Cinta Datang Karena Terbiasa

Cinta Datang Karena Terbiasa
Kayak minum obat


__ADS_3

" Jam segini kalian baru habis mandi ya? Nggak takut masuk angin? " tanya Armell ke Agam dan Paris saat malam menjelang mereka datang bertandang ke rumah Adiguna.


" He... he... he... Habis ritual sore dulu mom. " jawab Paris sambil cengengesan.


" Ritual sore? Maksudnya? " tanya Armell sambil mengernyit.


" Biasa mom. Si debay minta si jenguk sama papanya. " jawab Paris kembali.


" Ck. Kamu ini. Pantes memang kalau anaknya si Pipit sama si teh celup. Kalau ngomong asal. " ujar Armell.


" Ih, mommy. Paris bilang apa adanya lih tadi. Nggak asal. Tadi sore Paris sama mas Agam emang baru habis in the Hoy satu babak. Entar malam, di lanjut lagi babak yang kedua. Iya nggak say? " sahut Paris.


Agam menjawab dengan berdehem. Sebenarnya ia cukup malu membicarakan hal pribadi di depan orang lain seperti ini. Tapi demi kemuliaan Arvin, ia rela menebalkan mukanya.


Ratu dan Arvin menyimak pembicaraan Armell dan Paris.


" jangan terlalu sering. Kamu sedang hamil tua. " Armell mengingatkan.


" Aku malah menyuruh mereka sering - sering melakukan biar proses kelahirannya nanti lebih mudah. " sela Bryan.


" Emang sesering apa kalian melakukannya? " tanya Seno.


" Semenjak Paris hamil, hampir tiap hari uncle. " jawab Agam.


" Sehari bisa sampai tiga kali. Pagi, siang, malam. " tambah Paris.


" Kayak minum obat aja tiga kali sehari. " ujar Seno.


" Beneran loh uncle. Debay nya Paris sayang banget sama papanya. Tiap hari minta di jenguk. Apalagi waktu Daddy mengatakan jika hamil besar kayak gini kita sering berhubungan, maka akan mempermudah proses kelahiran. " jawab Paris.


" Apa benar itu, uncle B? " kini Ratu mulai bersuara.


" Benar sekali, Ratu. " jawab Bryan.


" Makanya, sayang... Kamu juga harus kayak Paris. Tiap hari nggak ada absen buat berhubungan sama suaminya. " tambah Pipit.


Ratu lalu memandang Paris dan Agam yang terlihat begitu mesra. Lalu ia melihat ke arah dirinya dan sang suami. Ia malah saling berjauhan dengan Arvin. Apa selama ini ia sudah sangat keterlaluan? Itulah pikir Ratu.


Ratu sedikit melirik ke arah Arvin yang sedari tadi sedang memperhatikannya.


" Seorang bayi, meskipun masih di dalam kandungan, ia juga harus berkenalan dan dekat dengan ayahnya. Merasakan kasih sayang antara ayah dan ibunya, bisa membantu perkembangan si bayi juga. Jika ayah sama ibunya berjauhan, maka si bayi juga tidak akan bisa dekat dengan sang ayah. " jelas Pipit.


Arvin bersorak dalam hati mendengar ucapan keluarga Ernest malam itu. Ia berharap, malam ini, akan ada perubahan dari sang istri. Arvin sudah benar-benar kehilangan akal untuk bisa bersentuhan dengan sang istri.

__ADS_1


🌷


🌷


🌷


" Baaaanggg.... " panggil Ratu dari dalam kamar ke Arvin yang entah berada di area mana dalam rumah itu.


Tak mendapat sahutan dari sang suami, Ratu memanggil lagi dengan suara lebih kencang. " ABAAAANGGG.............. "


" IYA... SAYANG.... " sahut Arvin dari arah belakang rumah. Ia lalu buru-buru masuk rumah dan melangkah menaiki tangga menuju kamar Ratu.


" Ada apa sayang? " tanya Arvin kala ia telah masuk ke dalam kamar dan melihat Ratu sedang duduk di atas ranjang.


Arvin hendak duduk di sofa, tapi Ratu berkata, " Abang kenapa duduk di situ? Sini. "


" Boleh, abang duduk di dekat kamu? " tanya Arvin memastikan.


Ratu mengangguk pasti. Lalu, Arvin berjalan mendekati ranjang dan duduk di tepi ranjang.


" Sini... " ujar Ratu sambil menepuk tempat kosong di sebelahnya. Arvin mengikuti kemauan sang istri. Ia duduk tepat di sebelah Ratu. Dan tiba-tiba, Ratu memeluk lengannya dan bergelayut manja di pundak Arvin, membuat Arvin mengernyit.


" Ada apa? Hem? Apa ada yang tidak enak yang kamu rasakan? " tanya Arvin.


" Bagian mana yang tidak enak? Perut kamu sakit? " tanya Arvin kembali. Ratu menggeleng dan ia memeluk tubuh Arvin kembali. Ia melingkarkan kedua tangannya ke perut Arvin.


" Hatiku yang rasanya nggak enak. " ujar Ratu.


" Hem? Kenapa hati kamu nggak enak? Apa yang kamu cemaskan? " tanya Arvin sambil membelai rambut Ratu.


" Abang... Queen minta maaf ya. " ucap Ratu.


" Minta maaf untuk apa, sayang? Seingatku, kamu nggak ada salah apa-apa kok sama aku. " sahut Arvin.


" Queen tuh udah salah banget sama Abang. Queen ngebiarin abang selama berbulan-bulan. Nggak mau di deketin sama Abang, nggak mau di sentuh sama abang. " tutur Ratu .


" Nggak pa-pa kok. Kan itu juga kemauan anak kita, sayang. Abang ngerti kok. " sahut Arvin sambil tersenyum.


" Abang jadi puasa berbulan-bulan. Pasti berat ya bang nahan i-tu? " tanya Ratu sambil mendongakkan kepalanya memandang wajah Arvin.


Arvin menunduk, memandang balik wajah Ratu, dan mengecup keningnya.


" Lumayan. Makanya sabun mandi kita cepat habis. " jawab Arvin sambil terkekeh.

__ADS_1


" Queen ngiri deh lihat Paris sama Agam. Mereka dulu nikah tanpa ada rasa cinta. Tapi lihat mereka tadi. Mereka terlihat begitu mesra. " tutur Ratu.


" Kalau mereka sih, menurutku, bukannya nggak ada cinta. Tapi Paris gengsi aja mengakui perasaannya. Jadi setelah dia mengakui perasaannya, jadinya bucin deh. " sahut Arvin.


" Abang.... " panggil Ratu dengan suara manja dan jari-jari tangannya yang bergerak abstrak di perut dan dada Arvin.


" Hem... " jawab Arvin sambil memejamkan matanya menikmati sentuhan sang istri.


" Abang cinta nggak sama Queen? " tanya Ratu.


" Ya cinta lah. " Arvin menjawab sambil membuka kembali matanya. " Tentu saja abang cinta sama kamu. Kalau abang nggak cinta sama kamu, nggak mungkin abang nikahin kamu, terus bikin kamu hamil kayak gini. " lanjutnya.


" Queen juga cinta sama abang. Cinta banget malahan. " sahut Ratu dengan tangannya yang sudah kemana-mana.


" Sayang, jangan memancing di air yang keruh. Jika akhirnya seperti kemarin, please jangan menggoda abang. " pinta Arvin yang sudah mulai terpancing dengan gerakan tangan Ratu yang sudah masuk ke dalam kaos Arvin.


" Kali ini, Queen janji akan menyelesaikan sampai tuntas. Nggak akan berhenti di tengah jalan lagi. " sahut Ratu dengan senyuman manis dan kerlingan matanya.


Arvin tersenyum, " Beneran sayang? Yakin, anak kita nggak akan berubah pikiran? " tanya Arvin memastikan.


Ratu menggeleng dengan cepat. " Jika nanti anak kita tiba-tiba berubah pikiran, maka aku akan merubah pikirannya kembali. " jawab Ratu.


Mendengar jawaban dari Ratu, Arvin sangat bahagia. Ia lalu menempelkan bibirnya ke bibir Ratu, melu-mat dengan penuh na-fsu. Ratu pun membalas ciuman itu dengan penuh semangat.


Ratu membiarkan suaminya merebahkan tubuhnya di atas ranjang dan mengungkungnya. Arvin mulai menulusuri tubuh yang sangat ia rindukan beberapa bulan ini. Menyentuh, meraba, dan yang lainnya. Ia melakukan semua yang ingin ia lakukan.


Ratu hanya bisa mende-sah dan mende-sis menerima semua perlakuan suaminya yang sepertinya iapun merindukan semuanya. Hal-hal yang sering mereka lakukan dulu ketika baru saja menikah.


" Sayang, ka-mu ya-kin kita me-lakukan-nya? " tanya Arvin dengan tersengal-sengal karena naf-su yang telah menguasainya.


Ratu mengangguk sambil membuka kedua kakinya lebar-lebar. Ia dan Arvin sudah dalam keadaan sama-sama polos sekarang.


" Apa anak kita akan baik-baik saja? " tanya Arvin sedikit khawatir.


" Jadi nggak sih bang? " tanya Ratu dengan nada sedikit kesal karena suaminya malah mengajaknya tanya jawab. " Kalau nggak jadi, mending Queen tutup lagi aja deh. " lanjutnya sambil hendak menutup kembali sarang ular' sang suami.


Tapi Arvin segera menghalangi. " Jadi dong sayang. Abang cuma ingin memastikan aja. " sahut Arvin. Dan tak lama kemudian, Arvin memasukkan ularnya ke dalam sarang yang selama ini sangat ia rindukan. Rasa ketat terasa menjepit sang ular peliharaan.


Arvin mulai menggerakkan tubuhnya naik turun, maju mundur seiring irama yang ia inginkan. Tapi Arvin tetap melakukannya dengan penuh kehati-hatian. Ia takut melukai sang calon bayi yang ada di dalam perut Ratu.


" I love you my Queen.... " ucap Arvin saat lahar panasnya akan segera menyembur.


bersambung

__ADS_1


__ADS_2