Cinta Datang Karena Terbiasa

Cinta Datang Karena Terbiasa
Setiap Tikungan Ada


__ADS_3

Ratu turun dari lantai dua dimana kamarnya terletak. Baru saja ia hendak duduk di kursi makan yang ada di tempat makan, suara sang Daddy mengagetkannya.


“ Sayang, nanti berangkat sekolah di antar sama abang. Daddy harus berangkat sekarang karena ada meeting pagi-pagi. “ ujar Seno.


Ratu yang hendak menghenyakkan pan*tatnya di kursi, berhenti di udara. Ia mengedarkan pandangannya ke sekitar meja makan dengan posisi tanggung hendak duduk. Tepat di sebelah Daddynya, Arvin tersenyum menyeringai. Ratu memutar bola matanya malas.


Rupanya Arvin sang abang belum pulang ke rumahnya semenjak kemarin. Semalam, Ratu sudah antisipasi untuk mengunci pintu kamarnya dari dalam. Karena Ratu sangat paham dengan abangnya yang satu itu. Dia tidak akan berhenti jika apa yang diinginkannya belum kesampaian. Dan ternyata benar adanya kan?


Ratu mendudukkan dirinya di atas kursi. Lalu ia segera mengambil sepotong roti bakar dan ia olesi dengan selai coklat kesukaannya.


“ Baby, aku berangkat dulu. “ pamit Seno ke sang istri. Ia mengecup kening sang istri setelah sang istri menyalami dan mencium punggung tangannya.


Setelah itu, Arvin bangkit dari duduknya dan menyalami sang Daddy, di ikuti oleh Danique, dan yang terakhir adalah Ratu.


Sama seperti mommynya, setelah menyalami sang Daddy, Ratu juga mendapatkan kecupan di keningnya dan sebuah pelukan.


“ Kalian makanlah dulu. Mommy akan mengantar Daddy kalian ke depan. “ pamit Armelle, lalu Seno segera meraih pinggang Armelle dan menggandengnya posesif.


“ Selalu saja memamerkan kemesraan. Ck..Ck..Ck..” protes Danique sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


“ Kak, kalau cari pasangan itu yang bisa kayak mommy gitu. Terus kakak juga harus bisa kayak Daddy. Mereka selalu mesra. Meskipun mereka sudah tidak muda lagi, tapi cinta mereka selalu exist. Ratu juga pengen cari pasangan yang kayak Daddy besok. Setia, dan selalu mencintai pasangannya. Nggak kayak kakak. “


“ Eh, jangan ngarang kamu. Kakak nih cowok setia loh. “


“ Iya, setia. SETIAP TIKUNGAN ADA, mazzzseeeeehhhhh…..” ucap Ratu.


“ Tahu aja kamu. Mumpung masih muda. Menikmati hidup. Biar besok kalau udah nikah, udah nggak kepo sama cewek lain. Karena udah pernah ngerasain bermacam-macam jenis cewek. “ jawab Danique santai sambil memasukkan sesendok nasi goreng beserta telurnya ke dalam mulutnya.


“ Menikmati hidup dengan menambah dosa. Hidup itu untuk menambah pahala, kakakku terzeyenkkk…” ujar Ratu sambil berdiri dengan membawa roti bakarnya dan meninggalkan Arvin dan Danique yang masih menikmati sarapan mereka.


Tak lama kemudian, Ratu kembali dengan membawa tas sekolahnya yang ia panggul di pundak, dan tangan kanannya masih membawa roti yang belum habis ia makan.


“ Kak, Ratu berangkat dulu. “ pamit Ratu ke kakaknya. Ia mengulurkan tangan kanannya yang sebelumnya ia masukkan roti yang di pegangnya tadi ke dalam mulut, untuk menyalami sang kakak.


Lalu ia juga mengulurkan tangannya ke Arvin. Sambil bengong, Arvin memajukan tangannya menerima uluran tangan Arvin. Tapi beda, kalau dengan Danique tadi Ratu mencium punggung tangan danique, dengan Arvin tidak. Ia hanya menyalaminya biasa.


“ Assalamualaikum. “ pamit Ratu sambil cepat-cepat keluar dari dalam rumah.

__ADS_1


“ Ratu, kamu berangkat sekolah bareng siapa? Bang Ar kan belum selesai makannya. “ teriak Danique.


“ Ratu di jemput. Nggak usah di antar. “ jawab Ratu dengan teriak juga.


“ Di jemput? “ gumam Danique. “ Di jemput sama siapa ya bang? Apa Ratu punya gebetan? “ tanya Danique ke abangnya.


Tring. Sebuah lampu tiba-tiba menyala di kepala Arvin. Ia segera meletakkan sendok dan garpunya di atas piring dan mengelap bibirnya. Ia segera berdiri dari duduknya.


“ BANG…MAKANNYA BELUM HABIS OEY…” teriak Danique.


“ HABISIN KAMU AJA . “ jawab Arvin sambil berteriak juga.


Sampai halaman depan, Arvin celingak celinguk mencari Queennya. Tapi ia sudah tidak mendapati Ratu di sana.


“ Shi*t! Gue kecolongan lagi dan lagi. “ Umpatnya.


Sedangkan di rumah sebelah, dua orang gadis sedang tertawa terbahak-bahak bersamaan. Ratu habis menceritakan kejadian tadi ke Paris.


“ Kalau makan jangan sambil tertawa. Nanti ada syaiton lewat, bisa kesedak. “ ucap Pipit memperingatkan.


“ Iya nih kak Rose sama kak Queen. Berisik. Makan kan tak boleh bersuara. “ Protes Vier.


“ Sayang, apa nggak kasihan sama abang kamu? Dia pasti kangen pengen nganterin kamu ke sekolah. Dia kan lama nggak ke rumah. “ ujar Pipit.


“ Biarin aja onty. Biar tahu rasa gimana di diemin. Emang enak? “


“ Hati-hati kamu. Jauh-jauhan, saling mengerjai, nanti bisa saling mencintai. “ kali ini Bryan yang bersuara.


“ Uhuk…Uhuk…Uhuk… “ Ratu yang sedang meminum jusnya menjadi tersedak karena omongan uncle B-nya.


“ Ehem! Pelan-pelan sayang minumnya. “ Pipit menyodorkan tisu ke Ratu karena mulutnya belepotan.


“ Maaf onty. “ ucap Ratu.


“ Abang bule sih ah, kalau ngomong suka nggak ada filternya. Mereka itu kakak adik loh. Mana mungkin saling mencintai. “


“ Honey, bisa saja itu terjadi. Mereka memang kakak beradik. Tapi mereka tidak ada hubungan darah. Jadi mereka halal kan kalau saling mencintai? “

__ADS_1


“ Yaaa…iya sih…Kalau di pikir-pikir…Arvin anaknya baik, ganteng, wajahnya agak bule-bule gitu. Cocok sih kalau buat ponakan onty yang cantik ini. “ ujar Pipit sambil menoel pipi Ratu.


“ Nah, istriku pinter nih. “ puji Bryan sambil mengusap puncak kepala Pipit.


“ Pinter dong. Kalau nggak pinter, mana mungkin bisa jadi istri kamu terus berojolin nih buntut tiga. Kamu kalau nggak di pancing dulu kan nggak keluar-keluar ular pitonnya. “ ucap Pipit.


“ Uhuk…Uhuk…Uhuk… “ kini ganti Bryan yang tersedak dengan kopinya. " Honey, please. Ada anak-anak di bawah umur di sini. Dan jangan sampai ular pitonnya keluar pagi-pagi gini. “ ucap Bryan sambil mengerlingkan matanya.


“ Emang di rumah ada ular ya bun? “ tanya Vier.


“ Ning taman mburi kae onok ulone, Vier. Mulakno, koe ojo dolanan ning taman mburi. “ sahut Vion dengan menggunakan bahasa Jawa. ( Di taman belakang sana ada ularnya, Vier. Makanya kamu jangan bermain di taman belakang. )


“ Bunda, si Upin bicara apaan sih? Selalu saja pakai bahasa yang nggak lazim. “ protes Paris.


“ Udah, kalian cepetan bersiap. Udah siang ini. Nanti kalian terlambat. Udah pada selesai juga kan, sarapannya? “ kali ini Bryan yang bersuara. Jangan sampai anak-anaknya berbicara dan menanyakan lebih lanjut mengenai ular.


“ Tapi Dad, pertanyaan Vier belum di jawab. Ularnya bersembunyi dimana, Dad? “


“ Ularnya bersembunyi di dalam kolor Daddy-mu nak. “ bisik Pipit di telinga suaminya sambil menahan tawanya melihat wajah sang suami yang memerah. Bryan hanya melirik ke arahnya sebentar.


“ Ehem. “ Bryan berdehem. “ Cepat Paris. Mobil kamu udah di siapkan sama mamang. “


“ Yes, Daddy. “ lalu mereka semua berpamitan ke kedua orang tuanya dengan bersalaman takzim. Tak lupa, Ratu juga melakukannya.


“ Nah, sekarang giliran abang yang berangkat. “ ujar Pipit setelah mengantar anak-anaknya pergi meninggalkan pekarangan rumah.


“ No…aku akan berangkat agak siangan hari ini, honey. Aku tadi sudah ijin datang sedikit terlambat. “


Pipit memundurkan tubuhnya ke belakang saat melihat suaminya semakin mendekatinya. Ia mengernyitkan dahinya mendengar perkataan suaminya.


“ Aku harus menyelesaikan pekerjaanku di rumah dulu. Kamu harus bertanggung jawab, honey. Kamu sudah memancing ularku keluar. “


Greb


Bryan segera mengangkat tubuh Pipit dan di bawa dalam gendongannya dan segera di bawa ke kamar mereka.


“ Abang…Turunin. Pipit harus segera ke klinik. “ pekik Pipit. Tapi Bryan tidak mendengarkannya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2