
" Masih sakit sayang, itunya? " tanya Arvin ke sang istri yang sedang duduk di sofa. Hari telah malam kembali. Malam kedua mereka di hotel keluarga Permana.
Arvin siang tadi sudah memberikan salep dan obat yang di resepkan apotek ke istrinya.
" Udah nggak. " jawab Ratu masih dengan tatapan lurus ke arah televisi. Ia sedang asyik menonton saluran Disney.
Arvin tersenyum menyeringai sambil duduk di samping sang istri. Setelah duduk, ia meraih tangan Ratu, lalu di ciumnya punggung tangannya berkali-kali.
" Abaaaang.... Nggak boleh modus ya. Queen lagi nonton ini. Filmnya lagi asyik. " ujar Ratu masih tidak memalingkan pandangannya dari TV.
" Siapa yang modus? Orang cuma pengen ngecup tangan kamu aja kok. " sahut Arvin.
" Abang lah siapa lagi. Mulanya pegang-pegang tangan, terus di kecup-kecup... Lama-lama menjalar kemana-mana tuh tangan sama bibir. Di sekolahin dulu napa bang bibirnya. Biar tahu sopan santun. " ucap Ratu membuat Arvin makin gemas mendengarnya.
" Kalau bibir abang di sekolahin, terus ada praktek lapangan berciuman gimana? Ya... kalau kamu ada di dekat abang. Kalau nggak, kan jadinya abang harus PKL sama cewek lain. Emang kamu boleh? " canda Arvin.
" Oooo.... Berani ya???? " sontak Ratu langsung menatap tajam ke arahnya.
" Becanda sayang. Kan tadi kamu bilang suruh nyekolahin bibir. " elak Arvin.
" Ohhh, jangan-jangan waktu abang di London selama setahun kemarin, abang sering nyiumin cewek-cewek bule ya... " Ratu menatap Arvin curiga.
" Masyaallah yang ... Sumpah demi apapun, dari dulu sampai sekarang, abang nggak pernah nyium perempuan selain kamu. " Arvin menjawab dengan serius.
Mendengar jawaban Arvin, Ratu malah memicingkan matanya lalu berkata, " Kalau abang ciuman cuma sama Queen, berarti cuma tiga kali sampai yang kemarin sore itu. Tapi kok abang makin canggih aja ciumannya. Queen aja masih kaku. "
" Itu namanya naluri, sayang. Karena aku sangat mencintai kamu, jadi naluri dan hasrat mencium bibir kamu itu keluar begitu aja. " bela Arvin.
" Tapi kok Queen nggak? Berarti Queen nggak punya naluri? " tanya Ratu dengan polosnya.
" Kalau kamu itu bukannya nggak punya naluri... Tapi kamu itu masih malu-malu. Abang tanya sama kamu. Kenapa kamu malu sama abang? Bukankah kita tumbuh bersama selama delapan belas tahun? Waktu kamu masih kecil aja, kamu telan-jang sambil mengejar abang nggak malu. " goda Arvin.
Plak
Ratu memukul lengan suaminya .
" Ya beda lah bang. Itu kan Queen masih kecil. Tubuh juga masih rata. Belum mudeng juga. Ya ... Jadinya ya nggak malu. Belum punya malu maksudnya. " bela Ratu.
" Makanya, sekarang biar ke biasa, terus nggak malu lagi, harus di biasakan. " Rayu Arvin dengan tangan yang sudah mulai nakal meraih kancing piyama sang istri.
" Abang mau ngapain? " tanya Ratu sambil menunduk melihat tangan Arvin yang berada di dadanya.
" Mau bantuin kamu biar nggak malu lagi sama abang. " jawab Arvin sambil mengedipkan sebelah matanya.
" Mau buat kamu jadi nggak kaku lagi saat berciuman. " Kini tangan Arvin menyusuri bibir pink milik istrinya. Membuat tubuh Ratu meremang.
" Abang mau cium bibir kamu, boleh kan? " Arvin meminta ijin. Biar tidak di bilang tidak punya sopan santun lagi. Karena sudah mulai terpancing, Ratu mengangguk begitu saja.
__ADS_1
Arvin mulai mendekatkan bibirnya ke bibir Ratu, dan lalu di lumatnya bibir yang bagai nikotin itu. Di sesap bibir atas dan bawah milik sang istri, lalu lidahnya mulai meminta akses untuk masuk ke dalam rongga mulut dan bermain di sana. Ratu dengan susah payah berusaha mengimbangi gerakan suaminya.
Tak ingin melakukannya di sofa, Arvin menelusupkan kedua tangannya ke bawah punggung dan pan-tat sang istri, lalu menggendongnya ala bridal style. Otomatis Ratu langsung mengalungkan kedua tangannya ke leher Arvin sambil dengan bibir yang terus terpaut. Dan setelah itu, terjadilah malam kedua yang lumayan panjang untuk mereka berdua.
🌹
🌹
🌹
" Agam... "
" Paris... "
Agam dan Paris sama-sama memanggil nama pasangan bersamaan karena ada yang hendak mereka sampaikan. Situasi di antara mereka masih lumayan canggung dan kaku semenjak pagi tadi. Padahal ini sudah malam karena mereka sudah berada di dalam kamar hotel kembali dan memakai piyama.
" Kamu dulu aja yang bicara. " ucap Paris.
" No. Ladies first. " sahut Agam.
" Aku cuma mau bilang makasih. Buat obat yang tadi pagi. " ucap Paris sambil serba salah.
" Apa sudah tidak sakit? " tanya Agam kembali.
" Tidak. " jawab Paris sambil menggeleng dan tersenyum.
" It's oke. Bukankah semua perempuan juga pasti akan mengalaminya? Buatku sakit itu tak seberapa di bandingkan saat aku terkena tonjokan ketika berantem dengan preman jalanan. " jawab Paris.
Agam tersenyum lega. Sepertinya istrinya itu benar-benar tidak mempermasalahkan kejadian semalam. Tapi untuk memastikan, Agam tetap bertanya .
" Kamu... Kamu tidak marah karena aku... aku sudah... melakukan hal yang mungkin belum seharusnya aku lakukan ke kamu. " ucap Agam sambil dengan salah tingkah.
" Kenapa aku harus marah? Bukankah itu juga sudah menjadi kewajibanku? Seharusnya kamu justru melakukannya semenjak satu tahun yang lalu. Tapi kamu baru melakukannya semalam. Lagian... Kejadian semalam bukan salah kamu. Bukankah.... Bukankah aku yang memulainya? " tanya Paris sambil memalingkan wajahnya karena malu.
Agam tersenyum. Ia benar-benar lega sekarang.
" Maaf. " ucap Agam kembali. Entah kenapa, ia merasa harus benar-benar meminta maaf.
" Hei... Kenapa kamu meminta maaf terus-terusan? Aku tidak apa-apa. Justru akulah yang seharusnya meminta maaf ke kamu. " sahut Paris. " Maaf... Karena sudah menjadi istri yang buruk buat kamu. Maaf... Karena tingkahku yang terlalu kekanak-kanakan selama ini. Sebenarnya.... " Paris merasa berat untuk mengatakannya. Tapi bagaimanapun juga, ia harus jujur. Karena semua juga sudah terjadi. Ia juga sudah kehilangan keperawanannya di tangan Agam.
" Sebenarnya... Aku bertingkah seperti itu hanya karena aku tidak ingin kamu tahu tentang perasaanku yang sebenarnya. Yah.. Bisa di bilang, gengsiku terlalu tinggi. " lanjut Paris.
Agam mengernyitkan dahinya mendengar perkataan sang istri.
" Perasaanmu? Memang bagaimana perasaanmu? " tanya Agam.
" Sebelum aku menjawab, bagaimana dengan perasaanmu? " tanya Paris berbalik.
__ADS_1
" Aku mencintaimu. Sudah pasti aku sangat mencintaimu. Kamu adalah cinta pertamaku, dan cinta pada pandangan pertamaku juga. " jawab Agam sambil menatap kedua netra biru Paris intens.
" Aku juga. Aku juga mencintaimu. Sama semenjak pandangan pertamaku. Dan kamu juga cinta pertamaku. " jawab Paris.
Jawaban yang membuat Agam tersenyum bahagia. Ia sangat bahagia malam ini. Sangat dan sangat. Ternyata Paris juga mencintainya. Agam meraih tangan Paris dan di ciumnya dalam-dalam membuat pipi Paris merona.
" Terima kasih karena telah membalas cintaku. " ucap Agam sambil memberanikan diri untuk mengelus pipi Paris yang memerah.
Paris mengangguk sambil tersenyum malu-malu.
" Terima kasih juga karena telah mencintaiku dan bersabar dengan segala sikapku. " jawab Paris. Merekapun saling tersenyum dan saling memandang.
" Apa kita akan melakukannya lagi malam ini? " tanya Paris dengan polosnya dan tentu saja penuh harap.
Awalnya Agam tidak mengerti dan mengernyitkan dahinya. Tapi melihat ekspresi Paris, Agampun tahu apa yang di tanyakan sang istri.
" Apa kamu benar-benar tidak ingat bagaimana rasanya semalam? " tanya Agam menggoda. Paris langsung menggelengkan kepalanya penuh semangat.
" Tapi semalam kamu begitu bersemangat. Kamu sangat menikmatinya. " goda Agam kembali.
" Masak? Tapi kenapa aku tidak ingat?? " sahut Paris. " Aaahhh... Ini gila... Benar-benar gila. Kenapa terjadi hal besar dalam hidupku, tapi aku tidak bisa mengingatnya... " pekiknya frustasi.
Wajah frustasi Paris membuat Agam tertawa gemas.
" Semua gara-gara obat Daddy jadi aku tidak bisa mengingatnya. " Paris cemberut.
" Jangan menyalahkan Daddy ataupun bunda. Aku bisa membuatkan ingatan yang baru untukmu. Aku akan melakukan yang sama seperti semalam dan membuatmu tidak akan pernah melupakannya. Tapi itupun jika kamu mengijinkan. " canda Agam sambil mengeringkan sebelah matanya.
Niat hati hanya bercanda. Tapi tidak dengan Paris. Ia langsung berdiri, lalu menarik tangan Agam.
" Ayo cepat kita lakukan. " ajak Paris penuh semangat.
Agam sempat membelalakkan matanya dan menelan salivanya dengan susah payah. Ia tidak percaya jika istrinya benar-benar menginginkannya lagi dan justru istrinya lah yang mengajak padahal dia tadi hanya bercanda.
Tak mau kehilangan kesempatan, Agam menarik pinggang Paris sehingga tubuh mereka saling menempel.
" Kita akan melakukannya dengan pelan-pelan dan lembut. Supaya bisa menjadi kenangan yang sangat indah. " ucap Agam tepat di depan Paris. Tinggi badan mereka yang tidak terlalu terpaut jauh, membuat Agam dengan mudah menempelkan bibir mereka.
Paris sempat membolakan matanya kala benda kenyal itu menempel di bibirnya. Bagaimanapun, ini seperti yang pertama baginya. Tapi setelah itu, ia memejamkan matanya, meresapi tiap apa yang di lakukan suaminya.
Agam menyecap dan ******* bibir atas dan bawah Paris bergantian. Sehingga menimbulkan suara yang memabukkan. Lalu dengan perlahan, Agam mengusap tangannya naik turun di punggung Paris. Lalu tangan itu masuk ke dalam piyama Paris dan melepas pengait br@ milik Paris.
Agam mulai mendorong tubuh Paris ke belakang hingga mencapai ranjang. Sedikit mendorong lagi hingga Paris telentang di atas ranjang dan ia mengungkungnya.
Desa-han dan era-ngan dari mulut Paris terdengar begitu merdu kala Agam telah membuka piyama Paris bagian atas dan bermain di dadanya. Puncak dada Paris semakin mengeras dan itu membuat Agam semakin menikmatinya.
Malam panjang kedua pasangan itupun terjadi dengan penuh kelembutan. Agam benar-benar melakukannya dengan lembut untuk memberikan kenangan indah untuk sang istri. Dan Paris benar-benar di buat menggila. Berkali-kali ia mengalami pelepasan. Tapi Agam masih tidak berhenti mencumbunya.
__ADS_1
bersambung