
Sampai di apartemen, Paris masih dalam mode kesal. Agam juga masih diam menunggu saat yang tepat untuk bertanya. Ia masih sibuk membawa semua barang-barang Paris yang di tinggalkan begitu saja di dalam mobil.
Barang terakhir yang di bawa Agam ke dalam apartemen adalah koper. Agam membawa koper Paris masuk ke dalam kamar. Agam yang sedari tadi mengedarkan pandangannya ketika mulai masuk ke dalam apartemen untuk mencari sang istri, ternyata Paris berada di dalam kamar. Ia tengkurap di atas ranjang dengan kedua tangan telentang.
Agam menaruh koper Paris di sebelah almari. Agam membuka pintu almari, merapikan baju-bajunya, supaya ada sisi yang bisa di gunakan Paris untuk meletakkan baju-bajunya. Agam melakukan semua itu sambil sesekali menengok ke belakang melihat sang istri.
" Nggak usah di masukkan baju-baju aku. Nanti biar aku sendiri yang memasukkan. " ucap Paris kala Agam hendak membuka kopernya.
Agam menegakkan kembali tubuhnya, lalu berjalan mendekati ranjang. Agam mendudukkan dirinya di tepi ranjang, di samping istrinya yang sedang tengkurap.
" Kamu ada masalah? Perasaan tadi waktu kita pulang dari Jakarta, kamu baik-baik saja. Kenapa sekarang kamu jadi jutek gini? " tanya Agam pelan.
Paris masih terdiam. Ia masih kesal dan enggan menjawab. Ia bahkan mengalihkan pandangannya ke samping kanan.
" Hei. " panggil Agam sambil mengelus punggung Paris. " Apa aku ada melakukan kesalahan? Kenapa kamu memalingkan wajah kamu? " tanya Agam kembali.
" Pikir aja sendiri. " jawab Paris dengan nada yang masih sedikit ketus. Tapi suaranya lumayan pelan.
Agam mengernyitkan dahinya dan mencoba mengingat kesalahan apa yang sempat ia lakukan tadi.
" Sayang... Aku benar-benar nggak tahu, aku melakukan kesalahan apa. " ucap Agam setelah ia mencoba mengingat tapi masih tidak menemukan jawabannya.
" Ck. " Paris terdengar mendecak.
" Kita bicarakan baik-baik dulu. Duduklah, dan kita bicara. " pinta Agam. Tapi Paris masih dalam posisi yang sama.
" Sayang... Please... " pinta Agam. " Bukankah kita sudah sepakat untuk saling terbuka membicarakan apapun? Kita sudah sepakat untuk memulai kehidupan rumah tangga kita. " lanjut Agam.
Paris mulai bergerak. Perlahan, ia bangun dari tengkurapnya dan duduk bersandar di headboard ranjang. Tapi ia masih menunduk dengan muka di tekuk.
__ADS_1
Agam mengulurkan tangannya dan membelai pipi Paris, menyingkirkan anak rambut kecoklatan yang berada di pipi Paris. Ia juga duduk mendekati Paris. Mengangkat dagu Paris dengan jarinya, dan tersenyum manis saat sang istri menatapnya sekilas.
" Katakan, apa kesalahan yang aku buat. Biar aku bisa memperbaikinya. Hem? " bujuk Agam.
Paris melirik sekilas ke arahnya. " Kenapa tadi nggak menolak bicara sama gadis tadi? Suka ya di godain cewek-cewek! " ujar Paris masih dengan nada kesal.
Seketika Agam yang sedari tadi serius menunggu jawaban dari sang istri, langsung menahan tawanya.
" Kamu cemburu? " tanya Agam.
" Nggak. Ngapain juga cemburu. " jawab Paris langsung.
" Cemburu juga nggak pa-pa kok. Cemburu kan berarti cinta. Kalau kamu cemburu sama aku, berarti kamu cinta sama aku. Aku seneng banget kalau begitu. "
Paris berdecak sambil mencebikkan bibirnya. Manyun ke depan beberapa milimeter, membuat Agam gemas ingin menyambar bibir seksi itu.
" I am sorry. Aku tidak menanggapi perempuan tadi. Dianya saja yang terlalu centil." jelas Agam.
" Maaf. Aku tidak kepikiran untuk menunggumu di dalam mobil. Aku hanya ingin bersiap-siap jika kamu butuh bantuanku. " bela Agam.
Paris tidak menanggapi. Ia memilih memalingkan wajahnya.
" Sayang... Udah dong marahnya. " rayu Agam. Ia lebih mendekat lagi ke Paris.
" Sayang, dengerin. Entah udah berapa kali aku bilang ke kamu. Kalau aku, hanya cinta sama kamu. Aku tidak akan pernah tertarik dengan perempuan lain. Mau secantik apapun gadis yang menggodaku, bagiku, kamu adalah perempuan yang paling cantik, paling menggemaskan, paling seksi dan paling hot. " Agam mulai mengeluarkan jurus bujuk rayuannya.
Mendengar gombalan receh dari sang suami, membuat pipi Paris bersemu. Ia melipat bibir bawahnya ke dalam sambil memalingkan mukanya. Tapi sepertinya Agam melihatnya.
Agam semakin mendekati Paris, mencium keningnya, dan berucap, " I Love you, my sexiest wife. "
__ADS_1
Paris membalas tatapan mata suaminya dengan senyum yang ia sembunyikan. Kesempatan saat Paris menegakkan wajahnya untuk menatap matanya, Agam tidak menyia-nyiakannya. Ia segera menyambar bibir yang sedari tadi begitu mengundang untuk di ***** habis.
Agam memberikan serangan dadakan untuk meluluhkan kemarahan sang istri. Serangan yang sepertinya benar-benar tepat sasaran. Karena Paris langsung membalas pagutan sang suami dengan tak kalah panas. Ia mengalungkan kedua tangannya ke leher Agam sambil sebelah tangannya mengusap kepala Agam bagian belakang.
" Sayang... Ciumanmu semakin membuatku makin tergila-gila kepadamu. " ucap Agam sambil menyatukan kening mereka setelah kehabisan pasokan oksigen saat berciuman tadi.
" Karena aku mempunyai lawan yang sangat hebat. Jika aku tidak segera belajar dengan baik, maka aku akan di buat kalah telak begitu saja. " jawab Paris.
" Apa kita bisa menghabiskan waktu sore kita untuk berolahraga membakar lemak? " tanya Agam sambil mengerlingkan matanya dan tangan yang mengelus punggung hingga pinggang istrinya secara intens.
" Bukankah kita tinggal bersama memang untuk melakukan olahraga bersama, baik pagi, siang, sore, ataupun malam? " balas Paris dengan nada suara genit. Entah siapa yang mengajarinya hingga ia bisa mengeluarkan nada suara seperti itu.
Agam tersenyum senang tentu saja karena mendapat lampu hijau dari sang istri untuk terus melangkah. Agam kembali memagut bibir Paris dan tangan yang terus menelusuri lekuk tubuh istrinya hingga menyingkap kaos yang di kenakan sang istri.
Sebelum membaringkan sang istri ke ranjang, Agam melepas kaos yang melekat di tubuhnya, dan celana jeans yang juga ia kenakan hingga hanya menyisakan boxer saja. Lalu ia juga melepas kaos yang melekat pada tubuh sang istri, dan setelah itu, merebahkan tubuh sang istri ke ranjang dan mengungkungnya.
" Sayang, baru beberapa kali aku memegangnya, sepertinya dadamu makin terlihat padat. Sangat pas dalam genggamanku. " ucap Agam sambil bermain di dua gunung kembar sang istri yang membuat sang pemilik melenguh.
Puas melahap bibir Paris, Agam bergerak ke bawah, menelusuri leher jenjang sang istri, dan semakin ke bawah, hingga berhenti di puncak dada Paris yang terlihat berwarna merah muda dan menonjol karena Paris telah terbakar gairah yang di ciptakan sang suami.
" Emmmhhhh... " Paris mulai meracau karena rasa nikmat yang di ciptakan dari sentuhan lidah dan jari-jari Agam di atas puncak dadanya. Paris meremas rambut sang suami sambil melentingkan dadanya.
Kegiatan terus berlanjut sampai entah berapa kali Paris sampai ke puncak, baru setelahnya Agam membuka boxernya dan memasukkan ular anacondanya ke sarang yang sedari tadi sudah memanggil-manggil.
Sebelum mulai bergerak, Agam sempat bertanya, " Mau menunggang kuda, apa mau main bilyard aja? "
" Main bilyard dengan kecepatan tinggi. Biar cepet menuju puncak bersama. " jawab Paris dengan nada suara pelan dan bergairah.
" As you want, honey. " jawab Agam, lalu ia mulai bergerak naik turun di mulai dengan irama pelan, kemudian sedang, dan berakhir dengan irama super cepat seperti keinginan sang istri hingga mereka berteriak bersamaan dan setelahnya, mengatur nafas masing-masing yang terengah-engah.
__ADS_1
" Aku mencintaimu, sayang. Always. Dan terima kasih karena telah bersedia menjadi pendamping hidupku. " ucap Agam. Ucapan yang selalu ia ucapkan saat ia selesai memanjat bersama sang istri.
bersambung