
Hari berlalu. Minggu berlalu, dan bulan pun berlalu. Arvin dan Ratu selama beberapa bulan ini tinggal di London. Ratu juga melanjutkan kuliah di sana.
" Abaaaang.... Ck. " rengek Ratu sambil berdiri di depan kaca besar di kamarnya.
" Kenapa sayang? " sahut Arvin sambil mengancingkan kemeja kerjanya, karena hari ini, ia akan pergi ke kantor.
" Bang... Kok badan aku jadi gemukan ya. " keluh Ratu sambil mengamati tubuhnya dari kaca besar itu.
Arvin mendekat, lalu mengalungkan kedua tangannya ke pinggang Ratu. " Nggak ah. Perasaan kamu aja kali. "
" Ih, beneran Abang. Badan aku tuh gemuk. Baju aku pada kekecilan. " sahut Ratu.
" Nanti kita belanja baju yang baru, oke? " timpal Arvin.
" Ihhhh... Abang nggak peka banget sih ah. " protes Ratu kesal. " Queen bukan minta di beliin baju baru. "
Cup
Arvin mencium pipi Ratu dari samping. " Jangan cemberut ah. Jadi pengen nyium tahu. " canda Arvin.
" Ck. Queen serius Abang... " rengek Ratu kembali.
" Ya... menurut yang Abang lihat, nggak gemuk sih. Tapi makin berisi. Jadi makin sek-si. Jadi makin bikin abang na*-su. " goda Arvin.
" Abang. !! " ketus Ratu.
Arvin tersenyum. Ia lalu memutar tubuh Ratu untuk menghadap ke depannya.
" Terus, abang harus gimana?? " tanya Arvin sambil menangkup wajah Ratu.
Ratu memiringkan tubuhnya dan mengepres baju di bagian dadanya.
" Br@ yang biasanya kekecilan. Dada Queen makin besar. Terus... " Ratu menurunkan tangannya ke perut. " Nih, lihat. Perut Queen buncit. Iya kan bang? " keluh Ratu yang memang perutnya terlihat sedikit buncit.
Arvin nampak terdiam sambil mengernyit. Memang benar, tubuh istrinya agak gemukan. Ia pun menyadari hal itu. Jika masalah dada si istri yang agak membesar, menurut Arvin itu wajar. Bagaimana dada Ratu tidak mengembang, jika setiap malam maupun pagi selalu di uleni dengan suhu yang panas.
Arvin tersenyum sendiri mengingat hal itu.
" Abang kok malah senyum-senyum sendiri? " tanya Ratu.
" Hah? " Arvin tersentak.
" Porsi makan aku belakangan ini juga makin banyak loh bang. Padahal biasanya nggak gitu. Biasanya aku juga tidak suka makan tofu. Tapi sekarang, kalau denger makanan yang satu itu, aku jadi pengen makan. " ucap Ratu.
" Tuh, kan jadi pengen makan ... sebel deh.. " rengek Ratu. Arvin terlihat agak bingung.
" Abang sekarang mau terus ke kantor? " tanya Ratu.
__ADS_1
" Iya sih. Kenapa? Mau ikut ke kantor? " tanya Arvin.
Ratu menggeleng. " Pengen di temenin makan tofu dulu. " jawab Ratu sambil nyengir.
" Ya udah, aku kasih tahu bibi dulu biar di bikinin. " jawab Arvin sambil hendak pergi keluar dari kamar.
" Tunggu Abang. Queen maunya makan di restoran yang biasa. " ujar Ratu sambil mengedipkan matanya berkali-kali lucu.
Arvin melihat jam di pergelangan tangannya. " Masih terlalu pagi. Restorannya belum buka. "
" Hiss... Tapi Queen pengen makan di sana Abang. " rengek Ratu dengan mimik wajah sedihnya.
" Tapi kan belum buka. Sekarang makan di rumah dulu, nanti sore sehabis abang dari kantor, kita langsung ke sana. " usul Arvin.
" Nggak mau... Pengennya makan sekarang di restoran itu. Titik. " kekeh Ratu.
" Ya.. terus gimana kalau restorannya masih tutup. "
" Abang punya uang banyak kan? " tanya Ratu dan di jawabi anggukan ragu oleh Arvin.
" Kita gunain uang abang. Jam segini pasti udah ada pegawainya yang datang. Kita suruh dia yang buatin. " usul Ratu.
Arvin mengernyitkan dahinya. " Kalau bukan chef nya yang masak, rasanya pasti tidak seperti biasanya sayang. "
" Queen nggak masalah sama harganya abang. Yang Queen pengen itu, makan tofu, tapi di restoran itu. Masak iya kita bawa masakan bibi terus makan di sana? Nggak boleh kan pasti? " kata Ratu.
Arvin menghela nafas kasar. Jika sudah begini, sudah tidak ada jalan lain selain mengikuti kemauan sang istri.
Ratu langsung tersenyum sumringah. " Ayo kalau gitu. Nggak usah pakai lama. " ucapnya penuh semangat. Ia langsung mengamit lengan Arvin dan sedikit di tarik untuk keluar kamar.
" Sayang, tunggu bentar deh. " potong Arvin.
" Ada apa lagi, abang... Queen keburu lapar. " sahut Ratu.
" Kan tadi udah sarapan. "
" Tapi sekarang lapar lagi. Gara-gara ngomongin tofu."
" Sayang, kamu udah datang bulan belum? " tanya Arvin sambil mengerutkan keningnya.
Ratu nampak mengingat - ingat. Lalu ia mengendikkan bahunya.
" Queen lupa bang. Abang, udah libur belum bulan ini? " tanya Ratu balik.
Arvin ganti yang coba mengingat. Tapi sebentar kemudian, ia membelalakkan matanya.
" Sayang, seingat abang, sudah dua bulan ini abang tidak mendapatkan liburan dari mendaki gunung dan memasuki lembahan. " ujar Arvin.
__ADS_1
" Maksud Abang, apaan? Bukankah emang itu yang abang selalu inginkan? " sahut Ratu.
" Sayang, sebaiknya kita ke rumah sakit dulu. Setelah itu, baru kita ke restoran yang kamu inginkan. " ucap Arvin.
" Tapi bang.... " ucapan Ratu terpotong karena suaminya sedang menelepon seseorang.
" Halo, Rocky,... Carikan dokter obygyn terbaik di kota ini, dan buatkan janji pagi ini juga. " pinta Arvin ke asistennya di kantor melalui panggilan telepon.
" Baik, tuan. " jawab sang asisten.
" Aku tunggu sepuluh menit. Sekarang aku sudah bersiap untuk keluar rumah. " jawab Arvin.
" Iya, tuan. Akan segera saya kasih kabarnya. "
Tut... Tut... Tut... panggilan di akhiri oleh Arvin.
" Bang, ngapain ke dokter obygyn? Perut Abang sakit ya? " tanya Ratu dengan nada panik sambil mengelus perut sang suami.
" Sepertinya, sayang. Jadi, sekarang kita ke rumah sakit ya. Kamu temenin abang. " pinta Arvin setengah berbohong. Karena jika ia mengatakan jika Ratu yang akan ia periksakan, sudah pasti sang istri menolak mentah-mentah.
" Tapi Queen lapar abaaaanggg.... " rengek Ratu.
" Arvin, kenapa kamu tidak mau kasih makan istri kamu? " suara Robert terdengar dari pintu kamar sebelah.
" Tadi dia sudah makan, Dad. Tapi katanya lapar lagi. " jawab Arvin. Ia pun mendekat ke arah sang Daddy, lalu membisikkan sesuatu.
" Benarkah? " tanya Robert dengan wajah sumringah.
" Doakan saja, Dad. " jawab Arvin sambil tersenyum. " Kami berangkat dulu. Takut terlambat. " pamit Arvin.
" Pergilah, dan hati-hati. " jawab Robert.
Arvin mengangguk, lalu menghampiri Ratu kembali.
" Kita pergi sekarang. Nanti kita beli roti di supermarket. " ajak Arvin.
" Ck. " Ratu berdecak, lalu mendekat ke Robert untuk berpamitan.
" Dad, Queen pergi dulu ya. Anak Daddy benar-benar tega membiarkan istrinya kelaparan. " adu Ratu.
Robert tersenyum menanggapi aduan sang menantu.
" Memang, abang tadi bisikin Daddy apa? Kok Daddy terlihat begitu bahagia? Apa ada tender baru? " tanya Ratu.
" Nanti kamu juga akan tahu jawabannya. " jawab Robert sambil tersenyum dan menepuk bahu Ratu.
" Ah, Daddy nggak asyik. " protes Ratu. " Ya udah, Queen berangkat dulu. " pamit Ratu sambil menyalami dan mencium punggung tangan Robert.
__ADS_1
Robert mengangguk, dan berucap, " Hati-hati di jalan. "
bersambung