
Malam ini malam terakhir sekolah PELITA mengadakan kegiatan family gathering sebelum kelulusan. Mulai sore tadi, acara pensi sudah di mulai. Semua kelas kebagian menampilkan pertunjukan. Semua siswa nampak bahagia.
“ Ris, gue mau tanya sesuatu, boleh nggak? “ tanya Azkara kala mereka sedang duduk bersisihan di atas tikar. Mereka masih menikmati acara penutup itu.
“ Tanya tinggal tanya aja sih. Kenapa harus pakai tanya boleh apa nggak. “ jawab Paris tanpa menoleh ke arah Azkara. Ia masih tetap fokus menonton pertunjukan di depannya.
Azkara merasa sangat gugup saat ini. Beberapa hari yang lalu, ia mengambil sebuah keputusan. Ia ingin menyatakan cintanya ke Paris. Daripada di salip orang lain. Karena Azkara sangat paham jika Agam si anak baru juga tengah mengincar Paris. Sebenarnya Azkara ragu untuk mengatakan hal itu. Karena ia sering mendengar Paris selalu bilang kalau dirinya tidak ingin berpacaran sebelum ia kuliah. Paris selalu bilang, urusan percintaan akan membuat hidupnya menjadi ribet.
“ E hem. “ Azkara berdehem menetralkan debar jantungnya. Ia menunduk sesaat setelah sedari tadi ia memandang wajah cantik Paris.
“ Mau tanya apa, Ka? “
“ Mmmmm….Kalau misalnya….misalnya nih…tiba-tiba ada temen lo yang bilang ke lo kalau dia cinta sama lo, lo gimana? “
Sebuah pertanyaan yang keluar dari mulut Azkara yang di luar bayangan Paris selama ini. Tentu saja Paris terkejut. Ia sontak menoleh ke arah Azkara yang sedang memandangnya lekat. Pandangan yang mampu membuat Paris gelagapan.
“ Mak-maksud lo? “
Azkara mengalihkan pandangannya. Ia tidak ingin Paris merasa tidak nyaman berada di sampingnya. Ia harus bermain halus. Tidak boleh langsung serobot.
__ADS_1
Azkara tersenyum tipis. “ Kalau misalnya temen lo ada yang nembak lo gimana? “
“ I-yaaaa…..Gue…gue nggak tahu. Lagian kan lo tahu sendiri, gue juga udah sering bilang ke temen yang lain juga. Gue males kalau berbicara soal cinta. Bikin ribet. Apalagi kalau hubungan percintaan itu kalau putus, kita pasti nggak bisa bersahabat lagi. “ jawab Paris apa adanya. Karena memang Paris tidak tahu harus menjawab apa.
“ Gue tahu. Gue juga tahu kalau lo lebih milih sahabat daripada pacar. Tapi kalau misalnya sahabat yang cinta sama lo dan pengen nembak lo tuh gue, gimana? “ tanya Azkara to the point.
“ Uhuk…Uhuk…Uhuk…” Paris tersedak oleh ludahnya sendiri. Ia seketika menoleh ke arah Azkara. Dan kembali, ia melihat AZkara tengah menatapnya lekat. Tatapan yang belum pernah lihat Paris selama ini.
Ya iyalah nggak pernah lihat. Karena Azkara selalu menyembunyikannya selama ini. Tapi tidak untuk kali ini. Azkara ingin menunjukkan ke Paris betapa ia sangat memuja dan mendamba seorang Paris. Azkara bertekad menyatakan cintanya saat ini, selain takut kesalip, ia juga takut jika nantinya ia tidak lagi bisa bersekolah yang sama dengan Paris. Mengingat cita-cita Paris yang ingin menjadi seorang pilot.
“ Becandaan lo garing tahu Ka. “ ujar Paris sambil mengalihkan pandangannya.
“ Gue serius. Gue nggak lagi becanda. Gue tahu, lo nggak pengen sahabat lo jatuh cinta sama lo. Tapi asal lo tahu, gue udah jatuh cinta sama lo sebelum gue jadi sahabat lo. “
“ Gue jatuh cinta sama lo semenjak pertama kali gue lihat lo. Saat kita masih duduk di bangku kelas 3 SD. Lo adalah cinta pertama gue. Sembilan tahun gue memendam perasaan ini seorang diri tanpa ada yang tahu. Dan sekarang, gue nggak kuat nahan lagi. Gue takut lost contact sama lo kalau kita kuliah nanti. Gue takut kehilangan lo, Ris. “ ucap Azkara penuh keseriusan.
Paris terdiam. Ia tidak tahu harus bilang apa. Sungguh ia tidak mengerti. Sebenarnya, Paris bukan gadis yang polos-polos amat. Ia juga sebenarnya menyadari perasaan Azkara terhadapnya semenjak mereka masih SMP dulu. Tapi Paris selalu diam dan menganggap jika pikirannya salah. Dan sekarangpun, Paris berharap ini hanyalah mimpi. Ia tidak ingin kehilangan sahabat seperti Azkara hanya karena ucapan cinta.
“ Paris, say something. Jangan diam aja. “ ucap Azkara kala Paris mengunci mulutnya selama beberapa waktu.
__ADS_1
Tapi beberapa menit Paris masih belum bersuara. Azkara manrik nafas panjang dan menghelanya kasar. “ Sorry. Sorry kalau gue udah begitu berani mengungkapkan perasaan ke elo. Tapi jika apa yang gue bilang tadi hanya akan merusak hubungan kita selama ini, lupakan apa yang gue bilang tadi. Anggap gue nggak pernah bilang apa-apa ke elo. Gue mending milih memendam perasaan gue seorang diri. “ ucap Azkara dengan nada kekecewaan yang sangat. Azkara hendak beranjak dari duduknya setelah ia mengatakan hal itu. Hatinya terasa sakit dan juga berat. Tapi tangannya di cekal oleh Paris.
“ Az, lo tahu sendiri kan gue itu gimana? Lo adalah orang yang paling tahu gue. Bahkan melebihi orang tua gue. Jadi lo pastinya lebih tahu keinginan gue kayak apa. Bukannya gue nggak mau nerima ungkapan cinta lo. Tapi gue pengen mengejar cita-cita gue. Gue pengen banget jadi seorang pilot handal. Kalau kita pacaran, sudah pasti LDRan. “
“ Nggak masalah buat gue LDRan asal sama lo. Gue nggak akan membatasi ruang gerak lo. Lo mau melanjutkan kuliah di manapun terserah lo. Gue pasti dukung lo. “
“ Iya. Tapi gue yang nggak bisa. LDRan kan nggak enak. Punya pacar kok kayak lagunya Poppy Mercury…’ Sendiri lagi…seperti dahulu..tanpa dirimu…di sisiku…’ Gitu. Kalau gue nggak bisa. “ sahut Paris.
“ Lo bisa aja. “ kekeh Azkara. “ Lo sayang nggak sama gue? “ tanyanya kemudian.
“ Sayanglah. Masak kalau gue nggak sayang sama lo, ngapain gue mau sahabatan sama lo. Sama yang lain juga gue sayang. “
“ Buat gue, cukup lo sayang sama gue. Gue yang bakalan kasih cinta ke elo. Gue yakin, suatu saat karena kegigihan cinta gue, bisa bikin rasa sayang lo berubah menjadi cinta. “ harap Azkara.
“ Tapi Ka, lo pasti udah tahu jawaban gue. Gue….” Paris seakan tidak mampu melanjutkan kata-katanya.
“ Ya, gue tahu. “ sahut Azkara lirih. Ia sambil menunduk. Lalu ia meraup wajahnya kasar. “ Tapi, paling tidak, beri gue kesempatan buat nunggu lo. Sampai lo siap nerima gue. Dan….dan gue minta tolong sama lo. Jangan pernah lo berubah sikap ke gue gara-gara omongan gue malam ini. Karena gue nggak akan bisa jika harus lo jauh. “ pinta Azkara.
Paris tersenyum tipis. “ Gue juga nggak mungkin bisa berjauhan dari lo. Karena lo adalah sohib terbaik gue. Dan untuk kesempatan yang lo minta, insyaallah, jika Allah memang membuat kita berjodoh. Toh kalau memang jodoh, nggak akan kemana. Gue nggak akan ngelarang lo buat nungguin gue. Tapi jika suatu saat lo ketemu cewek lain yang bisa lo cinta, gue nggak akan ngelarang. “ sahut Paris sambil menatap ke arah Azkara.
__ADS_1
“ You are my best friend, my bebeb. “ canda Paris sambil memeluk tubuh Azkara dari samping. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Azkara. Dan Azkara, meskipun Paris belum menerima cintanya, Azkara lumayan lega. Paling tidak, ia sudah mengungkapkan perasaan yang selama ini ia pendam.
Bersambung