa
Sensi


__ADS_3

Paris menarik lengan kaos yang di kenakan oleh Agam kala ia sudah tirun dari atas motor trail Agam.


“ Kenapa dari tadi gue Tanya nggak di jawab ? “ Tanya Paris.


Agam melepas helm full facenya dan ia letakkan di atas jok motornya. “ Emang kamu Tanya apa tadi? Aku nggak denger soalnya. “ jawab Agam berpura-pura.


“ Gue Tanya, kenapa lo nggak nganterin gue balik ke kost an? Kenapa lo malah ajak gue kesini? “ tanya Paris dengan nada sewot.


“ Papa sama mama hari ini mau datang kesini. Mereka bilang di rumah kesepian. Mau menginap di sini? “ jawab Agam sambil berlalu, berjalan meninggalkan Paris yang masih terbengong.


“ Hei, TUNGGU….! “ teriak Paris setelah ia menyadari jika Agam telah berjalan jauh memasuki gedung apartemen yang di tinggalinya.


“ Lo bilang apa tadi? Om Attar sama tante Ameera mau kesini? Mau menginap di sini? “ tanya Paris sambil menunjuk ke bawah dengan jari telunjuknya.


Agam mengangguk. “ Bisa nggak panggil orang tua aku dengan panggilan papa sama mama? Kamu istri aku. Jadi mereka juga orang tua kamu. “ ujar Agam tanpa menoleh ke arah Paris. Ia memencet tombol angka 11 di lift.


“ Ya… Sorry… Belum kebiasa soalnya. “ sahut Paris merasa bersalah. Ia menunduk sambil menunggu pintu lift terbuka.


“ Makanya di biasakan. Kalau kamu nggak ada niat, mana bisa kamu terbiasa memanggil mereka dengan sebutan papa sama mama. “ ujar Agam.


Tring

__ADS_1


Pintu lift terbuka. Agam masuk ke dalam lift. Tapi Paris malah masih menunduk tanpa bergeming. Menyadari istrinya yang masih terdiam, Agam menahan pintu lift agar tidak tertutup.


“ Ayo cepetan. “ ucap Agam yang langsung membuat Paris mendongakkan kepalanya.


“ Oh… “ hanya itu yang terucap dari mulut Paris. Lalu ia dengan segera masuk ke dalam lift.


“ Beneran, mama sama papa mau menginap di sini ? Berapa hari ? Lama nggak ? “ tanya Paris beruntun.


“ Belum tahu. Kenapa? Apa kamu keberatan bertemu mereka ? “ tanya Agam sambil melirik ke arah Paris dengan nada bicara yang datar.


“ Bu- bukan seperti itu. Lo kenapa sih hari ini sensian gitu? Kayak cewek lagi PMS aja. “ gerutu Paris.


“ Menurut kamu ? “ jawab Agam sambil menoleh ke arah Paris sebentar, lalu kembali menghadap ke depan. “ Orang sabar juga ada batasnya. “ lanjutnya.


“ Gue mau balik ke kost an. “ ucap Paris saat mereka sudah berada di dalam apartemen.


“ Kamu beneran nggak mau bertemu papa sama mama ? “ tanya Agam sambil memicingkan matanya.


“ Bukan gitu… Ihhh sensi banget sih ah. “ gerutu Paris kesal. “ Gue mau balik ke kost, mau ambil baju. Mau ambil tas sama buku-buku buat kuliah besok. “ jelasnya sedikit keras.


“ Di bawah ada mall. Nanti kamu bisa beli baju di sana. Kalau buku sama tas buat kuliah besok, kita pikirin besok. Aku capek. Mau tidur dulu. “ jawab Agam.

__ADS_1


“ Ngapain menghambur-hamburkan uang buat beli baju baru kalau yang lama masih ada? Kalau lo capek, gue bisa ambil baju gue sendiri. Siniin kunci motor lo, gue pinjem buat ambil baju di kostan. “


“ Aku bilang nanti sore kita beli baju di bawah, ya nanti sore. Jalanan ke kost kamu ramai kalau jam segini. Aku nggak mau kasih pinjem motor aku. “ jawab Agam sambil memasukkan kunci motornya ke dalam saku celana, dan dia berlalu masuk ke dalam kamarnya.


Saat hendak menutup pintu, Agam berbalik dan berkata, “ Kamu kalau mau tidur juga, masuk aja ke kamar. Jangan tidur di kamar sebelah. Kamar itu tadi sudah aku beresin buat nanti papa sama mama. “


“ Gue mau tidur di sofa aja. “ sahut Paris kesal sambil membanting tubuhnya di atas sofa.


“ Terserah kamu. “ jawab Agam, lalu ia masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya.


“ Hah. “ Paris menghela nafas kasar sambil duduk di sofa. Ia mengitarkan pandangannya ke sekeliling. Mengamati isi apartemen itu. Hari ini, adalah kedua kalinya Paris datang ke apartemen itu dan untuk menginap. Yang pertama dulu, saat Boby Permana, opanya Agam datang berkuncung setelah melakukan perjalanan bisnis. Dan yang kedua adalah hari ini.


Sudah berkali-kali Agam mengajaknya datang ke apartemen ini meskipun hanya un tuk sekedar main. Tapi Paris selalu menolak dengan berbagai macam alasan. Paris berdiri dari duduknya. Ia berjalan memutari ruangan, melihat-lihat semua yang ada di dalam ruangan itu. Dapur terlihat sangat ersih. Semua perabot dapur dan makan terlihat masih baru semua karena memang belum pernah di pakai.


‘ Ah, kira-kira bagaimana tanggapan mama kalau tahu menantunya tidak bisa memasak sama sekali? Apa mama akan marah sama aku seperti bunda yang sering ngomel-ngomel nggak jelas ? ‘ tanya Paris dalam hati. Lalu ia bergidik ngeri membayangkan dirinya mendapat omelan dari sang mertua. Apakah suaminya kan membelanya? Atau malah membela sang mama ?


Tidak mau ambil pusing dengan itu, Paris kembali melangkah menuju balkon. Ia membuka pintu pembatas ruangan dengan balkon. Seingatnya dulu waktu ia datang pertama kali ke apartemen ini, Paris tidak melihat adanya tanaman di balkon. Tapi kali ini, ia melihat berbagai macam bunga dan tanaman lainnya menghiasi balkon itu. Tanaman-tanaman itu nampak sangat terawat.


“ Siapa yang merawat tanaman – tanaman ini ? Apa dia ? Emang dia bisa apa? Gue aja kalau nanem apa aja pasti mati. “ ucap Paris bermonolog sambil menyentuh tanaman – tanaman itu. Yah, Paris memang beberapa kali di rumah dulu, mencoba menanam bunga dan tanaman lainnya di kebun rumahnya. Tapi yang ada dia hanya akan mendapat omelan dari sang bunda. Bukannya bunganya tumbuh dengan indah, tapi malah mati karena tangan Paris.


“ Ahhhh… Au… “ Tak sengaja Paris terkena bulu-bulu halus dari kaktus. Bulu-buku itu menancap di tangannya. “ Haiiisss… Kenapa dia nanem kaktus segala sih? Sengaja nih kayaknya biar gue kena. Aduhhh… Sakit lagi kena bulunya. Gimana coba ngambilinnya? “ gerutu Paris.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2