Cinta Datang Karena Terbiasa

Cinta Datang Karena Terbiasa
Nggak ada akhlak


__ADS_3

Paris yang memang gampang terpancing jiwa mesumnya semenjak hamil, tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia menyergap bibir sek-si suaminya dengan bibirnya. Dan terjadilah saling cium dan lu-mat dalam pagutan bibir yang lumayan lama. Hingga pagutan itu saling terlepas kala asupan oksigen mereka menipis.


" E Hem. " suara deheman seorang laki-laki terdengar. " Kalau mau bermesraan, lihat tempat. Masih ada orang lain di sini. " lanjutnya.


" Ishh abang... Ganggu aja. " protes Paris sambil menatap sekilas ke arah Arvin.


" Yang punya pasangan bukan cuma kamu aja. " lanjut Arvin.


" Abang ngiri ya karena nggak bisa bermesraan kayak kita. " sahut Paris.


" Nggak usah berisik. Istri aku lagi tidur. Entar ke bangun. " ujar Arvin.


" Bang Ar sekarang berubah dua ratus tujuh puluh derajat. Sumpah nyebelin banget. " ucap Paris. " Bang Ar yang dulu lebih banyak aksi, sekarang lebih banyak omong. " lanjutnya.


Arvin langsung menghadiahi Paris lirikan tajamnya.


" Ka-"


" Jangan berisik. Kak Ratu lagi tidur. " potong Ratu sebelum Arvin mengeluarkan kata-katanya kembali.


" Sayang, aku pengen mandi deh. Gerah rasanya. Bantuin aku mandi yuk. " sela Agam sambil mengelus pipi Paris.


Paris menoleh ke arahnya lalu tersenyum dan mengangguk. Ia lalu berdiri dari atas pangkuan Agam, lalu membantu Agam berdiri sambil membawakan infus yang masih terpasang di tangan Agam .


" Sayang, kenapa kamu nggak buka baju sekalian? " tanya Agam saat Paris telah selesai membantunya membuka bajunya.


" Hem? " Paris mendongak memandang Agam. " Kan mau bantuin kamu mandi. Bukan aku yang mau mandi. " jawabnya sambil meletakkan infus di tempatnya.


" Kenapa kita nggak sekalian mandi barengan? Kamu kan juga belum mandi. " sahut Agam.


Paris mengernyitkan keningnya. Bukan ide buruk sih sebenarnya. Tapi Paris tidak ingin menghabiskan waktu yang lama di kamar mandi. Bisa-bisa, Arvin mengomelinya lagi.


" Sekalian aja kita buat bang Arvin makin kesel. " lanjut Agam sambil menaik turunkan alisnya.


Paris memicingkan matanya menerka-nerka maksud dari Agam.

__ADS_1


" Maksud kamu, kita nggak cuma sekedar mandi bareng? " tanya Paris.


Agam langsung merengkuh pinggang Paris sehingga tubuh Paris menempel dengan tubuh polos Agam meskipun terhalang dengan perut buncit Paris.


" Sayang, kamu tahu kan? Kalau aku paling tidak bisa melihat tubuh polos kamu yang sek-si menganggur begitu saja. " ucap Agam dengan suara yang seduktif.


Kini tangan Agam sudah tidak diam saja. Ia mengelus dan meraba apa yang bisa ia raba di tubuh sang istri dengan seduktif.


" Masss... " Paris hendak menolak, tapi tubuhnya berkata lain. Tubuhnya memang menginginkan sentuhan dari sang suami.


" Aku merindukanmu. " ucap Agam seduktif di telinga Paris, membuat tubuh Paris meremang.


Perlahan, Agam menurunkan celana hamil Paris sambil mencium bibir Paris. Setelah puas melahap bibir sang istri, Agam membuka atasan Paris melewati kepala Paris. Lalu membuka semua dalaman sang istri hingga kini tubuh keduanya sudah sama-sama polos.


Mandi pagi bersama di kamar mandi ruang rawat inap rumah sakit yang sangat menggairahkan. Kedua sejoli pasangan suami istri muda itu saling mende-sah dan mende-sis menikmati sentuhan pasangan mereka.


Yang ada di luar kamar mandi, jangan di tanya bagaimana heboh dan kesalnya mendengar suara - suara mendayu-dayu dari dalam kamar mandi.


" Ck. Dasar pasangan nggak ada akhlak. " protes Arvin.


" Saudara kamu tuh sama suaminya nggak inget orang. Di kira mereka lagi di hotel berbintang lima. " keluh Arvin sambil uring-uringan sendiri.


Ratu mengernyit. " Paris?? Agam ?? Ada apa dengan mereka? Abang di buat kesel kenapa sama mereka? " tanya Ratu.


" Emang kamu nggak denger suara-suara yang membuat kita panas dingin itu? " ujar Arvin sambil memanyunkan bibirnya.


Ratu terdiam sambil mencoba mendengar suara sayup-sayup dari dalam kamar mandi. Setelah menajamkan pendengarannya, Ratu menelan salivanya dengan susah payah. Ia menjadi sedikit salah tingkah.


' Dasar mereka itu. Nggak tahu apa kalau di ruangan ini ada orang lain. ' gerutu Ratu dalam hati.


" Kamu denger kan suara-suara demit itu? " ucap Arvin kesal.


" Apaan sih bang? Nggak jelas deh. " sahut Ratu sambil bergerak menuju ke sofa, mengambil tas yang berisi baju-bajunya dan baju sang suami. Ia berpura-pura menyibukkan diri dengan mengambil baju hamilnya untuk ia gunakan sebagai baju ganti nanti setelah ia mandi.


" Nggak berperasaan. Nggak tahu apa. Kalau gue juga menahan hasrat dari semalam. Pagi-pagi malah sudah di suguhi pemandangan mesum. Sekarang di tambah lagi suara-suara duniawi yang mampu menggoncangkan adik kecil gue. Mana dari semalam dia nggak mau tidur lagi. " gerutu Arvin panjang lebar.

__ADS_1


Gerutuan yang cukup Ratu dengar dengan jelas. Membuat Ratu menipiskan bibirnya. Kini ia tahu, kenapa sejak pagi tadi suaminya uring-uringan terus. Ia lalu menegakkan tubuhnya, kemudian berjalan menuju ke dekat suaminya.


" Abang pengen? " tanya Ratu seduktif sambil mengelus rahang kokoh suaminya.


Arvin melirik ke arah Ratu yang sedang tersenyum manis.


" Apaan sih. " elak Arvin sambil menepis tangan Ratu yang sedang mengelus rahang serta pipinya.


" Abang uring-uringan sejak pagi, karena pengen kan? Ya udah sih, nggak usah kesel, nggak usah marah-marah. Kalau pengen ya udah hayuk. " ajak Ratu. Ajakan yang membuat Arvin membelalakkan matanya. Ia tidak menyangka kalau istrinya akan berkata seperti itu.


Kini Ratu naik ke atas ranjang, lalu duduk di pangkuan suaminya. Mengalungkan kedua tangannya ke leher Arvin, lalu menyatukan bibir mereka.


Arvin masih terdiam mencerna semuanya. Ia masih belum bergeming. Yang akhirnya membuat Ratu melepas bibirnya. Lalu menatap dalam ke arahnya.


" Abang nggak mau? " tanya Ratu menyadarkan Arvin.


" Kamu yakin, sayang? Kita melakukan itu di sini? Sekarang? " tanya Arvin mencari kebenaran.


Ratu mengangguk mantap. " Emang Abang bisa tahan nunggu sampai kita pulang? Paris sama Agam aja udah nggak tahan. Makanya mereka rela melakukannya di kamar mandi rumah sakit. Masih mendingan kita kan, melakukannya di kamar? Di ranjang? Bukan di toilet seperti mereka. " sahut Ratu.


" Kamu nakal ya sekarang. " ujar Arvin dengan seringai di bibirnya. Ia lalu menangkup kedua pipi Ratu. Mendekatkan bibirnya, lalu menempelkan keduanya.


" Kalau mereka tiba-tiba keluar dari dalam kamar mandi gimana? " tanya Arvin di sela-sela kegiatannya.


" Mereka pasti masih lama. Suara-suara aneh mereka masih terdengar. Kita lakukan kewajiban kita dengan tempo cepat. Sebelum mereka selesai. " sahut Ratu dengan suara erotisnya.


" Ah... " de-sah Ratu kala tangan suaminya menggapai puncak dadanya.


Ratu lalu menenggelam bibirnya ke bibir suaminya. Ia melu-mat bibir suaminya dengan ganas. Bermain di atas, membuat Ratu menggila. Dengan tak sabar, Ratu memelorotkan celana rumah sakit Arvin, lalu memelorotkan celana da-lamnya sendiri.


" Sayang, sekarang? " tanya Arvin dengan deru nafas menggebu. Ia menampilkan wajah tak relanya. Arvin belum ingin menyelesaikan kegiatan panas paginya ini.


" Kita harus cepat menyelesaikan urusan kita ini sebelum yang di kamar mandi keluar. " sahut Ratu dengan nafas yang juga terengah-engah.


" Ok. Let's do it, baby. " jawab Arvin pada akhirnya mengalah supaya Paris juga Agam tidak membuly nya balik.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2