
" Lo kenapa Ris, bengong aja dari tadi gue perhatiin? " tanya Kevin sambil duduk di sebelah Paris.
" Eh, elo. Ngagetin gue aja. " protes Paris sambil mencebikkan bibirnya.
" Lo nya aja yang melamun. Makanya kaget pas gue duduk. Lagi mikirin apa sih lo? Nggak di transfer uang sama bokap lo? "
" Kalau masalah itu sih nggak bakalan. Bokap gue nggak mungkin nggak transfer ke gue. Belum habis aja yang bulan lalu, bulan ini udah di transfer lagi. "
" Enak banget jadi elo. Dapet bulanan dari orang tua elo, juga dari laki elo mestinya. "
" Kalau yang dari laki gue itu namanya kewajiban bro. Memberi nafkah lahir ke bini. Siapa suruh dia ngawinin gue. " ujar Paris.
" Rese Lo. Emang elo udah di kawinin sama dia? Gue sih yakin belum. Secara elo baru di deketin aja udah mengaum. "
" Lo pikir gue singa si raja hutan. " protes Paris sambil memukul lengan Kevin.
" Bukan. Elo tuh si Ratu hutan. Mengaumnya lebih kenceng. Ha... ha .. ha... " tawa Kevin.
Mendapati tatapan tajam dari sahabatnya itu, Kevin langsung menghentikan tawanya.
" Eh, ngomong-ngomong soal nafkah nih. Laki lo udah ngasih Lo nafkah lahir sebagai kewajibannya. Sekarang gue tanya sama Lo, Lo udah ngasih hak dia sebagai suami apa belum? "
" Hak? Hak apaan? "
" Hak menikmati tubuh lo lah. Kasih nafkah batin itu namanya. "
" Sial Lo. " umpat Paris .
" Tega Lo Ris sama laki lo. Dosa loh lo kalau nggak ngasih hak dia. "
" Bodo. " jawab Paris kesal.
" Eh, ngomong-ngomong, laki lo beberapa hari belakangan ini kenapa nggak nyamperin lo? Biasanya tiap hari dia kesini. "
" Tau. " Paris menjawab dengan raut wajah kesal. Ia juga jadi cemberut. " Mau kesini kek... Nggak kek... Terserah dia .. " lanjutnya makin kesal.
" Lo kenapa jadi kesel gitu? Eits ... Jangan bilang lo kesel karena si Agam nggak nyamperin elo... " ledek Kevin yang memang langsung mengena buat Paris.
" Sa bodo teing!! " sahut Paris dengan suara keras sambil berlalu meninggalkan Kevin
Sepeninggal Paris, Kevin tertawa terbahak-bahak sambil geleng-geleng kepala.
" Kalau kangen tuh bilang woy... Jangan cuma di Pendem... " teriak Kevin ke Paris. Tapi sayang, sepertinya Paris tidak mendengar ucapan Kevin karena ia sudah jauh di depan .
Kevin mengambil ponselnya lalu menulis di grup yang berisi dirinya dan teman-temannya yang berada di Bandung.
📩 Target marah-marah. Sepertinya rencana awal kita berhasil. Tinggal kita laksanakan rencana selanjutnya.
__ADS_1
Setelah menulis pesan itu, Kevin memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celananya, dan ia pun bangkit, menaruh tasnya di pundak, dan berjalan menuju ke parkiran mengambil motor sportnya.
🌹
🌹
🌹
" Queen, Abang benar-benar minta maaf. " ucap Arvin sambil menggenggam tangan Ratu dan berjongkok di hadapan Ratu yang sedang duduk di kursi.
Ratu masih enggan memandang Arvin. Ia masih tetap menoleh ke samping.
" Sumpah demi Tuhan, Queen. Abang masih tetap mencintai kamu seperti dulu. "
" Nggak usah kebanyakan gombal deh bang. Emang dulu abang cinta sama Queen? Kayaknya nggak deh. Buktinya, Abang ninggalin Queen gitu aja . " sahut Ratu sarkas .
" Maaf. Abang yang terlalu pengecut sehingga Abang malah ninggalin kamu. Bukan malah memperjuangkan kamu. " jawab Arvin lirih sambil menatap ke bawah.
" Abang juga minta maaf, karena Abang butuh waktu yang sangat lama untuk mengumpulkan keberanian untuk menghadapi orang tua kita. "
" Dan sayang sekali. Sepertinya Abang tidak perlu berjuang apapun. Karena semuanya sudah terlambat. Queen sudah bukan seorang gadis yang masih sendiri seperti dulu. Queen sekarang tunangan orang. "
Skak mat. Hati Arvin terasa diiris sembilu. Perih dan sakit rasanya mendengar jika gadis yang sangat ia cintai menjadi tunangan laki-laki lain.
" Tidak seharusnya abang mengatakan cinta kepada calon adik ipar Abang sendiri. " lanjut Ratu yang membuat Arvin semakin sedih. Bahkan air matanya sudah membasahi ujung matanya. Hati Arvin benar-benar perih rasanya.
" Queen, apapun yang terjadi, kali ini Abang tidak akan melepaskanmu lagi. Tidak akan. " ujar Arvin mantap sambil memandang dalam wajah Ratu.
" Abang akan mengambil kamu kembali meskipun itu dari Rendra, adik Abang sendiri. Jika memang Rendra mencintai kamu, tapi tetap abang yang lebih dulu mencintai kamu. " lanjutnya.
" Egois. " sahut Ratu.
" Iya. Abang memang egois. Abang tidak bisa melepaskan kamu. Karena Abang sudah merasakan bagaimana tersiksanya hidup abang saat jauh dari kamu. Bagaimana hancurnya dunia abang saat Abang berusaha untuk melepaskanmu. " jawab Ratu.
Ratu tertawa bahagia dalam hati mendengar ucapan Arvin. Sedari awal, ia juga masih percaya jika Arvin memang benar-benar mencintainya. Apalagi saat ini. Ungkapan Arvin benar-benar membuatnya melayang. Saat ini, bagai ada beribu-ribu kupu-kupu kecil yang beterbangan dalam hatinya.
Ingin rasanya saat ini Ratu memeluk tubuh Arvin erat. Tapi tidak mungkin ia lakukan sekarang. ' Sabar, Ratu .. Tunggu beberapa hari lagi. Baru kamu boleh peluk dia selama yang kamu inginkan. ' bisik hati kecil Ratu.
" Queen, please, kasih kesempatan kedua buat abang untuk mendapatkan kamu kembali. " pinta Arvin sambil menatap dalam manik abu milik Ratu. Saat ini, Ratu sengaja menatap mata tajam namun selalu membuatnya rindu. Ratu sangat merindukan tatapan itu.
" Bagaimana dengan Rendra? " tanya Ratu.
" Abang sudah berbicara dengan Rendra. Dia siap melepas kamu jika kamu memang mau dia melepas kamu. " jawab Arvin .
Ratu sedikit terkejut dengan jawaban Arvin. Ia memicingkan matanya tidak percaya.
" Rendra mengatakan, ia akan mengikuti apapun keputusan kamu. "
__ADS_1
' Sial. Kok Rendra malah jawabnya gitu sih. Kan dalam skenario nggak gitu dia jawabnya. Kurang ajar tuh anak. Mau ngerjain gue nih kayaknya. ' umpat Ratu dalam hati.
Tok... Tok .. tok ..
" Permisi, kak. Makanannya sudah siap. " potong pelayan yang sebenarnya sudah sedari tadi dirinya hendak masuk, tapi di urungkan karena ia melihat customernya sedang dalam pembicaraan yang serius.
Tapi akhirnya ia memberanikan diri untuk mengetuk pintu karena tangannya sudah mulai kebas karena membawa nampan yang berisi makanan dan minuman.
Melihat pelayan di ambang pintu, Arvin segera bangkit dari duduknya dan kembali duduk di kursinya. Sedangkan Ratu terlihat agak plong.
" Masuk, kak. " sahut Ratu. Dan pelayan itu masuk ke dalam ruangan, menyajikan makanan dan minuman ke atas meja.
Ratu segera mengeluarkan ponselnya kala pelayan sedang menyajikan makanan ke atas meja.
📩 Sialan kamu Ren. Kenapa malah kamu menjawab Abang kalau keputusan ada sama aku? Kesepakatan kita kan nggak gitu. Seharusnya kamu berpura-pura mempertahankan aku. Gimana sih?
Ratu mengirim pesan ke Rendra. Tak lama kemudian, ponsel Ratu berbunyi. Ia segera membuka aplikasi hijaunya.
📩 Sorry, Quiny. Aku nggak tega lihat abang. Dia kelihatan menderita gitu. Kasihan aku.
📩 Ck. Ratu membalas pesan Rendra hanya dengan decakan.
Baru saja ia hendak memasukkan ponselnya ke dalam tasnya, ponselnya kembali berbunyi. Ia urungkan memasukkan ponselnya. Di bukanya aplikasi hijau itu kembali. Sebuah nama membuatnya mengerutkan keningnya.
📩 Jangan terlalu lama dan terlalu serius memberi pelajaran sama Arvin. Dia sudah cukup menderita selama setahun berjauhan dari kamu, nak.
Ratu segera membalas pesan itu
📩 Hanya sebentar lagi aja kok om.
📩 Baiklah. Yang penting jangan terlalu lama. Masa liburan Arvin sebentar lagi selesai. Jangan biarkan dia kembali dengan hati yang masih tertinggal di sana. Perusahaan juga sudah menunggunya kembali.
📩 Ikutlah kemari, dan kuliah di sini. Biar kalian bisa selalu dekat.
" Ayo makan makanan kamu, Queen. Kalau dingin kamu tidak akan suka. " ujar Arvin menyadarkan Ratu . Ia mengangguk, lalu menyimpan kembali ponselnya ke dalam tas.
Ratu segera memulai menikmati makan siangnya dalam diam. Begitupun dengan Arvin. Mereka makan dengan suasana yang hening.
Ketika makanan telah habis, Ratu segera menghabiskan minumannya, dan segera beranjak berdiri.
" Mau kemana? " tanya Arvin.
" Ya pulang lah. Takut di marahi Daddy. " jawab Ratu.
" Tunggu sebentar. " pinta Arvin, lalu ia segera menghabiskan minumannya juga dan mengeluarkan uang beberapa lembar dan ia tinggalkan di atas nampan kecil yang berisi nota.
Setelah meninggalkan uang, Arvin segera menyusul Ratu yang sudah keluar dari ruangan itu tanpa menunggu Arvin.
__ADS_1
bersambung