Cinta Datang Karena Terbiasa

Cinta Datang Karena Terbiasa
Kayak siput


__ADS_3

“ Lo nggak pesen makan, Ris? “ tanya Agus.


Paris menggeleng. “ Takut gemuk gue. Kalau gue gemuk entar gue nggak lincah lagi di area balap. “ jawab Paris seadanya.


“ Lagak lo, le bule. “


Setelah makanan dan minuman pesanan mereka datang, mereka segera menyantap. Saat makanan di piring Azkara masih separo, ponselnya berbunyi. Lalu ia meinta ijin ke temannya untuk mengangkat teleponnya.


Setelah beberapa saat, Azkara kembali dengan wajah sedikit panik.


“ Ris, kita pulang sekarang yuk. “ ajaknya.


“ Ada apa Ka? Makanan lo belum habis. Habisin dulu. “ sahut Paris.


“ Gue harus segera pulang. Nyokap tadi telepon, nenek masuk rumah sakit. Sakit jantungnya kambuh. “ jawab Azkara.


“ Ya udah kalau gitu, lo pulang aja sekarang. “


“ Gue antar lo dulu. “


Paris menggeleng. “ Lo mending pulang sekarang. Nyokap lo pasti butuhin lo. Gue gampang entar pulangnya. Ada mereka. “


“ Tapi gue yang jemput lo. Kalau nyokap lo marah gimana? “


“ Udah, lo tenang aja. Nyokap pasti ngerti. Lagian kalau lo nganter gue dulu bakalan lama lo sampai rumahnya. Rumah kita kan beda arah, Ka. “


Azkara menghela nafas panjang. “ Beneran lo nggak pa-pa? “


Paris mengangguk pasti.


“ Ya udah, gue balik dulu, sorry. “ pamit Azkara ke Paris sambil membelai puncak kepala Paris.


“ It’s oke. “ jawab Paris.

__ADS_1


“ Kalian makan aja. Billnya udah gue bayar. “ Azkara meberitahu ke teman-temannya.


“ Ka, jaket lo. “ ucap Paris sambil menyodorkan jaket Azkara yang ada di tangannya.


“ Lo pakai aja. Udara malem dingin. Gue udah biasa. “ jawabnya lalu berlalu meninggalkan mereka semua.


Lalu mereka semua kembali menikmati makanan mereka. Saat Agam melihat jam dinding sudah menunjukkan jam 12 malam, Agam berinisiatif mengajak Paris pulang.


“ Paris, ayo aku antar pulang. “


“ Hem? Oh, nggak usah makasih. Entar si Edo aja biar nganterin gue. “


“ Udah tengah malam. Nggak baik perempuan jam segini masih di luar rumah. Lagian kamu lihat tuh, mereka masih asyik karaokean. “ tunjuk Agam ke teman-temannya yang lain.


Paris melirik jam di tangannya , lalu mengalihkan pandangannya ke teman-temannya yang lain. Kalau sedang asyik begitu, biasanya mereka bisa tahan sampai pagi. Paris nampak bimbang.


“ Emang rumah lo mana? Kalau nggak searah, mending gue naik taksi aja. “


Akhirnya Paris melangkah, dan setelah ia berpamitan dengan teman-temannya, Paris mengikuti Agam dan membonceng di jok motor Kawasaki milik Agam.


Agam mengendarai motornya dengan perlahan dan membuat Paris sedikit kesal. ‘ Bisa bawa motor nggak sih nih anak? ‘ gerutu Paris dalam hati.


“ Eh, lo bilang udah malem. Kenapa bawa motornya kayak siput gini sih? Kalau lo nggak bisa ngebut, sini biar gue aja yang bawa motornya. Lo bonceng. “ teriak Paris dari belakang. Angin malam seakan membawa suaranya. Meskipun ia sudah agak memajukan kepalanya, Paris masih harus berteriak ketika harus berbicara dengan si pengendara.


“ Lo mau kita ngebut? Bukannya kalau ngebut malah nggak sampai rumah? Tapi sampai rumah sakit? “ sahut Agam sambil sedikit menolehkan kepalanya.


‘ Hisss nih anak. Lo tahu nggak sih, kalau deket-deket lo lama-lama kayak gini, gue bisa pingsan, dodol!” pekik Paris dalam hati. ‘ Bener-bener deh besok gue harus ke tempat praktek bokap. ‘ lanjutnya. Paris merasa sangat kesal sekarang.


Padahal Agam memang sengaja mengendarai motornya dengan perlahan. Modus, tentu saja. Kapan lagi bisa memboncengkan Paris jika bukan saat ini. Agam rasanya enggan untuk sampai tujuan terlalu cepat.


“ Gam, buruan ah. Udah lewat tengah malam ini. Cinderella aja kudu balik sebelum jam 12 tet. “ teriak Paris kembali.


Tanpa aba-aba, Agam segera menambah kecepatan dan membuat Paris yang belum siap lahir batin, langsung terkejut. Greb….Refleks, Paris mengalungkan kedua tangannya ke perut Agam.

__ADS_1


Dan hal itu membuat Agam merasa mendapat sebuah jackpot. Padahal ia sama sekali tidak kepikiran hal itu tadi. Agam mengembangkan senyumannya di balik helm full face-nya. Ia lalu meliak liuk mendahului motor dan mobil yang ada di depannya dengan lihai dan gesit.


Tidak sampai dua puluh menit, Agam sudah menghentikan motornya di depan gerbang sebuah perumahan elit di kawasan XX.


Ketika motor yang di kendarai Agam telah berhenti dan Agam mematikan mesin motornya, barulah Paris tersadar jika dirinya saat ini tengah memeluk tubuh Agam erat dari belakang.


“ Sh*it!” umpatnya perlahan sambil segera menarik kedua tangannya dari perut Agam.


Agam tersenyum tipis sambil melepas helm full face-nya. “ Aku ikhlas kok kamu peluk kayak tadi. Jadi nggak terasa dingin. Kamu tahu kan, kalau kita mengendarai motor dengan kecepatan tinggi, maka angin akan semakin kencang menerpa tubuh kita. “ ujar Agam.


Paris di buat semakin canggung. Ia segera turun dari atas motor tanpa melepas helm full face-nya. Lumayan untuk menutupi rona wajahnya yang memerah karena ternyata Agam menyadarinya.


“ Udah malam, maaf gue nggak bisa ngajak lo masuk ke rumah. “ ucap Paris tanpa mau melihat ke arah Agam.


“ Iya nggak pa-pa. “ jawab Agam sambil tersenyum.


“ Ya udah, kamu masuk sana. Udah malam juga. Nggak baik gadis di luar rumah malam-malam gini. “ lanjutnya.


Paris mengangguk, lalu ia segera balik badan. Dan tanpa berpamitan ke Agam, ia segera masuk ke pekarangan rumah yang gerbangnya telah di bukakan oleh satpam rumahnya. Agam melihat Paris masuk ke dalam rumah hingga punggung Paris tidak kelihatan. Setelahnya, barulah Agam berpamitan ke satpam rumah Paris dan segera menaiki kembali motornya meninggalkan perumahan elit tempat Paris tinggal.


Kini Agam bisa tersenyum bahagia. Paling tidak, ia telah mengantongi alamat rumah si Paris. Jadi, ia bisa datang ke rumah Paris meski entah dengan alasan apa. Agam berniat untuk mendekati Paris dan menjadikan seorang gadis tomboy bernama Paris itu miliknya.


Di dalam kamar, Paris segera masuk ke dalama kamar mandi untuk membersihakan tubuhnya yang penuh bau keringat. Paris tidak terlalu lama untuk mandi, karena hari sudah sangat larut. Apalagi ia sudah sangat ingin merebahkan tubuh lelahnya di atas ranjang kala ia masuk kamar tadi, ia melihat ranjangnya begitu rapi.


Setelah mandi, Paris langsung membanting tubuhnya ke atas ranjang dengan tanga telentang dalam posisi tubuh tengkurap. Paris memejamkan matanya. Tapi saat ia baru saja memejamkan matanya, Paris malah melihat bayangan wajah Agam yang sedang tersenyum. Dan seketika, ia kembali teringat jika sepanjang jalan tadi, Ia malah memeluk erat tubuh Agam.


Mengingat hal itu, Paris kembali membuka matanya dan menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya ke atas spray. “ Bagaimana bisa gue tadi malah meluk dia sih? Mana bisa-bisanya gue nggak sadar lagi. “ gumamnya sambil menggerutu.


Memeluk pinggang seseorang bukanlah hal yang tabu bagi seorang Paris sebenarnya. Ia juga terkadang berpegangan di pinggang Edo, Jojo, Agus, Kevin, ataupun Azkara saat ia membonceng. Bahkan dengan Azkara, ia tidak merasa canggung sama sekali jika harus memeluk perut laki-laki itu erat. Tapi dengan Agam, Paris merasa aneh. Ia merasa ada rasa geli di hatinya. Bahkan jantungnya juga berdegup kencang.


“ OOOOOHHHHH DADDYYYYYYY……Paris bisa terkena serangan jantung dadakan….” Teriaknya dari dalam selimut.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2