Cinta Datang Karena Terbiasa

Cinta Datang Karena Terbiasa
Cucu laki-laki


__ADS_3

" Pasti cucu gue dulu yang lahir. Lo siapin aja mobilnya. " bisik Bryan di dekat Seno. Mereka berdua sama-sama berdiri di depan pintu ruang tindakan. Mereka berdua sama-sama menantikan cucu mereka lahir ke dunia ini bersama di tengah-tengah mereka.


" Heh. PD banget lo. " sahut Seno sambil bersidekap. " Pasti cucu gue yang bakalan lahir duluan. Secara dia tahu kalau opanya mau mendapatkan mobil baru dengan harga yang fantastis.


" Ck. Kita lihat aja entar. " sahut Bryan kembali.


Dan tak lama kemudian, terdengarlah suara melengking tangisan bayi.


" Oek... Oek.... Oek.... "


" Pasti cucu gue. " ujar Bryan penuh semangat.


" Cucu gue itu. " Seno pun tak mau kalah.


" Kalian bisa berhenti berdebat tidak? " sentak tuan Adiguna yang sedari tadi sudah berada di sana. Beliau dan sang istri juga tengah menantikan kelahiran cicit-cicit mereka.


Bryan dan Seno berbalik dan menatap tuan Adiguna bersamaan. Sedangkan tuan Permana hanya menggelengkan kepalanya.


" Apa kalian tidak dengar? Suara tangisan itu bukan hanya dari satu bayi, tapi dua. Cucu kalian tidak mungkin kembar kan? " lanjut beliau.


Bryan dan Seno saling berpandangan satu sama lain, kemudian sama-sama mendekatkan telinga mereka ke pintu.


Mereka berdua sama-sama mengernyit saat mendengar suara tangisan itu. Lalu mereka saling pandang lagi. Lalu menempelkan telinga mereka ke pintu lagi. Dan hasilnya masih tetap sama.


Tak lama kemudian, pintu di buka dari dalam. Membuat Bryan dan Seno sama - sama terkejut. Mereka segera menjauhkan tubuh mereka dari pintu.


Dua orang dokter laki-laki sebaya muncul dari balik pintu sambil tersenyum cerah.


" Congratulation, dokter Bryan. Atas kelahiran cucunya. " ucap dokter Gibran, dokter kandungan yang menangani Paris. Dokter Gibran mengulurkan tangannya untuk memberi selamat.

__ADS_1


Bryan tersenyum bahagia, sambil menerima ucapan selamat dari dokter Gibran. Dokter yang usianya beberapa tahun di bawah Bryan.


" Thank you so much, dokter Gibran. Atas bantuannya. " ucap Bryan.


" Sama-sama tuan. Jagoan kecil tuan sangat tampan. " ujar dokter Gibran.


" Cucu saya laki-laki? " tanya Bryan dengan wajah berbinar. Dan dokter Gibran mengangguk sambil tersenyum.


" See? Cucu gue cowok. Cucu lo pasti cewek. " ledek Bryan sambil berbicara dengan nada sombong ke Seno.


" Dokter, bagaimana dengan cucu saya? Cucu saya juga laki-laki kan? " tanya Seno ke Dokter Hendra.


" Iya, tuan. Cucu anda juga laki-laki. Dan dia juga sangat tampan. " jawab dokter Hendra.


" See? Cucu gue juga laki-laki. " ujar Seno jumawa ke Bryan.


" Ck. " Bryan berdecak kesal.


" Sebuah keajaiban, tuan. Cucu anda berdua seperti bayi kembar. Mereka lahir di waktu yang sama. Bahkan detik kelahiran mereka pun sama. " sahut dokter Hendra.


" What???? " pekik Seno dan Bryan bersamaan. Mereka berdua sama-sama terkejut dan tidak percaya.


" Jangan bercanda dokter ini. Mana ada ada dua bayi lahir di waktu yang benar-benar bersamaan. Bahkan bayi kembar saja lahirnya bergantian. Kalian pasti di suruh sama istri-istri kami untuk mengatakan kepada kami jika cucu kami lahir di waktu yang bersamaan. " cerca Bryan.


Dokter Hendra dan Dokter Gibran mengernyitkan dahinya bersamaan. Lalu mereka menggeleng.


" Tidak tuan. " jawab kedua dokter itu bersamaan.


" Mereka benar-benar lahir di waktu yang sama. " tambah dokter Gibran.

__ADS_1


Kini Bryan dan Seno mengusap wajah mereka dengan kasar.


" Bagaimana mungkin?? " ujar Bryan sambil menggosok keningnya dengan tangan kanannya, dan tangan kirinya bertengger di atas pinggangnya.


" Maaf, tuan. Kami permisi dulu. Sebentar lagi, cucu kalian akan segera di pindahkan ke ruang bayi. Saat ini, mereka sedang di bersihkan. Dan para ibu juga sedang di bersihkan. Sebentar lagi, mereka juga akan segera di bawa ke kamar perawatan. " jelas dokter Hendra.


" Oh, iya. Terima kasih banyak, dok. " sahut Bryan, lalu ia menjabat tangan ke kedua dokter itu. Diikuti oleh Seno juga.


Tak lama, kedua dokter itu pergi meninggalkan mereka. Tuan Adiguna datang mendekat, lalu menepuk pundak Bryan dan Seno bergantian sambil tersenyum penuh arti.


" Sebaiknya, uang kalian, berikan padaku. Mobil Ferarri nya buat papa saja. " ujar Tuan Adiguna.


" Papa nggak usah macam-macam. Mau balapan sama siapa? " ujar nyonya Ruth.


" Daripada mereka berantem, ma. " elak tuan Adiguna.


" Sebaiknya uang itu kalian tabung buat cucu kalian sekolah kelak. Biaya sekolah tidak semurah biaya sekolah saat ini. " cerca nyonya Adiguna.


" Yes, ma. " jawab Seno Dan Bryan bersamaan dengan nada suara pelan.


" Sekarang, kita tunggu cucu kalian sama anak-anak kalian keluar dari dalam. Kalian ini, dari tadi bukannya berdoa untuk keselamatan anak dan cucu kalian, eh kalian malah berdebat masalah mobil aja. Kalau kalian pengen punya mobil Ferrari, tinggal beli sendiri kan bisa? Emang uang kalian sudah habis? Hingga tidak mampu membeli sendiri? Kalau uang kalian tidak cukup untuk membeli mobil itu, -" nyonya Ruth menyela perkataannya sebentar, lalu menoleh ke arah suaminya.


" Minta sama papa. " lanjutnya.


Tuan Adiguna yang mendengar hanya bengong, sambil menatap istrinya tidak percaya. Tapi tuan Permana malah tertawa terbahak-bahak. Di ikuti oleh Bryan dan juga Seno.


" Tenang, besan. Aku akan menyumbang sedikit. Mungkin sekitar ya... sepuluh juta. " ujar Tuan Permana sambil tersenyum dan menepuk pundak tuan Adiguna. Membuat tuan Adiguna hanya menggelengkan kepalanya tidak habis pikir. Dan tuan Boby Permana kembali tertawa terbahak-bahak.


bersambung

__ADS_1


...Maaf, ya kakak-kakak semuaaahhhh.... Episode kali ini suangaaaaaatttt pendek.... ...


...Othor keburu ada kerjaan yang harus segera selesai. Jadi daripada tidak up, alhasil othor tetap up untuk hari ini, tapi episode nya pendek kali...🙏🙏🙏...


__ADS_2