Cinta Datang Karena Terbiasa

Cinta Datang Karena Terbiasa
Olahraga pagi


__ADS_3

Azkara tersenyum. " Buat gue, mau elo kurus, atau gemuk, sama aja. " jawab Azkara.


" Kalau kondisi gue yang ini, gimana? " tanya Paris kembali sambil menaikkan syal pasmina yang sedari tadi menutupi area perutnya.


Azkara menampakkan wajah super terkejutnya. Nafasnya seolah tercekat di tenggorokan.


" Gue hamil. Enam bulan. " ucap Paris.


Azkara terkejut, tapi ia berusaha menutupi wajah terkejutnya. Ia berdehem.


" E Hem. " Azkara berdehem untuk yang kedua kalinya. " Nggak masalah. " ucapnya sambil menutupi keterkejutannya.


Paris mengernyit. " Maksud lo? "


" Gue nggak masalah meskipun lo hamil. Gue akan tetap nikahin elo sesuai seperti apa yang gue bilang tadi. Gue akan anggap anak itu sebagai anak gue sendiri. Asalkan Lo ibunya, gue nggak masalah dengan anak itu. " jawabnya.


" Lo sadar kan Ka? " tanya Paris memastikan.


" Gue sadar. " jawab Azkara. " Dia maksa elo? Tega bener si Jawa itu. "


" Siapa yang maksa gue? Maksa gue buat apa? "


" Laki elo lah. Siapa lagi yang bisa bikin elo hamil kayak gitu. Dia pasti maksa elo buat ngelayanin dia. Oh , atau jangan-jangan... Dia memperkosa elo? " ujar Azkara.


" Ha... Ha .. Ha... " Paris malah menanggapi dengan tawa lebarnya.


" Ka, ini beneran elo kan? Kenapa habis di Ausy pikiran Lo jadi cetek gitu? Hem? " ujar Paris. " Mana ada seorang suami yang memperkosa istrinya? " lanjutnya.


Kini Azkara yang mengernyitkan dahinya.


" Ris... Lo kan nggak cinta sama dia. Jadi mana mungkin elo mau melakukan itu sama dia. " ucap Azkara.


" Kita nggak ketemu satu tahun lebih loh Ka. Semuanya sudah berubah. Begitu juga dengan hati gue. Bahkan penampilan gue juga berubah. Lo lihat sendiri kan, gue nggak setomboy dulu. Hati gue juga. Ketulusan dan kesabaran Agam buat menaklukkan hati gue, berhasil. Hati dan hidup gue sekarang hanya milik Agam, suami gue. Dan anak ini.... " Paris mengelus perutnya. " Dia juga milik mas Agam. Selamanya akan menjadi miliknya. " lanjutnya.


" Sorry lama. " ucap Edo yang tiba-tiba sudah berada di antara Paris dan Azkara.


" Ris, gue anter lo pulang sekarang. Pawang lo barusan telpon gue. Suruh bawa lo balik ke kandang secepatnya. " ucap Edo ke Paris.


" Hisss... Lo kira gue singa... " protes Paris sambil mengambil tasnya yang sedari tadi ia taruh di kursi sebelahnya.

__ADS_1


" Ka, gue cabut dulu ya. Mau anterin dia dulu. Lo, ntar langsung ke kostan gue aja. " pamit Edo ke Azkara.


" Gue yang anter Paris. " sergah Azkara sambil berdiri dari duduknya.


" Jangan Ka. Gue yang bawa dia kesini. Jadi ya tanggung jawab gue harus balikin dia. " tolak Edo.


" Gue bakalan anter dia dengan selamat sampai rumahnya. " ucap Azkara kekeh.


" Gue pulang sama Edo aja. Ayo Do, buruan. " ajak Paris yang sudah berdiri dari duduknya. Ia menyampirkan tali tasnya ke pundak.


" Gue balik dulu ya Ka. " pamitnya ke Azkara. Azkara hanya mengangguk.


Tanpa menunggu Edo, Paris segera berjalan keluar dari cafe dan menuju ke depan cafe.


Kecewa, sudah pasti. Itu yang Azkara rasakan saat ini. Penyesalan, apalagi. Azkara sekarang benar-benar menyesal kenapa dulu saat Paris memintanya untuk menikahi gadis pujaannya itu, ia malah menolak.


Semuanya sudah terjadi, dan semuanya sudah terlambat sekarang. Gadis pujaannya itu telah benar-benar menjadi milik laki-laki lain. Bahkan sekarang, gadis itu akan menjadi seorang ibu. Paris akan memiliki bayi, tapi sayangnya, itu bukan darah dagingnya.


Azkara menunduk dalam diam dengan hati yang bergemuruh dahsyat. Esok, ia akan langsung kembali ke Ausy dengan tangan kosong. Benar-benar meninggalkan cintanya di kota ini.


🌷


🌷


🌷


Paris memutar kepalanya dan mulai membuka matanya perlahan. Saat matanya terbuka, ia melihat sesosok wajah yang sudah dua hari ini sangat ia rindukan.


Agam terlihat masih nyenyak dalam tidurnya. Paris tersenyum, lalu mengangkat tangannya untuk membelai wajah damai sang suami.


Merasa tidur nyenyaknya terusik, Agam segera tersadar jika sang istri sudah terbangun, dan saat ini sedang menikmati ketampanan wajahnya. Agam sedikit menyunggingkan kedua sudut bibirnya.


" Beneran rindu ya? " ucap Agam masih dengan mata tertutup.


Paris agak terkejut. Ia sedikit menjauhkan wajahnya. " Udah bangun? " tanyanya.


" Hem. " jawab Agam.


" Kapan sampai rumah? Bukankah kamu bilang masih dua hari lagi di sana? " tanya Paris sambil kembali menyusuri wajah tampan dan tegas sang suami.

__ADS_1


" Tadi jam tiga kayaknya. " jawab Agam. Kali ini, ia membuka matanya. " Bagaimana aku bisa konsentrasi bekerja jika ada bahaya menyelimuti istriku di sini. "


" Hem? " sahut Paris sambil mengernyitkan dahinya. " Bahaya apaan? "


" Tuh, sang masa lalu kamu. " jawab Agam dengan nada agak jutek.


" Cie..... Akhirnya... Suamiku cemburu juga. " ledek Paris.


" Ya iyalah aku cemburu. Kalau aku nggak cemburu, nggak mungkin aku semalam langsung mengcancel semua kerjaanku di sana dan memilih kembali ke kota ini malam itu juga. " ujar Agam.


" Kenapa harus cemburu, hem? Aku kan udah jadi milik kamu. Nih, bukti nyatanya. Hasil karya kamu. " ujar Paris sambil mengelus perutnya. Dan Agam pun melakukan hal yang sama.


" Masa lalu aku sama Azkara hanya sebatas sahabat. Tidak lebih, dan tidak pernah lebih. Dia adalah sahabat pertama dalam hidupku. Dia adalah teman masa kecilku. Tidak lebih dari itu. " jawab Paris.


" Kalau aku? "


" Kalau kamuuuuu.... Mmmm.... " Paris pura-pura sedikit berpikir. " Kamu adalah teman masa depan aku. Teman hidup aku. Suami aku, papa dari anak-anak aku. Laki-laki yang mampu membuatku jatuh cinta. " lanjutnya sambil tersenyum manis


" Cie.... Istriku sekarang udah pinter gombal. " ledek Agam.


Paris tersenyum. " Anak kamu yang membuatku berubah. " ucapnya sambil kembali mengelus perutnya.


Agam mendaratkan sebuah kecupan di kening Paris, lalu turun hingga ke bibir Paris.


Paris tersenyum kala Agam melepas bibirnya.


" Jangan pernah cemburu. Jangan pernah curiga kepadaku dan Azkara. Karena aku, hanya mencintai kamu. " ucap Paris.


" Aku juga. Sangat mencintai kamu, sayang. " balas Agam. Agam mengelus perut buncit Paris.


" Apakah dia merindukan papanya? Apa dia ingin di jenguk oleh papanya? " tanya Agam .


" Bukan hanya debay aja yang rindu sama papanya. Mommy juga rindu sama papa. " ucap Paris dengan nada suara manja.


Agam menyunggingkan senyumnya saat mendapat kode dari sang istri. Ia langsung melancarkan aksinya. Agam membuka semua pakaiannya sebelum memulai ritual yang beberapa hari ini tidak mereka lakukan.


Sedangkan Paris tersenyum melihat tingkah sang suami. Ia juga ikut-ikutan membuka seluruh pakaiannya.


" Let's do it, baby. " ucap Agam sebelum ia menyantap sarapan paginya yang sangat nikmat dan lezat. Dan terjadilah olahraga pagi di atas ranjang selama dua sesi pagi itu. Paris begitu bersemangat melakukannya karena hormon kehamilan, membuatnya selalu merasa menggila saat melihat tubuh sang suami.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2