
“ Kamu mau kemana? “ Tanya Agam ketika Paris berjalan menuju ke mobil lain.
Paris berhenti, lalu menoleh ke arah suaminya. “ Mau ke bandara lah. Kan tadi gue udah bilang. “ jawab Paris ketus.
“ Aku tahu. Tapi maksud aku tuh, kok kamu malah kesana? “ tanya Agam lembut.
“ Kan mobil Daddy di sana. Ya gue mau ke mobil Daddy lah. “ jawab Paris.
“ Kamu ikut aku. Barengan sama aku. “ ujar Agam dengan nada tegas sambil menunjuk ke arah mobilnya yang ternyata juga sudah siap terparkir di jejeran paling belakang.
Paris nampak melihat ke arah kirinya. Lalu tiba-tiba seorang bellboy menghampiri mereka, lalu menyerahkan sebuah kunci ke Agam. Hal itu tak luput dari pandangan Paris.
“ Ayo. “ ajak Agam.
“ Eh.. Emang lo punya SIM? Mau nyetir sendiri. Gue nggak mau ya entar di tangkap polisi gara-gara lo nggak punya SIM. “ ledek Paris.
“ Aku punya. Udah, ayo buruan kalau nggak mau ketinggalan mereka. “ ujar Agam sambil menunjuk jejeran mobil yang di depan sudah mulai berjalan.
“ Lah, kok gue di tinggalin sih. “ gerutu Paris. Ia lalu segera berjalan dengan langkah lebar menuju mobil Agam. Agam membukakan pintu sebelah kiri kemudi dan membantu Paris masuk dan membantu memasukkan gaun panjang istrinya. Lalu setelahnya ia baru berjalan memutar dan membuka pintu kemudi dan segera masuk kedalam. Agam menyalakan mesin mobil lalu segera menjalankan mobilnya mengikuti arak-arakkan mobil di depannya yang telah keluar dari halaman hotel.
🌹
🌹
🌹
Tidak ada dua puluh menit, mobil Seno dan yang lainnya telah sampai di bandara. Jalanan menuju ke bandara sangat lancar karena teman Seno komandan Alif yang sekarang telah menjadi jendral besar di kepolisian telah mengerahkan anak buahnya untuk membersihkan jalanan dan mengawal rombongan Seno menuju ke bandara.
Ketika mobil sudah terparkir, Ratu segera turun dari mobil tanpa menunggu mommy, kakak, juga Daddynya. Ratu telah mengetahui cerita yang sebenarnya. Tadi ketika di perjalanan, Armell telah menceritakan semuanya. Ratu dengan terburu-buru turun dari dalam mobil sambil sesekali menyeka air matanya.
“ Sayang, tung… “ ucapan Armell terpotong karena Ratu sudah lebih dulu meninggalkannya. Lalu Armell dan yang lainnya segera mengikuti Ratu turun dari mobil. Semua orang berlari kecil mengikuti langkah Ratu masuk ke dalam bandara. Tak terkecuali Paris dan Agam. Agam selalu setia memegangi gaun istrinya sambil berlari dengan hanya menggunakan kaos kakinya. Ia belum sempat membeli sandal karena sang istri sudah tidak sabar menunggunya.
__ADS_1
“ Abang… “ panggil Ratu dengan suara yang tidak terlalu kencang. Ia masih berlarian kesana kemari mencari sosok sang abang yang sangat ia cintai. Beberapa kali ia menepuk bahu seseorang karena memiliki perawakan tubuh yang sama dengan Arvin. Tapi ternyata ia selalu salah. Bahkan Paris juga ikut berlarian kesana kemari untuk ikut mencari Arvin. Dan Agam, ia hanya bisa mengikuti sang istrinya dengan penuh kesbaran karena ia harus membantu memegangi gaun sang istri.
Semua yang ikut juga ikut mencari Arvin. Beberapa kali Leora dan Rendra mencoba menghubungi ponsel Arvin, tapi selalu operator yang menjawab. Semua orang berwajah tegang dan panik di campur khawatir.
“ Abang, kamu dimana nak? “ gumam Armell juga sambil berlarian kecil mencari Arvin. Armell begitu tidak tega melihat wajah sang putri yang selalu berderaian air mata semenjak tadi.
Setelah mencari sekitar hampir dua puluh menit memutari bandara dengan mengerahkan banyak anak buah, dan hasilnya masih tetap nihil, akhirnya Seno dan Dion pergi ke bagian informasi.
“ Maaf, kami ingin bertanya apakah pesawat penerbangan ke London untuk hari ini sudah berangkat ?” tanya Dion.
“ Sudah, tuan. Pesawat dengan penerbangan A XXX tujuan London, sudah berangkat semenjak satu jam lebih sepuluh menit yang lalu. Dan untuk pesawat dengan nomer penerbangan XYYY tujuan London, akan berangkat nanti pukul 15.00 WIB. “ jawab bagian informasi.
“ **** ! “ umpat Dion.
“ Maaf, apakah kami bisa mendapat informasi penumpang atas nama Arvin Abraham Downey? “ kini giliran Seno yang bertanya.
“ Bisa tuan. Tunggu sebentar, kami akan mengecek terlebih dahulu. “ jawab bagian informasi. Seno dan Dion mengangguk bersamaan.
“ Bagaimana nona ? “ tanya Dion sudah tidak sabar.
“ Penumpang dengan nama Arvin Abraham Downey, kami temukan di penerbangan pesawat nomer AXXX tujuan London, dengan jam keberangkatan pukul 11.15 WIB. Dan itu berarti sudah lepas landas satu jam yang lalu. “ jawab sang bagian informasi.
Seketika tubuh Seno terasa lemas. “ Ya Tuhan…. “ gumamnya sambil mengusap wajahnya kasar dan menghela nafas berat. Bagaimana dia akan menyampaikan hal ini kepada sang putri. Ratu pasti akan sangat sedih. Dan kesedihan putrinya tersayang itu karena kebodohannya yang tidak menyadari cinta yang hadir di antara anak angkat dan putrinya.
“ Ayo, Sen. Kita beritahu yang lain. “ ajak Dion.
“ Bagaimana aku jelaskan pada Ratu nanti? “ tanya Seno sambil berkacak pinggang.
“ Bagaimana? Apa ada info? “ tanya Bryan yang baru tiba di dekat Seno dan Dion.
“ Kita terlambat. Arvin sudah pergi satu jam yang lalu. “ jawab Dion. Bryan juga mengusap wajah juga rambutnya kasar.
__ADS_1
“ Kita harus secepatnya memberitahu yang lain. Sudah tidak ada gunanya kita mencari lagi. “ ujar Bryan.
“ Aku belum siap memberitahu Ratu. “ ujar Seno masih enggan meninggalkan tempat itu.
“ Kita akan menyampaikannya bersama-sama. Toh, Arvin tidak pergi selamanya. Dia pasti akan kembali jika dia merindukan kita. “ ucap Dion menguatkan.
“ Jika kita tidak segera menyampaikannya, maka akan semakin kasihan si Ratu. Dia masih terus akan mencari. “ tambah Bryan. Akhirnya Seno mengangguk, lalu berjalan bersama kedua saudara dan sekaligus sahabatnya itu.
“ Daddy… Uncle… “ panggil Ratu sambil menghampiri Seno, Bryan dan juga Seno yang baru saja tiba. “ Abang nggak ada, Daddy, om. “ ucapnya ke Seno dan juga Dion dengan tatapan sendunya.
“ Sayang.. “ ucap Seno lalu merengkuh tubuh mungil sang putri di bawa dalam dekapannya.
“ Abang dimana Dad? “ tanya Ratu yang berada dalam pelukan sang Daddy sambil mendongakkan kepalanya menatap wajah sang Daddy.
“ Sayang, dengerin Daddy, oke. “ pinta Seno. “ Abang… Huh. “ Seno kembali menghela nafas kasar. “ Abang sudah berangkat. “ ucap Seno lirih.
Tak ada pergerakan dari tubuh Ratu untuk sesaat. Tapi air matanya kembali menetes.
“ Hiks.. Hiks.. “ terdengar suara tangis dari mulut Ratu. Armell menghampiri, lalu ia ikut memeluk tubuh sang putri dari belakang.
“ Sayangnya mommy jangan sedih, oke? “ ucap Armell menenangkan. “ Abang pasti kembali untuk Ratu. Abang pasti hanya ingin menenangkan diri sebentar. Nanti kalau hati abang sudah nggak sedih, abang pasti kembali. “ lanjutnya.
Seno mengelus punggung Ratu lembut. Leora juga menangis dalam pelukan sang suami. Ia juga sedih mengetahui jika putranya meninggalkannya.
“ Hu.. Hu.. Hu… “ tangis Ratu semakin kencang. “ Abang jahat sama Ratu, Daddy. Abang bilang sayang sama Ratu. Tapi abang malah pergi ninggalin Ratu… Hu… Hu… Hu… “
“ Sabar, sayang… Jika memang kalian berjodoh, abang pasti akan segera pulang buat kamu. “ ujar Seno. “ Kita pulang sekarang yuk. “ ajaknya.
“ Hu… Hu… Hu… ABANG JAHAT…… “ teriak Ratu yang masih dalam dekapan sang daddy dan sang mommy. Air mata Armelle dan Senopun tak terasa ikut menetes. Dan Leora, jangan di tanya lagi. Melihat betapa cintanya Ratu kepada putranya, membuat hatinya semakin teriris karena ia sebagai seorang ibu tidak mengetahui hati anaknya sendiri.
Bersambung
__ADS_1