Cinta Datang Karena Terbiasa

Cinta Datang Karena Terbiasa
Grogi


__ADS_3

“ Assalamu’alaikum….” Sapa Ratu saat ia baru memasuki rumahnya.


“ Ayo kak masuk. “ ajaknya pada seseorang.


“ Waalaikum salam. “ jawab beberapa suara dari dalam rumah.


“ Duduk dulu kak. “ Ratu mempersilahkan seseorang yang sudah mengantarnya pulang untuk duduk di sofa ruang tamu. Lalu ia masuk ke dalam.


“ Daddy…” sapa Ratu sambil menyalami takzim tangan daddy nya.


“ Mom..” lalu menyalami sang mommy.


“ Ada abang kamu. Nggak di salami juga? “ ujar sang mommy sambil menunjuk Arvin yang masih duduk di sofa sambil memperhatikan Ratu.


“ Iya mom. Sebentar, ada teman Ratu di depan. “ ujar Ratu sambil mengamit tangan mommy dan daddy nya di bawa ke ruang tamu. “


“ Siapa sih saying tamunya? Bukannya tadi kamu perginya sama Paris? “ Tanya sang mommy.


“ Nanti juga mommy tahu. Jangan kepo dulu. “ sahut Armell.


Sedangkan Arvin yang sedari tadi duduk di sofa ruang tengah, ikut berdiri dan mengikuti Ratu. Jiwa keponya terpanggil untuk melihat siapakah gerangan yang bersama Queen kesayangannya.


“ Nah, mom, Dad, kenalin. Ini namanya kak Edo. Dia kakak kelas Ratu di sekolah. Dia juga sahabatnya Paris. “ ucap Ratu memperkenalkan sosok cowok yang mengantarnya pulang.


Edo langsung berdiri kala melihat orang tua Ratu.


“ Halo om, selamat malam. “ sapa Edo sambil mengulurkan tangannya untuk menyalami Seno takzim.


“ Halo, tante. Selamat malam. “ sapaan Edo beralih ke mommy Ratu. Ia juga menyalaminya takzim.

__ADS_1


“ Duduk dulu. “ suara Seno menggema.


Grogi, sudah pasti. Bagaimanapun ia sedang berhadapan dengan orang tua dari cewek yang di taksirnya. Yah, meskipun kini ia tahu jika sangat tidak mungkin bagi dirinya untuk memiliki Ratu. Dan sekarang ia malah dengan rela dan ikhlas menawarkan diri untuk membantu gadis yang di taksirnya itu.


Flasback on


“ Do, ternyata apa yang lo bilang ke gue kemarin soal bang Ar beneran. “ ujar Paris kala ia sedang berdua di kantin dengan Edo.


“ Soal apa? “


“ Soal yang bang Ar naksir sama kak Ratu. Ternyata emang iya. Bang Arvin suka sama kakak gue. Gue udah pastiin dan buktiin. 99% benar adanya. “


“ Terus gimana? “


“ Nah, yang ini lo harus kuat dengernya. Ibarat bunga, cinta lo harus layu sebelum berkembang. “


“ Maksud lo ? “ Tanya Edo sambil mengernyit.


“ Nih minuman kalian. “ Azkara datang sambil menaruh tiga gelas minuman di atas meja. Ternyata mereka sedang bertiga mengobrol di kantin.


“ Thank you, my bebeb. Muacchhh…” ucap Paris sambil mengerlingkan sebelah matanya ke Azkara. Sudah biasa bagi Paris bersikap seperti itu ke Azkara. Ia memang bersahabat dekat dengan Azkara. Kepada Azkara Paris sering curhat, berkeluh kesah tentang segalanya. Dan dengan Azkara, Paris bisa benar-benar menunjukkan segalanya. Azkara dan Paris sudah bersahabat sangat lama. Bahkan mulai saat mereka masih duduk di bangku kelas 3 SD. Pertama kali mereka bertemu.


Sebenarnya saat Paris bersikap seperti ini dengannya, ingin rasanya Azkara memeluk dan mencium pipi gadis itu. Ingin rasanya ia mengatakan apa yang ia rasakan kepada gadis yang ada di sampingnya ini. Perasaan yang sudah ia pendam selama sepuluh tahun.


“ Ehem. “ Azkara berdehem untuk menetralkan degup jantungnya lalu menyeruput minumannya.


“ Nah, gue mau minta tolong sama lo pada. Lo berdua kan sohib terdekat gue. So, gue minta tolong sama kalian berdua. Bantuin kakak gue Ratu, buat kasih pelajaran sama bang Arvin. “ pinta Paris.


“ Ha? Maksud lo? “ tanya Edo dan Azkara bersamaan.

__ADS_1


“ Ck. Maksud gue, lo berdua pura-pura deket sama kak Ratu. Bikin bang Arvin cemburu. Dan ngungkapin perasaannya ke kak Ratu. Tapi gue ingetin sama lo ya Do, jangan pakai perasaan, dan jangan baper juga saat lo jalan berdua sama kak Ratu. Dan lo juga Ka, jangan sampai baper juga. “ ancam Paris.


“ Lo bisa jamin, eh, gue bisa jamin, gue nggak bakalan baper sama Ratu.” Ucap Azkara tenang lalu mulai memakan bakso yang tadi sudah di antar sama mamang penjaga kantin.


“ Oke. Deal ya. Kalian bisa bantuin gue. “ ucap Paris sambil memandang Azkara dan Edo bergantian.


Flashback off


“ Eh, mom bikinin minum dulu buat kamu. “ ujar Armelle ke Edo.


“ Eh, nggak usah tante makasih. Udah sore juga. Jadi saya harus pulang. “


“ Oh, ngomong-ngomong, tadi Ratu berangkat barengan sama Paris. Kok bisa jadinya pulang sama kamu? Dimana Paris."


“ Jadi..jadi gini om. “ ucap Edo terbata. Ngeri juga melihat tatapan mata Daddynya Ratu. Di tambah lagi, ia juga mendapat tatapan yang mengerikan dari sosok yang ada di dekat pintu yang mengubungkan ruang tamu dengan ruang keluarga. Arvin sedang menyenderkan tubuhnya di dinding sambil menatap tajam ke arah Edo. Edo merasa berada di kandang singa saat ini.


“ Sebenarnya tadi kami pergi bersama-sama. Kami jalan bareng. Tapi saat hendak pulang, Paris harus pergi sama teman kami yang lain. Jadi, karena saya juga mau pulang, sekalian Ratu saya antar. “


Seno hendak bertanya kembali, tapi keburu sang istri menyenggol lengannya yang menandakan jika ia tidak boleh bertanya lagi. Armell merasa kasihan dengan teman putrinya itu. Edo kelihatan sangat ketakutan.


“ Mas, sepertinya nak Edo memang harus segera pulang. Udah mau magrib juga. “ ujar Armell.


“ I-iya, tante benar sekali. “ sahut Edo sambil tersenyum canggung. “ Kalau begitu, saya pamit dulu om, tante. “ pamit Edo sambil kembali menyalami takzim tangan Seno dan Armell.


“ Mom, Dad, Ratu antar kak Edo ke depan bentar. “ pamit Ratu.


“ Nggak perlu di antar. Dia juga tahu dimana letak pintu keluarnya. “ sahut Arvin sarkas.


“ Abang…” Armell bersuara penuh intimidasi. “ Ayo kita masuk ke dalam. “ ajaknya ke sang suami dan si sulung. Ia bahkan harus menggandeng tangan keduanya agar keduanya mau masuk ke dalam.

__ADS_1


Ratu tersenyum penuh kemenangan ke arah Arvin, lalu ia mengantarkan Edo sampai ke depan, Setelah mobil Edo keluar dari halaman rumahnya, Ratu segera masuk ke dalam rumah dan langsung menujunke kamarnya tanpa memperdulikan seseorang yang sedari tadi menunggunya. Siapa lagi kalau bukan si abang tersayang, Arvin.


Bersambung


__ADS_2