Cinta Datang Karena Terbiasa

Cinta Datang Karena Terbiasa
Kenapa menghindar?


__ADS_3

Brak


Bunyi pintu di buka dari luar. Pemilik kamar yang sedang membersihkan wajahnya di depan meja rias, segera memutar tubuhnya. Setelah ia melihat siapa yang masuk ke dalam kamarnya, ia tersenyum sinis.


“ Bisa kan, ketuk pintu dulu sebelum masuk? “ ujarnya dengan nada datar. Iapun kembali melakukan aktivitas yang sempat tertunda tadi. Ia membalikan badannya menghadap ke kaca.


Arvin tidak mendengarkan protes dari sang adik. Ia menutup pintu dan segera menghampiri adiknya. Ia duduk di tepi tempat tidur menghadap ke Ratu.


“ Bukankah selama ini kalau abang ingin masuk, tinggal masuk saja? “ jawab Arvin enteng.


“ Itu dulu. Sekarang sudah beda. Queen sudah dewasa sekarang. Bagaimana jika abang masuk dengan tiba-tiba, dan Queen lagi nggak pakai baju? “ sahu Ratu.


Arvin terkekeh dengan jawaban Ratu. Ia malah jadi teringat kala tangannya malah membuka baju Ratu malam-malam dan memeluk tubuh polos Queen. Ah, pikiran Arvin jadi ngelag. Ia segera menepis otak mesumnya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


“ Kenapa masih di sini? “ Tanya Ratu tanpa mau menoleh ke arah Arvin.


“ Nunggu kamu selesai bersihin wajah. Aku mau bicara sama kamu. “ jawab Arvin.


“ Hm..” Ratu tersenyum sinis. “ Bukankah dari tadi juga sudah bicara? “


“ Maksudku bicara dengan serius. Karena ini perkara penting. “


“ Aku pikir sudah tidak ada hal penting yang harus kita bicarakan. Bukankah abang juga tidak ingin lagi bicara denganku? “ tanya Ratu dengan nada bicara yang sinis.

__ADS_1


Arvin beranjak dari duduknya, berjongkok di depan kursi rias Ratu, dan memutar tubuh Ratu dengan sedikit paksaan. Karena sedari tadi, Ratu sama sekali tidak mau melihatnya. Padahal Arvin tahu, Ratu telah usai dengan aktivitasnya beberapa waktu yang lalu. Tapi gadis itu sengaja melakukan hal lain asal bisa menghindarinya.


“ Kenapa kamu sengaja menghindari abang? Hm? “ tanya Arvin dengan suara lembut namun tegas kala Ratu telah berputar menjadi menghadap ke dia.


“ Siapa yang menghindari abang? “ Ratu malah balik bertanya tapi ia tetap enggan untuk menatap wajah Arvin.


“ Queen, abang lagi bicara sama kamu. Kalau orang lain mengajakmu bicara, tatap dia. Jangan buang muka. Bukankah itu yang sedari kecil Daddy sama mommy ajarkan sama kita? “ ucap Arvin.


Dan ucapan Arvin barusan, membuat Ratu mau tidak mau menoleh ke arahnya. Tapi tatapannya masih tetap datar, persis seperti papan selancar.


“ Bukannya abang yang selama ini menghindari Queen? Abang kan yang nggak mau ketemu sama Queen? Abang juga kan yang nggak mau bicara sama Queen? Queen kan Cuma mengikuti apa yang abang mau. “ celoteh Ratu panjang lebar.


Arvin menghela nafas panjang dan dalam-dalam. “ Siapa yang bilang kalau abang nggak mau bicara sama kamu? Siapa yang bilang kalau abang menghindar dari kamu? Hm? “ tanya Arvin dengan nada selembut mungkin.


“ Nggak ada yang bilang. Queen pinter, cerdas, jadi bisa bikin kesimpulan sendiri melihat dan mengamati bukti-bukti yang ada. “


“ Kenapa ketawa? Ada yang lucu? Queen kayak badut gitu. Jadi abang ketawa? “ seloroh Ratu kesal dengan wajah memberengut.


“ Nggak. Queennya abang adalah gadis paling cantik yang pernah abang lihat. Abang hanya merasa lucu. Bagaimana kamu bisa bilang kalau abang menghindari kamu. “ jawab Arvin.


“ Heh. “ Ratu tersenyum sinis. “ Kalau abang nggak menghindari Queen, kenapa abang nggak pernah menghubungi Queen? Abang bahkan nggak pernah mau balas chat dari Queen. Abang juga nggak pernah datang kesini. Abang nggak pernah antar jemput Queen di sekolah lagi. Dan akhirnya Queen tahu kenapa abang selalu bilang sibuk, setelah Queen ketemu abang di kampus kemarin. Heh…Ternyata abang sibuk lagi ngejar cewek. “ lanjut Ratu panjang lebar.


“ Harusnya abang bilang aja sama Queen kalau abang lagi ngejar cewek. Harusnya abang bilang sama Queen kalau sekarang ada perempuan lain yang spesial daripada Queen. Jadi Queen nggak perlu bersikap kekanak-kanakan kayak kemarin pas di kampus abang. Harusnya abang kasih tahu Queen biar Queen tuh sadar diri, kalau abang sekarang bukan punya Queen lagi. Beres kan? Jadi Queen nggak harus malu di depan gadis lain. “ tambahnya lagi.

__ADS_1


“ Maaf, my Queen. Maafin abang. “ ucap Arvin sepenuh hati sambil menatap mata Ratu yang sedang menahan dengan susah payah supaya air matanya tidak menetes.


Tapi setelah mendengar kata maaf dari sang abang, Ratu justru menjatuhkan air matanya. Ucapan Arvin yang hanya meminta maaf justru membuat Ratu semakin salah paham. Ratu merasa perkataan maaf dari abang adalah karena apa yang dirinya bilang tadi benar adanya.


Ratu segera menyeka air matanya yang sudah menetes hingga pipi. Dan ia juga segera menarik nafas dalam-dalam, kemudian ia berdiri dari duduknya.


“ Mending abang keluar dari kamar Queen sekarang. Queen mau mandi. Udah sore. “ ujar Ratu dengan nada datarnya. Dan hal itu berhasil membuat Arvin mengernyit bingung. Kenapa Queennya malah sepertinya makin marah sama dia padahal ia sudah meminta maaf.


“ Abang, keluar dari kamar Queen sekarang. “ pinta Ratu kembali karena Arvin masih belum beranjak.


Arvin mendongak dan mencoba menatap wajah Ratu. Sekelebat Arvin bisa melihat kalau mata Ratu memerah.


“ Queen…” Arvin kembali berusaha mengajak Ratu berbicara.


Ratu tidak mendengarkannya. Ia berjalan menuju pintu, lalu membuka pintu itu lebar-lebar, dan ia berdiri di dekat pintu sambil memegang daun pintu itu. Tanpa harus berbicara lagi, sikap Ratu ini menandakan jika Arvin harus segera pergi dari kamarnya.


Arvin menghela nafas panjang, lalu ia berjalan menuju pintu yang terbuka itu. Saat ia berada tepat di hadapan Ratu, Arvin menghentikan langkahnya, dan tanpa melihat ke arah Ratu ia berkata, “ Abang nggak suka kamu di antar sama laki-laki lain. “


Setelah mengatakan hal itu, Arvin segera keluar dari dalam kamar dengan langkah lebar. Lalu Ratupun segera menutup kembali pintu kamarnya dengan agak keras sambil berdecih.


Ketika mendengar suara pintu yang di tutup dengan lumayan keras, Arvin membalikkan badannya menatap pintu kamar yang telah tertutup sempurna itu.


‘ Kita harus bicara lagi, Queen. Benar-benar bicara. Malam ini, aku akan menginap di sini. Kalau perlu sampai malam-malam berikutnya sampai aku berhasil bicara sama kamu. Aku tidak suka melihatmu jalan dengan laki-laki lain. Kamu ingin di antar dan jemput olehku kan? Baik, mulai besok aku akan kembali menjadi buntutmu. ‘ ujar Arvin dalam hati sambil tersenyum smirk menatap pintu yang tertutup itu.

__ADS_1


Bersambung


Pendek lagi ya episode nya??? Maafkeun othor ya guys...maklum, puasa puasa gini otaknya agak macet... kurang pelumas..🤭🤭


__ADS_2