Cinta Datang Karena Terbiasa

Cinta Datang Karena Terbiasa
Keluarga Permana


__ADS_3

Agam pulang ke rumah saat fajar telah menyingsing. Sebenarnya dirinya masih ingin ada di rumah sakit menemani Paris. Tapi sikap Paris yang seolah menghindarinya, membuatnya harus pulang bersama teman-teman Paris yang lain.


Agam masuk ke dalam rumah saat jam di dinding sudah menunjukkan pukul 5 pagi. Ia merasa lumayan lelah. Matanya juga sangat berat. Ia merebahkan tubuhnya di atas sofa begitu saja. Untuk naik ke lantai dua menuju kamarnya saja, rasanya matanya sudah tidak kuat. Setelah tubuhnya mendarat sempurna di atas sofa, Agam langsung memejamkan matanya dan tertidur lelap.


Hari makin siang. Matahari terbit makin tinggi. Para pembantu di rumah itu berlalu lalang di ruang keluarga tempat Agam tertidur, tapi sama sekali tidak membuat Agam terganggu.


“ Anak ini. Kenapa malah tidur di sini? Kayak nggak punya kamar saja. “ ucap seorang perempuan paruh baya.


“ Sudah. Biarkan saja. Jangan di bangunkan. “ sahut wanita yang lebih tua dari wanita yang tadi.


“ Tapi ma. Nggak sopan ini namanya. Tidur sembarangan. “ ucap perempuan paruh baya yang ternyata adalah mama dari Agam. “ Dia pasti keluyuran. Pagi baru pulang. Bukannya menjemput papa sama mama juga kakaknya di bandara malah keluyuran nggak jelas. “ tambah Ameera.


“ Toriq bilang, Agam semalam menolong temannya yang kecelakaan. Jadi mungkin dia menunggui temannya itu di rumah sakit. Sudah, ayo kita ke belakang buat sarapan. Reni sudah ke dapur dari tadi. “ ajak Novia yang merupakan nenek dari Agam. Wanita yang berusia 60 tahun lebih itu masih terlihat bugar dan muda. Novia menggandeng tangan Ameera menantunya.


Kemudian mereka pergi ke dapur meninggalkan Agam yang masih terlelap di atas sofa. Mereka memasak sarapan sambil berbincang-bincang ringan. Novia dan Reni sudah berbulan-bulan tidak bertemu dengan Ameera. Karena Ameera yang memang tinggal di kota S karena ikut sang suami. Sedangkan Agam sengaja pindah ke jakarta karena ia ingin kuliah di kota itu.


Saat masakan sudah siap, Ameera kembali menghampiri Agam yang masih terlelap.


“ Agam….Agam…bangun, sayang. “ ucap Ameera sambil menepuk-nepuk pipi Agam. Tak ada reaksi sedikitpun dari putranya.


“ Gam….Agam….” Ameera menggoyangkan bahu Agam. Agam sedikit menggeliat. Tapi setelah itu, ia tertidur pulas kembali. Membuat Ameera menggelengkan kepalanya.


“ Kenapa sayang? “ tanya Attar sang suami yang baru kembali dari lari pagi bersama papa juga adiknya dan Toriq anak dari bungsu keluarga Permana.


“ Anakmu ini mas. Di bangunin susah banget. “ gerutu Ameera.


“ Capek mungkin dia. Sudah biarkan saja. “ ucap Attar.

__ADS_1


“ Tapi dia belum sarapan mas. “


“ Sayang, dia sudah besar. Nanti kalau dia merasa lapar, dia pasti terbangun dengan sendirinya. Mending ayo kita ke kamar. Aku mau mandi. Badanku rasanya sudah lengket semua. “ ajak Attar. Dan dengan berat hati, Ameera mengikuti sang suami untuk pergi ke kamar dan kembali meninggalkan Agam.


Ameera sebenarnya sangat merindukan putranya itu. Ia sudah sangat ingin memeluk dan ngobrol dengan Agam. Tapi Agam malah tertidur pulas dan susah untuk di bangunkan. Membuat Ameera sedikit kesal.


Sampai di kamar, Ameera segera menyiapkan air hangat di dalam bathup untuk mandi sang suami. Lalu ia menyiapkan baju ganti Attar.


“ Kyra dimana? Apa dia sudah turun? “ tanya Attar kala ia keluar dari dalam kamar mandi dengan memakai bathroop dan handuk kecil yang ia kalungkan di lehernya sambil menggosok rambutnya dengan handuk itu.


“ Kyra ada di taman belakang sama mama sama Reni. “ jawab Ameera sambil berjalan hendak menaruh pakaian ganti suaminya di ranjang.


“ Astagfirullah mas…” pekik Ameera saat ia melihat sang suami sudah membuka bathroopnya hendak memakai baju. Ameera langsung menutup matanya.


“ Kenapa sih sayang? Pagi-pagi udah teriak. “


“ Emang kenapa sih sayang? “ goda Attar. Bahkan ia membatalkan untuk memakai boxernya. Ia malah berjalan mendekat ke arah Ameera. Dan greb….Kedua tangan Attar melingkar dengan sempurna di pinggang istrinya.


“ Mas!! “ pekik Ameera kembali karena terkejut.


“ Kenapa kamu masih saja malu melihatku telanjang begini? Hem? Padahal kamu sudah sering melihatnya selama 22 tahun loh. Bahkan kamu juga sering menikmatinya. “ Goda Attar kembali.


Ameera segera melepas pelukan Attar. “ Buruan di pakai boxernya. Hati-hati kalau terbang tuh peliharaannya kalau nggak di tutup. “ ucap Ameera mengalihkan perhatian sang suami supaya tidak menggodanya.


“ Aku tunggu di bawah untuk sarapan. Mama udah nungguin. “ ucap Attar sambil memegang hendle pintu hendak keluar dari dalam kamar.


“ Sayang…Kok kamu ninggalin aku sih. Nggak kasihan nih sama si emprit? Dia udah siap masuk kandang loh ini. “ celetuk Attar. Ameera melirik sekilas ke bagian bawah tubuh suaminya. Dan benar saja. Senjata suaminya siap untuk bertempur. Tidak mau pagi ini menjadi pagi yang panjang, Ameera segera keluar dari dalam kamar. Membuat Attar mendengus kesal.

__ADS_1


“ Meerr…ayo kita sarapan. “ ajak sang mama mertua.


“ Iya ma. “ Ameera menjawabi dari tangga. Ia sedang berjalan turun dari lantai dua.


“ Suamimu mana? “ tanya Novia.


“ Mas Attar baru ganti baju ma. Bentar lagi juga turun. Papa juga udah siap? “ tanya Ameera.


“ Udah tuh di meja makan sama Kyra, Reni dan yang lain. Sudah pada ngumpul. Tinggal nungguin kamu sama Attar. Agam juga udah bangun. “ ucap Novia. Lalu mereka berjalan berdampingan menuju ke ruang makan.


“ Agam udah bangun, ma? “


“ Udah. Laper kali dia. “


“ Tuh, apa aku bilang tadi. Entar kalau lapar, anak kamu itu pasti bangun sendiri tanpa di bangunkan. “ sahut Attar yang tiba-tiba muncul dari belakang dan merangkul bahu sang istri. Lalu mereka bertiga berjalan beriringan dengan posisi Ameera di tengah.


“ Ma, pa. “ sapa Agam, lalu dia berdiri dari duduknya dan segera menyalami punggung tangan sang mama dan papa.


“ Nakal kamu ya. Baru hidup di jakarta sebentar udah keluyuran nggak ingat waktu. “ cecar Ameera ke Agam. Sedangkan Agam hanya tersenyum dengan memamerkan deretan giginya dan memeluk sang mama dari samping.


“ Agam kangen sama mama. “


“ Huh. Bilangnya kangen, tapi tahu mamanya mau datang bukannya jemput malah nggak pulang semalam suntuk. “ ucap Ameera pura-pura marah. Ameera tidak akan bisa benar-benar marah sama putra putrinya.


“ I am sorry, ma. I love you. “ Cup. Ucap Agam yang di akhiri dengan sebuah kecupan yang ia berikan ke pipi sang mama. Membuat Attar hanya menggelengkan kepalanya.


“ Ayo kita makan dulu. Keburu dingin nasi gorengnya. Sandiwaranya di teruskan nanti. “ sahut Boby sang ayah mertua dari Ameera.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2