
Dua hari berlalu semenjak kejadian ‘ kecelakaan ‘ Ratu waktu itu. Paris datang ke sekolah sedikit tergesa-gesa. Pasalnya gadis eksentrik itu bangun kesiangan. Efek sedang datang bulan jadi dirinya tidak menjalankan sholat subuh.
Dug
Paris menabrak punggung seorang laki-laki yang tengah berjalan di koridor sekolah sambil ngobrol dengan temannya.
“ Anj*rit ! “ kata-kata mutiara keluar begitu saja dari mulut Paris. “ Siapa yang naruh papan penggilingan di sini sih? “ seru Paris kesal sambil mengusap hidung juga jidatnya. Hidungnya terasa agak ngilu.
“ Hidung mancung gue bisa rata kayak hidung si Jenny nih. “ gerutunya kembali. Jenny adalah kucing Persia kesayangan Paris di rumah.
“ Tenang aja, hidung kamu tetep mancung kok. “ suara berat seorang laki-laki terdengar dari hadapan Paris.
“ Masak sih? “ ujar Paris. “ Kaca mana kaca? “ ujarnya kemudian sambil menengok ke samping ke jendela yang berjejer di sampingnya. Ia melihat ke arah hidungnya sambil mengelusnya.
“ Masih sama. Alhamdulillah. Kalau sampai hidung gue sama kayak si Jenny, bunda bisa marah besar. Bagian tubuh gue yang bikin bunda bangga kan Cuma hidung mancung gue yang kayak hidung Daddy. “ ujarnya lagi.
“ Utuh kan? “ tanya laki-laki itu lagi.
“ Emang siapa sih tadi yang naruh papan sembarangan di tengah jalan? “ ujar Paris sambil melongok ke kanan dan ke kiri tanpa melihat laki-laki yang sedari tadi berbicara dengannya.
“ Itu aku. Manusia, bukan papan. “ sahut laki-laki tersebut.
Setelah ucapannya itu, barulah Paris mengangkat wajahnya menatap laki-laki itu.
“ Anak baru? “ gumam Paris dengan hati yang tiba-tiba terasa cenat-cenut. Bahkan dirinya sampai lupa untuk berkedip. Mata birunya beradu tatap dengan mata hitam pekat milik Agam.
“ Aku punya nama. Dan kalau seandainya kemarin ketika aku memperkenalkan diri di depan kelas kamu, kamu tidak mendengar, oke, kita bisa berkenalan lagi. Secara pribadi. “ ujar Agam dengan nada suara ringan namun dengan suara baritonnya. Ia mengangkat tangan kanannya ke depan Paris.
Tapi Paris masih tetap bengong. Ia belum bisa merespon ucapan Agam. Karena ia masih sibuk memandang mata hitam pekat milik Agam yang tiba-tiba saja membuat hatinya cenat cenut.
__ADS_1
Agam sedikit mengernyit melihat Paris yang masih tetap bengong. “ Hai. Hello..” ucapnya sambil melambaikan tangannya di depan wajah Paris. Dan barulah saat itu, Paris tersadar. Ia mengerjabkan matanya berulang-ulang dengan intens. Ia juga mejadi sedikit gugup.
“ E hem. “ Paris berdehem untuk menghilangkan kegugupannya.
Sedangkan Agam tersenyum tipis sambil mengulurkan kembali tangan kanannya.
“ Mau ngapain? “ tanya Paris b3g0 sambil menatap tangan Agam yang terulur.
“ Kenalan sama kamu. Kamu kan selalu memanggilku ‘ anak baru ‘. Jadi menurutku, kamu belum tahu namaku siapa. “ jawab Agam dengan nada suara ringannya.
“ Oh. “ sahut Paris. Tapi dia belum menyambut uluran tangan Agam. Ia hanya memandang tangan itu sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Dan Agam harus menggoyangkan tangannya yang terulur baru Paris mau menerima uluran tangannya. Paris kembali terpaku saat tangannya menyentuh tangan kekar tapi lembut milik Agam. Ia masih tetap tidak bergeming. Ia masih tetap menatap tangannya yang terasa kaku.
“ Namaku Agam Ammar Permana. Panggil saja aku Agam. “ ucap Agam memperkenalkan diri.
“ Oh, iya. “ sahut Paris dengan sikap salah tingkahnya. Ia hendak melepas tangannya, tapi sepertinya Agam tidak membiarkannya. Laki-laki itu malah semakin mengeratkan pegangannya. Membuat Paris harus menatap kembali mata hitam pekat itu. Dan kembali, pandangan mata mereka terpatri satu sama lain.
“ Sebutkan dulu namamu, baru aku lepas. “ ujar Agam membuyarkan tatapan intens mereka. Sepertinya, Agam juga tidak kuat jika harus lama-lama bertatap mata dengan warna mata biru bening itu.
“ Lo pasti udah tahu gue. Nggak perlu gue sebutin lagi. “ elak Paris sambil membuang pandangannya ke samping.
Agam mengangkat kedua alisnya sambil memandang wajah blesteran di depannya. Satu kata yang bisa Agam simpulkan, ‘ cantik ‘.
“ Aku belum tahu nama kamu. “ ucap Agam sambil menggelengkan kepalanya.
“ Paris. Namaku Paris. “ jawab Paris singkat sambil mencoba menarik tangannya yang masih berada dalam genggaman tangan Agam.
“ Hanya Paris? “
__ADS_1
“ Itu aja udah cukup buat lo tahu. “
Agam menggeleng. “ Sebutkan nama lengkapmu. “ pinta Agam.
Paris menatap ke arahnya sebentar dengan kesal. Ia bahkan membuang nafasnya kasar. Ia masih berusaha menarik tangannya. Tapi lagi-lagi, Agam malah semakin mempererat genggamannya. Seharusnya, dan biasanya jika Paris sudah dalam mode kesal seperti ini, maka jiwa bar-barnya akan keluar. Ia bisa saja mengumpat dengan kata-kata mutiara kesayangannya, atau bahkan memiting, menendang, dan menonjok.
Tapi kali ini, di hadapan cowok yang cool ini, Paris seperti mati gaya. Ia seakan tidak bisa menggerakkan tangannya untuk memiting dan menonjok. Ia juga tidak bisa menggunakan kakinya untuk menendang. Bahkan mulutnya terasa kelu untuk hanya mengumpat ringan. Padahal biasanya, jika hanya segitu kekuatan orang yang memegang tangannya, Paris akan dapat dengan mudah melepaskan diri. Tapi kali ini, ia seperti enggan terlepas. Apa mungkin pesona seorang Agam Ammar Permana bisa meruntuhkan sifat dan sikap bar-bar seorang Paris?
“ Paris Adorabella Ernest. “ ucap Paris dingin tanpa mau melihat lawan bicaranya.
“ kalau sedang bicara dengan seseorang, sebaiknya lihat lawan bicaranya. “ ujar Agam.
Paris melirik sinis ke arah Agam sambil berdecak. Tapi tak urung, ia melihat ke arah Agam.
“ Gue udah bilang nama gue siapa. Selengkap-lengkapnya. Sekarang lepasin tangan gue. “ pinta Paris dengan nada sarkas.
Agam tersenyum. “ Senang berkenalan denganmu, nona Ernest. “ ucap Agam sambil melepas genggaman tangannya di tangan Paris.
“ Gue bilang nama gue Paris. Ernest itu nama granpa gue. “ ucap Paris sarkas sambil berjalan meninggalkan Agam yang masih tersenyum menatap punggungnya.
“ Jangan jutek-jutek jadi cewek. Entar cowok pada takut. “ teriak Agam sambil terkekeh.
“ Bodo! “ jawab Paris sambil menoleh ke belakang sebentar.
Agam makin terkekeh melihat kelakuan Paris yang menurutnya menggemaskan itu. Belum tahu saja dia bagaimana sikap Paris yang lainnya. Entah bagaimana pendapatnya dan penilaiannya yetrhadap Paris jika dia sudah benar-benar melihat sikap dan sifat Paris secara keseluruhan.
Bersambung
Haloooo Epribadeh…..Masih tetap stay di lapak othor kan???
__ADS_1
Jangan lupa…klik tombok like’nya…Terus bagi yang belum ngeklik tombol favorite, lekas klik tombol favorite nya yach….Jangan jual mahal buat gerakin jari kelean buat ngeklik tombol like dan favorite ya…Biarlah cukup harga minyak goreng aja yang mahal..Tangan kelean jangan di buat mahal juga…
SALAM LOPE LOPE SEKARUNG TEPUNG….😍😍🥰🥰😘😘