
Hoek.... Hoek.....
" Hah... "
Wajah Arvin terlihat begitu pucat. Sudah sedari keluar dari restoran, Arvin merasakan perutnya terasa di aduk-aduk hebat. Perutnya terasa mual, yang akhirnya sudah beberapa kali ia harus muntah.
Ratu terlihat khawatir, panik, tapi juga mengerucutkan bibirnya kesal. Ratu kesal karena Arvin kekeh memakan gulai dan tongseng kambing yang ada di restoran tadi. Padahal Arvin paling alergi dengan daging kambing.
Rasa cemburu yang membabi buta dan akhirnya merugikan diri sendiri. Itulah pendapat Ratu.
Ratu memijat tengkuk Arvin sambil menggerutu, " Udah tahu alergi daging kambing. Sok Sokan kuat. Sok mampu. Sakit sendiri kan jadinya. "
" Sumpah perutku rasanya mual banget. Badanku lemes. " ujar Arvin sambil terkulai lemas di atas ranjang setelah tadi Ratu memapahnya ke tempat tidur.
" Makanya baaaang... Tadi Queen udah meringatin, jangan di makan. Masih aja di makan. Sampai habis lagi. Abang kan yang paling tahu diri abang sendiri. Dari kecil, abang tuh nggak bisa makan daging kambing. Ini malah dua porsi di habisin sekaligus. " gerutu Ratu sambil mengusap -usap perut Arvin dengan minyak kayu putih. Ia berharap hal itu bisa mengurangi sedikit rasa mual di perut suaminya.
" Habisnya abang kesel. " ujar Arvin dengan nada lemah tapi tetap terlihat kalau dirinya sedang kesal.
" Ck. " Ratu berdecak. " Abang kayak ABG aja. Queen yang masih ABG aja nggak kayak gitu. " omel Ratu.
" Abang tuh kalau mau cemburu, yang kerenan dikit napa? Cemburu kok nggak jelas. " lanjutnya.
" Emang ada cemburu yang nggak jelas. " elak Arvin sambil menutup kedua matanya dengan lengannya.
" Ada lah. Cemburu yang keren tuh, kalau misalnya Queen jalan sama si mas Aldebaran, nah... abang cemburu. Itu keren namanya. Cemburu sama artis. " ujar Ratu sekenanya.
Mendengar nama seorang laki-laki keluar dari mulut sang istri, Arvin menyingkirkan lengannya dan membuka matanya, menatap tajam ke arah Ratu.
" Siapa itu Aldebaran? Kok sampai kamu panggil dia mas? " tanyanya tegas.
" Haisss... Abang kudet ih. Kurang update. Masak mas Aldebaran aja nggak tahu sih. Aldebaran itu, suaminya mbak Andini Karisma Putri, bang. Yang katanya, hilang karena kecelakaan pesawat. " jelas Ratu. Tapi Arvin malah makin mengernyitkan dahinya.
" Siapa itu Andini? Teman kamu? Kamu mau nikung teman kamu sendiri? " cecar Arvin.
__ADS_1
Pertanyaan yang membuat Ratu menepuk jidatnya sendiri.
" Astaghfirullah baaaang... Emang Queen ada tampang pelakor ya? Andini Karisma Putri itu, nama salah satu pemeran di sinetron yang lagi naik daun, abang. Tapi sekarang, ratingnya agak turun gara-gara mas Al nya hilang. Jadi sedih kan? Kasihan tuh mbak Andin. Harus ngurus perusahaan sendiri, ngurus anaknya yang masih kecil sendiri. " celoteh Ratu.
" Jadi mas Aldebaran itu artis? Artis yang mana emangnya, kok aku nggak pernah dengar nama artis itu? " sahut Arvin.
" Ah abang lama-lama ngeselin. Di ajak ngobrol nggak nyambung. Mending entar bahas sinetronnya sama mbak LiLik sama mbak Sri aja. Nyambung. " protes Ratu.
" Masih mual banget ya bang perutnya? " tanya Ratu khawatir. Arvin mengangguk lemah sambil memejamkan matanya.
" Ke rumah sakit aja yuk. Biar abang di kasih obat, biar nggak mual-mual, nggak muntah-muntah terus. Sekalian biar di infus, jadi nggak lemes kayak gini. Ya? " bujuk Ratu entah sudah yang ke berapa kalinya.
Di kamar dan rumah yang berbeda.
" Maaassss..... " panggil Paris.
Tok.... Tok.... Tok ... Paris mengetuk pintu kamar mandi dengan keras.
" Udah belum mas? Jangan lama-lama... Entar malah masuk angin. " teriaknya dari luar.
Pintu kamar mandi terbuka dari dalam. Terlihatlah wajah berantakan Agam. Dengan cekatan, Paris membantu Agam berjalan menuju ke tempat tidur. Entah sudah yang ke berapa kali Agam keluar masuk kamar mandi karena perutnya mulas dan selalu ingin buang air besar.
Paris mendudukkan Agam di tepi tempat tidur. Agam memejamkan matanya dengan kedua tangan berada di kedua sisi tubuhnya.
" Mas... " panggil Paris sambil mengelus pundak Agam. " Ke rumah sakit yuk. " ajaknya.
Agam menggeleng. Masih tetap kekeuh dengan penolakan untuk ke rumah sakit. Sudah sejak tadi Paris mengajaknya ke rumah sakit.
" Mas, bunda sama Daddy kan lagi nggak di rumah. Kalau bunda apa Daddy di rumah, aku nggak khawatir. Mereka bisa kasih obat ke kamu. Tapi mereka pulangnya masih besok siang. Kita ke rumah sakit aja yuk. " bujuk Paris kembali.
" Ssshhh... " Agam mendesis sambil meremas perutnya yang terasa bergejolak kembali.
" Pengen ke belakang lagi. " keluh Agam.
__ADS_1
" Mas, coba di tahan deh. Kamu kalau bolak-balik ke kamar mandi terus, nanti kamu jadi tambah lemes. "
Agam memejamkan matanya erat untuk mencoba menahan supaya rasa mulas di perutnya mereda tanpa ia harus kembali ke kamar mandi.
" Kamu sih mas. Pakai sok gaya. Udah tahu perutnya nggak bisa mengkonsumsi mi. Meskipun itu spaghetti, tapi tetap saja bahannya sama kayak mi. Udah gitu, porsi jumbo pakai di habisin lagi. Marah sih marah. Kesel sih kesel. Cemburu sih cemburu. Tapi pelampiasannya jangan yang bikin badan jadi sakit napa? Rugi sendiri kan jadinya? " omel Paris.
" Emang harus melampiaskannya gimana? " ucap Agam sambil mengeratkan gigi-giginya menahan rasa mulas yang mendera.
" Ada loh pelampiasan yang bikin enak. Enak di hati, enak di jiwa, enak di badan juga. "
" Apa? " tanya Agam lirih.
" Bercin-ta. Enak kan itu. Kalau pelampiasan yang kayak gitu. Semalaman kita saling berbagi segalanya. Nggak kayak gini. Perut mulas, badan lemes, beser jadinya. " jawab Paris.
" Ah, aku punya ide. Kita ganti rasa mulas di perut kamu jadi rasa enak. Geli-geli nikmat. " Paris menawarkan sebuah ide cemerlang menurutnya.
Agam langsung membuka matanya dan menoleh ke arah Paris penuh dengan tanda tanya.
" Kita bercin-ta aja yuk. Siapa tahu kalau aku kasih rasa nikmat ke kamu, rasa mulas di perut kamu hilang. " ucap Paris dengan wajah berbinar dan mengerlingkan sebelah matanya.
Agam mendengar ide Paris itu malah menjadi semakin lemas. Istrinya itu entah kenapa menjadi sangat mesum. Agam kembali memejamkan matanya rapat-rapat.
" Kalau tadi kamu nggak ketemu sama Azkara aku juga nggak bakalan makan makanan lucknut itu. " gumam Agam, tapi ternyata Paris masih bisa mendengarnya.
" Ck. Kenapa sih mas, kamu masih aja cemburu sama Azkara? Kan aku udah bilang dulu, mau dia ke aku seperti apa, yang penting kan akunya nggak. Mau Azkara bilang cinta sama aku, mau deketin aku, asalkan akunya nggak punya maksud gimana-gimana, semua kecurigaan dan kekhawatiran kamu nggak akan terjadi. Nggak mungkin dua orang berselingkuh jika yang satunya menolak kan? " tutur Paris.
" Aku tuh nggak cinta sama Azkara. Nggak tertarik sama dia. Kalau memang aku berniat suka sama dia, itu udah dari dulu, mas Agam Permana.... Ngapain baru sekarang? Aku tuh cintanya sama laki-laki yang udah bikin perut aku buncit kayak gini. Selamanya, aku hanya akan mencintai pemilik kapal selam yang selalu bikin aku ketagihan. " lanjutnya sambil meraba kapal selam milik suaminya.
" Paris... Tangannya di kondisikan. Perut aku lagi mulas ini. " keluh Agam.
Cup
Paris mengecup sekilas bibir suaminya yang sedikit memucat. Membuat Agam mendesah frustasi.
__ADS_1
" Ayo ke rumah sakit. " ajak Agam pada akhirnya. Daripada dia terus di rumah merasakan mulasnya perut, di tambah melayani godaan sang istri. Lebih baik ia segera ke rumah sakit dan mendapatkan obat dari dokter. Lalu setelah itu, ia akan membuat istrinya tidak tidur semalam suntuk untuk melayaninya. Seringai tipis terbit dari sudut bibir Agam sambil tetap menahan rasa mulas di perutnya.
bersambung