
PASS!!!” teriak Paris ke Azkara saat bola di pegang oleh Azkara. Ia sudah berada di posisi terbaiknya.
Tanpa berpikir panjang, Azkara mengoper bolanya ke Paris dan Paris langsung melakukan shooting. Dan…..terdengarlah sorak sorai penonton kala shoot yang di lakukan oleh Paris masuk dengan sempurna ke dalam keranjang. Paris memang di kenal eksekutor terbaik dalam timnya.
Paris tersenyum sambil mengangkat kedua tangannya ke udara. Tak lama rekan-rekannya menghampirinya dan melakukan tos dengannya. Kini posisi tim Paris lebih unggul dari tim Kevin.
Ternyata prediksi Paris di awal tadi benar. Timnya akan melawan tim Kevin di babak final. Dan pertandingan yang sudah berlangsung selama setengah jam tadi, selalu imbang. Dan shoot yang di lakukan Paris tadi mendapatkan tiga poin. Sehingga timnya berada di atas tim Kevin.
Paris menjulurkan lidahnya ke Kevin kala pemuda itu memandang kesal ke arahnya. Lalu ia tertawa riang. Membuat Kevin menunjuk ke arahnya yang berarti, ‘ AWAS LO ‘.
Priit…Wasit membunyikan peluitnya kembali yang menandakan permainan akan kembali berlanjut.
Pertandingan selanjutnya, Paris selalu di kawal olej Kevin. Pemuda itu sama sekali tidak membiarkan Paris lepas dan menerima bola dari rekannya.
“ Bro, lo naksir sama gue? “ canda Paris saat Kevin selalu mengikutinya. “ Kalau naksir, bilang aja. Kagak usah pakai nempel-nempel gini. Gue geli. “ lanjutnya. Membuat konsentrasi Kevin goyah dan kesempatan itu di gunakan Paris untuk melakukan Pivot, yang di teruskan dengan Lay-up. Karena kebetulan, bola memang berada di tangan Paris.
Penonton kembali bersorak saat Paris kembali mencetak poin.
“ ****! “ umpat kevin saat ia menyadari jika dirinya terkena prank oleh si Paris.
Paris menepuk-nepuk pundaknya. “ Gimana? Lo beneran naksir sama gue? “ bisik Paris sambil mengedipkan sebelah matanya, dan setelahnya, ia tergelak kencang.
“ Najis gue naksir elu. “ jawab Kevin.
Permainan di mulai kembali. Kini Kevin tidak lagi menguntit Paris. Ia hanya mengamati dari kejauhan. Tapi ia menempatkan salah satu rekan timnya untuk menjaga Paris, supaya Paris jangan sampai memegang bola. Dan taktik itu berhasil. Paris sama sekali tidak di beri kesempatan untuk memegang bola.
Serangan kembali di lancarkan oleh tim Kevin. Kevin melakukan shooting. Dan poin bertambah di tim mereka. Akhirnya, Azkara sebagai kapten tim, mengubah strategi. Mereka mengganti eksekutor. Paris ia tempatkan sebagai pengumpan saja. Sedangkan posisi eksekutor beralih tangan ke Agam. Karena saat latihan kemarin, Azkara melihat permainan Agam tidak jauh beda dengan Paris.
__ADS_1
Wasit segera memulai kembali pertandingan. Malam semakin larut. Saat ini, waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam. Tapi dinginnya udara tidak menyurutkan semangat kedua tim dan para penonton yang masih tetap setia.
Azkara mulai mendribble bola. Melempar ke Edo, lalu beralih ke Jojo, dan beralih lagi ke Paris. Tim Kevin segera menjaga ketat Paris kala bola berada di tangan Paris. Tapi sepertinya mereka salah menganalisis. Paris tidak melakukan shooting. Ia justru mengumpan bolanya ke Agam yang saat itu posisinya sedang sangat aman. Dan…Shoot… Agam berhasil meraih tiga poin.
Paris berlari kecil mendekati Agam. Ia mengangkat tangannya untuk melakukan tos dengan Agam. Tentu saja Agam tidak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk meraih tangan Paris. Agam tidak langsung melepas pegangan tangannya ke Paris. Ia menggenggam sesaat tangan itu. Kedua pasang netra mata beda warna itu saling bertemu dan mengunci. Kembali Paris merasakan tidak nyaman pada jantungnya. Ia segera melepas paksa genggaman tangan Agam. Ia lalu berlalu dari hadapan Agam yang segera di kerumuni oleh rekan satu timnya yang lain.
Priiiitttttt….Peluit panjang terdengar memekakkan telinga. Pertanda jika pertandingan telah usai. Dan pertandingan di menangkan oleh tim Azkara.
Kevin terlihat makin kesal. Ia merasa telah di tipu oleh teman-temannya.
“ Awas aja kalian. “ umpat Kevin di depan Paris dan kawan-kawan. “ Kalian menang, karena tim terkuat sekolah ada di tim kalian semua. Sedangkan aku harus sendiri. Coba saja kau pinjami aku Jojo atau Edo. Pasti kita bisa bermain seimbang. “ gerutunya.
“ Itu derita lo, bro. Siapa suruh lo nggak mau masuk di kelas IPA barengan kita? “ ujar Jojo.
“ Ck. Itu karena otakku tidak seencer otak kalian. “ jawab Kevin kesal.
“ Udah, mending ayo kita ke café langganan kita. Kita istirahat, makan malam. Gue traktir kalian semua malam ini. “ ajak Azkara.
“ Wezzzz, massseeehhhhh….Ini baru namanya tuan muda Pramudia. Anak tunggal pemilik perusahaan otomotif tersolid se-Indonesia. “ ujar Jojo sambil merangkul bahu Azkara. Dan Azkara hanya berdecak mendengarnya.
Mereka semua lalu mengambil tas mereka masing-masing dan memanggulnya di atas bahu masing-masing. Mereka lalu berjalan berdampingan. Azkara, Paris, Kevin, Edo, Agam, Jojo, juga Agus. Mereka berjalan keluar menuju area parkir.
Mereka menuju ke motor mereka masing-masing. Dan Paris, ia mengikuti Azkara. Karena ia tidak di perbolehkan membawa motor oleh bundanya. Bundanya mengijinkan Paris pergi ke pertandingan basket di sekolahnya, jika temannya yang menjemput. Dan Pipit sudah sangat mengenal Azkara. Jadi Pipit mengijinkan Paris pergi karena Azkara yang menjemputnya.
“ Motor kamu mana? “ tanya Agam yang kebetulan, motornya terparkir di sebelah motor Azkara.
“ Bonceng Azka. Nyokap nggak bolehin bawa motor. “ jawab Paris singkat.
__ADS_1
“ Lo nggak bawa jaket kan? Nih, pakai jaket gue. “ tawar Azkara sambil menyorohkan jaketnya ke Paris.
“ Nggak usah. Kan lo yang boncengin gue. Lo yang kena angin. Gue sih kalau anginnya kenceng tinggal ngumpet di punggung lebar lo. “ jawab Paris.
“ Paris, jangan sampai gue bilang untuk yang kedua kalinya. Apa lo juga mau, nyokap lo nggak ngijinin gue jemput lo gegara gue ngebiarin putrinya yang cantik ini masuk angin? Dah, nih cepetan pake. “ jawab Azkara.
“ Tapi Ka… Lo entar yang kedinginan. “
“ Kalau gue kedinginan, tinggal lo peluk gue aja. Beres kan? “
“ Hissss…” sahut Paris sambil mengambil jaket Azkara dari tangan Azkara dengan kasar. Azkara hanya terkekeh. Paris segera mengenakan jaket Azkara. Dan Azkara segera mengenakan helm full face-nya. Setelah memakai helmnya, Azkara segera membantu Paris untuk mengenakan helm-nya.
Oh God….mereka benar-benar so sweet…Siapapun yang melihat pasti menyangka mereka punya hubungan khusus. Kecuali sahabat-sahabatnya. Yang hampir tiap hari melihat kedekatan mereka itu.
Bahkan pernah si Edo menyarankan supaya mereka jadian aja. Dan tentu saja, Paris langsung menghadiahinya dengan geplakan yang lumayan pedas, juga sebuah jawaban yang membuat semua sahabatnya kicep. Apalagi Azkara. Ia segera mengurungkan segala niat dan rencananya. Sedangkan Agam yang melihatnya, hanya menghela nafas kasar.
Mau tahu jawabannya Paris seperti apa?
“ Gue udah nyaman sahabatan sama kalian. Bahkan sangat nyaman. Jadi gue minta sama kalian jangan pernah membuat persahabatan yang canggung. Persahabatan tidak akan bisa berakhir begitu saja. Tapi hubungan percintaan, bisa berakhir kapanpun. Dan juga, jika setelah bersahabat hubungan kita bisa berubah menjadi pacar. Tapi setelah pacar, kita tidak akan bisa menjadi sahabat kembali. “
Setelah selesai memakai helm, Paris segera naik ke jok belakang motor sport Azkara. Motor sport yang sama persis dengan miliknya. Cuma beda warna. Kalau punya Azkara berwarna abu-abu, punya Paris berwarna biru sebiru netra indahnya.
Perlahan mereka mengendarai motor-motor mereka dengan perlahan dan beriringan keluar dari area sekolah, kemudian memecah keramaian jalanan pada malam hari menuju ke café langganan mereka. Agam hanya mengikuti mereka karena ia belum tahu letak café langganan temannya itu.
Seperempat jam kemudian, sampailah mereka di café. Mereka segera trurun dari atas motor, dan duduk di tempat langganan mereka. Memesan beberapa menu makanan dan minuman.
Bersambung
__ADS_1