
" Mau kemana kak? " tanya Paris saat ia mengendarai mobil dan keluar dari gerbang rumahnya, ia melihat mobil Ratu juga keluar dari dalam pekarangan rumah.
Ratu membuka kaca jendela mobilnya bagian penumpang. Damar yang mengemudikan mobil, menghentikan laju mobilnya.
" Mau ke rumah sakit. Nih, nganterin suami yang kebanyakan gaya. " sahut Ratu sambil setengah berteriak. " Kamu mau kemana? Kenapa nyetir sendiri? " tanyanya kemudian.
" Sama. Mau ke rumah sakit juga. Nganterin laki-laki yang sok-sokan kuat. " jawab Paris.
" Agam juga sakit? " tanya Ratu.
" Iya. " jawab Paris sambil mengangguk. " Badannya lemes. Ke belakang terus. "
" Terus, kenapa kamu nggak pakai sopir? Kenapa kamu nyetir sendiri? " tanya Ratu.
" Nggak pa-pa kak. Sopir di rumah lagi nganterin Upin sama Ipin ke tempat bimbel. " jawab Paris.
" Perut kamu nggak kegencet stir emangnya? " tanya Ratu kembali.
Paris menundukkan kepalanya melihat ke arah perutnya. Lalu kembali melihat Ratu. " Masih aman kak. " jawabnya sambil tersenyum.
" Mending kita ke rumah sakitnya barengan aja deh. Sekalian di antar sama om Damar. Kasihan dedeknya kalau kegencet stir." ajak Ratu.
Paris menggeleng. " Nggak usah kak. Nanggung. Kalau harus balikin mobil ke dalam, nanti kelamaan. Mas Agam perutnya nggak bisa di ajakin kompromi. Entar bisa-bisa brojol di mobil. " ujar Paris sambil menahan tawanya.
" Beneran nggak pa-pa kamu nyetir sendiri? " tanya Ratu memastikan.
Paris menjawab dengan mengangkat tangannya dan menyatukan jari jempol dan telunjuknya membentuk huruf O.
" Ya udah kalau gitu. Kamu jalan duluan. Om Damar biar di belakang kamu. " titah Ratu.
Paris mengangguk, lalu menaikkan kembali kaca jendela dan menjalankan kembali mobilnya menyelusuri jalanan ibu kota yang lumayan padat .
Di rumah sakit.
Hari sudah gelap saat Arvin dan Agam keluar dari UGD. Dengan di temani istri - istri mereka, mereka di bawa ke kamar rawat inap.
" Sayang, kok kita di masukin ke kamar yang sama? " tanya Arvin saat ia menyadari jika tidak hanya dirinya yang di masukkan ke dalam ruangan itu. Tapi Agam juga di dorong masuk ke dalam ruangan yang sama.
" Biar jagainnya bisa barengan bang. Aku sama Paris bisa sama-sama jagain kalian berdua. Kan kita lagi hamil gede. Jadi kalau ada apa-apa, kita bisa lebih cepat dan gampang ngatasin semua. " jawab Ratu.
" Hah. " Arvin menghela nafas kasar lalu memejamkan matanya. Ia merasa masih sangat lemas sekarang. Ia ingin tidur supaya badannya bisa cepat kembali seperti semula.
" Sayang.... Jangan kemana-mana. " rengek Agam persis seperti seorang anak yang takut di tinggal oleh ibunya. Ia memegang lengan Paris erat.
__ADS_1
" Iya, mas. Aku cuma mau naruh tasku dulu di meja bentar. " ujar Paris.
" Ck. Dasar bocah. Manja. " ledek Arvin ke Agam sambil masih tetap menutup matanya.
" Biarin sih bang. Kalau pengen, tinggal ngikut aja. " balas Agam.
" Ck. " Arvin berdecak lalu mengubah posisinya menjadi membelakangi Agam.
" Kalian ini, kalau cemburu aja kompak. Kalau lagi gini aja saling ledek. " sahut Paris.
" Mending kamu juga tidur aja deh mas. Kayak bang Arvin. Biar badannya cepet hilang lemesnya. Jadi kita bisa cepet enak-enakan. " lanjut Paris sambil menggoda sang suami.
Agam mengangguk, lalu ia pun segera menutup matanya. Tak butuh waktu lama, Agam sudah terlelap dalam mimpinya. Begitu juga dengan Arvin.
Melihat kedua laki-laki itu terlelap, Paris dan juga Ratu menghela nafas lega. Akhirnya mereka bisa beristirahat dari rengekan dan sikap manja juga cemburu suami mereka.
" Kak, aku lapar. Aku mau cari makan dulu. Kakak mau ikut tidak? " tanya Paris sambil mengelus perutnya.
" Iya nih. Aku juga lapar. Tapi kalau di tinggalin, kalau mereka bangun, terus nyariin kita, bisa heboh satu rumah sakit. " sahut Ratu.
" Iya juga sih. " jawab Paris. Lalu ia berpikir sejenak. " Kita pesen makanan online aja kalau gitu kak. Biar di antar sampai kesini. " lanjutnya sambil mengambil tasnya dan mengambil ponselnya dari dalam tas.
" Beres. Aku pesenin kakak makanan kesukaan kakak. Kebetulan dari resto yang aku pesan, makanan kesukaan kakak juga ada. " Paris memberitahu ketika ia sudah selesai memesan makanan.
🌷
🌷
🌷
Pagi menjelang. Paris menggeliat kala matanya sudah mengajak untuk terbuka. Setelah sadar dari tidurnya, Paris merasakan hal yang aneh. Seingatnya, semalam, ia tidur berbagi sofa dengan Ratu dalam posisi duduk dan kepala bersandar di headboard sofa. Tapi kenapa sekarang, ia merasa tidurnya begitu nyaman.
Paris membuka mata, lalu mengamati ke sekeliling. Perlahan, ia bangun dari posisi tidurnya. Paris menjadi bingung kala ia melihat, ternyata dia tidur di atas ranjang rumah sakit. Lalu kemana suaminya???
Paris menatap ke arah sofa. Tiba-tiba kedua sudut bibirnya terangkat. Hatinya juga menghangat. Di saat badannya sedang tidak baik, suaminya tetap perhatian terhadapnya. Paris begitu terharu dengan cinta yang suaminya berikan untuknya.
Paris yakin, Agam semalam pasti mengangkat tubuhnya dan memindahkannya ke atas ranjang. Dan dirinya lebih rela tidur di atas sofa dengan kaki tertekuk dan tangan yang masih terinfus.
Pandangan Paris sedikit memicing, kala teringat dengan Ratu. Di mana kakak sepupunya berada jika di sofa itu, hanya ada Agam yang masih tertidur. Paris menoleh ke arah ranjang di sampingnya.
Berbeda dengan Agam yang sepertinya memilih tidur di sofa supaya Paris merasa nyaman saat tidur, , di ranjang sebelah, Arvin dan Ratu tidur di ranjang pasien yang sama. Arvin dan Ratu memiringkan tubuhnya saling berhadapan dengan tangan Arvin memeluk Ratu seolah takut jika istrinya itu terjatuh ke lantai saat tidur.
Paris kembali menyunggingkan senyumannya. Ia merasa beruntung dan senang, punya suami yang pengertian. Dan ia juga senang, ternyata kakak sepupunya juga mempunyai suami yang juga penuh perhatian.
__ADS_1
Paris turun dari atas ranjang dengan perlahan. Memakai sandalnya, lalu berjalan menghampiri sang suami yang terlihat tidak nyaman dengan tidurnya.
" Mas.... " panggil Paris pelan membangunkan suaminya sambil mengelus lembut pipi sang suami dengan punggung tangannya.
" Mas.... " panggilnya kembali saat sang suami masih belum terjaga.
Panggilan kedua, membuat Agam menggeliat, lalu perlahan membuka kedua matanya karena merasa sentuhan lembut di pipinya.
Kedua sudut bibirnya terangkat kala melihat wajah cantik sang istri di hadapannya.
" Udah bangun? " tanya Agam dengan suara serak khas orang bangun tidur.
Paris mengangguk sambil membalas senyuman suaminya. " Kamu pindah dulu ke ranjang, gih. " ujar Paris sambil membantu suaminya untuk menegakkan tubuhnya.
Agam tersenyum. Lalu ia menarik lengan Paris, hingga Paris terjatuh duduk di pangkuannya.
" Mas, ih. " Paris hendak kembali berdiri, tapi Agam menahannya dengan menaruh sebelah tangannya di atas pangkuan Paris, dan sebelah tangannya lagi memeluk pinggang Paris.
" Duduk begini sebentar. Aku kangen sama kamu. " ujar Agam sambil mengecup pundak Paris.
" Pagi-pagi nggak usah gombal deh. Kita dari kemarin aja barengan terus. Masak kangen? " sahut Paris sambil membelai rambut Agam kala Agam menaruh kepalanya di atas pundak Paris.
" Kan semalam aku nggak tidur sambil meluk kamu. Jadi kangen pengen meluk. " jawab Agam membuat Paris tersenyum bahagia.
" Kenapa semalam kamu pindahin aku ke ranjang, terus kamu malah tidur di sofa. Kamu kan lagi sakit. "
" Aku udah sehat kok. Lagian , mana mungkin aku tega biarin kamu tidur sambil duduk dalam keadaan hamil kayak gini. Kaki kamu semalam aku lihat juga bengkak. Kamu pasti kecapekan ngurusin aku. " ujar Agam.
" Masak sih, kaki aku bengkak? " tanya Paris sambil mengamati kakinya. " Nggak kok. "
" Semalam bengkaknya. Sekarang udah nggak. Kan semalam sempat aku pijitin. " jawab Agam sambil mengecup perut buncit Paris.
" Makanya, kamu jangan cemburu-cemburu lagi, ya? Biar kamu nggak sakit kayak gini. " pinta Paris.
Agam menatap wajah cantik Paris lalu menangkup wajah itu dengan kedua tangannya. Agam menggeleng.
" Aku akan berusaha untuk tidak cemburu buta lagi. " ucapnya, lalu ia mengecup bibir Paris sekilas. " Morning kiss. " lanjutnya sambil tersenyum manis dan menggoda.
Paris yang memang gampang terpancing jiwa mesumnya semenjak hamil, tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia menyergap bibir sek-si suaminya dengan bibirnya. Dan terjadilah saling cium dan lu-mat dalam pagutan bibir yang lumayan lama. Hingga pagutan itu saling terlepas kala asupan oksigen mereka menipis.
" E Hem. " suara deheman seseorang terdengar.
bersambung
__ADS_1