Cinta Datang Karena Terbiasa

Cinta Datang Karena Terbiasa
Makan malam


__ADS_3

“ Gam, nanti ikut papa sama mama ke rumah teman papa. Sama kak Kyra juga. Kita di undang makan malam di rumahnya. “ ujar Attar ke Agam yang sedang sibuk memainkan ponselnya.


Agam mengangguk tanpa menoleh ke arah papanya. Lalu ia menoleh sebentar ke arah papanya, “ Jam berapa kita berangkat pa? “ tanyanya.


“ Habis sholat magrib kita langsung kesana. “ jawab Attar.


“ Emang kakak sekarang kemana? Kok nggak kelihatan? “ tanya Agam tanpa melihat ke papanya.


“ Kakakmu sedang mengurus visa dan segala berkas yang di butuhkan untuk kuliahnya di Ausy. Tapi di temani sama Toriq. “ jelas sang papa. Lalu Agam manggut-manggut.


“ Tapi emang kakak udah tahu kalau nanti malam kita mau makan malam di rumah teman papa? “


“ Hem. “ jawab Attar berdehem.


🌹


🌹


🌹


“ Agaaaammmm…..” panggil Ameera dari lantai bawah. “ Cepetan Gam. Kalau kita terlambat, nanti nggak enak sama teman papa. “ lanjut Ameera sambil berteriak.


“ Iya, iya ma…Bentar…” jawab Agam dari dalam kamarnya.


“ Sudahlah sayang…Jangan teriak-teriak. Nanti pita suara kamu bisa rusak. Nanti kalau dia sudah selesai juga pasti keluar. “ ucap Attar menenangkan sang istri. Attar memang sellau bisa lebih bersabar menghadapi putra putrinya. Sedangkan Ameera agak sedkit galak.


“ Tapi kita udah hampir terlambat loh mas. Belum lagi perjalanan kesana bisa aja macet. “ gerutu Ameera.


“ Lagian nih si Agam ngapain dulu sih? Lama banget. Kyra aja yang harus dandan dulu nggak selama dia. “ Kyra juga menggerutu sambil duduk di sofa.


“ Kan memang adik kamu seperti itu, sayang. “ sahut Boby sang opa sambil membelai rambut Kyra. Kyra, satu-satunya cucu perempuan di keluarga Permana, memang sangat di sayangi seluruh anggota keluarga itu. Apalagi sang opa. Boby akan selalu menomorsatukan Kyra dalam segala hal. Dia sangat menyayangi Kyra.


Tap tap Tap…


Suara sepatu menuruni tangga dengan setengah berlari.


“ Yuk. “ ajak Agam tanpa ada rasa bersalah sedikitpun karena telah membuat papa, mama, serta kakanya menunggunya lama.


“ Dasar kamu ya . Nggak tahu apa kita yang lagi nungguin sampai berlumut gini. Kamu ini kayak anak gadis aja. Dandannya lama. “ oceh Kyra sambil cemberut. Ia bangkit dari duduknya dengan kasar.


Sedangkan Agam hanya nyengir mendengar ocehan sang kakak. “ Makanya Agam ngajak ayo kita berangkat sekarang. Kan mama bilang keburu terlambat tadi. “


“ Sudah, nggak usah berantem dulu. Berantemnya entaran aja. Di cancel dulu. Kita berangkat sekarang. Ayo mas. “ ujar Ameera lalu ia menggandeng lengan sang suami.


“ Opa sama oma beneran nggak pengen ikut, gitu? “ tanya Kyra kembali.

__ADS_1


“ Opa capek, sayang. Jadi oma juga harus nemenin opa di rumah. “ jawab Novia. Kyra mengangguk, lalu ia menyalami opa juga omanya untuk berpamitan. Kemudian di susul oleh Agam , baru setelahnya Ameera dan Attar.


“ Kami pergi dulu, ma, pa. “ pamit Ameera. “ assalamualaikum. “


“ Hati-hati di jalan. Waalaikum salam. “ jawab Novia.


Lalu keluarga kecil Attar pergi meninggalkan rumah orang tuanya dan segera menuju ke rumah Bryan. Selang empat puluh menit perjalanan, sampailah mereka di depan gerbang rumah Bryan. Satpam yang melihat sebuah mobil berhenti di depan gerbang, segera keluar dan menemui sang tamu.


“ Selamat malam, pak. Bapak mau ketemu siapa? “ tanya sang satpam.


“ Saya datang kesini memenuhi undangan dokter Bryan dan istrinya. “ jawab Agam.


“ Oh, keluarganya bapak Attar Permana ya? “ tanya pak satpam sambil tersenyum dan membungkuk memberi hormat.


“ Iya pak. “ jawab Attar yang juga membalas senyuman satpam yang usianya ada di bawahnya itu.


“ Baik, pak. Sebentar. “ lalu satpam itu segera berlalu dan membuka gerbang rumah Bryan yang menjulang tinggi.


Sedangkan Agam, ia terlihat sedang memikirkan sesuatu sejak awal mobil sang opa yang di bawa papanya berhenti di depan gerbang rumah itu.


‘ Kayak nggak asing sama rumah ini ya. Tapi rumah siapa? Kok aku nggak ingat. ‘ gumam Agam dalam hati sambil sesekali memicingkan matanya.


Setelah gerbang terbuka, satpam segera memperdilahkan Attar membawa mobilnya masuk ke dalam pekarangan rumah. Lalu satpam itu juga mengantar keluarga Attar masuk ke dalam rumah. Terlihat di ruang keluarga, Seno dan Bryan sedang berbincang.


“ Maaf pak dokter, keluarga pak Attar Permana sudah sampai. “ ucap satpam memberi tahu Bryan.


“ Honey…. Tamunya sudah tiba. “ panggil Bryan.


Pipit dan Armell segera menuju ke ruang keluarga.


“ Assalamualaikum. “ sapa Attar ketika mereka bertemu.


“ Waalaikum salam. “ sapa balik dari Bryan, Seno, Pipit, juga Armell. Lalu mereka saling berjabat tangan. Attar memeluk Bryan lalu kemudian memeluk Seno dengan gaya laki-laki. Dan Ameera memeluk dan cipika cipiki dengan Pipit juga Armell.


“ Maaf, kita datangnya terlambat. “ ucap Ameera.


Di balik punggung Attar, Agam agak terkejut kala melihat Bryan juga Pipit. Ia tidak menyangka jika pepatah mengatakan dunia tak selebar daun kelor itu benar adanya. Ternyata keluarganya berteman baik dengan keluarga dari gadis yang telah berhasil mencuri hatinya mulai dari saat pandangan pertama.


“ Tidak apa-apa mbak. Ayo silahkan masuk. “ Pipit mempersilahkan. Lalu mereka masuk ke dalam ruang keluarga.


“ Oh iya, apa ini Kyra? “ tanya Armell.


“ Iya, Mell. Dia putriku Kyra, dan ini putraku Agam. “ Ameera memperkenalkan putra-putrinya.


Lalu Agam dan Kyra tersenyum, kemudian menyalami tangan Armell, Pipit, Bryan juga Seno bergantian.

__ADS_1


“ Loh, bukannya ini temannya Paris ya? “ tanya Bryan kala Agam menyalami tangannya.


“ Iya, om. Saya temannya Paris yang waktu itu. “ jawab Agam.


“ Loh, kamu malah udah kenal sama om Bryan, Gam? “ tanya Attar.


Agam mengangguk.


“ Dia ini anak yang aku ceritakan waktu di rumah sakit dulu. Yang telah menolong putriku. Pantas saja saat aku melihat dia, aku merasa tidak asing dengan wajahnya. Ternyata ini jawabannya. Dia ini duplikat darimu. Sangat mirip denganmu. Ha.. Ha.. ha .. “ ujar Bryan.


“ Masak? Aku merasa dia tidak mirip denganku. Apalagi saat aku mengambilnya dari ruang bayi saat akan membawanya pulang. Aku pikir dia tertukar. Karena dia tidak mirip denganku ataupun mamanya. “ canda Attar.


Agam langsung menatap kesal ke arah sang papa. Lalu terdengar riuh tawa dari semua yang ada di ruangan itu. Lalu mereka kembali berbincang. Sedangkan Agam sedari tadi matanya seperti edang mencari sesuatu.


“ Cari Paris ya nak?” tanya Pipit.


“ Eh…” Agam terlonjak. Ia langsung menoleh ke arah bundanya Paris.


“ Paris tadi keluar di jemput Azkara. Katanya mereka mau mengadakan acara perpisahan kecil-kecilan di rumah Edo. Emang kamu nggak tahu? “


“ Tahu sih tan. TadiAgam juga mau ke rumah Edo. Tapi Agam batalkan karena papa mengajak kesini. “ jelas Agam.


“ Huh. Coba putri tante nurut kayak kamu. Tadi tante udah kasih tahu kalau malam ini akan ada tamu. Tapi dia tetep kekeh mau ikut kumpul-kumpul temannya. “ keluh Pipit.


“ Sepertinya Paris harus segera di carikan jodoh biar dia ada yang di segani. Ada yang mengaturnya juga. Soalnya kalau di atur sama kamu, sama uncle B, dia hanya akan merengek.” Seloroh Armell.


“ Mbak Mell benar. Tapi siapa juga laki-laki yang mau di jodohkan sama gadis tomboy kayak dia. “ sahut Pipit. “ Ah, sudahlah. Malah jadi bahas anak itu. “ lanjut Pipit.


“ lalu, bukankah kamu juga punya anak kembar? Di mana mereka? “ tanya Ameera.


“ Oh, iya. Bentar. Aku panggilkan.” Ucap Pipit.Lalu ia berdiri dan berlalu untuk memanggil putra kembarnya.


Tak lama, iapun kembali sambil menggandeng tangan kedua putranya. “ Ayo, salim dulu sama tante, sama om, sama kakak-kakak juga. “ ucap Pipit mengarahkan si kembar.


“ Assalamualaikum, tante. “ sapa si kembar, lalu mereka menyalami tangan Ameera. Lalu beralih ke Attar, lalu beralih ke Kyra, dan yang terakhir ke Agam.


“ Mereka bisa mirip banget, Pit. Kamu nggak pernah salah gitu bedain mereka? “ tanya Ameera menatap kagum ke si kembar.


“ Nggak dong mbak. Aku paling hapal dengan mereka. “ jawab Pipit. “ Yang pakai baju biru itu Xavion. Lalu yang memakai baju hitam itu Xavier. “ lanjutnya menyebutkan nama anak-anaknya.


“ Kak, main yuk. Vier punya game baru. “ ajak Vier ke Agam. Entah kenapa, si kembar satu ini yang biasanya irit bicara dan tidak bisa langsung akrab dengan orang yang baru di kenalnya, malah justru terlihat senang saat bertemu dengan Agam.


“ Sayang. Tamunya saja belum di suguhi apa-apa kok malah udah di ajak main. “ Pipit mengingatkan.


“ Ya udah, makan dulu yuk kak. “ ajak Vier sambil menggandeng tangan Agam. Membuat yang ada di sana tergelak.

__ADS_1


“ Sebaiknya kita makan malam dulu saja. Baru nanti kita teruskan obrolannya. “ ajak Bryan.


Bersambung


__ADS_2