
" Kucel amat bang? Kayak habis di seruduk singa. " ledek Agam ke Arvin kala mereka bertemu Arvin di depan pintu ruang tindakan.
Arvin hanya menatapnya malas sambil mengumpat dalam hati, ' Rasakan saja sendiri nanti. '
" Bagaimana Paris, bund? " tanya Agam ke Pipit.
" Dokter sedang mengeceknya. Sudah pembukaan berapa. Daddy menemaninya di dalam. " jawab Pipit.
" Pembukaan apa bund? Apanya yang di buka? " tanya Agam sambil mengernyit.
" Pembukaan jalan lahir biar anak kamu bisa keluar. " sahut Arvin.
Kini Agam yang menatap Arvin malas sambil memutar bola matanya. Lalu kembali menatap sang bunda mertua mencari pembenaran. Dan Pipit mengangguk.
" Nah, itu Daddy keluar. " ucap Pipit memberi tahu dan beranjak berdiri mendekati suaminya.
Agam menoleh dan membalikkan tubuhnya kemudian mengikuti sang ibu mertua mendekati ke ayah mertuanya.
" Bagaimana Dad? " tanya Pipit ke Bryan.
" Paris sudah pembukaan lima. " jawab Bryan.
" Banyak sekali pintunya Dad. " ucap Agam yang membuat semua orang mengerutkan dahinya.
" Pintu apa? " tanya Bryan.
" Tadi bunda bilang, Paris sedang di cek jalan lahirnya. Dan Daddy mengatakan, Paris pembukaan lima. Memang jalan lahir anakku, ada berapa Dad? " jawab Agam dengan begitu polos.
Bryan menepuk jidatnya sendiri.
" Jalan lahir anak kamu sama dengan yang sering di masuki ular kamu hampir tiap malam. Memangnya jalan ular kamu ada berapa? " tanya Bryan, dan tuan Permana terkikik di belakang Agam.
" Tentu saja hanya satu itu jalannya. " sahut Agam.
" Berarti jalan lahir anak kamu juga hanya satu. "
" Lalu, kenapa pembukaannya ada banyak? " tanya Agam kembali.
" Memang seperti itu aturannya. Biarpun jalannya hanya satu, tapi pintunya banyak. Ada sepuluh pintu hingga anak kamu baru bisa keluar. " jawab Bryan.
" Kenapa pintunya banyak sekali Dad? Kalau baru terbuka lima, masih kurang lima lagi. " ucap Agam sambil mendesah.
" Bagaimana dengan Ratu, Bry? " tanya Seno
" Ratu juga pembukaan lima. Sebaiknya kalian berdua masuk. Temani istri-istri kalian. Mereka sangat membutuhkan dukungan kalian di saat-saat seperti ini. " ujar Bryan .
Agam segera masuk di ikuti Arvin dari belakang.
" Mas.... " panggil Paris saat melihat suaminya memasuki ruangan. Ia mengulurkan tangan kirinya.
" Sayang. " Agam menyambut tangan sang istri. Ia lalu mengecup kening Paris cukup lama.
" Maaf, aku baru sampai sini. " bisik Agam di telinga Paris. Paris mengulas senyum sambil mengelus rahang kokoh Agam.
__ADS_1
" Nggak pa-pa. Apa meetingnya sudah selesai? " tanya Paris.
" Belum. Kakek menunda meeting itu saat aku mengatakan pada kakek kalau dia mau keluar. " jawab Agam sambil mengelus perut sang istri. " Apa sakit sekali? " tanya Agam.
Paris tidak menggeleng, juga tidak mengangguk. Ia hanya menjawab dengan senyuman.
Sedangkan di ranjang sebelah, Arvin tengah memberi kekuatan ke Ratu.
" Sayang, kamu pasti kuat. Orang-orang bilang, sakitnya akan langsung hilang saat bayi kita sudah keluar. " ucap Arvin ke Ratu yang sedang memejamkan matanya karena tubuhnya terasa lemas.
" Bang, boleh minta makan tidak? " tanya Ratu. " Aku tadi belum makan. Makanya badanku rasanya lemes gini. Kalau aku tidak makan, bagaimana kalau nanti aku tidak kuat mengeluarkan anak kita? " lanjutnya.
" Akan aku tanyakan ke suster dulu. " sahut Arvin.
" Sus, apa istriku boleh makan sesuatu? Dia tadi belum sempat makan siang. " tanya Arvin dengan suara lantang karena posisi suster agak jauh darinya. Sedangkan ia, masih tetap duduk di kursi sebelah ranjang Ratu sambil menggenggam tangan Ratu.
" Oh, boleh tuan. Silahkan saja. Tapi porsinya jangan terlalu banyak. " jawab suster.
" Kamu mau makan apa? Biar aku bilang ke Daddy di luar. " ucap Arvin.
" Aku pengen makan yang seger. Batagor kayaknya enak deh bang. Sama juice alpukat. " jawab Ratu dengan suara lirih.
" Baiklah. Tunggu sebentar, oke. Aku keluar buat kasih tahu Daddy sama mommy. " pamit Arvin. Ia mengecup kening Ratu sesaat, lalu berdiri dari duduknya dan berjalan menuju pintu keluar.
Saat di dekat ranjang Paris, Arvin bertanya, " Paris, apa kamu juga menginginkan sesuatu? Mau makan apa gitu? Buat nabung tenaga sebelum mengejan nanti. "
" Kamu ingin makan sesuatu, sayang? " tanya Agam sambil mengelus pipi Paris.
" Dia mau minum aja bang. Milkshake coklat. " ujar Agam ke Arvin.
Arvin mengangguk, lalu berucap, " Tunggu sebentar. "
" Makasih ya bang. " ucap Agam sebelum Arvin keluar dari dalam ruangan.
Tak lama kemudian, Arvin kembali masuk ke dalam ruangan. Ia segera menghampiri sang istri kembali.
" Ssssshhhh... " Paris terdengar mendesis. Sepertinya rasa sakit itu datang lagi.
" Sayang... " raut wajah Agam langsung terlihat panik. Ia sama sekali belum melihat keadaan sang istri saat sedang kesakitan. Agam berdiri dari duduknya. Ia malah berjalan mondar-mandir sambil mengusap rambutnya.
" Mas... " panggil Paris sambil mengulurkan tangannya kembali ke Agam.
" Iya, sayang. Maaf. Aku - aku terkejut. Maaf. " ucap Agam sambil mengecup punggung tangan Paris berkali-kali.
" Perutnya sakit sayang? " tanyanya.
Paris mengangguk sambil memejamkan matanya menahan rasa sakit yang datang mendera.
" Sakit maaass.... " keluhnya.
Lalu tiba-tiba, " Au!!. " terdengar pekikan Arvin.
Agam mengalihkan pandangannya ke sebelah. Ia melihat Ratu yang tiba-tiba menjambak rambut Arvin. Ratu juga terlihat kesakitan. Agam menatap ngeri ke tangan Ratu yang menjambak rambut Arvin tiba-tiba. Untung saja, istrinya tidak seperti itu.
__ADS_1
Tapi tiba-tiba, Agam merasa matanya memanas. Air matanya mengalir tanpa ia sadari sambil menatap sang istri yang sedang memejamkan matanya dan mencengkeram besi pegangan yang ada di pinggir ranjang.
Agam segera menghapus air matanya. Ia tidak ingin istrinya melihat jika ia menangis. Menangis karena melihat kesakitan yang di tunjukkan oleh Ratu. Jadi Agam merasa, istrinya juga pasti merasakan sakit yang sama seperti Ratu. Tapi istrinya lebih banyak diam dan merasakannya sendiri.
" Sayang, pegang tanganku jika memang kamu kesakitan. Biarkan aku juga ikut merasakan rasa sakit yang kamu rasakan. Jangan pegang besi sampai tangan kamu memucat seperti ini. " bisik Agam sambil melepas pegangan tangan Paris di tepian ranjang. Ia lalu menggenggam tangan istrinya erat. Berusaha menyalurkan kekuatan.
" Sssshhhh.... " Paris kembali mendesis.
" Suster... " panggil Agam ke suster yang berjaga setengah berteriak.
" Iya, tuan. " jawab suster setelah mendekat.
" Sus, istriku kesakitan. Lakukan sesuatu. Anak aku sudah mau keluar. Cepat bantu keluarkan dia. " ucap Agam menggebu-gebu.
" Tapi pembukaannya baru lima, tuan. Masih lama untuk bayi anda lahir. " jawab suster.
" Pembukaan lima kan sudah dari tadi. Coba lihat lagi. " Agam menyuruh sang suster dengan sedikit memaksa.
Suster segera melakukan apa yang di minta suami pasien. Ia menutup gorden pemisah antar ranjang. Lalu ia menaikkan baju pasien bagian bawah. Tapi tangannya segera di cekal oleh Agam.
" Suster mau ngapain? Kenapa baju istriku di buka? " tanya Agam.
" Maaf tuan. Tadi tuan minta saya untuk melihat pembukaan istri anda sudah berapa. Ini saya mau mengeceknya tuan. Kalau tidak di buka bajunya, bagaimana saya bisa melakukan pemeriksaan dalam? " sahut suster sedikit gondok.
Agam akhirnya mengalah sambil menggerutu, " Untung situ wanita. "
Suster hanya menghela nafas malas. Ia lalu melakukan pemeriksaan dalam terhadap Paris. Paris sedikit meringis saat sang suster memasukkan jarinya untuk mengecek. Karena melihat sang istri meringis, Agam menghadiahi sang suster dengan tatapan tajamnya.
" Suster kalau nggak terima saya suruh-suruh, dendamnya ke saya aja. Jangan ke istri saya juga. " ucap Agam dengan nada datarnya. Paris langsung menggenggam tangannya supaya sang suami berhenti bertindak bodoh.
" Baru nambah satu tuan pembukaannya. Baru pembukaan enam. " suster memberi tahu saat selesai melakukan pemeriksaan dalam. Ia tidak memikirkan apa yang Agam ucapkan tadi
" Kenapa baru enam? Kenapa lama sekali? Emangnya dokter sama suster nggak bisa bantu supaya pintunya cepet terbuka semua? Dokter sama suster cuma bisa mengecek aja? " cerca Agam.
" Mas- " panggil Paris sambil memegang lengan Agam. Setelah Agam menoleh, Paris menggelengkan kepalanya.
" Maaf ya sus. Suami saya panik soalnya. Jadi bicaranya asal. " ucap Paris ke suster tadi.
" Oh, tidak apa-apa nona. Sudah biasa seorang suami seperti itu ketika istrinya hendak melahirkan. " sahut suster, lalu ia segera pamit undur diri.
" Kamu kenapa jadi kekanak-kanakan gitu sih? " protes Paris kala suster sudah berlalu.
" Ya aku kesel aja sama susternya. Udah tahu pasiennya udah kesakitan mau melahirkan, tapi mereka nggak mau bantuin buka pintunya biar anak kita cepet lahir. Jadi kamu nggak kesakitan lagi. " sahut Agam sambil menatap lekat namun lembut sang istri. Tapi tetap dengan nada suara menggebu-gebu.
" Nggak bisa kayak gitu juga. Yang bisa buka pintunya cuma anak kamu. Kalau dokter bantuin buka pintunya, itu artinya aku harus operasi. Dan aku nggak mau itu. Lagian kamu kenapa juga harus minta suster melakukan pengecekan. " gerutu Paris. " Sakit tahu di masukin jari kayak gitu. "
" Jadi di masukin jarinya suster tadi beneran sakit? Tapi kayaknya, suster tadi jarinya langsing deh. Kalau sama kapal selam punya aku, masih gedean kapal selamnya. Tapi kamu nggak kesakitan kalau kapal selam ku masuk? Malah minta terus. " ujar Agam dengan polosnya. Yang membuat Paris langsung mencubit lengannya.
" Add-uh... Sakit, tau yang. " pekik Agam.
" Biarin. " jawab Paris sambil memiringkan tubuhnya membelakangi sang suami. Ia lumayan di buat kesal dengan tingkah sang suami.
bersambung
__ADS_1