
Agam terus mengikuti Paris dari belakang dengan jarak yang lumayan jauh karena ia tidak ingin menimbulkan masalah untuk Paris atau bahkan membuat pemilik hatinya celaka. Di depan sana nampak Paris masih memimpin jalanan. Tapi jarak Jesh juga tidak terlampau jauh. Mereka masih terus memutar gas dengan maksimal.
Sampai di pertengahan sirkuit, Jesh mampu mengimbangi Paris. Ia bahkan membuka kaca helmnya sehingga memperlihatkan mata elangnya. Saat ia hendak mendahului Paris, ia sempat menoleh sebentar ke arah Paris sambil mengedipkan sebelah matanya. Sedangkan Paris hanya melirik dari sudut matanya sambil mengunpat dalam hati karena ia berhasil di dahului.
Paris tidak mau kalah. Ia semakin memutar gasnya lebih kencang. Menjadi pacar seorang Jesh si keturunan India, tidak ada dalam kamus Paris sama sekali. Pada putaran ketiga, Paris kembali memimpin pertandingan. Ia berhasil mendahului Jesh di tikungan yang lumayan tajam. Agam yang sedari tadi mengikuti Paris di buat ngeri kala Paris mendahului Jesh dari sisi kiri saat di tikungan yang tajam. Agam sempat berpikir, terbuat dari apa nyali seorang Paris Ernest itu.
Putaran terakhir segera Jesh dan Paris lewati. Jarak mereka masih terbilang sangat dekat meskipun Paris masih memimpin. Jesh, si raja malam, tentu saja tidak akan membiarkan Paris memenangkan pertandingan ini. Karena ia sangat mengiginlkan seorang Paris menjadi Ratu malamnya. Tepat saat mulai putaran terakhir, Jesh kembali mampu mendahului Paris.
“ Si*al!!” umpat Paris. “ Nggak bisa di biarin. Gue harus cari cara supaya taruhan ini gagal. Karena untuk menang, sepertinya akan susah buat gue. “ batin Paris melihat betapa hebatnya motor yang di kendarai oleh Jesh. Saat tadi di awal-awal, motor Jesh terlihat biasa saja. Sama seperti motornya. Tapi kenapa saat lap terakhir, motor itu berlari begitu kencang. Bahkan kini Paris sudah memutar gasnya hingga mentok, tapi tetap saja tidak bisa mendahului Jesh.
Tikungan tinggal satu di depan. Dan sepertinya Jesh lemah saat di tikungan. Tapi meskipun dirinya berhasil mendahului Jesh di tikungan, belum tentu juga ia memenangkan pertandingan. Karena setelah tikungan, jalanan kembali lurus sampai garis finish. Akhirnya Paris mendapatkan sebuah ide untuk menggagalkan Jesh memenangkan pertandingan ini. Meskipun ide ini lumayan berbahaya untuknya. Tapi daripada menjadi kekasih Jesh, Paris lebih memilih mati.
Tepat di tikungan tajam, Paris mendahului Jesh, lalu tiba-tiba berada di depan Jesh sehingga membuat Jesh terkejut dan menyenggol motor Paris bagian samping. Karena motor Paris masih melaju lumayan cepat, motor Paris menjadi oleng. Merasa motornya oleng, Paris menyunggingkan sedikit senyuman smirknya. Ia berusaha mengurangi kecepatan motornya, dan setelah laju motornya tidak sekencang tadi, Paris membanting sedikit motornya dan membuat motornya semakin oleng. Dan…Brak…
“ Paris!!!” teriak orang-orang yang menyaksikan motor Paris oleng dan roboh hingga terseret beberapa meter. Tubuh Paris terpental ke pinggir. Karena Paris sengaja meloncat saat motornya mulai hilang kendali. Ia tidak ingin membahayakan dirinya dengan membiarkan tubuhnya terseret motor hingga beberapa meter itu.
“ Paris! “ teriak Agam yang menyaksikan kejadian itu secara live. Ia segera menambah kecepatan laju motornya untuk menghampiri tubuh Paris yang terpental ke pinggir jalan dan sempat berguling beberapa kali. Sedangkan Jesh, yang mendengar suara motor jatuh, segera menekan tuas remnya hingga ban motornya berdecit kencang. Ia menoleh ke belakang untuk memastikan. Lalu ketika melihat motor yang di kendarai Paris terseret di jalanan, ia segera memutar motornya untuk menghampiri Paris.
Agam segera menstandarkan motornya, melepas helmnya dan melemparnya ke sembarang arah dan segera menghampiri Paris yang terkapar tak sadarkan diri.
“ Paris…Paris…” panggil Agam sambil menggoyangkan bahu Paris perlahan. Tak ada pergerakan dari Paris. Agam mengangkat kepala Paris sedikit, lalu melepas helm full face Paris. Terlihat Paris memejamkan matanya. Agam segera mengecek denyut nadi Paris. Lalu ia juga meletakkan jarinya di depan lubang hidung Paris.
__ADS_1
“ Syukurlah kamu masih bernafas. “ ucap Agam sedikit merasa lega. “ Paris…Paris…” panggil Agam sambil menepuk-nepuk pipi Paris. Tapi Paris masih belum menjawab. Agam kembali panik. Ia membawa kepala Paris ke pangkuannya. Lalu ia segera menelpon ambulans tanpa berpikir panjang lagi. Setelah selesai menghubungi ambulans, Agam kembali menghubungi seseorang.
“ Cepet datang ke jalan XXX sekarang. Kamu ambil motor aku di sini. Aku tunggu nggak pakai lama. “ ucap Agam ke seseorang yang ia hubungi.
Lalu Agam kembali memasukkan ponselnya ke dalam kantong jaketnya. Ia kembali menatap wajah Paris yang matanya terpejam. Lalu ia meneliti setiap inci tubuh Paris. Ia melihat, jaket yang di kenakan Paris sobek di beberapa bagian. Agam meneliti tiap bagian yang sobek itu. Apakah kulit Paris juga sobek seperti jaket yang ia kenakan? Ternyata tidak terlalu. Hanya pada siku terlihat memar dan kulitnya terluka mengeluarkan darah.
Lalu Agam beralih ke bagian tubuh yang lain. Agam memeriksa kepala Paris. Ah, syukurlah, kepala Paris tidak mengeluarkan darah sama sekali. Memarpun tak nampak. Agam beralih ke bagian tubuh yang lain. Celana Paris yang sobek di beberapa bagian. Luka kembali Agam temukan di bagian lutut dan mata kaki Paris. Lutut Paris mengeluarkan darah lebih banyak di banding bagian tubuh yang lain.
Agam sedikit bernafas lega. Semoga saja tidak ada bagian dalam yang cidera. Doa Agam. Mungkin keadaan Paris tidak terlalu parah padahal ia berguling berkali-kali, karena ia mengenakan jaket tebal anti gores, juga celana tebal. Dan bagian tubuh atasnya ia mengenakan pengaman.
Sebuah motor mendekat di sisi Agam dan tak lama mesin motor itu tak terdengar lagi.
“ Bagaimana keadaannya? “ tanya Jesh ikut panik. Bagaimanapun, Jesh tidak menginginkan hal ini terjadi. Apalagi ia juga punya rasa dengan gadis blasteran ini.
“ Gue telpon ambulans dulu. “ ucap Jesh sambil mengeluarkan ponselnya dari dalam saku jaketnya.
“ Tidak perlu. Bentar lagi ambulans sampai sini. “ jawab Agam. Ia membelai pipi Paris lembut, berusaha untuk menyadarkan Paris yang ada dalam pangkuannya.
Tak lama, terdengar deru motor yang lain. Bahkan ada beberapa.
“ Minggir, lo. “ sentak Azkara sambil menepis tubuh Jesh. Mau tak mau, Jesh menyingkir.
__ADS_1
“ Gimana keadaan dia Gam? “ tanya Azkara.
“ Dia tidak sadarkan diri. Tapi kalau di lihat dari luar, tidak ada luka yang parah. Semoga saja organ dalamnya juga baik-baik saja. “ sahut Agam. Azkara mengusap wajahnya kasar. Ia sangat menyesali kebodohannya yang tidak bisa melindungi gadis yang ia cintai.
“ Jangan dipindahkan. “ lontar Agam memperingatkan Azkara. Kala Azkara hendak mengambil tubuh Paris untuk di pindahkan ke pangkuannya. “ Kita tidak tahu bagaimana kondisi organ dalamnya. Aku tidak mau ambil resiko, jika tubuhnya di gerakkan akan semakin memperparah lukanya. “ lanjut Agam.
Azkara membenarkan ucapan Agam. Ia mengurungkan niatnya untuk mengambil alih tubuh Paris.
“ Bentar lagi ambulans sampai sini. Kita tunggu aja. “ lanjut Agam kembali.
“ Awas, minggir…minggir…gue mau lewat. “ ucap seseorang yang baru tiba. Ia mencoba menerobos kerumunan yang ada di sana.
“ Kak…Lo kenapa? “ tanya Toriq, adik sepupu dari Agam. Anak dari Keanu Permana. Ia lalu berjongkok di samping Agam. Ia lebih tua dari Agam dua tahun.
Agam menoleh ke samping. “ Aku nggak pa-pa. Kamu bawa motorku pulang. Aku harus mengantar dia ke rumah sakit. “ ucapnya.
“ Ini siapa? “ tanya Toriq sambil menunjuk Paris.
“ Temen aku. Dia kecelakaan saat mengendarai motornya. Oh ya, sekalian bilang ke oma, aku akan pulang mungkin besok pagi. “ jawab Agam.
Uing….Uing….Uing….bunyi sirine ambulans terdengar. Dan petugas medis segera turun dari ambulans dan menghampiri Paris. Mereka melakukan pertolongan pertama, lalu meminta Agam untuk memindahkan tubuh Paris ke atas brankar dengan pelan.
__ADS_1
Bersambung