
" Nggak bisa Abang. Queen kesini sama temen Queen. Nggak bisa seenaknya main di tinggalin aja. Di tinggalin itu sakit loh rasanya. " ucap Ratu. Entah sengaja atau tidak, mendengar perkataan Ratu tadi, Arvin merasa kembali tersindir dengan sangat tepat menusuk di ulu hatinya.
" Ra, dia Abang lo kan ya? " bisik Leri di telinga Ratu. Ratu mengangguk.
" Kok Abang lo lama nggak kelihatan. Biasanya kan tiap hari Lo di antar jemput sama dia. " ucap Leri kembali berbisik.
" Ngumpet, dia. " jawab Ratu juga dengan berbisik.
" E Hem.. " Arvin berdehem kala melihat Ratu malah asyik berbisik-bisik ria dengan sahabatnya. " Please, Queen... " ujarnya.
" Ra, gue pulang dulu aja deh ya. Kayaknya Abang lo beneran mau ada hal penting yang dia bicarakan. " bisik Leri tapi kali ini tidak dengan suara sepelan tadi sehingga Arvin masih mendengar sayup-sayup.
Ratu langsung mencekal lengan Leri kala anak itu hendak menyingkir. " ***.. Gue datang kesini sama elo ya. Jangan tinggalin gue lah. " ujar Ratu sambil menggeram menggigit giginya.
" Tapi Ra... "
" Leri, lo mau di borgol bokap gue kalau gue pulangnya nggak sama elo? " potong Ratu.
" Becanda Lo. Bokap Lo mana punya borgol. Beliau kan udah nggak jadi polisi. " sahut Leri dengan suara yang biasa. " Lagian, Lo pulangnya kan sama Abang lo. Mana mungkin bokap lo marah." lanjutnya.
" Ya nggak... "
" Gue cabut dulu ya beibbb.... " potong Leri. " Kak, nitip sohib saya ya kak. Tolong di antarin sampai rumah dengan selamat dan utuh. Biar nggak di borgol sama Daddy-nya. " lanjutnya ke Arvin.
" Assalamualaikum... "
" Waalaikum salam.. "
" Leri... "
Arvin dan Ratu menjawab salam Leri dengan ucapan yang berlainan tapi dalam waktu yang bersamaan. Ratu hendak menggapai tangan Leri tapi gagal karena Leri sudah berjalan menjauh darinya.
__ADS_1
" Hiss, dasar! " umpat Ratu.
" Ayo kita cari tempat yang enak buat bicara. Sekalian kita makan siang. Kamu pasti belum makan siang kan? " ajak Arvin lembut. Arvin hendak menggapai tangan Ratu untuk menggandengnya, tapi Ratu menepisnya kasar. Arvin hanya bisa menghela nafas kasar. Ia sadar, tidak akan mudah untuk membujuk seorang Ratu yang keras kepala.
Ratu hanya diam saja menunggu Arvin berjalan terlebih dulu. Ia enggan untuk berjalan berdampingan dengan Arvin. Setelah Arvin berjalan, barulah Ratu mengikutinya dari belakang sambil sesekali menghela nafas berat.
Arvin berjalan menuju restoran yang ada di mall itu. Ia memilih untuk masuk ke private room.
" Duduklah. " Arvin mempersilahkan. Ia menarik sebuah kursi untuk Ratu. Tapi Ratu malah menghenyakkan pa*tatnya di kursi yang lain. Arvin tersenyum kecut melihat sikap Ratu.
" Kamu mau makan apa? " tanya Arvin sambil menyodorkan buku menu ke depan Ratu.
" Apa aja. " jawab Ratu ketus sambil mengalihkan pandangannya ke samping.
Arvin langsung menarik kembali buku menu itu dan segera memanggil pelayan.
" Mau pesan apa kak? " tanya pelayan.
" Pasta dengan sauge bolognese 2. Juice jeruk 2. " pesan Arvin ke pelayan.
" Aku harap makanan kesukaan kamu masih sama seperti dulu. " ujar Arvin memecah keheningan.
Ratu tersenyum sinis. " Semua yang ada pada diri aku juga masih sama kok seperti dulu. Cuma status aja yang beda. " sahutnya tanpa mau memandang ke arah Arvin.
Arvin bernafas dengan berat dan menghembuskannya kasar.
" Maaf. " ucapnya lirih.
Ratu memandang sebentar ke arah Arvin sehingga tatapan mata mereka bertemu sesaat. Tidak mau goyah, Ratu segera mengalihkan pandangannya kembali. " Kenapa Abang bilang kata maaf. " ujarnya sinis.
" Abang minta maaf atas semua yang sudah terjadi. Abang salah sama kamu dan semua orang. Tapi Abang sudah kembali sekarang. " ujar Arvin.
__ADS_1
" Lalu kenapa kalau Abang sekarang sudah kembali? " tanya Ratu dengan nada sarkas.
" Abang akan memperbaiki semuanya. Abang akan mengembalikan semuanya seperti yang seharusnya. " jawab Arvin penuh keyakinan.
Ratu kembali tersenyum sinis. " Apa yang akan Abang perbaiki? Semua sudah terjadi. Dan semua sudah berjalan baik selama ini. "
" Tidak. Abang akan mengembalikan semuanya seperti yang semula. Apa yang berjalan selama satu tahun ini, bukan yang seharusnya terjadi. "
Ratu terdiam. Ia juga masih enggan memandang ke arah Arvin.
" Queen, Abang minta maaf. Abang benar-benar salah sama kamu. Abang sekarang sudah kembali, sayang. Abang pulang hanya untuk kamu. " ujar Arvin bersungguh-sungguh sambil meraih tangan Ratu dan menggenggamnya erat.
Ratu hendak menarik tangannya, tapi Arvin tidak membiarkannya. Ia semakin erat menggenggam tangan itu.
" Lepasin bang. " pinta Ratu sambil terus berusaha menarik tangannya.
" Nggak, sayang. Abang tidak akan melepaskan tangan kamu lagi. " ucap Arvin sambil menggelengkan kepalanya.
" Abang jangan egois jadi orang. " seru Ratu. " Hubungan kita sudah tidak seperti dulu lagi. Abang nggak seharusnya pegang-pegang tangan Queen kayak gini. Ingat bang, Queen sekarang adalah TUNANGAN adik Abang. " lanjutnya sambil menekankan kata Tunangan.
Arvin menggeleng cepat. " Tidak. Kamu adalah milik Abang. Abang mohon, maafkan Abang. Abang akan memperbaiki semuanya. Queen, Abang mencintai kamu. Abang sayang sama kamu. " ucap Arvin sambil terus menatap wajah Ratu yang masih enggan menatapnya balik.
" Omong kosong sama kata cinta yang Abang ucapkan. Sudah nggak mempan lagi buat gombalin Queen. Hati Queen udah terlanjur sakit. Sakit karena abang lebih milih ninggalin Queen daripada memperjuangkan Queen. Abang lebih memilih ego abang. Abang lebih milih menjaga supaya Daddy sama mommy nggak benci sama abang. " ungkap Ratu menggebu-gebu. Matanya juga sudah terasa panas. Tapi sebisa mungkin ia bertahan supaya air matanya tidak mengalir.
Arvin beringsut dari kursinya, dan berjongkok di depan Ratu yang masih duduk di kursi. Ia menggenggam kedua tangan Ratu erat.
" Abang tahu Abang salah. Abang salah karena abang tidak mempunyai keberanian untuk memperjuangkan cinta kita. Abang sekarang kembali untuk memperjuangkan Queen dan cinta kita. Abang sudah menemui Daddy juga mommy dan menjelaskan semuanya. Abang sudah mengatakan sama mereka secara langsung kalau abang cinta sama kamu. Abang ingin kamu menjadi milik abang selamanya. " ucap Arvin sambil mendongak, menatap wajah Ratu.
Tapi Ratu masih enggan menatapnya. " Cinta kita? Abang yakin masih ada cinta di sini buat abang? " tanya Ratu sambil menunjuk ke dadanya. Ia juga menatap sebentar ke arah Arvin.
" Satu tahun bang. Satu tahun tidak ada kabar dari abang. Abang juga nggak tahu kan, bagaimana perasaan Queen hari itu? Queen sangat bahagia saat Queen tahu kalau ternyata abang yang akan bertunangan dengan Queen. Queen bagai terbang ke langit saking bahagianya. Tapi Abang menghempaskan Queen begitu saja ke dasar laut sehingga untuk bernafas saja Queen susah. " ungkap Ratu sambil menyeka air matanya dengan kasar saat air matanya jatuh tanpa ia minta.
__ADS_1
" Maaf. " hati Arvin terasa sangat perih mendengar ungkapan hati Queen tadi. Saat itu ia juga sangat sedih dan sakit hatinya. Karena kesalahpahaman yang ia ciptakan sendiri, malah membuat gadis yang ia cintai menderita.
bersambung