Cinta Datang Karena Terbiasa

Cinta Datang Karena Terbiasa
Enak nggak??


__ADS_3

Dua pasang suami istri keluar dari kamar hotel yang bersebelahan secara bersama-sama. Sampai di depan pintu kamar, mereka saling menoleh berhadapan.


" Kak... "


" Paris... "


Ratu dan Paris saling menyapa. Sedangkan suami-suami mereka sedang menutup pintu kamar.


" Kalian juga baru mau sarapan? " tanya Arvin setelah ia selesai mengunci pintu.


Paris dan Agam mengangguk, dan membuat Arvin tersenyum samar. Ia sepertinya merasa mungkin Paris dan Agam kesiangan karena sibuk seperti dirinya.


" Ya udah yuk, kita ke bawah. " ajak Ratu. Ia lalu meraih lengan Arvin dan menelusupkna tangannya ke balik lengan kekar itu. Sedangkan Paris dan Agam berjalan sendiri - sendiri. Bahkan mereka berdua nampak canggung.


" Kak Ratu kenapa jalannya seperti itu? " tanya Agam berbisik di samping Paris karena ia merasa Ratu berjalan aneh, tidak seperti biasanya.


Paris mengendikkan bahunya.


' Mungkin nasib kakak seperti gue. Selang-kangan gue juga nyeri nih kalau di buat jalan. ' jawab Paris dalam hati.


" Apa semalam mereka juga melakukan seperti apa yang kita lakukan semalam? Tapi... Kamu baik-baik saja. Nggak ngangkang gitu jalannya. Tapi kak Ratu bisa sampai kayak bebek gitu jalannya. Apa bang Arvin melakukannya berkali-kali? " tanya Agam keceplosan dan membuat Paris menghentikan langkahnya dan menoleh ke arahnya.


' What? Jadi dari tadi dia merhatiin gue? Oh My to The God!! Malu banget kan gue???? Gue udah berusaha jalan dengan layak. Sampai gue bela-belain hutan gue rasanya seperti mau di gunduli. Tembok mana tembok???? Gue pengen ngumpet.... ' teriak Paris dalam hati.


" So... Sorry. " ucap Agam saat melihat Paris sedang menatap dalam ke arahnya. Suasana di antara mereka berdua menjadi semakin canggung. Tidak seperti pasangan di depan mereka itu yang nampak mesra saling bergandengan dengan sang pria yang nampak perhatian.


Sebenarnya, Agam juga ingin berbuat seperti itu. Tapi ia masih cukup takut jika sang istri tiba-tiba bereinkarnasi menjadi singa betina mengamuk. Agam sudah cukup bersyukur pagi tadi sang istri tidak marah saat mengetahui jika ia telah menjamah tubuhnya. Bahkan menikmatinya.


Sampai di ruang makan, semua keluarga sudah menunggu. Mommy Armell dan Daddy Seno mengernyitkan keningnya saat melihat putrinya berjalan seperti bebek.


" Beb, kenapa dengan putri kita? Apa setelah malam pertama memang seperti itu? Tapi seingatku, kamu tidak seperti itu dulu. " bisik Seno di telinga sang istri. Bisikan tapi lumayan bisa di dengar oleh orang-orang yang ada di sekelilingnya. Dion dan Leora hanya menahan tawanya mendengar ucapan besannya.


" Mas... " Armell memprotes sambil memelototkan matanya ke sang suami.


Sedangkan di sisi lain, Pipit justru merasa resah kala melihat cara berjalan sang putri yang malah terlihat baik-baik saja.


" Bang, apa rencana kita gagal? Kenapa putri kita jalannya tidak seperti Ratu yang kayak pinguin itu? " seloroh Pipit begitu saja dan membuat semua orang menoleh menatap ke arahnya dengan pertanyaan yang sama dalam pikiran mereka.


" Tidak mungkin rencana kita gagal, sayang. Putri kita tidak akan mungkin bisa menahannya meskipun dosis yang aku berikan hanya seperempatnya saja. Apa mungkin menantu kita yang tidak tega melakukannya? " kini Bryan pun menjawab dengan tidak kalah makin membuat orang bertanya-tanya.


" Dokter Bryan, apa maksudmu? Apa yang kalian rencanakan? " tanya Attar papa Agam.

__ADS_1


" Tidak ada. Aku hanya memberikan sedikit bumbu supaya kita segera punya cucu. Aku tidak ingin kalah dengan dia. " jawab Bryan sambil menunjuk Seno dengan dagunya.


" Heh.. Jangan bilang kau beri putrimu obat perangsang? " ucap Seno.


" Kau benar sekali. " jawab Bryan dan Pipit hampir bersamaan dengan wajah jumawa.


Semua yang ada di sana hanya bisa menepuk jidatnya bersamaan. Sedangkan pasangan yang di maksud, hanya memandang kedua orang tuanya dengan raut wajah berbeda. Agam terkejut dengan jawaban mertuanya. Tapi ia hanya bisa diam saja sambil bergumam dalam hati, ' Mertuaku memang paling tahu yang ku mau. '


Sedangkan Paris menatap kedua orang tuanya dengan raut wajah berubah-ubah.


" Daddy sama bunda keterlaluan ih sama Paris. Masak sama anaknya sendiri kayak gitu. " protes Paris dengan nada suara kesal. Ia lalu menghenyakkan pan-tatnya dengan kasar di kursi yang telah di tarik oleh Agam untuknya, tepat di sebelah Ratu.


" Auwww.... Ssshhhhh.... " teriak Paris kala ia merasa bagian bawahnya terasa sangat perih saat ia duduk dengan kasar tadi.


" Sayang... " seru Agam khawatir karena melihat istrinya yang kesakitan.


" ALHAMDULILLAH..... " pekik Pipit dan Bryan bahagia bersamaan kala melihat sang putri kesakitan.


" Kalian ini. Orang tua macam apa kalian? Melihat anaknya kesakitan malah berucap syukur. " nyonya Ruth mengomeli Bryan dan Pipit.


" Tentu saja kami bersyukur ma. Karena ternyata usaha kami tidak sia-sia. Opa sama Oma akan mempunyai cicit bersamaan. " jawab Pipit.


" Alhamdulillah.... " semua malah ikut mengucapkan syukur mendengar jawaban dari Pipit.


" Kenapa mesti kesal, sayang? Bukankah enak? " goda sang Daddy.


" Siapa yang bilang enak? Paris nggak tahu. " jawab Paris dengan suara lantang. " Ini semua gara-gara Daddy sama bunda yang ngasih obat lucknut itu ke Paris. Jadi Paris lupa rasanya kayak gimana. Coba aja kalian nggak kasih obat itu. Kan Paris jadi tahu, rasanya enak apa nggak. " lanjut Paris dengan nada kesal.


Ucapan yang membuat semua orang tertawa terbahak-bahak termasuk pasangan baru yang ada di sebelahnya. Sedangkan Agam, hanya bisa menunduk malu sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


" Sayang.... Kalau kamu penasaran sama rasanya, kan tinggal minta lagi aja sama suami kamu. Daddy yakin, suami kamu pasti bakalan dengan senang hati kasih servis terbaiknya. " jawab Bryan di sela-sela tawanya.


" Kalau kamu begitu penasaran, kamu bisa tanya sama kak Ratu. Dia juga sama seperti kamu. Semalam baru merasakannya. " tambah Pipit. Membuat semua orang beralih menatap Ratu, begitupun dengan Paris.


" Enak nggak kak? " tanya Paris dengan polosnya. Suasana menjadi hening. Semua seolah menunggu jawaban dari Ratu. Untuk mengurangi kecanggungannya, Arvin meminum minumannya.


" Sakit banget. " jawab Ratu dengan wajah sendunya.


Uhuk... Uhuk... Arvin tersedak minumannya kala mendengar jawaban dari Ratu.


" Sampai bengkak punya aku. Merah lagi. " lanjutnya.

__ADS_1


" Kok sama? Punya aku juga bengkak. Segede apa bengkaknya kak? " tanya Paris. Dan terjadilah percakapan yang unfaedah dan saling curhat di antara keduanya yang membuat para suami malu di buatnya.


" Sayang, makan dulu makanannya. Keburu dingin. " ucap Arvin memotong sesi curhat dua gadis yang tak lagi gadis semenjak semalam.


" Iya, kamu juga. Nanti masuk angin kalau nggak cepetan makan. " ucap Agam ke Paris.


Dan kedua wanita itu mengangguk bersamaan dan segera menghabiskan sarapannya. Membuat dua orang laki-laki yang ada di sebelah mereka bernafas dengan lega.


Setelah acara sarapan kesiangan selesai, Agam dan Arvin berpamitan undur diri sebentar meninggalkan istri mereka bersama anggota keluarga yang lain.


🌷🌷🌷


" Loh, Gam... "


" Bang... "


Arvin dan Agam saling bertukar pandangan dengan pertanyaan yang sama dalam otak mereka kala mereka bertemu di apotik yang ada di dalam hotel yang mereka tinggali.


" Kamu ngapain kesini? " tanya Arvin.


" Beli ini. " jawab Agam sambil menunjuk sebuah salep dan obat yang ada di tangannya. " Abang, ngapain? "


" Sama. Beli kayak yang kamu beli juga. " jawab Arvin sambil menunjukkan obat yang sama.


Mereka berdua sama-sama tersenyum, lalu berjalan keluar dari apotik bersamaan.


" Kita ngopi dulu, gimana? Biar istri - istri kita sama keluarga dulu. " tawar Arvin sambil menunjuk ke coffe shop yang berada di depan apotek.


" Boleh bang. " jawab Agam. Lalu mereka masuk ke dalam coffe shop dan memilih duduk di dekat kaca.


" Kalian beneran baru melakukan malam pertama semalam? Dan itu karena Paris di kasih obat sama uncle B? " tanya Arvin.


Agam tersenyum dan mengangguk. " Abang tahu sendiri sifat Paris kayak gimana. Satu tahun jadi suaminya, susah banget menaklukkan hatinya. "


" Berapa kali semalam? " tanya Arvin.


" Sekali doang, bang. Itu aja udah syukur paginya nggak dapet pukulan dan amukan. " jawab Agam dan diiringi tawa keduanya.


" Abang kuat berapa kali? " tanya Agam.


Arvin mengangkat dua jarinya. " Dua kali untuk tadi malam. Dan satu kali tadi pagi. " jawab Arvin jumawa.

__ADS_1


" Waaahhh.... Abang hebat. " puji Agam.


bersambung


__ADS_2