Cinta Datang Karena Terbiasa

Cinta Datang Karena Terbiasa
Masih takut


__ADS_3

Arvin dan Ratu berjalan bergandengan dan bersisihan menyusuri jalanan taman kota. Sehabis makan malam tadi, mereka memutuskan untuk mampir jalan-jalan di taman kota sambil menunggu waktu menunjukkan jam 9 malam. Jam malam bagi Ratu yang di tetapkan oleh sang Daddy, mantan anggota kepolisian.


“ Ternuaya malam-malam gini di sini ramai ya bang. “ ujar Ratu sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling.


“ Ya iyalah. Kan emang di sini selalu ramai kalau malam. Apalagi malam minggu kayak gini. Pasti banyak pasangan yang sedang pacaran. Emang kamu nggak pernah kesini? “ sahut Arvin .


Mendengar pertanyaan Arvin, seketika Ratu menoleh ke arah Arvin. “ Kenapa abang tanya Queen pernah kesini apa nggak? Abang kan tahu semdiri kalau Queen jelas nggak pernah kesini. Orang Queen baru mau keluar rumah aja Queen punya bodyguard 3 orang. “ sahut Ratu sedikit kesal dan melepas genggaman tangan Arvin, lalu mengangkat tangannya dan menunjukkan tiga jari di hadapan Arvin.


“ 3 bang…Tiga…bagaimana Queen bisa bebas berkeliaran coba? “ seru Ratu dengan kesal dan cemberut.


Arvin terkekeh, lalu ia kembali meraih jemari tangan Ratu dan ia genggam kembali.


“ I am sorry. Abang hanya nggak ingin kamu kenapa-napa. Abang juga nggak ingin kamu jalan dengan laki-laki lain atau bertemu laki-laki lain di taman ini kalau nggak sama abang. “ jawab Arvin sambil menatap lurus ke depan. Mereka masih tetap berjalan ringan.


“ Tapi kalian itu terlalu over protectif sama Queen mulai dari Queen masih kecil loh. “


“ Iya. Karena abang udah suka sama kamu mulai dari kamu yang masih kecil. Masih imut-imut. “


“ Sekarang juga masih imut-imut. “ seloroh Ratu, membuat Arvin terkekeh kembali.


“ Iya. Kamu memang selalu imut-imut dan menggemaskan. Makanya abang mencintaimu. “ ujar Arvin sambil menatap ke arah Ratu.


Ratu juga mengarahkan pandangannya ke arah Arvin. Kini mata mereka saling bertemu. Manik mata abu-abu dan coklat itu saling menatap lekat.

__ADS_1


“ Duduk yuk bang. Queen capek jalan terus dari tadi. “ ajak Ratu setelah ia memutus tatapan mata mereka.


“ Ayo. “ jawab Arvin. Ia menggandeng tangan Ratu dan ia bawa ke bangku kosong yang ada di dekat mereka.


Ratu mendudukkan pa*ntatnya di atas bangku. Kemudian di susul oleh Arvin. Ia mendekatkan tubuhnya ke ratu, lalu merangkul bahu Ratu. Ratu menengadahkan kepalanya untuk melihat bintang-bintang yang bertaburan di langit yang indah.


“ Indah sekali langitnya. Bintangnya banyak, berkelap-kelip. “ ucap ratu.


Arvin ikut memandang ke atas. Lalu tersenyum. “ Kamu suka bintang? “


“ Suka. Karena meskipun dia terlihat kecil dari sini, tapi tetap bisa menyinari kegelapan. “ jawab Ratu.


Ratu mengembalikan kepalanya ke posisi semula. Ia sudah tidak menengadahkan kepalanya. Tapi kini manik matanya menatap ke arah Arvin. Lalu tangannya terangkat untuk menyentuh wajah Arvin. Ia membelai wajah tampan itu.


Arvin mensejajarkan pandangannya dengan Ratu kala ia merasakan sentuhan tangan Ratu pada wajahnya. Ia mengulas senyuman manis di bibirnya sambil membalas tatapan Ratu. Lalu tangannya terulur untuk membelai rambut ikal Ratu.


“ Mau tanya apa? Hem? “ sahut Arvin sambil mengalihkan pandangannya ke wajah Ratu. Tadi dirinya asyik mengamati rambut Ratu dan membelainya.


“ Abang beneran cinta sama Queen? “ tanya Ratu sambil memandang lekat ke mata Arvin.


“ Kenapa kamu tanya itu? Kamu nggak percaya sama apa yang abang bilang ke kamu kemarin waktu? Apa kamu nggak percaya dengan sikap abang ke kamu selama ini? “ tanya Arvin balik sambil memainkan helai rambut Ratu yang berada di pipinya.


Ratu menunduk sambil mengdesah perlahan. “ Queen tahu itu. Queen ngerasain semua perhatian dan kasih sayang yang abang berikan selama ini. Dan hal itu juga yang membuat Queen jatuh cinta sama abang. “ ujarnya perlahan. “ Tapiiii…..” Ratu menjeda omongannya. Lidahnya terasa kelu untuk berucap. Ia menggigit bibir bawahnya yang terasa bergetar karena gugup.

__ADS_1


“ Tapi apa? Hem? “ tanya Arvin sambil sedikit menunduk supaya ia bisa mengamati Ratu yang juga sedang menunduk.


“ Tapi kenapa abang tidak pernah nembak Queen? Minta Queen jadi pacarnya abang, gitu? “ tanya Ratu perlahan.


Arvin mendesah, lalu mengubah posisi duduknya. Ia yang semula duduk sedikit menyerong ke arah Ratu, kini meluruskan tubuhnya.


“ Bukannya abang nggak mau nembak kamu. Atau meminta kamu jadi pacar abang. “ Arvin sedkit menunduk sambil kembali mendesah kecil. Ia menjeda omongannya.


“ Jika memang abang di beri kesempatan berjodoh sama kamu, abang tidak hanya akan memintamu menjadi pacar abang. Tapi abang akan langsung melamarmu untuk jadi istri abang. Pendamping hidup abang. “ lanjut Arvin.


Ratu menoleh ke samping ke arah Arvin kala mendengar penuturan Arvin.


“ Dalam hidup abang, dan selama abang hidup, abang hanya mengenal tiga cinta dari perempuan. Yang pertama adalah mommy. Perempuan yang dengan iklhas merawat abang dari abang masih bayi. Merawat abang penuh dengan kasih sayang. Yang kedua, adalah mama. Perempuan yang sudah melahirkan abang dan memberikan abang kehidupan. Dan yang ketiga, adalah kamu. Perempuan yang sangat abang cintai dan abang harapkan untuk menjadi pendamping hidup abang hingga mau menjemput. “ lanjutnya lagi.


Arvin kembali menyerongkan duduknya untuk mengahdapa Ratu kembali. Lalu ia menggenggam kedua tangan ratu yang berada di pangkuan Ratu.


“ Tapi abang belum yakin apakah cinta abang akan mendapatkan restu dari orang tua kita? Daddy, mommy, mama, ayah, bahkan daddy Robert. Mereka melihat kita sebagai saudara. Kakak adik. Apa ada seorang kakak yang mencintai adiknya sendiri? Begitu juga sebaliknya. Apa mereka akan percaya dengan kita? “ ucap Arvin kembali. Ratu masih terdiam sambil mendengarkan penuturan Arvin.


“ Jujur, abang masih takut untuk berbicara dengan mereka. Abang ingin menunjukkannya secara perlahan. BAru setelah itu, abang akan mengatakan yang sebenarnya pada mereka tentang perasaan abang ke kamu. Dam jika mereka merestui, maka abang akan langsung melamarmu. Tidak hanya memintamu menjadi kekasih abang. “ Arvin kembali bertutur sambil memandang lekat kedua manik mata coklat milik Ratu.


“ Queen, kamu mau kan menunggu abang sampai abang mendapatkan cara untuk berkata jujur kepada mereka? “ tanya Arvin sambil terus memandang mata Ratu. Ratu masih terdiam. “ Percayalah sama abang. Hanya kamu gadis yang ada di hati abang. “ lanjutnya.


Akhirnya ratu mengangguk, lalu berhambur ke pelukan Arvin. Kini mereka saling memeluk menyalurkan isi hati mereka berdua.

__ADS_1


“ Queen pasti bakalan selalu tungguin abang. “ ucap Ratu masih sambil memeluk tubuh kekar Arvin. Arvin kemudian mengecup puncak kepala Ratu cukup lama.


Bersambung


__ADS_2