
Hari berganti minggu, dan minggu berganti bulan. Tak terasa usia pernikahan Agam dan Paris sudah tiga bulan. Paris dan Agam sekaranng sudah sama-sama melanjutkan pendidikan mereka ke jenjang universitas. Karena awalnya Paris menginginkan sekolah pilot di filiphina tapi tidak mendapatkan ijin dari kedua orang tuanya dengan alasan karena Paris sekarang sudah bersuami, maka akhirnya Paris memilih kuliah di Bandung Pilot Academy.
Dan tentu saja karena sang istri memilih kuliah di Bandung, maka Agampun mengikuti kuliah di Bandung juga. Agam mengambil kuliah di Telkom University mengambil jurusan Manajemen Bisnis tentu saja . Karena dirinya akan di beri tanggung jawab mengelola usaha sang opa di bidang Perhotelan. Hotel keluarga Permana tersebar di berbagai kota besar di seluruh Indonesia.
Semenjak kuliah, Agam dan Paris tinggal di tempat yang berbeda. Paris tinggal di tempat kost yang dekat dengan kampusnya, dan Agam tinggal apartemen yang ia sewa di dekat kampusnya juga. Bukan tanpa alasan mereka tinggal di tempat yang berbeda meskipun satu kota. Siapa lagi jika bukan kemauan si Paris.
“ Lo boleh ikutan kuliah di Bandung sama gue. Tapi kita nggak boleh tinggal bareng. “ ucap Paris tegas kala mereka sedang berdiskusi tentang kuliah mereka.
“ Kok gitu? Nggak bisa dong. Kita harus tinggal bareng. Kalau kita tinggal di tempat yang berbeda, gimana nanti kita ngomongnya sama orang tua kita? “ sahut Agam tidak setuju.
“ Please deh. Gue nggak suka ya kalau harus sekolah tapi letaknya jauh dari kampus. Lo tahu sendiri gue suka telat bangun. Kalau tinggalnya jauh dari kampus, bisa-bisa kena strap terus gue tiap hari. “ ucap Paris sambil cemberut.
“ Kita akan sewa kontrakan atau apartemen di dekat kampus kamu. “ jawab Agam.
“ WHAT ?? Nggak… Nggak… Nggak… “ sahut paris buru-buru sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. “ Lo tahu kan.. salah satu syarat masuk akademi pilot tuh apa? Tidak boleh menikah. Lo mau gue di keluarin dari kampus sebelum gue mulai jadi mahasiswi di sana? Hah? “ lanjut Paris tersulut emosi.
“ Aku bisa pastikan, tidak ada yang tahu masalah pernikahan kita. Lagian nih ya, kalau sampai pihak kampus kamu dapat berita kamu udah nikah, kamu nyangkal aja. Bilang aja kalau berita itu nggak bener.Toh, kamu juga masih buntet juga. Belum aku apa-apain. “ sahut Agam ringan.
__ADS_1
“ Lo ya… “ geram Paris. Ia melempar bantal ke muka Agam. Mereka saat itu berada di kamar Agam, karena malam itu mereka sedang menginap di rumah keluarga Permana.
“ Paris, kita ini dalam rangka proses ke jenjang pernikahan yang sebenarnya. Walaupun yah, aku tahu kamu belum siap. Kita masih baru tahap berteman. Tapi kalau kita tinggal jauh-jauhan, bakalan lama prospek pernikahan kita. “ Agam masih berusaha memberi pengertian ke Paris.
“ Kenapa sih lo maksa banget? Kalian semua bisanya Cuma maksa dan maksa. Gue ini manusia. Gue bukan robot. Gue punya keinginan sendiri. “ ucap Paris kesal. “ Kalian maksa gue buat nikah sama lo. Oke, fine. Gue turuti. Gue ikutin. Lo maunya kita tinggal satu kamar, bahkan satu ranjang yang sama, gue ikutin juga. Lo mau gue bersikap selayaknya seorang istri di hadapan keluarga lo, gue jabanin juga. Gue mau kuliah di luar negeri, kalian semua ngelarang, gue ngalah. Dan sekarang, gue Cuma pengen satu aja. Tinggal di tempat kost sendiri, lo nggak ngasih. Nggak ADIL tahu nggak sih? “ teriak Paris. Ia lalu masuk ke dalam kamar mandi dan menutup pintunya dengan keras.
Jedder
Agam hanya mampu menghela nafas berat. Memang senua yang di katakan Paris tadi benar. Dia sudah berusaha mengikuti kemauan semua orang. Da kenapa sekarang dia mau satu kemauan saja, masih saja di larang.
“ Paris, maafin aku. “ gumam Agam sambil menatap ke arah pintu kamar mandi. Ia tahu apa yang di lakukan Paris di dalam kamar mandi. Jika ini di rumahnya, Paris pasti akan berlari ke taman belakang atau pergi keluar dengan motornya untuk menghilangkan penat serta emosinya. Tapi ini di rumah Agam. Paris hanya bisa masuk ke dalam kamar mandi dan mengunci dirinya di sana beberapa waktu untuk meluapkan emosinya.
Dan Parispun menyetujui. Mereka akan bilang dengan keluarga mereka jika di Bandung mereka tinggal di tempat yang sama. Dan akhirnya, Agam memutuskan untuk menyewa satu unit apartemen yang berada di dekat kampusnya.
Selama satu bulan itu, hampir tiap hari Agam pergi ke tempat kost Paris.Karena tempat kost Paris itu adalah kost khusus perempuan, jadi Agam hanya bisa menemui Paris di ruang tamu yang sudah di sediakan. Karena Paris selalu di datangi oleh laki-laki yanag sama, maka teman-teman kost Paris menduga jika Agam adalah pacar dari Paris.
“ Lo nggak bosen apa tiap hari nyamperin Paris mulu? “ tanya Kevin ke Agam. Saat ini mereka sedang menikmati makan malam di sebuah tenda makan. Mereka adalah Paris, Agam, Kevin, Jojo, dan Edo. Seperti rencana semula, Kevin dan Jojo kuliah di tempat yang sama dengan Paris. Dan kebetulan, mereka berada di kelas yang sama. Sedangkan Edo, ia kuliah di kampus yang sama dengan Agam. Tapi di fakultas yang berbeda. Agus, ia memutuskan kuliah di ibu kota karena kasihan jika ibunya tinggal di rumah sendirian. Dan Azkara, setelah Paris menikah, anak itu jadi menghindar dari Paris, dan dia lebih memilih untuk kuliah di Australia.
__ADS_1
“ Ya nggak lah. Kenapa mesti bosen? Seharusnya kita malah tinggal di tempat yang sama. Jadi tiap hari, tiap jam, tiap menit kita bisa bertemu terus. Bukan Cuma kalau malam kayak gini. “ jawab Agam enteng. Mereka sekarang memang sudah akrab. Bahkan Jojo, Edo, dan Kevin merasa Agam seperti Azkara. Tapi tidak dengan Paris tentu saja.
“ Lo sih Ris, kebangetan. Tega lo sama laki lo> Tiap hari mestin yamperin lo kesini. Durhakim lo sama laki lo. “ hujat Jojo.
“ Biarin . Suka-suka gue. Lagian, gue juga nggak pernah minta dia buat kesini tiap hari. Itu sih maunya dia sendiri aja. “ jawab Paris sambil membenarkan jaket yang ia kenakan.
“ Ris, lo kapan sih pakai baju cewek gitu? “ tanya Edo. Saat ini, Paris memakai kaos oblong dan di balut dengan jaket jeansnya, celana jeans yang sobek-sobek bagian lututnya, sepatu sneaker kesayangan yamg selalu tidak ketinggalan. Rambut yang di cepol asal. Penampilan paling nyaman menurut Paris.
“ Ini juga baju cewek. Gue mana pernah pakai baju cowok. Kegedan. “ sahut Paris asal.
“ Maksud gue tuh, lo tuh pakai rok kek… Gaun kek… Hot pants yang seksi gitu… “
Plak
Bukan Paris yang memukul Edo, tapi Agam, sambil memelototkan matanya ke Edo.
“ Jangan ngajarin istri aku yang nggak-nggak kamu. Aku lebih suka lihat istriku pakai celana jeans sama kaos oblong ketimbang dia pakai hotpants. “ cecar Agam dengan nada kesal. Dan di sambut gelak tawa oleh yang lainnya kecuali Paris. Karena Paris hanya melirik sekilas ke arah Agam. “ Enak aja kamu nyuruh dia mamerin tubuhnya ke orang lain. Aku yang suaminya aja belum pernah lihat. “ gumam Agam. Dan kembali, mereka semua terkekeh. Dan Paris malah melotot ke arahnya karena kesal dengan gumaman Agam.
__ADS_1
Bersambung