
Sampai di kampus Agam, Paris terus menggandeng lengan Agam tanpa mau melepas sedikitpun. Bahkan ia akan memelototi setiap gadis yang menatap ke arah suaminya. Agam hanya tersenyum melihat tingkah sang istri. Jengah, tentu saja tidak. Agam malah justru sangat senang dengan sikap posesif sang istri terhadapnya. Sikap Paris saat ini, Agam artikan sebagai sebesar apa rasa cinta yang Paris miliki untuknya.
Sesekali Agam mengelus tangan Paris yang melingkar di lengannya saat istri bulenya itu sedang menatap tajam para gadis yang menurut Paris itu terlalu alay.
" Mas, aku mau ikut masuk ke kelas. Aku nggak mau nunggu di kantin. " ucap Paris saat mereka melewati kantin.
" Siapa yang bilang aku mau ninggalin istri cantik dan bohay ini di kantin sendirian. Aku akan membawamu kemanapun aku berada. Aku nggak akan rela kalau ada laki-laki yang mencoba mendekatimu. " sahut Agam karena sedari mereka sampai di kampus tadi, Agam lumayan di buat resah dengan tatapan memuja dari mahasiswa yang mereka lewati tadi.
Oh, ternyata bukan hanya Paris yang posesif. Tapi sang suami juga.
" Mana ada laki-laki yang berani dan mau mendekatiku? Perut aja buncit gini. " gumam Paris sambil mengelus perutnya dengan tangan kirinya.
" Banyak, sayang. Kamu sih terlalu sibuk memperhatikan para gadis yang sedang melihatku. Coba kamu perhatikan semua laki-laki yang kita lewati barusan. Mereka semua menatapmu dengan tatapan memuja. Dan aku tidak suka itu. " ucap Agam tegas.
" Cieeee.... Cemburu nih ceritanya??? " goda Paris.
" Ya iyalah. Suami mana coba yang mau istrinya di tatap laki-laki lain dengan tatapan memuja. Sama seperti kamu yang tidak suka kalau suamimu yang tampan ini di tatap perempuan lain. Iya kan? " jawab Agam.
" Hem. " jawab Paris dengan mengangguk mantap.
Agam mengelus rambut Paris dan mengecup puncak kepalanya. Lalu melepas tangan Paris dari lengannya, dengan beralih dirinya yang memeluk pinggang Paris posesif. Tentu saja Paris sangat bahagia dengan perlakuan sang suami.
Agam membawa Paris masuk ke dalam ruang kelasnya. Ia mengajak sang istri duduk agak di belakang.
" Hai bro... " sapa salah satu teman Agam.
" Hai. " balas Agam.
" Tumben bawa pacar kamu ke kampus. " ucap sang teman. " Halo. " sapa teman Agam ke Paris sambil sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan supaya bisa melihat Paris karena Paris terhalang Agam.
" Halo. " sapa Paris balik.
Satu persatu teman kuliah Agam masuk ke dalam ruangan kuliah itu.
" Hai, Gam. " sapa teman Agam yang lain yang baru saja datang. Ia duduk di bangku di depan Paris.
Teman Agam itu menoleh ke arah Paris, lalu berucap, " Mahasiswi baru ya? " tanyanya ke Paris.
__ADS_1
Paris menjawab hanya dengan tersenyum sambil ia mengamit lengan Agam.
Teman Agam tadi mengernyitkan dahinya kala melihat Paris mengamit lengan Agam.
" Saudara lo ya Gam? Kenalin dong. Punya saudara cakep gini kok diam aja. " seru teman Agam ke Paris.
" Dia bukan saudara aku. Tapi dia ini istri aku. " ucap Agam menjelaskan sambil mengusap puncak kepala Paris dan membuat Paris tersenyum.
" Lo suka banget bercanda. " sahut temannya tadi.
" Siapa yang bilang aku bercanda. " jawab Agam, lalu ia meraih tengkuk Paris, dan menempelkan bibirnya ke bibir Paris. Tapi niat Agam itu malah di sambut dengan antusias oleh Paris. Paris tidak hanya sekedar menempelkan bibir mereka, tapi ia malah ******* bibir suaminya.
Tingkah Paris ini tentu saja membuat geger seisi kelas. Untung saja dosen belum masuk kelas. Ciuman itu terlepas setelah Paris menjauhkan diri dari Agam. Ia mengusap bibirnya yang basah dengan punggung tangannya. Sedangkan Agam, wajahnya memerah karena merasa malu dengan tingkah sang istri. Para mahasiswa yang sedari tadi mencuri pandang ke arah Paris, kini harus merasakan kekecewaan.
" Jadi beneran dia bini lo? " tanya teman Agam yang tadi yang adalah orang ibukota.
" E Hem. " Agam berdehem. " Iya. Dan dia juga sedang mengandung anak kami. " lanjutnya sambil mengelus perut Paris yang sedikit membuncit. Kini, muka Paris yang memerah.
" Pinter lo cari bini. Dapet bule. " ucap temannya tadi.
" Dia juga pinter cari suami. " sahut Agam sambil menatap Paris dengan tatapan penuh cinta.
🌷🌷🌷
Sedangkan di negara lain, hal lain terjadi terhadap hubungan Arvin dan Ratu. Jika di Bandung Paris begitu manja dan selalu ingin dekat dengan suaminya semenjak hamil, tidak berlaku bagi Ratu. Ratu justru sangat enggan berdekatan dengan suaminya. Hingga membuat Arvin kelabakan.
" Sayang, aku ini Daddy-nya loh. Aku yang menyumbangkan benih hingga dia ada di perut kamu. Masak aku pengen elus aja nggak boleh? " rengek Arvin di pagi hari kala ia akan pergi ke kampus.
" Bukan aku nggak boleh bang. Tapi dianya yang nggak mau. " sahut Ratu menjauh dari suaminya kala Arvin mendekatinya.
" Abang... Jangan deket - deket ah. " tolak Ratu.
" Sayang... Kita kan udah lama nggak sayang-sayangan. Tidur aja harus pisah ranjang. Kamu di ranjang dan aku di sofa. Emang kamu nggak kangen apa sama penyumbang benih si kecil? "
" Nggak. Aku tuh bawaannya males bang kalau harus Deket sama abang. " kekeh Ratu.
" Mending abang sekarang cepetan ke kampus deh. Daripada nanti telat. " imbuhnya.
__ADS_1
" Ya udah yuk, kita berangkat bareng . " ajak Arvin.
" Nggak. Queen mau di antar sopir aja kayak biasanya. " tolak Ratu. Memang semenjak hamil pula, Ratu selalu meminta pulang dan pergi ke kampus di antar oleh sopir. Padahal ia dan Arvin berada di kampus yang sama.
Cerita itupun sampai di telinga kedua orang tuanya. Bukannya merasa kasihan atau memberikan solusi, tapi Seno dan Armell juga Dion dan Leora malah tertawa terbahak-bahak mendengar keluh kesah sang putra.
" Sayang... Jam kuliah kita sama loh. Kampus kita juga sama. Kenapa kamu harus minta di antar sopir sih? " keluh Arvin.
" Abangku sayang... Ini kemauan anak kamu loh. Bukan kemauan aku. "
" Sayang, kenapa anak kita aneh sih. Setahu aku tuh kalau perempuan hamil terus nyidam, itu pengen makan apa gitu. Daripada harus berjauhan terus dari kamu seperti ini, aku mending milih kamu minta makanan yang aneh aja deh. Sumpah
" ucap Arvin.
" Sayang, coba deh kamu rayu anak kita biar mau Deket sama Daddy-nya. Masak iya dia nggak mau deket sama Daddy-nya. " lanjut Arvin.
" Iya deh nanti Queen bilangin sama si kecil. Yang penting sekarang, Queen mau berangkat kuliah dulu. Entar terlambat lagi. " ucap Ratu lalu ia segera keluar dari dalam kamar meninggalkan suaminya sendirian.
Arvin meraih ponselnya, lalu mengetik pesan.
📩 Gagal lagi. Mesti gimana aku ?
📩 Si Paris gimana? Apa dia tidak berkelakuan aneh seperti kakaknya?
Pesan Arvin ia tujukan kepada Agam tentu saja.
Tring
Sebuah balasan terkirim.
📩 Paris masih sama bang. Manjanya minta ampun. Ini aja dia ikut aku kuliah. Susah banget suruh di rumah.
📩 Kamu mah enak. Istri kamu pengennya deket sama kamu terus. Lah, si Queen malah nggak mau deket-deket sama aku.
📩 Sama aja sih bang. Kalau terlalu posesif dan kemana-mana selalu harus ikut, kita juga susah. Bahkan si Paris mesumnya juga tambah beberapa level. Tiap hari harus tiga kali kita begituan. Udah kayak minum obat deh pokoknya. balas Agam.
Sial. Si Agam enak bener. Nah gue? Pengen megang tangannya aja langsung kena semprot. Kalau Queen bisa kayak Paris, gue pasti seneng banget. gumam Arvin, lalu ia menghembuskan nafasnya perlahan.
__ADS_1
bersambung