Cinta Datang Karena Terbiasa

Cinta Datang Karena Terbiasa
Bahagia


__ADS_3

Beberapa hari yang lalu.


Sambil terus cemberut, Paris duduk di sofa membelakangi sang suami yang sedari tadi masih merayu dan membujuk.


" Sayang... Ayolah... " rayu Agam.


" Ihhhh... Apaan sih? Nggak usah nyolek-nyolek deh. " sahut Paris.


" Kalau kamu tidak melakukan hal-hal yang aneh, aku juga nggak akan memaksa. " kekeh Agam.


" Kok hal-hal sih! Orang cuma satu hal aja kok. Lagian itu juga kemauan anak kamu. Bukan kemauanku. " bela Paris.


" Tapi kemauan itu terlalu berbahaya. Meskipun anak kamu yang pengen, kamu bisa mengendalikan diri juga untuk tidak melakukannya. "


" Ck. Makanya, kamu aja yang hamil gimana? Biar tahu rasanya ngidam. Menginginkan sesuatu. Coba kamu rasakan sendiri, bisa nggak kamu menahan keinginan itu. " ucap Paris sedikit menyolot.


" Yaaaa.... Mana mungkin aku hamil. Kan aku laki-laki. Aku cuma bisa berkontribusi aja. " sahut Agam sedikit bingung harus menjawab apa.


" Makanya nggak usah ngajak ribut masalah ini lagi. Lagian, yang penting kan aku sama anak kamu nggak pa-pa. Kami baik-baik aja. Masih utuh. Nggak ada lecet sama sekali. Iya kan? "


" Iya. Tapi tetap aja, itu bahaya banget... Balapan? Oh my God.... " keluh Agam.


" Mau terus ngebahas ini? Kan aku juga udah minta maaf. " rajuk Paris.


" Aku kesel sama kamu. Aku tuh nggak habis pikir, kamu bisa melakukan hal berbahaya kayak gitu. Udah gitu, kamu berusaha menutupinya dariku. " jawab Agam.


" Iya, maaf. " ucap Paris. " Janji nggak lagi deh. " lanjutnya.


Agam menghela nafas panjang. " Aku maafin kamu, kalau kamu mau pulang ke rumah bunda besok. " ucapnya.


" Ck. Kamu udah bosen ya sama aku? Makanya kamu nyuruh aku pulang. " rajuk Paris.


" Siapa yang bilang gitu? Hem? Aku nggak akan pernah bosan sama kamu. Aku tuh sayang dan cinta sama kamu. Makanya aku ingin yang terbaik buat kamu. Kalau kamu di rumah bunda, maka akan ada yang menemani kamu, menjaga kamu. Kalau kamu di sini, aku nggak bisa dua puluh empat jam menjaga dan menemani kamu. Lagian, bunda sama Daddy kan dokter. Jadi bisa selalu memantau kondisi kamu seiring usia kandungan kamu yang sudah semakin besar. " jelas Agam.


" Tapi aku nggak bisa kalau harus jauh sama kamu. Aku bakalan susah tidur kalau kamu nggak meluk aku. Aku bakalan susah makan kalau nggak di masakin sama kamu. Kamu tau nggak sih??? " kekeh Paris.


" Bunda pasti nemenin kamu. Bunda juga bakalan masakin masakan yang enak-enak buat kamu. Lagian, setiap seminggu sekali, aku akan pulang juga. " Agam mencoba bernegosiasi.


" Pokoknya kalau kamu masih tetap di sini, aku juga akan tetap di sini. Kalau kamu nyuruh aku pulang ke rumah Daddy, maka kamu juga harus ikut pulang. Titik. " kekeh Paris.

__ADS_1


" Sayang, kak Ratu di sana juga sendiri loh. Bang Arvin malah cuma pulang satu bulan sekali. Kamu di sana bisa ngobrol sama kak Ratu juga. Kalian sama-sama lagi hamil. Jadi bisa saling sharing. "


" Kan aku bukan kak Ratu. Kami dua orang yang berbeda. Jadi jangan samakan kami. Kak Ratu memang selama hamil, dia nggak mau berdekatan sama bang Ar. Tapi kalau aku, semenjak hamil, aku nggak bisa jauh dari kamu. " kekeh Paris. " Pokoknya, kalau kamu juga pulang, maka ayo kita pulang. Tapi kalau kamu di sini maka aku juga akan di sini. Titik. " lanjutnya, lalu ia berdiri dan berlalu dari sisi Agam.


🌷🌷🌷


Dan di sinilah Agam dan Paris sekarang. Setelah perdebatan yang alot, akhirnya Agam memilih mengalah. Ia ikut pulang ke ibukota. Ia mengajukan cuti kerja ke sang kakek. Dan untuk kuliah, beruntung saat ini adalah liburan panjang setelah semesteran.


Sepanjang waktu, senyuman selalu terbit dari kedua sudut bibir Paris.


" Kamu kenapa dari kemarin senyuuuuummm aja? Hem? Lagi bahagia ya? " tanya Agam sambil membantu Paris meletakkan baju-baju mereka ke dalam almari.


" Bahagia doooonggg... Akhirnya suamiku ikut pulang juga. " jawab Paris sambil cengengesan.


" Seneng ya kalau suami kamu yang tampan ini selalu di dekat kamu? " goda Agam.


" Dihh... Tampan? Yakin nih tampan? PD banget. " ledek Paris.


" PD lah. Kalau aku nggak tampan, nggak mungkin kamu bisa jatuh cinta sama aku. Kalau di bandingkan sama Azkara, aku nggak kalah jauh. " sahut Agam.


" Kalau sama Azkara ya gantengan kamu sih. Kalau ganteng Azkara, pasti aku udah jatuh cinta sama Azkara mulai aku masih kecil. " sahut Paris.


Agam tersenyum mendengar ucapan sang istri. Lalu ia berjalan mendekati Paris, dan memeluk tubuh Paris yang sedang menata baju-baju dalam almari dari belakang . Ia menyeruakkan kepalanya ke leher Paris hingga membuat Paris sedikit memiringkan kepalanya.


" Kepancing ya? " goda Agam sambil terkekeh. Ia malah semakin asyik menggoda Paris.


" Masss... Jangan kayak gini. Sumpah deh.. Lama-lama aku nggak tahan. " keluh Paris.


Agam dengan tersenyum terus mengendus leher Paris.


" Ck. Bener-bener ya... Nggak bisa di bilangin. " Ujar Paris sambil membalikkan tubuhnya dan mendorong tubuh Agam hingga tubuh Agam terjerembab telentang di atas ranjang. Lalu Paris mengunci tubuhnya dengan kedua tangan yang berada di sisi kanan dan kiri kepala Agam. Ia membalas perbuatan sang suami tadi. Mengendus dan menjilat leher sang suami dan membuat Agam kuwalahan. Ia justru mengeluarkan suara desa-han.


Paris menyeringai tipis. Ia tidak menghentikan aksinya. Ia justru malah makin bersemangat saat mendengar suara merdu sang suami.


" Sayang... Hentikan sekarang...Ahh... " pinta Agam. Paris tidak mengindahkan permintaan sang suami.


" Sayaaaanggg.... Hentikan sekarang. Bu-kan-kah ka-mu harus ke tem-pat Un-cle El... " ucap Agam terbata-bata.


" No, honey... " jawab Paris yang kini makin menggila. Bibirnya sudah berpindah ke wajah Agam, dan akhirnya berlabuh di bibir kenyal Agam. Tak mampu menolak lagi, akhirnya Agam pun ikut menggila. Tentu saja Agam tidak akan menyia-nyiakan momen berharga ini. Momen yang selalu membuatnya sangat bahagia dan semakin jatuh ke dalam pesona sang istri.

__ADS_1


Paris bermain di atas. Ia tidak membiarkan Agam memimpin permainan. Bahkan ia melucuti pakaiannya sendiri dan melucuti pakaian sang suami. Memberikan kepuasan terhadap sang suami. Berada di atas, membuatnya meledak beberapa kali sebelum Agam meledak juga.


" Ohhh, sayang... Kamu selalu hebat di atasku. " racau Agam saat Paris bergerak naik turun di atasnya. Menghentak-hentakkan miliknya di atas milik sang suami.


" Udah mau sampai belum massshh? " tanya Paris di sela-sela pergerakannya.


Agam menggeleng.


" Tapi aku udah capek. " ujar Paris.


" Kamu diamlah. Aku yang akan bergerak. Kamu nikmati saja di atas. " sahut Agam, lalu ia mulai bergerak di bawah Paris. Bergerak dengan irama cepat, lalu melambat, lalu cepat kembali. Membuat Paris kembali menegang. Dan entah untuk yang ke berapa kalinya.


" Honey... Faster... " pinta Paris.


" As you wish. " jawab Agam lalu ia mempercepat pergerakannya dan membuatnya menegang setelahnya. Dan muntahlah lahar panasnya.


Paris berbaring di samping Agam saat kegiatan sore mereka selesai. Nafasnya tersengal.


Agam menghadiahinya sebuah kecupan hangat di kening.


" Makasih sayang. Kamu selalu memberikan yang terbaik untukku. Aku mencintaimu... Sangat. " ucap Agam.


" Terima kasih kembali. Karena sudah mau ikut kesini. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana aku harus mengeksplor keinginanku jika tiba-tiba saja aku menginginkan yang seperti tadi. " jawab Paris.


Agam tersenyum. Ia suka dengan sikap istrinya yang manja dan mesum ini.


" Aku juga tidak tahu harus bagaimana jika tiba-tiba aku juga menginginkan untuk melakukannya denganmu, sedangkan kamu berada jauh dariku. Bisa-bisa aku harus pulang pergi Jakarta - Bandung setiap hari. " sahut Agam.


" Sayang, apa kamu benar-benar mau bantuin bang Ar? Kamu yakin rencana kamu berhasil? " tanya Paris yang sedang berada dalam pelukan Agam.


" Kita tidak akan tahu jika kita belum mencobanya. Aku hanya merasa kasihan sama bang Ar. Karena aku pernah merasakan betapa beratnya ingin menyentuh seseorang yang tidak mau di sentuh. " sindir Agam


" Ck. Itu kan dulu. Sekarang aku sudah membayarnya. Aku tidak pernah menolak setiap kamu menginginkannya. " elak Paris.


" Makanya... Aku semakin mencintaimu setiap harinya. " ucap Agam lalu ia mendaratkan kembali sebuah kecupan. Kali ini, kecupan itu mendarat singkat di bibir Paris.


" Mandi yuk. Habis itu, kita ke tempat uncle El. " ajak Agam.


" Gendong.... Terus mandiin sekalian. " ujar Paris manja.

__ADS_1


" Oke. Apa sih yang nggak untuk istriku tercinta. " sahut Agam, lalu ia mengangkat tubuh polos sang istri dengan bridal style. Paris tersenyum dan mengalungkan kedua tangannya ke leher Agam. Sungguh kebahagiaan yang hakiki.


bersambung


__ADS_2