
Baru saja Agam hendak memejamkan matanya, tiba-tiba tangannya di tarik oleh Paris.
" Bunda, kelonin. " rengek Paris dalam tidurnya.
Agam jadi semakin menelan salivanya dengan semakin susah kala merasakan tangannya berada di atas dada sang istri.
" Astaghfirullahhal'adzim.... Cobaan apalagi ini Ya Allah... " jerit Agam tertahan.
Paris yang memang saat itu tidak mengenakan penutup dada alias br@, dan kemeja Agam yang di pakainya itu tidak terlalu tebal kainnya, membuat Agam bisa merasakan betapa kenyal dada sang istri bagai squizy.
" Ini apaan kok ada yang nongol kecil gini di dadanya? " gumam Agam pelan sambil meraba pelan dada Paris yang berada di tangannya. Belum mendapat jawaban atas pertanyaannya tadi, Agam membangkitkan setengah tubuhnya untuk menengok ke depan tubuh Paris. Mencari tahu apa itu tadi yang terasa seperti bulatan kecil namun agak keras.
Sedikit melongokkan tubuhnya condong ke depan, dan terlihat kancing kemeja yang di kenakan Paris terbuka dua di bagian atas, membuat Agam melihat dengan jelas apa tadi yang ia rasakan.
Kembali Agam menelan salivanya dengan susah payah. Ia buru-buru kembali ke posisi semula yaitu di belakang tubuh Paris. Ia mengusap wajahnya dengan kasar. Lalu ia segera menarik tangannya.
" Bunda... Kelonin dong... " racau Paris kembali sambil menarik dengan kencang tangan Agam yang hendak ia tarik tadi. Dan sekarang, posisi tangannya berada di atas dua gunung Paris dengan sempurna.
" Pariiiss.... " pekik Agam tertahan.
" Dosa nggak sih kalau aku cuma pegang aja? Sumpah... Jiwa kekepoanku meronta.. " gumam Agam.
" Ah, udah halal kan? Berarti nggak dosa dong. Cuma pegang. Seandainya lebih dari pegang juga nggak bakalan dosa kok Gam... " gumam Agam kembali seolah berbicara dengan dirinya sendiri.
Pegangan tangan Paris mulai mengendur. Hal ini di manfaatkan oleh Agam untuk menyentuh dada sang istri. Lalu nalurinya berkata untuk meremasnya. Agam pun meremas salah satu gunung kembar Paris, dan berpindah ke yang satunya juga.
Jadi seperti ini rasanya. Benar-benar seperti squizy. batin Agam.
" Nggghhhhh..... " terdengar lenguhan dari mulut Paris yang masih terpejam matanya. Agam buru-buru menghentikan aksinya. Takut jika ternyata sang istri terbangun.
Mungkin merasa kenikmatan yang ia rasa seperti di dalam mimpinya tadi menghilang, entah sadar atau tidak, Paris kembali meraih tangan Agam dan ia masukkan ke dalam kemeja yang ia kenakan dan ia bawa ke atas dadanya.
Agam sempat menolak dengan berusaha menarik tangannya keluar, tapi Paris semakin memegangnya dengan erat. Dan kembali ia bawa ke atas salah satu gunung kembarnya.
" Paris mau lagi... Enak soalnya... " racau Paris kembali.
" Ya Allah... Apa ini namanya? Anugerah? Atau malah cobaan? Jika ini cobaan, sungguh cobaanmu Ya Allah... " gumam Agam.
Agampun akhirnya kembali meremas dada Paris bergantian. Agam sudah tidak tahan dengan gelenyar aneh yang muncul dalam tubuhnya.
" Jangan memarahiku jika nanti aku berbuat lebih. " gumam Agam di dekat telinga Paris. Tangan Agam mulai tidak terkontrol. Ia memainkan tonjolan yang ada di atas dada sang istri.
__ADS_1
" Mmmppphhhh.... Ssssshhhh.... " Paris mendesah dan meracau dalam tidurnya. Mendengar istrinya yang mengeluarkan suara se*sinya, Agam mulai mencumbu Paris. Ia mencium dan menjilat leher Paris yang tidak tertutup oleh rambut.
Jangan sampai meninggalkan jejak, Agam. batin Agam memperingatkan dirinya sendiri.
Kegiatan yang di lakukan Agam terus berlanjut. Tangannya tak berhenti sedikitpun menjelajahi tubuh istrinya. Paris juga terus mendesah dalam tidurnya. Entah sedang mimpi apa Paris sekarang.
Udara semakin panas dalam tubuh Agam. Ia membuka celana pendek yang ia kenakan sebelumnya hingga hanya menyisakan boxernya saja. Lalu ia kembali mencumbu sang istri sambil menggerakkan bagian bawahnya yang ia tempelkan pada bagian belakang tubuh Paris.
Setengah jam kemudian, Agam mengerang keras tapi ia berusaha menahan agar ia tidak mengeluarkan suaranya saat di bagian bawahnya menyemburkan larva panasnya.
Agam tidur telentang sambil memejamkan matanya menetralkan detak jantungnya yang berdegup kencang ngos-ngosan karena ia habis berolahraga malam.
Setelah lumayan normal detak jantungnya, Agam bangkit dari tidurnya.
" Yah, basah.. " ucapnya kala melihat boxernya basah dengan cairan lengket.
Lalu ia menoleh ke arah Paris yang masih tertidur pulas. Agam merapikan kemeja Paris yang berantakan, lalu meneliti leher dan tengkuk Paris.
" Oh, aman. Aku bisa menahan untuk tidak meninggalkan jejak. " gumamnya. Lalu ia menarik selimut dan membenarkan selimut di atas tubuh Paris. Setelahnya, Agam beranjak berdiri dan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
Pagi hari menjelang. Tepat pukul lima seperempat , Paris mulai membuka matanya.
Dug... Brak ....
Setelah berteriak karena terkejut, Paris spontan menendang tubuh Agam dan membuat Agam terjatuh ke atas lantai. Untung saja, Agam terjatuh sambil membawa selimut yang tebal. Jadi pant*tnya tidak begitu kebas.
" Auuu.... " pekik Agam. " Bangun - bangun teriak.. Terus pakai nendang lagi. Sakit tau. " ujar Agam kesal. Selain pant*tnya yang terasa sedikit panas, Agam merasa terganggu tidurnya. Semalam ia tidur sangat larut, dan saat Subuh tadi ia bangun untuk sholat dan baru beberapa saat lalu ia bisa kembali tidur.
" Lo ngapain di sini? " bentak Paris sambil berusaha menutupi pahanya yang mulus dengan menarik-narik kemeja yang ia kenakan. Karena selimut yang tadi menutupi pahanya, tertarik oleh Agam yang terjatuh.
" Ini kan kamar aku. " jawab Agam agak kesal sambil berdiri dan kembali naik ke atas ranjang.
" Gue tahu ini kamar Lo. Yang gue tanya, kenapa lo tidur di ranjang ini? " tanya Paris kembali masih dengan nada kesal.
" Terus aku harus tidur di mana kalau tidak di ranjang ini? " jawab Agam sambil tidur membelakangi Paris. " Mending kamu buruan sholat Subuh sana. Udah mau terang tuh di luar. " lanjut Agam.
Paris segera melirik ke jam dinding. ' Oh, udah hampir setengah enam. Gue kesiangan. ' batin Paris lalu ia segera bangkit dan pergi ke kamar mandi.
Sampai kamar mandi, Paris membuka celananya karena ia hendak pipis.
" Loh, kok celana gue basah?? " gumamnya kala menyadari jika ****** ******** basah. " Masak sih gue ngompol? Kayaknya nggak deh. Orang tadi spreinya kering kok. " lanjutnya bergumam.
__ADS_1
" Ha??? Jangan - jangan... Semalam ... " Paris menerka-nerka dan mencoba mengingat. Lalu ia menutup mulutnya dengan kedua tangannya. " Masak sih??? Semalam seinget gue, gue cuma mimpi aja kok. Masak sih cuma mimpi bisa sampai benar-benar basah kayak gini? "
Paris kembali menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Ia merasa sangat malu jika ternyata mimpinya semalam benar-benar membuatnya basah. Karena Paris merasa, mimpi itu seperti nyata.
" Ah, apa jangan-jangan semalam gue juga benar-benar mendesah???? Aaaaa..... Malu kan jadinya... Dia denger nggak ya.... "
Paris menghentak-hentakkan kedua kakinya ke lantai karena ia merasa sangat bodo*. " Terus sekarang, apa gue juga harus keramas untuk mensucikan diri? " tanyanya. " Gue kan nggak tahu... Masak iya gue harus tanya ke dia sih??? " monolognya.
" Tapi kalau nggak tanya, entar salah lagi. Udah lah Paris... Lo biasanya juga nggak punya malu. Tanya ya tinggal tanya aja sih. " gumamnya. Lalu ia memutuskan untuk membuka kembali pintu kamar mandi dan sedikit melongok keluar.
" Gam.... " Panggilnya. " Agaaaaammm.... " panggilnya lagi. Tapi Agam masih tidak bergeming. " Yah, tidur deh dia. " gerutu Paris.
" Keramas aja deh... Cari aman. " ujarnya pada akhirnya. Lalu Paris kembali masuk ke dalam kamar mandi dan mandi besar.
Selesai mandi, Paris segera melaksanakan shalat Subuh meskipun sedikit kesiangan. Setelah sholat, Paris berdiri di depan meja rias.
" Hari ini gue ada kuliah. Tapi baju gue basah. Pakai apa dong nih? Terus, masak iya gue harus keluar kamar cuma pakai begini. Apa kata mertua gue . " tanyanya bermonolog. Lalu ia berjalan hendak keluar kamar. Tapi tak sengaja pandangannya melihat dua buah paper bag. Karena penasaran, Paris menengok isi paper bag itu.
" Wah, perhatian juga tuh anak. Gue di beliin baju. Hizzz... Ada ********** juga. " ucap Paris girang. Lalu Paris membawa dua paper bag itu ke dalam kamar mandi dan memakainya di sana.
" Dih, nggak salah nih laki gue beliin baju kayak gini. Emang dia nggak lihat apa selama ini gue pakai baju kayak gimana. Ini sih bukan style gue banget. " ujar Paris kala membuka baju yang berupa atasan kaos berkerah V yang pastinya jika Paris yang memakainya, kaos itu akan menempel indah pada tubuh Paris. Dan sebuah bawahan berupa rok selutut.
Paris memasukkan kembali baju itu ke dalam paper bag. Lalu ia membuka paper bag yang satunya. Ia melihat ukuran penutup dada dan ****** *****.
" Tahu aja dia ukuran gue. " ujarnya lalu segera memakai **********. Setelah memakai dalaman, Paris keluar dengan membawa paper bag. Di luar kamar, Agam sudah bangun dan duduk dengan bersandar di kepala ranjang.
" Kenapa lo beliin baju kayak gini buat gue? " cerca Paris sambil menyodorkan paper bag tadi.
Agam mendongakkan kepalanya. " Semalam yang buka tinggal toko pakaian perempuan. "
" CK. " Paris berdecak kesal.
" Udah sih. Di pakai aja. Daripada kamu pakai kemeja aku kayak gitu. Masak kamu mau ke kampus pakai kayak gitu. Kan malah lebih kelihatan se*si... " ujar Agam sambil menahan tawanya.
Paris menghentak-hentakkan kedua kakinya sambil berjalan kembali ke kamar mandi dan mengganti bajunya di dalam sana.
" Nah, cantik kan??? " puji Agam saat melihat Paris keluar dari dalam kamar mandi.
Tapi Paris tidak menanggapi. Dia nyelonong keluar kamar.
bersambung
__ADS_1